Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang

Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang
Masakan tuan Arnold


__ADS_3

Sekretaris Ken segera mengangguk patuh dan dia segera pergi kembali ke kantor untuk menyelesaikan tugas dan mencari tahu semuanya dengan lebih jelas lagi.


Sekretaris Ken segera mencari tahu siapa yang telah melakukan hal keterlaluan seperti itu kepada Sesilia, hingga hanya dengan hitungan menit sekretaris Ken bisa mendapatkan semua informasi itu dengan lengkap dan dia hanya perlu mengumpulkan semua bukti nyatanya besok pagi.


Dan pagi ini aku bangun cukup siang, kakiku masih terasa sedikit perih di bagian mata kakinya karena lecet akibat tali yang mengikat kakiku sebelumnya, saat aku melirik ke arah jam di dinding aku sangat kaget karena itu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi dimana aku sudah sangat terlambat untuk pergi ke kampus hari ini.


"Aaarrkkkk...... " Teriakku sangat kencang.


Teriakkan itu bahkan membuat tuan Arnold yang tengah menyajikan sarapan di dapur mendengarnya dan dia sangat kaget hingga meninggalkan semua makanan disana dan langsung berlari menghampiri Sesilia ke kamarnya, bahkan tuan Arnold membuka pintu kamar Sesilia dengan keras.


"Brakk.... Ada apa, apa kau baik-baik saja?" Ucap tuan Arnold sangat panik.


Aku hanya menatapnya dengan heran dan kedua mata yang kaget melihat tuan Arnold memakai celemek di badannya terlebih celemek itu berwarna pink entah dari mana dia menemukan celemek itu.


Melihat penampilannya yang seperti itu membuat aku tidak bisa menahan tawa dan aku langsung saja tertawa terbahak-bahak melihatnya sangat lucu.


"Ffftt...fhaahahaha....tuan apa yang kau pakai, kenapa kau memakai celemek berwarna pink itu, hahaha itu sangat lucu" ucapku tertawa sepuasnya.


Wajah tuan Arnold langsung berubah masam dan dia langsung melepaskan celemek di tubuhnya itu dengan cepat lalu mendekatiku dengan wajahnya yang berubah sangat serius.


"CK... Kau malah menertawakan ku padahal aku sangat mengkhawatirkanmu, apa sih yang mbuatmu berteriak sangat kencang seperti tadi, hah?" Bentak tuan Arnold kepadaku dengan kedua alis yang dia naikkan bersamaan.


Aku ingat kembali bahwa aku sudah kesiangan untuk pergi ke kampus sehingga aku langsung membuka mata lebar dan segera terperanjat keluar dari kasurku lalu berlari mengambil handuk dan langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Oh... Astaga aku sudah sangat terlambat, aaaaa" ucapku kacau.


Aku tidak memperhatikan tuan Arnold lagi karena aku sudah sangat terlambat dan hanya mementingkan waktu saat ini agar bisa segera sampai ke kampus dan bisa menyusul pelajaran dengan cepat.


Tanpa aku sadari disaat tadi aku bangkit terperanjat dari kasur selimut yang aku pakai malah mengenai wajah tuan Arnold dan itu seperti sebuah tamparan di pipinya sehingga membuat tuan Arnold cukup geram dan sangat kesal.


Dia mengepalkan kedua tangannya dengan kuat dan mengeratkan giginya hingga rahangnya itu bergetar dan dia perlahan menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan, dia melakukan itu beberapa kali untuk menenangkan dirinya sendiri dan menghapus emosi yang menggebu di dalam dadanya.


"Aish... Dasar bocah nakal itu, pagi-pagi sudah membuatku emosi!" Gerutu tuan Arnold dan dia segera kembali ke luar.


Aku yang sudah selesai mandi dengan secepat kilat segera mengganti pakaian dengan pakaian yang paling dekat untuk aku raih lalu segera berlari keluar sambil mengenakan sepatu dan berjinjit terburu-buru.


"Tuan aku harus pergi sekarang" ucapku berteriak mengajaknya untuk pergi.


Tapi dia tidak menjawabku sehingga aku merasa bingung dan berbalik menatap kepada dimana saat itu dia tengah berdiri di depan pintu ruang makan dan menatap ke arahku lurus dan tajam.


