
"Ke..ke..kenapa kau...bisa membukanya?" Ucap Johanan terbata bata saking kagetnya,
"Tentu saja karena hanya aku orang yang tidak akan berkhianat pada ibuku sendiri, jadi kalian semua pergi dari rumah ini dan kau mulai besok jangan pernah datang ke perusahaan ibuku lagi!" Bentak Sesilia memutuskan.
Johana sangat kaget begitu pun dengan Dona dan Siska mereka terus merengek tidak menerima kepada Johana sampai membuat Johana frustasi.
"Ayah.... Kenapa kau diam saja cepat ambil sertifikat itu darinya" teriak Siska memaksa,
"Iya mas kenapa kau malah diam seperti ini cepat ambil semuanya dari dia, dia hanya sendiri sekarang" tambah Dona mendesak Johana terus menerus.
Johana yang merasa dirinya terus terdesak oleh istri dan putrinya amarahnya pun memuncak dan dia langsung mengikuti desakkan kedua orang itu lalu berlari menahan lengan Sesilia di tengah tangga menuju lantai atas.
"Sesilia berikan semua surat itu pada ayah, ini semua bukan milikmu atau milik ibumu lagi!" Bentak Johana dengan suara yang keras.
Sesilia berbalik dan menghempaskan lengan ayahnya yang menahan dia, lalu melawan ucapan ayahnya itu.
"Hah, berani sekali kau berkata bahwa semua ini bukan milikku, lantas apa menurutmu kau pantas di sebut pemilik rumah ini, ini adalah rumah ibuku hadiah pernikahan dari nenekku dan nama yang di tulis oleh nenek juga nama ibuku bukan namamu, kau pikir kau siapa berani berkata ini bukan milikku dan ibu!" Jawab Sesilia dengan penuh keberanian,
Johana yang merasa dirinya kini tidak di hormati lagi oleh Sesilia amarahnya semakin membeludak dan dia tidak bisa menahan dirinya lagi lalu menampar Sesilia dengan keras hingga membuat pipi kanan Sesilia langsung memerah.
"Plakkk...." Suara tamparan yang keras mendarat di pipi mulus milik Sesilia.
Dia tersenyum sinis menatap ayahnya sambil memegangi pipinya yang mati rasa sama dengan hatinya yang sudah mati dengan rasa sayangnya kepada sang ayah.
"Kau....kini kau berani menamparku, kau benar benar pria jahat!" Bentak Sesilia dengan bibir yang bergetar menahan tangisan yang dia tahan sedari tadi.
__ADS_1
Siska dan Dona merasa gemas karena melihat Johana yang belum juga merampas surat surat penting dari tangan Sesilia, mereka punberlari menghampiri Johanan dan Sesilia lalu tiba tiba saja Dona berusaha merampas surat surat penting itu secara paksa dan menariknya dari lengan Sesilia hingga terjadi tarik menarik diantara mereka berdua di atas tangga.
"Eughhh...berikan semua ini padaku, rumah ini bukan milikmu lagi" teriak Dona tanpa tahu malu.
Sesilia tidak tinggal diam, dia juga terus berusaha mempertahankan apa yang seharusnya menjadi milik dia dan ibunya dia tidak mau kalah dengan Dona san berusaha mempertahankan surat surat itu di tangannya.
"Tidak... Ini semua milikku kalian yang harus pergi dari rumah ini dasar benalu!" Bentak Sesilia yang membuat Siska kesal.
Siska langsung membantu ibunya untuk merebut surat surat itu dan Johana berusaha menenangkan mereka agar tidak saling tarik menarik di atas tangga namun peringatan dari Johana tidak dihiraukan oleh mereka semua sampai akhirnya Siska dan Dona yang sudah gelap mata dengan harta mereka mendorong Sesilia dari atas tangga karena tidak berhasil mengambil surat surat itu dari tangannya.
Sesilia jatuh berguling dari atas tangga hingga ke lantai bawah dan darah keluar mengalir dari kepalanya, Johanan berteriak histeris sedangkan Dona dan Siska mereka membelalakkan matanya merasa kaget karena tidak bermaksud sampai membuat Sesilia jatuh dari tangga seperti itu.
"Pergi kau dari sini!" Bentak Siska sambil mendorong Sesilia dengan keras dan Dona yang ikut mendorongnya,
"Arkkhhh....." Teriakkan terakhir dari Sesilia sebelum dia akhirnya jatuh terguling ke lantai bawah,
Dia tidak berhasil menahan putrinya dan kini mereka bertiga panik lalu segera menghampiri Sesilia lalu memeriksa keadaannya.
"Astaga....apa yang sudah kalian berdua lakukan pada Sesilia kalian akan membuatnya terbunuh!" Bentak Johanan dengan keras dan panik.
Siska merasa cemas dan bersembunyi di balik sosok ibunya, sedangkan Siska masih saja tidak merasa bersalah dan memilih untuk pergi dari rumah tersebut meninggalkan Sesilia dengan keadaan yang seperti itu.
