Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang

Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang
Di Pesta


__ADS_3

"Iya aku menyukainya, sudahlah tuan Arnold jangan menyalahkan sekretaris Ken, lagi pula perias banci itu sangat baik bahkan dia menjaga jarak dariku dan menolak saat aku hampir memeluknya" ucapku bicara apa adanya.



"Aishhh...Sesilia kau membuat kuburan untukku yah" bisik sekretaris Ken.


Dan dia langsung berlari pergi keluar masuk ke dalam mobil dengan cepat.


"Sekretaris Ken, awas kau!" Teriak tuan Arnold yang sangat keras aku bahkan sampai menutupi telingaku karenanya.


Aku kebingungan mengapa tuan Arnold sampai se kesal itu kepada sekretaris Ken hanya karena pria banci yang bernama Keifan itu mendandaniku padahal aku memang menyukai hasil riasnya dia juga baik meski sedikit cerewet.


"Tuan Arnold sudahlah, untuk apa kau se kesal itu pada sekretaris Ken Aku kan sudah bilang perias itu banci dia juga baik walau sedikit cerewet, dia tidak melakukan hal buruk padaku" ucapku menenangkan tuan Arnold,


"Aahh... Oke kita lupakan saja tentangnya, ayo kita akan terlambat jika tidak pergi sekarang juga" ucap tuan Arnold sambil langsung menggandeng tanganku dan membawa aku masuk ke dalam mobilnya.


Aku sangat senang seorang tuan Arnold membawa aku ke sebuah pesta dan aku pikir mungkin pesta yang akan aku kunjungi sekarang adalah sebuah pesta rekan bisnisnya ataupun pesta seperti sebuah lelang orang-orang kaya lainnya, aku sudah sangat tidak sabar untuk sampai ke tempat itu, meski aku sendiri sedikit gugup saat berada di dalam mobil.


Hingga ketika tiba di tempat tujuan aku merasa hotel ini tidak asing bagiku dan ketika aku turun serta menginjakkan kaki pada karpet merah yang tergelar bagus semua orang yang hendak masuk ke dalam hotel megah itu, aku mulai sadar dan mengenali hotel itu sepenuhnya.


"Tuan apa ini sungguh tempat pestanya, apa kita tidak salah?" Tanyaku memastikan,


"Ini benar, aku memang mengajakmu pergi ke pesta pertunangan putra pimpinan Bramantyo, dan dia menjadikan aku sebagai tamu VVIP, jadi kau bebas melakukan apapun dan akan mendapatkan perlakuan paling istimewa dari semua orang yang ada di dalam sana" ungkap tuan Arnold membuatku terperangah.


Aku ingat jika hotel itu adalah hotel tempat Siska dan Brain bertunangan, apalagi setelah tuan Arnold sendiri mengatakan iya, aku sungguh merasa tertekan dan tidak nyaman berada disana, aku juga merasa tidak ingin melangkahkan kakiku ke depan sehingga aku langsung berbalik hendak masuk kembali ke dalam mobil saat itu.


Namun sekretaris Ken malah menutup pintunya dan menghalangi aku untuk masuk, sedangkan tuan Arnold langsung memaksaku untuk kembali bersamanya dan dia membawa aku berjalan ke depan dengan paksa.


"Sudah.... Kau tidak bisa kembali jika sudah ada disini, ayo kita masuk" ajak tuan Arnold padaku dengan santai.


Dia mungkin bisa saja dan sangat normal terlihat santai dalam menghadiri pesta itu, berbeda denganku aku tidak ingin menemui Siska aku tidak ingin melihat wajah Dona dengan semua kesombongannya aku juga tidak ingin melihat Brain kembali menertawakan aku dan mereka pasti akan mengolok-olok aku di dalam sana.


Meski aku pada awalnya sangat ingin datang tapi sekarang aku sudah berubah pikiran aku tidak ingin masuk ke sana sebab aku tahu, mereka pasti sudah menyiapkan sebuah rencana jahat untukku sehingga aku begitu ragu untuk masuk ke dalam.


"Tuan bisakah aku kembali, aku sungguh tidak ingin datang ke pesta seperti ini" ucapku memelas,


Aku berharap tuan Arnold bisa mengijinkan aku pergi dari sana, karena aku sungguh tidak bisa masuk ke sana, sekalipun penampilanku ini sudah sangat sempurna dan cantik, aku terus memelas dan memohon kepada tuan Arnold agar melepaskan aku dan mengijinkan aku untuk tidak menghadiri pesta itu namun dia tidak mengijinkannya.