"Tuan kenapa kau masih diam saja, ayo cepat aku sudah sangat terlambat" ucapku mendesaknya,


"Aku sudah membuatkan izin untukmu pada pihak kampus, jadi kemarilah dan sarapan dahulu kau tidak aku izinkan untuk pergi ke kampus hari ini!" Ucapnya dengan tegas dan cukup mendominasi.


Dia kemudian langsung berbalik dan masuk ke dalam ruang makan sehingga aku segera mengikutinya dan protes kepadanya karena dia tidak memberitahuku sejak awal jika dia sudah memberikan aku cuti pada kampus.


"Hah? Hey... Tuan tunggu dulu... Aishh kenapa dia ini membingungkan sih" gerutuku sambil berjalan cepat menghampirinya.


Saat aku mengikuti dia dan masuk ke ruang makan, ku lihat ada banyak makanan berjajar disana dan tuan Arnold yang menyuruh aku untuk duduk bahkan dia juga mendorong kan kursi untukku.


"Ayo duduk dan cobalah semua ini?" Ucapnya padaku.


Aku menatap ke arahnya dengan perasaan heran dan bingung, sebelumnya selalu ada sekretaris Ken yang datang ke rumah ini setiap pagi-pagi buta untuk mengirimkan makanan sesuai dengan apa yang biasa di Mita oleh tuan Arnold dan makanan itu juga tidak pernah sebanyak ini, paling hanya ada beberapa piring saja dan ku lihat makanannya masih hangat bahkan masih terlihat uap asap di atasnya.

__ADS_1


"Tuan.. apa kau memasak semua ini sendiri?" Tanyaku menduganya,


"Menurutmu siapa lagi, tidak mungkin setan yang melakukannya bukan" balasnya sambil duduk di hadapanku,


"Baiklah, aku akan mencobanya tapi awas saja jika rasanya tidak enak aku akan memukulmu!" Ucapku mengancamnya.


Tuan Arnold terlihat begitu percaya diri dengan semua masakan yang dia buat sedangkan aku sungguh merasa ragu dan takut untuk mencicipinya, apalagi di lihat dari penampakannya saja sudah tidak meyakinkan, tamilannya begitu pucat dan berantakan, aku sungguh merasa takut untuk mencobanya namun untuk menghargai usahanya aku tetap mencoba salah satu makanan yang tersaji disana.


Aku mengambil sebuah sayur sup terlebih dahulu dan saat aku memasukan sayur itu ke dalam mulutku, rasanya sangat asin sekali, tapi aku berusaha keras untuk menahan rasa asin itu dan menelannya sekaligus lalu aku mengangguk tersenyum kepadanya, dia juga meminta aku untuk mencicipi menu lainnya.


Aku pikir mungkin menu lain tidak akan buruk, sehingga aku mulai mencobanya satu per satu mulai dari daging dan makanan lain yang tersaji disana namun sialnya tidak ada satu pun makan yang rasanya enak atau layak untuk dimakan disana, ada yang gosong dan pahit, ada yang masam dan ada juga yang asin, bahkan ada yang sangat pedas sekali hingga rasanya membalas mulutku.


Tapi aku menahan semua rasa tidak enak itu di dalam mulutku sendiri dan terus berusaha tersenyum menatap padanya.


"Bagaimana apa rasanya enak juga?" Tanya tuan Arnold dengan wajah yang berseri seri dan cerah.


Melihat wajahnya yang begitu penuh harap dan melihat kemejanya yang berantakan juga kancing yang sepertinya tidak sempat dia pakaikan di tambah keringat yang bercucuran di dahinya aku tidak tega jika harus mengatakan yang sebenarnya kepada dia sehingga aku memilih untuk menutupi semuanya sendiri.


"Eumm....enak rasanya sangat enak, hanya saja menurutku kau tidak perlu melakukan semua ini untukku" ucapku kepadanya karena aku merasa tidak enak,


"Kenapa tidak, jika enak aku akan memasakkan makanan untukmu setiap pagi" ucapnya dengan tersenyum lebar,


"A..apa? Tidak... Tidak perlu, aku merasa tidak enak jika kau melakukannya, lagi pula sekretaris Ken akan mengantarkan makanan ke sini seperti biasanya bukan, kau fokus saja pada pekerjaanmu di kantor, jangan terlalu mengkhawatirkanku" ucapku kepadanya sambil menahan rasa pedas dan bercampur aduk di lidahku.


