
Mungkin aku bisa berjaga-jaga namun aku justru mencemaskan Brain karena dia sama sekali tidak mengetahui bagaimana Siska sebenarnya, dia adalah orang paling jahat diantara yang jahat dan aku rasa dia bukanlah orang yang bisa menerima maaf dari orang lain, dia tidak akan melakukan semua itu dengan mudah.
Aku takut dia akan semakin membenciku dan melakukan hal-hal yang lebih jahat lagi di kemudian hari sehingga itu bisa membuat bencana yang lebih besar lagi.
"Semoga saja Siska tidak akan melakukan hal-hal yang buruk atau jika tidak aku tidak akan diam saja kali ini, dan aku sungguh akan menjebloskan dia ke penjara jika dia terus tidak berhenti" gumamku memikirkan.
Aku sudah mempersiapkan diri untuk hal yang paling buruk sekalipun yang akan aku hadapi nantinya karena aku tahu betul bagaimana dia, dia tidak akan diam saja setelah mendapatkan penghinaan seperti itu di dalam dirinya sendiri, diau gkin saja bisa menerima maaf dari Brain karena dia menyukainya tapi dariku dia akan semakin membenci aku.
Di sisi lain Siska yang menerima penghinaan itu dari Brain dia semakin mendendam dan apa yang di takutkan oleh Sesilia memang benar kini Siska justru semakin jahat dan dia sangat kesal.dia pulang ke rumah dengan perasaan yang murka dan dia langsung memberitahu Dona tentang hal itu namun yang terjadi adalah Dona malah membentak Siska dan melemparkan tamparan kepada putrinya itu.
"Ibu kau tahu Brain sialan itu dia memutuskan hubungan denganku di hadapan banyak orang dan lebih parahnya lagi dia memutuskan aku di hadapan Sesilia sialan itu, aku sangat tidak terima dengan semua ini ibu!" Bentak Siska yang pulang dengan uring-uringan tidak jelas.
Dona yang saat itu tengah menelpon dengan seseorang dia pun langsung mematikan panggilannya dan langsung saja menghadap Siska dengan wajah yang marah dan kesal.
"Kau .... Akhirnya kau pulang juga, kau tahu apa yang kau lakukan hah? Ibu sudah memberikanmu ke leluasaan bahkan kau berhasil merebut Brain untukmu dari wanita bodoh itu tapi kenapa kau malah mengacaukannya sendiri dengan mengganggu wanita tidak berguna itu, ibu sudah melihat semuanya dan tahu dengan semua yang terjadi!" Bentak Dona yang balik memarahi Siska.
Tentu saja saat itu Siska tidak terima karena dia yang tadinya ingin mengadu justru malah kembali mendapatkan bentakkan dan di salahkan oleh ibunya sendiri seperti itu.
Siska membentak Dona dan melawannya lagi karena dia masih tidak merasa bahwa apa yang telah dia lakukan kepada Sesilia adalah hal yang patal dan sangat salah, bahkan semua itu juga langsung berdampak pada perusahaan yang di pimpin oleh Johana saat itu.
"Ibu kenapa kau malah membentakku seperti ini? Semua ini bukan salahku ini salah wanita sialan itu!" Balas Siska yang masih bisa melemparkan kesalahan kepada Sesilia.
__ADS_1
Padahal sudah jelas sekali bahwa Sesilia adalah seorang korban dari rekaman videonya tersebut, dia adalah korban bully dari kelakuan dirinya sendiri dan atas apa yang dia lakukan kepada Sesilia di sekolah kala itu.
Mendengar Siska yang masih keras kepala dan tetap tidak menyadari titik kesalahannya itu cukup membuat Dona geram sehingga dia tidak bisa menahan emosi di dalam dirinya lagi dan dia langsung saja menampar Dona dengan keras.
"Plakkkkk.....bodoh....dasar kau wanita bodoh aku menyesal sudah melahirkan anak ceroboh dan bodoh sepertimu!" Bentak Dona setelah menamparnya.
Siska kaget dan dia meringis merasakan pipinya yang sakit terkena tamparan keras oleh ibunya sendiri.
"IBU? kenapa kau menamparku, apa kau melakukan ini hanya karena wanita sialan itu? Apa kau tidak menyayangi aku lagi?" Bentak Siska merasa tidak terima karena mendapatkan tamparan dari ibunya secara tiba-tiba seperti itu.
Bahkan dia juga sudah menerima penghinaan dan rasa sakit saat di kampus dari Brain dan sekarang dia harus menerima penghinaan itu lagi dari ibunya sendiri yang mengatai dia bodoh dan segala macam hal yang cukup menyakitkan bagi dirinya, dia merasa sakit hati ketika mendengarnya sehingga dia mulai bertanya apa alasan ibunya melakukan itu pada dia.
"Kau masih belum tahu apa kesalahanmu dan terus menyalahkan orang lain, Siska kapan kau akan dewasa? Ibu sudah bilang dan memperingati kamu berkali-kali agar kau memutuskan hubungan dengan Sesilia, dia bukan tandinganmu, lagi pula dia sebatang kara dan luntang lantung di jalanan saat ini, tidak ada gunanya kau membalas dendam apapun kepadanya dia tetap sudah menderita, tapi kau..... Kau malah membuat masalah dengannya yang membuat Brain membencimu sekarang, bahkan kau tahu keluarga Bramantyo sudah memutuskan hubungan bisnis dengan kita, termasuk batalnya pertunanganmu dengan Brain dan semua itu karena ulahmu yang melakukan hal konyol pada Sesilia!" Balas Dona dengan keras.