"Tidak bisa, jika kau pergi siapa yang akan menjadi pasanganku di dalam pesta malam ini? Tidak mungkin orang besar sepertiku datang ke pesta seorang diri bukan?" Ucapnya yang aku tahu bahwa itu adalah sebuah alasan.


Aku tidak bisa melakukan apapun lagi, meski aku membujuk dia dan memohon kepadanya dia tetap tidak memberikan aku kebebasan dan aku pada akhirnya tetap harus masuk ke dalam pesta itu hingga saat hendak masuk ke dalam aula besarnya aku mendapatkan sambutan dari Johana juga Dona yang berdiri di pintu masuk.


"Ohh....tuan Arnold, silahkan masuk tuan kami sangat tersanjung bisa melihat anda hadir dalam pesta pertunangan putri kami" ucap Johana begitu antusias dan dia tidak memperhatikan aku yang ada di samping tuan Arnold saat itu.


Aku juga berusaha menutupi wajahku agar dia tidak terlalu memperhatikan aku, namun sayangnya si j*Lang Dona itu mengenali aku dan dia membuat Johana berpaling padaku.


"Eh....Sesilia? Apa itu kau? Ibu senang kau hadir dalam acara pertunangan kakakmu" ucap Dona sialan itu dengan topeng baiknya tersebut.


Aku sangat ingin menghajar dia dan menjahit bibirnya agar bisa diam sejenak dan tidak membuat keributan di dunia ini, usahakan yang menutupi wajah dengan tangan sedari tadi sudah gagal total sehingga aku langsung menuruni tanganku dan semua orang menatap ke arah aku dan tuan Arnold.


Mereka sangat kaget melihat tuan Arnold datang pada pesta seperti ini untuk pertama kalinya dan dia membawa seorang wanita di sampingnya, bahkan bisikan orang-orang di sekitar sana masih bisa aku dengar dengan jelas menggunakan kupingku sendiri yang masih sehat dan normal.


"Se...Sesilia... Ternyata itu kau, ayah sangat merindukanmu Sesilia" ucap ayah sambil hendak memelukku namun aku segera menyingkir darinya dan memeluk tangan tuan Arnold.


Untunglah saat itu tuan Arnold juga membantuku dia menahan Johanan dengan tangannya sehingga dia tidak bisa mendekati aku sedikitpun, rasa trauma yang dia berikan kepadaku masih bisa aku rasakan dengan jelas sehingga aku sangat benci melihat wajahnya itu.


"Tu..tuan ada apa dengan anda, kenapa anda menahan suamiku?" Tanya Dona sedikit gugup,


"Ajari suamimu untuk menghargai wanitaku" ucap tuan Arnold dengan tatapan yang tajam menusuk,


"A..APA? wa...wanitamu, siapa yang kau maksud wanitamu tuan?" Tanya Johana dengan kaget,


"Dia yang di sampingku saat ini, Sesilia Kiehl dia adalah wanitaku dan kalian semua yang ada disini aku peringatkan untuk tidak bermain-main dengan wanitaku, jika kalian berani melukainya meski se ujung kuku pun, maka akan aku pastikan kalian mati di tanganku!" Ancam tuan Arnold yang langsung saja menjadi pusat perhatian dan semua orang bergidik takut dengan peringatan ancaman darinya.


Termasuk Johana dan Dona mereka langsung pergi dari hadapanku dengan Dona yang merasa kesal dan dia segera membawa Johana pergi.


"Ma.. maafkan suami saya tuan, kami tidak akan menyentuh wanitamu, silahkan nikmati saja pestanya" ucap Dona sambil segera pergi menjauh.


Aku baru bisa merasa sedikit tenang setelah mereka pergi menjauh dan aku langsung melepaskan pelukanku pada tangan tuan Arnold.


"Hah...hah...hah.... Tuan kenapa kau malah mengatakan itu, a... Aku bukan wanitamu kok" ucapku gugup dan menunduk,


"Hey.. angkat kepalamu, jangan menjadi lemah aku sudah membantumu barusan jadi belajarlah untuk percaya diri dan kau harus bangga dengan dirimu, ayo kita masuk" ucap tuan Arnold sambil memegangi daguku.


Aku benar-benar merasa aneh dengan diriku sendiri karena tiba-tiba saja merasa tenang dan damai ketika tuan Arnold sudah bicara padaku, di membawa aku untuk duduk di salah satu meja yang berada paling depan, hingga acara pertunangan sudah di mulai dan pasangan menjijikan itu berada di depan sana saling bertukar cincin satu sama lain.