"Baiklah tapi aku akan tetap membuatkanmu makanan jika ada waktu luang seperti sekarang, sudah ayo kita makan aku juga belum mencicipi masakan ku, apa benar seenak itu" ucapnya sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


Aku segera menahan tangannya karena aku takut dia mengetahui yang sebenarnya.


"Heh, bocah nakal ada apa sih denganmu, kita ini kan sedang sarapan kenapa kau malah memaksaku untuk pergi berjalan-jalan, sudah duduk kembali dan makan saja dulu baru aku akan membawamu pergi" ucapnya kepadaku.


Aku tidak bisa berkutik lagi dan hanya bisa duduk tertunduk lesu hingga pada akhirnya meski aku sudah berusaha menahan dia berkali-kali untuk tidak memakan makanan itu dia tetap memakannya dan matanya seketika terbuka lebar dan dia refleks memuntahkan kembali semua makanan yang dia masukkan sebelumnya.


"Howek.... Makanan enak apanya! ini tidak layak makan, kenapa kau berbohong padaku? Aishh..... Ini tidak enak... Ini juga tidak enak... Aaahh ini asin sekali" ucap tuan Arnol yang mulai mencicipi semua masakannya satu persatu.


Hingga dia telah mengetahui semua rasanya yang semuanya tidak enak, dan dia pun langsung tertunduk lesu.


"Maafkan aku, aku akan menghubungi Ken untuk membawakan makanan kemari" ucapnya terlihat tidak bersemangat,


"Tuan tidak usah aku sudah kenyang karena mencicipi semua masakanmu, aku juga menyukai masakanmu, kamu jangan sedih seperti itu aku merasa tidak enak" ucapku kepadanya,


"Bagaimana kau bisa kenyang semua makanan ini tidak enak bahkan tidak layak untuk dimakan, kenapa kau malah menelan semuanya dan membuat lidahmu tersiksa karena makanan sialan ini?, Kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya saja, jadi aku tidak akan memaksamu untuk mencicipi semuanya" bentak tuan Arnold yang terlihat sangat kecewa dengan dirinya sendiri.


Aku diam sejenak dan segera berdiri lalu mendekatinya, aku perlahan meraih tangannya dan menyentuh tangannya dengan lembut.


"Tuan bagaimana aku bisa melakukan itu kepadamu, aku tahu mungkin kau bangun sejak subuh hanya untuk memasak semua makanan ini, aku juga tahu seberapa sulitnya memasak, lihat pakaianmu begitu berantakan dan keringat terlihat jelas keluar dari dahimu, kau mengeluarkan banyak energi untuk memasak semua ini demi aku, jadi mana mungkin aku tega kepadamu, dan lagi pula aku sudah memakan semuanya tidakkah kamu senang?" Ucapku padanya dengan lembut.


Akhirnya tuan Arnold bisa mengerti maksud yang aku katakan kepadanya dia bisa kembali terlihat lebih baik dan segera membersihkan semua makanan tidak enak itu, aku juga membantu dia untuk membereskan semuanya.


"Tuan sudah biar aku saja yang memasak untuk sarapan kita kau kembalilah untuk membersihkan dirimu lihat keringatmu itu sudah lengket dan bau aku tidak tahan melihatnya" ucapku sambil menggoda dia,


"Baiklah aku akan pergi" ucapnya yang langsung menurut.


Aku pun segera memasak dengan beberapa persediaan yang tersisa disana, aku mungkin tidak jago memasak tapi setidaknya aku tahu beberapa resep makanan dan tahu takaran yang harus digunakan karena sering membantu ibuku memasak sebelumnya ketika ibu masih ada di dunia ini.

__ADS_1


Selagi memasak aku sungguh merasa senang dan terharu dengan apa yang di lakukan oleh tuan Arnold untukku, dia memasak begitu banyak makanan untukku dan ini adalah pertama kalinya aku mendapatkan perlakuan baik seperti itu dari orang lain, makanya aku tidak tega ketika melihat dia kecewa dengan dirinya sendiri.


Aku memasak dengan sepenuh hati dan membuatnya dengan penuh sangat, sedangkan disisi lain tuan Arnold membersihkan dirinya dan dia juga merasa senang karena Sesilia menghargai usahanya.