"Tidak Siska hanya tidak sengaja mendorongnya dia saja yang terlalu lemah, sudah sayang lebih baik kita pergi dari sini dan biarkan surat surat itu berada di tangannya agar orang orang tidak akan mencurigai siapapun dan buatlah seakan ini kecelakaan yang dia buat sendiri" ujar Dona kepada suaminya Johanna.
Johanna menatap tajam dengan penuh kecemasan dia tidak bisa berpikir jernih saat itu sehingga dia langsung menyetujui ucapan istri simpanannya itu, dan menaruh semua surat surat yang tadi mereka perebutankan di tangan Sesilia lalu mereka pergi dari rumah itu meninggalkan Sesilia begitu saja.
__ADS_1
"Sudah ayo kita segera pergi dari sini sebelum ada orang yang memergoki" ucap Johanna sambil langsung berlari keluar dari rumah tersebut.
Mereka sudah membawa semua barang barang mereka dan meninggalkan rumah tersebut beserta Sesilia di dalamnya yang masih tak sadarkan diri dengan darah yang keluar dari kepalanya.
Di perjalanan Johanna membawa istri dan putri simpanannya itu pergi ke tempat yang sangat jauh dari kota tersebut untuk menutupi jejak mereka dengan aman, Johanna membawa mereka kembali ke tempat persembunyian mereka di desa terpencil yang cukup jauh dari perkotaan.
Dona dan Siska berontak dan mereka tidak menerima karena Johanna membawanya ke tempat itu lagi.
"Sayang kenapa kau membawa kami ke tempat ini lagi, sudah bertahun tahun kita di kucilkan di tempat kumuh ini, sampai kapan kau akan mengurungku dan putri kita di sini!" Bentak Dona yang protes dengan kesal,
"Sayang kamu mengerti bagaimana keadaan dan situasi saat ini, jika sampai Sesilia tidak mati dia pasti akan melaporkan kita semua dan ini terlalu berbahaya untukmu juga kita, tolong bersabar sedikit, aku akan mencari cara lain untuk membuat Sesilia kembali mempercayai aku dan kita bisa mengambil seluruh harta mereka tanpa terlibat hal kriminal seperti ini" balas Johana memberikan pengertian pada istrinya itu.
Dona akhirnya berhenti protes dan dia menerima kembali keputusan dari Johanna lalu mereka di kembalikan pada tepat asal mereka sedangkan Johana kembali ke rumah mewahnya memeriksa keadaan Sesilia, dia memeriksa apakah Sesilia masih hidup atau sudah mati.
Sebagai seorang ayah mau bagaimanapun Sesilia adalah darah dagingnya juga walau dari perempuan yang berbeda dan perempuan yang tidak pernah dia cintai, dia merasa sedih dan menitipkan air matanya saat melihat kondisi Sesilia terkulai lemas di lantai dan darah yang keluar dari kepalanya.
"Sesilia maafkan ayah, meski ayah tidak pernah mencintai ibumu, tapi ayah sangat menyayangimu nak, semua ini adalah kesalahan ayah karena ayah telah membuat keputusan yang salah di masa lalu, maaf ayah karena sudah membuatku terlahir di dunia ini, maaf kan ayah nak" ucap Johanna sambil terus memeluk Sesilia dengan gemetar.
Dia langsung menggendong Sesilia dan membawanya kerumah sakit terdekat, Johanna juga meminta dokter untuk memeriksa Sesilia dengan segera, dia duduk di luar ruangan pemeriksaan menunggu kabar dari dokter mengenai keadaan Sesilia dan di sisi lain dia juga berusaha mencari tahu di mana Laura istri sah nya di mata hukum itu di pindahkan.
Kebetulan rumah sakit saat ini adalah rumah sakit lama yang pernah di tempati oleh ibunya Sesilia jadi Johanna terus mendesak pihak rumah sakit untuk memberitahu dirinya ke mana istrinya di pindahkan.
"Sus tolong beri tahu saya ke mana istri saya di pindahkan dan siapa yang memindahkannya, tolong sus saya ini suami sah nya di mata agama dan hukum saya juga sudah memberikan bukti surat nikah saya kenapa anda tidak mau memberitahukan keberadaan dia kepada suaminya sendiri?" Desak Johana kepada sang suster yang menangani masalah informasi tersebut.
Karena desakkan dari Johana dan suster tersebut juga sudah melihat bukti yang jelas akhirnya pihak rumah sakit sepakat untuk memberitahukan semuanya, dan betapa kagetnya Johana saat mengetahui bahwa Sesilia sendiri yang memindahkan ibunya ke rumah sakit yang jauh dari daerah itu.
__ADS_1
"A..APA?, Sesilia yang memindahkannya?" Ucap Johanna dengan mata yang terbelalak sempurna saking kagetnya mendengar kebenaran tersebut.