Aku benci melihat dan tidak ada ekspresi yang bisa aku perlihatkan, hingga setelah acara pertukaran cincin selesai, mereka berdua mulai mengikat janji dan segera memberikan penyambutan kepada para tamu undangan.


"Terimakasih untuk seluruh tamu undangan yang hadir dalam acara pertunanganku bersama Siska, terutama kepada tuan Arnold dan Sesilia yang sudah datang dalam acara ini, kalian adalah tamu terhormat kami malam ini" ucap Brain sambil menyorotkan lampunya ke arah aku dan tuan Arnold.


Saat itu aku sudah mulai merasa gugup karena pasti semua orang akan menatap kepadaku dan mereka tertuju pada aku dan tuan Arnold sekarang, aku sangat gugup hingga tanganku bergetar dan tuan Arnold tiba-tiba saja menyentuh tanganku hingga aku merasa jauh lebih baik.

__ADS_1


"Tenanglah ada aku disini" ucap tuan Arnold pelan sambil menggenggam tanganku.


Aku mengangguk dan akhirnya bisa menjadi lebih tenang dari sebelumnya.


Aku mencoba untuk menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, hingga aku semakin tenang dan kini giliran Siska yang mengungkapkan penyambutannya.


"Saya juga berterimakasih kepada Sesilia dan tuan Arnold dan ingin meminta maaf karena pada akhirnya sayalah yang harus bersama dengan Brain, maafkan aku Sesilia" ucapnya menyinggung aku.


Sehingga sambutan darinya membuat semua orang yang berada disana menatapku dengan sinis karena mereka berpikir aku adalah orang ketiga dalam hubungan mereka.


"CK... Ternyata gadis itu seorang pelakor" ucap beberapa orang dengan sinis,


"Dia sekarang bahkan menjadikan tuan Arnold sasarannya, bagaimana jika tuan Arnold terpincut pelakor itu, sangat menyebalkan" tambah para tamu lainnya.


Aku sangat malu dan langsung menunduk lesu sedangkan Siska tersenyum kecil, aku tahu aku kalah darinya kali ini dan tuan Arnold tiba-tiba saja bangkit berdiri lalu dia berbicara dengan lantang lagi seperti sebelumnya.


"Ekmmm... Apa kalian semua mengabaikan peringatan dariku sebelumnya? Karena penghinaan yang di berikan oleh nona Siska kepada wanitaku dan secara tidak langsung menyudutkan wanitaku sebagai orang ketiga dalam hubungannya bersama putra Bramantyo, maka aku akan memutuskan hubungan kerjasama dengan keluarga Bramantyo, sebab sudah menyinggung wanita dan itu sama saja dengan menyinggungku" ucap tuan Arnold membuat semua orang yang hadir di pesta itu sangat syok.


"Apa? Tuan Arnold memutuskan hubungan bisnisnya dengan keluarga Bramantyo? Wahh ini akan menjadi berita yang besar, bagaimana dengan nasib Bramantyo group sekarang?" Bisik-bisik orang di sekitar sana.


Tuan Bramantyo langsung menyuruh Brain untuk meminta maaf dan mengambil kembali hati tuan Arnold sebab dia sangat tahu dengan jelas bahwa perusahaan miliknya belum sanggup jika harus bermusuhan dengan perusahaan milik tuan Arnold.


"Astaga...apa yang putri kalian lakukan dia membuat perusahaanku merugi, sekarang cepat suruh dia meminta maaf pada tuan Arnold jika perlu kalian harus bersujud di kakinya!" Bentak tuan Bramantyo dengan tatapan tajam pada Brain juga Siska.


Brain tidak bisa menerima itu dan dia langsung protes kepada ayahnya begitu juga dengan Siska yang sudah pasti dia tidak ingin melakukan hal yang akan membuat harga dirinya tergores.


"Ayah apa yang kau katakan aku tidak akan pernah bersujud kepada siapapun terlebih pada orang seperti Arnold, musuhku dalam bisnis!" Bentak Brain tidak terima,


"Aku juga tidak Sudi untuk bersujud padanya, om bukankah bisnismu yang terbesar, kenapa kita masih harus merendahkan diri kepada dia?" Tambah Siska yang tidak mengetahui apapun tentang bisnis.


Dona pun langsung menampar Siska sedikit keras dia langsung memberitahu Siska siapa tuan Arnold sebenarnya dan dia juga ikut mendesak Siska agar cepat meminta maaf pada tuan Arnold sebelum hubungan bisnis mereka benar-benar tidak akan kembali.