Dia tidak bisa berpikiran jernih dan langsung saja mendorong ibunya cukup keras saat itu karena dia merasa ibunya juga sudah tidak berpihak kepada dia sekarang.
"Ibu aku tidak menyangka kau malah membela dia di bandingkan aku yang anak kandungmu sendiri, apa bagusnya dia Bu? Sampai-sampai semua orang hanya fokus kepadanya, ayah selalu menyebut namanya dan membanding-bandingkan aku dengan dia, bahkan Brain tadi juga membela dia dan sekarang kau.....kau adalah satu satunya tempat aku mengadu dan aku ingin kau membantuku sekarang, tapi apa? Kau juga mah berpihak pada wanita sialan itu!" Bentak Siska yang malah salah paham dengan maksud ibunya.
Dona menghembuskan nafas kasar dan dia langsung memegangi kedua pundak Siska dengan erat dia kembali memberikan pengertian kepada Siska agar putrinya itu tidak semakin salah paham kepada dirinya.
"Siska...jangan salah paham dahulu, ibu membenci dia dan sangat membencinya sama dengan apa yang kamu rasakan, namun cara untuk melawan dia bukanlah seperti itu, jika kau melakukannya secara terang-terangan seperti itu, maka kau sendiri yang akan mati seperti saat ini, kau merasakannya bukan, semua orang ada di pihak dia dan sedikit yang ada di pihak kita, maka dari itu kita harus berhati-hati dalam melangkah dan harus membuat rencana yang bagus untuk melawannya, kau harus mengerti dengan maksud ibumu ini, ibu melakukan semuanya demi kau Siska bukan demi orang lain" ujar Dona sambil langsung memeluk putrinya itu dengan lembut dan menepuk punggung putrinya perlahan.
__ADS_1
Akhirnya Siska bisa sedikit lebih tenang dan dia mau mendengarkan perkataan ibunya meski dirinya sendiri masih merasa kesal dan dia tetap saja tidak bisa menghilangkan dendamnya sendiri kepada Sesilia yang memang dendam itu sudah dia rasakan sejak dia kecil.
Dahulu sejak dia masih kecil dan masih menginjak sekolah dasar dia selalu di perkenalkan oleh ibunya Dona kepada ayahnya dan dia melihat dengan jelas bagaimana ayahnya itu lebih memperdulikan Sesilia di bandingkan dengan dirinya Siska selalu merasa kesal setiap kali dia melihat Sesilia tumbuh bahagia dengan kedua orang tua yang lengkap dan harta yang melimpah sedangkan dirinya yang harus selalu di sembunyikan oleh Johanan bersama ibunya.
Dengan uang yang pas-pasan dan selalu hidup menderita dengan ibunya, dia selalu kesal melihat semua itu dan merasa bahwa dirinya tidak beruntung hidup di dunia ini padahal ayahnya Sesilia adalah ayah nya juga.
Itulah yang menyebabkan Siska sangat mendendam kepadanya dan dia sangat kesal sekali setiap kali melihat wajah Sesilia sehingga dia selalu ingin membalas semuanya dengan setimpal pada Sesilia.
Dia bahkan tidak pernah menyesali perbuatannya yang sudah merenggut nyawa ibunya Sesilia dengan sengaja.
"Baik Bu aku akan menurutimu sekarang tapi kau harus berjanji kepadaku bahwa kau harus membalas dia dengan setimpal nanti, aku hanya ingin dia menderita dalam waktu yang lama!" Ucap Siska begitu mendendam dengan matanya yang membulat sempurna dan penuh emosi.
"Iya kamu tenang saja ibu akan melakukan apapun yang terbaik untukmu dan masa depan kita semua" balas Dona sambil memeluk Siska.
Di sisi lain tanpa Siska ketahui sebenarnya ibunya itu memang sudah menyusun rencana yang sangat bagus bahkan dia sama sekali tidak memperdulikan Siska dia marah hanya karena Johana gagal menjadi orang yang lebih kaya raya sebab ulah Siska yang menggagalkan kerjasama bisnis kedua keluarga itu.
Siska pun kembali ke kamarnya dan dia segera menenangkan dirinya sendiri.
Mereka ibu dan anak memang sama-sama memiliki niat dan hati yang sama jahatnya.
Sedangkan disisi lain aku langsung bersiap untuk pergi karena kelas sudah selesai dan aku lihat sekretaris Ken sudah muncul disana untuk menjemputku aku pun masuk ke dalam mobil dengan cepat dan duduk di sana tanpa banyak tingkah lagi karena aku terus merasa cemas dengan Siska yang pergi begitu saja dengan memasang wajah marah seperti itu.
__ADS_1
"Bagaimana jika dia benar-benar akan membalasku di kemudian hari? Aku harus bagaimana.." gerutuku terus merasa cemas sendiri.