"Bagaimana bisa gadis nakal itu menjadi sangat baik, kenapa dia tidak mengatakan langsung bahwa masakanku sangat buruk dia malah membuat aku semakin menyukainya jika terus seperti itu" gerutu tuan Arnold memikirkan.


Setelah berganti pakaian tuan Arnold segera kembali ke ruang makan dan disana aku juga sudah selesai memasak dan segera menyajikan sebuah nasi goreng dengan daging dan telur mata sapi di atasnya aku juga menaburkan saus sedikit pada telur itu dan menyajikannya pada tuan Arnold.


"Ini, maaf yah aku juga tidak terlalu pandai memasak tapi setidaknya ini bisa dimakan" ucapku sambil menyajikannya,


"Tidak masalah aku akan mencobanya" ucap tuan Arnold dan dia segera memakannya.


"Bagaimana apakah enak?" Tanyaku padanya dengan penasaran,


"Enak... Ini sangat enak bahkan ini nasi goreng terenak yang pernah aku makan" balas tuan Arnold sambil menyantap makanan itu dengan lahap.


Aku pun mulai memakan milikku dan menurutku rasanya biasa saja, karena aku sudah sering memakan masakanku sendiri, tapi tuan Arnold terlihat begitu menikmatinya bahkan dia bisa menghabiskannya dengan cepat.


"Tuan apa nasi goreng buatanku itu sungguh sangat enak menurutmu?" Tanyaku lagi,


"Itu sungguh enak gadis bodoh, jika tidak enak mana mungkin aku menghabiskannya tanpa sisa" balas tuan Arnold sambil menggosok pucuk kepalaku pelan.


"Hehe.. aku senang jika kau menyukainya" balasku sambil segera menghabiskan milikku juga.


Setelah sarapan tuan Arnold mengajakku untuk pergi berjalan-jalan dan dia bahkan mengenakan pakaian yang cukup santai, ini juga pertama kalinya aku melihat dia memakai pakaian santai seperti itu dan dia terlihat tampan juga lebih muda dari usianya ketika memakai pakaian santai seperti itu.


Saat di dalam mobil aku terus menatapnya tanpa berkedip karena dia sungguh terlihat sangat cocok dengan pakaiannya itu.


"Heh bocah, kenapa kau menatapku terus seperti itu?" Tanya tuan Arnold padaku,


Aku sedikit tersentak dan langsung memalingkan pandanganku ke depan.


"A..apa...aku hanya tidak sengaja menatapmu saja, kau sangat cocok dengan pakaian itu" balasku padanya dengan gugup.


Tuan Arnold tersenyum kecil begitu juga denganku hingga kami sampai di sebuah taman yang cukup indah, disana juga banyak orang yang berolahraga ataupun hanya berjalan-jalan santai.


Tuan Arnold segera memarkirkan mobilnya dan dia langsung menarik tanganku membawa aku untuk masuk ke taman yang besar itu.


Udara disana juga terasa jauh lebih sejuk dan menenangkan, sampai tuan Arnold mengajakku untuk menaiki sebuah sepeda yang bisa di kendarai oleh dua orang, tapi sayangnya aku tidak bisa memakai sepeda.


"Bocah kecil ayo kita naik sepeda itu" ajak tuan Arnold kepadaku.


Aku hanya diam dengan gugup karena aku malu dan bingung bagaimana mengatakannya kepada tuan Arnold bahwa aku sebenarnya tidak bisa memakai sepeda apalagi selesai seperti itu, sepeda yang di kendarai oleh dua orang dan harus memiliki keseimbangan.


Tuan Arnold sudah membawa sepedanya dan dia membawa sepeda itu ke dekatku.


"Hey! Kenapa kau malah bengong seperti itu, cepat naik" ucapnya kepadaku,


"A..anu tuan... Itu aku... sebentarnya ingin sekali menaiki sepeda itu denganmu tapi aku tidak tahu bagaimana cara menggunakannya" ucapku sambil menatapnya garing,


"Aishh....kau sudah sebesar ini tapi tidak bisa naik sepeda? Wahhh..... Kau benar-benar" ucap tuan Arnold sambil menggelengkan kepalanya.


Aku tahu memang terlihat sedikit terlambat dari pada anak-anak lain seusiaku tapi sejak kecil aku tidak pernah bisa belajar menaiki sepeda karena ibu melarangku dan ayah yang tidak ada waktu untuk mengajariku.

__ADS_1


__ADS_2