"Plak...." Suara tamparan yang di lemparkan oleh Dona pada putri kesayangannya Siska,


"Aahh.... Ibu kau menamparku?" Ucap Siska dengan kaget dan memegangi pipinya yang sakit,


"Iya, itu karena kau bodoh beraninya menyinggung seorang tuan Arnold, kau sama sekali tidak tahu apapun tentang bisnis, kau hanya bisa menghabiskan dan kau bodoh karena tidak mengenal siapa tuan Arnold, jika kalian ini selamat dan tidak ingin miskin, cepat hampiri tuan Arnold dan meminta maaflah padanya!" Bentak Dona dengan keras,


"Apa lagi yang kau tunggu Siska!" Tambah Johana membentaknya juga.


Siska sangat kesal karena mendapatkan banyak desakan ibu dan ayahnya juga dari tuan Bramantyo, akhirnya dia pun pergi dengan mengepalkan kedua tangannya dan dia langsung membungkuk meminta maaf kepada tuan Arnold di hadapanku.


"Tuan maafkan saya, saya tidak bermaksud menyinggung anda dan Sesilia" ucap Siska dengan mengeratkan giginya.


"Apa yang kau lakukan Brain, kau mau mempermalukan ku?" Ucap Siska pelan pada Brain,


"Tidak ada pilihan saat ini, apalagi mementingkan harga dirimu yang tidak seberapa" balas Brain dengan tatapan yang tajam.


Mereka pun meminta maaf pada tuan Arnold dengan bersujud di bawah kakiku namun sayangnya tuan Arnold tetap tidak bisa menarik kembali keputusan yang sudah dia lontarkan dan dia menyerahkan semua itu kepadaku secara tiba-tiba.


"Meski kalian meminta maaf dengan bersujud di bawah kakiku, aku tetap tidak bisa menarik kembali keputusanku, kecuali jika wanitaku yang memintanya" ucap tuan Arnold sambil melirik ke arahku.


Aku menaikkan alis membalas tatapannya karena aku merasa heran dan bingung dengan apa yang dia maksudkan.


"Apa lagi yang kalian tunggu? Orang yang kalian singgung sesungguhnya adalah wanitaku, dan dia juga yang merasakan sakit hati karena ucapan kalian, tentu dia yang harus menerima permintaan maaf dari kalian berdua, bukan aku" tambah tuan Arnold dengan menatap tajam pada Brain dan Siska.


Tatapannya itu lebih mirip dengan sebuah ancaman dan Brain segera melakukannya dia segera beralih bersujud pada kakiku dan meminta maaf beberapa kali sedangkan aku bingung harus melakukan apa adan terus berusaha menghindar darinya, Siska juga bersujud padaku di samping Brain dan aku segera meminta mereka untuk berdiri.


"Ahh... Aku...aku sudah memaafkan kalian jadi ayo cepat berdiri, ini adalah hari pertunangan kalian dan seharusnya menjadi hari yang membahagiakan bagi kalian berdua, ayo berdiri jangan seperti ini padaku" ucapku sambil membantu Brain dan Siska untuk berdiri.


Brain mengucapkan terimakasih kepadaku dan aku masih bisa melihat wajah kebaikan di matanya.


"Terimakasih Sesilia" bisik Brain pelan padaku,


Sedangkan Siska dia masih saja keras kepala dan bersikap sombong, dia langsung pergi begitu saja setelah aku memaafkannya padahal penyebab utama semua ini adalah ucapannya dia lah yang seharusnya menerima semua akibat tapi dia juga yang paling sombong dan merasa tidak bersalah sedikitpun.


Acara pertukaran cincin pun selesai dan tuan Arnold akan tetap kembali bekerjasama dengan perusahaan Bramantyo meskipun setengah dari dananya akan dicabut, setidaknya itu tidak benar-benar membuat perusahaan besar tersebut bangkrut.


Setelah mereka kembali acara kedua akan di mulai yang tidak lain adalah acara pesta dansa dimana acara dansanya adalah puncak dari pesta ini setelah penukaran cincin, pertama mempelai wanita dan pria yang akan memulai dansa dan semua akan mengikuti hingga semua orang mulai berdansa dan aku hanya duduk diam di kursiku.


Hingga tidak lama tuan Arnold langsung membungkuk di hadapanku dengan mengulurkan tangannya mengajakku berdansa.


"Maukah kau berdansa denganku?" Ucap tuan Arnold bak seperti pangeran yang ada dalam cerita dongeng.


Aku terperangah kebingungan dan clingukan melihat ke sana kemari, aku takut ada orang yang memperhatikan dia dan melihat dia yang membungkuk seperti itu kepadaku, aku takut itu akan membuat harga dirinya tercoreng.


"Hey... Apa yang kau lakukan, cepat terima uluran tanganku atau aku sendiri yang akan menarikmu!" Ucap tuan Arnold malah mengancam.


Aku pun segera menerima uluran tangannya dan dia mulai mengajakku untuk berdansa di tengah-tengah aula mewah itu, ketika aku dan tuan Arnold mulai berdansa, tiba-tiba saja semua orang menyingkir dan seakan mereka dengan sengaja memberikan ruang khusus untuk tempat dansa ku dengan tuan Arnold saja.


__ADS_1


"Tu....tuan aku tidak pandai berdansa, tolong jangan terlalu cepat" ucapku pelan,


"Tenang saja, aku akan mengajarimu" balasnya dengan santai.


Entah berapa kali aku menginjak kakinya dan terus meminta maaf kepada dia, tapi dia sama sekali tidak marah hingga kami segera pergi dari pesta itu karena aku sudah merasa tidak nyaman berada disana terlalu lama, apalagi melihat Brain dengan Siska yang begitu lengket dan Johana yang terlihat tersenyum bahagia berdansa dengan wanita simpanannya.


"Tuan aku ingin pulang" ucapku padanya dengan raut wajah yang kesal.


Seakan tuan Arnold mengeri dia langsung menggantikan dansanya dan langsung pergi dari pesta itu di tengah-tengah acara yang berlangsung.


Aku sudah sangat lelah karena berdansa dan melewati banyak sekali kejadian penuh drama di dalam pesta yang melelahkan itu, sehingga saat masuk ke dalam mobil aku sangat mengantuk dan lelah, tanpa aku sadari perlahan aku mulai menutup mataku dan bersandar pada samping mobil.


Tuan Arnold yang melihat itu dia merasa kasihan dan tidak tega melihat Sesili tidur seperti itu sehingga dia menyandarkan kepala Sesilia pada pundaknya dengan perlahan tanpa mengganggu tidurnya.


"Dasar gadis ceroboh, dia tidur begitu mudah" gerutu tuan Arnold sambil memindahkan kepada Sesilia pada pundaknya.


Sampai beberapa saat Sesilia yang tidur dengan lelap dia tidak sadar malah memeluk tuan Arnold dengan erat dalam keadaan dirinya yang masih tertidur sehingga itu membuat tuan Arnold membelalakkan matanya lebar begitu pula dengan sekretaris Ken yang juga merasa gugup.


"Wah.... Wah... Arnold apa kau yakin bisa menahan hasrat lelakimu itu? Aku rasa wajahmu mulai memerah" ucap sekretaris Ken sengaja menggodanya,


"Ken jangan coba-coba menguji kesabaranku!" Ucap tuan Arnold memperingati.


Hingga saat mobil berhenti aku mulai terbangun dan segera melepaskan pelukanku pada tuan Arnold, aku sendiri juga kaget karena melihat aku yang memeluk tuan Arnold seperti itu.


"Astaga, tuan maafkan aku, aku sungguh tidak sengaja" ucapku merasa gugup dan takut,


"Lain kali kau tidak boleh tertidur di sembarang tempat, apa kau mengerti!" Bentak tuan Arnold padaku begitu saja dan dia langsung keluar dari mobil meninggalkanku.


"Eh.. sekretaris Ken ada apa dengannya? Kenapa dia membentakku begitu?" Ucapku merasa bingung sendiri,


Sekretaris Ken hanya menggelengkan kepala dan aku segera turun lalu melambaikan tangan pada sekretariat Ken karena dia berpamitan pergi padaku.


"Sesilia aku pergi dulu ya, jaga dirimu baik-baik dari beruang itu" ucap sekretaris Ken padaku,


"Ehh... Iya hati-hati di jalan sekretaris Ken" balasku sambil melambaikan tangan padanya.


Aku merasa bingung dengan ucapan terakhir sekretaris Ken yang mengatakan aku harus menjaga diriku dari beruang, sementara di rumah ini tidak ada apapun, apalagi seekor beruang.


"Aishh.... Sekretaris Ken ini memang aneh, mana mungkin ada beruang di rumah mewah begini?" Ucapku sambil merasa bingung.


Aku pun langsung berbalik dan sangat kaget ketika melihat di belakangku sudah ada tuan Arnold yang berdiri mematung dengan menatapku cukup tajam tanpa ada ekspresi apapun di wajahnya.


"Oh, astaga! Tu...tuan Arnold bukannya kau sudah pergi yah? Kenapa kau kembali?" Tanyaku merasa heran.


Aku juga masih sangat kaget dan berusaha menenangkan diriku dengan mengelus dadaku, juga mengatur nafasku yang menderu dan sulit untuk di kendalikan, tuan Arnold langsung menarik tanganku dan membawa aku masuk ke dalam rumah dengan cepat.


"E..eh.. tuan ada apa denganmu, hey aku bisa berjalan sendiri jangan menyeretku begini" merengek memberontak,


"Cepat masuk ini sudah larut bukannya kau juga mengantuk yah?" Balas tuan Arnold dan terus mendorong aku masuk ke dalam kamar.


Aku sangat merasa aneh dengan dirinya itu dan kenapa juga dia harus masukkan aku ke dalam kamar dengan cepat, padahal aku juga bisa berjalan sendiri tidak perlu dia yang harus mendorongku.


Aku hanya bisa menggaruk belakang rambutku dengan kebingungan sendiri saat memikirkannya, aku pun segera pergi mandi dan mengganti pakaian, lalu langsung tertidur di ranjang yang empuk itu, tapi di saat aku hendak menutup mata aku mulai merasa kehausan dan kembali bangkit lalu pergi ke dapur mencari minuman disana.


Aku berjalan pelan dan membuka lemari es lalu mengambil minuman soda yang dingin disana, aku berniat membuka minuman itu namun botolnya sangat licin dan aku kesulitan untuk membukanya, bahkan aku sudah berusaha membukanya dengan gigiku tapi bukannya botol yang terbuka malah gigiku yang terasa sakit.


"Aaaw....aduh....kenapa botol ini sulit sekali di buka sih" gerutuku merasa kesal.


Aku terus mencari cara agar bisa membuka botol minuman soda sialan itu, namun sudah segala cara aku lakukan, aku sudah membukanya dengan tanganku dan menggunakan gigiku aku juga mencoba dengan kedua tanganku dan menaruh bodohnya di kaki, semuanya tidak ada yang berhasil dan malah aku yang merasa lelah.


Hingga tidak lama terdengar suara cekikikan orang yang seperti menahan tawa, aku mulai merasa aneh dan merinding.


"Xixixixi.... " Suara cekikikannya yang terdengar cukup dekat.


Aku langsung bangkit berdiri dan mencari tahu asal suara itu sebenarnya, hingga tidak lama aku lihat tuan Arnold muncul dari balik tangga dan dia membuatku merasa sedikit kaget karena dia terus tertawa sambil memegangi ponselnya.


"Ahahaha.... Dia sangat lucu sekali" ucap tuan Arnold sambil berjalan menghampiriku dan segera menaruh ponselnya,


"Tuan apa yang kau lihat di ponselmu sampai kau tertawa cekikikan hantu?" Ucapku penasaran,


"Ahh... Tidak ada itu hanya video seekor kucing yang kesulitan membuka botol soda, dia sangat lucu dan menggemaskan" balas tuan Arnold sambil tersenyum padaku.


Dia berjalan melewati aku yang masih merasa kebingungan melihat sikapnya yang aneh malam ini, yang aku tahu dia tidak pernah tersenyum sedikitpun namun kali ini dia malah tertawa cekikikan seperti itu lalu pergi meminum air dingin di depan lemari es.


"Aah...sudahlah terserah apa yang dia tertawakan, aku lebih baik minta bantuannya untuk membuka botol ini" ucapku memilih untuk tidak memikirkannya lagi,


Aku berjalan menghampirinya dan segera meminta bantuan dari tuan Arnold.


"Tuan, bisa kau tolong buka kan botol ini, aku tidak bisa membukanya" ucapku sambil memberikan botol itu padanya.


Dia pun segera mengambilnya dan membuka botol itu dengan mudah lalu kembali memberikannya padaku, aku juga merasa kaget karena dia membukanya hanya dalam beberapa detik sedangkan aku sedari tadi membukanya sangat sulit sekali.

__ADS_1


"Ini" ucapnya sudah selesai,


"Eh... Semudah itu? Kenapa tadi aku kesulitan sekali membukanya, apa yang salah dengan botol ini" gerutuku sambil terus memeriksanya.


__ADS_2