
Sekarang sekretaris Ken tidak bisa banyak bicara lagi dengannya dia sudah sangat pasrah dan kesal yang membatu kepada Sesilia, dia pun hanya segera menyuruh Sesilia untuk masuk ke dalam mobil karena sekretaris Ken tahu jika semakin lama Sesilia di luar maka akan semakin berbahaya untuk nasib gajih dan pekerjaan dia saat ini yang sudah dia geluti selama bertahun-tahun lamanya.
"Aishhm..sudahlah ayo cepat masuk atau aku akan meninggalkanmu, ingat bersikap baiklah kepada tuan Arnold apa kau mengerti?" Ucap sekretaris Ken yang kembali memperingati aku,
"Iya...iya aku mengerti kok, kau tidak perlu memperingati aku terus seperti itu, aku bukan bocah TK tahu!" Ucapku kepadanya dengan perasaan yang sedikit kesal karena dia terus memperingati untuk bersikap baik pada tuan Arnold.
Padahal selama ini aku juga tidak pernah memperlakukan tuan Arnold dengan buruk justru aku selalu bersikap baik kepadanya dan selalu menahan emosi untuknya, bukan kah dia yang seharusnya di berikan peringatan oleh dia, tali dia selalu saja memperingati aku padahal aku tidak melakukan apapun setahuku.
Aku hanya bisa mengangguk patuh dan meng iyakan semua ucapan sekretaris Ken meski aku sangat kesal kepadanya, dia selalu saja melarangku untuk melakukan segala hal sekarang, padahal sebesar sangat asik dan baik kepadaku, aku sangat heran mengapa dia menjadi seperti sekarang dia menjadi sama saja dengan tuan Arnold beku dan dingin itu cukup membosankan untuk anak muda sepertiku.
Tapi mau bagaimana lagi jika aku ingin ikut ke kantor dengannya saat ini ya aku harus menurutinya sehingga mau tidak mau aku hanya diam saja tidak melakukan apapun.
Aku diam di dalam mobil dengan wajah yang cemberut bahkan hingga sampai di kantor aku hanya mengikuti tuan Arnold kemanapun dan duduk di sofa yang ada di ruangan tuan Arnold tersebut.
Saat pertama kali masuk ke ruangan tuan Arnold aku lihat ada banyak sekali buku yang berjajar rapih di rak yang ada di samping meja kerjanya yang cukup besar itu, di samping sana juga ada kaca besar yang sangat indah dan bisa melihat pemandangan kota dari sana dengan sangat jelas.
"Wahhhh....ini hebat sekali, apa ini tempat kerjamu tuan?" Tanyaku kepadanya dan sangat antusias ketika pertama kali masuk ke dalam ruangan itu.
"Iya ini adalah tempat kerjaku dan kau di larang untuk memegang barang apapun yang ada disini apa kau mengerti hah?" Bentak dia kepadaku dengan tatapan tajamnya lagi,
"Iya....iya aku mengerti, kenapa kalian berdua terliha sensi sih saat ini, membuat moodku rusak saja, padahal aku sangat senang saat pertama kali masuk ke sini, dan sekarang moodku kembali kau hancurkan aaahhh" ucapku sambil langsung duduk menjatuhkan diri ke sofa yang ada disana.
Aku yang dengan sengaja menjatuhkan diri namun justru malah sekretaris Ken dan tuan Arnold yang kaget serta merasa cemas kepadaku hingga mereka langsung berjalan cepat menghampiri aku.
"Eeehhh ...apa kau baik-baik saja?" Tanya tuan Arnold yang terlihat mencemaskan aku dengan wajahnya yang seperti itu,
"Kenapa kau bisa jatuh? Untung saja ada sofa di belakang sini" tambah sekretaris Ken yang sama mencemaskannya.
Aku hanya menatap mereka dengan tatapan heran dan termenung untuk beberapa saat sampai sekretaris Ken membenarkan posisi dudukku dengan rapih sedangkan aku masih merasa sedikit aneh dan tidak menduga mereka akan sekaget itu ketika aku menjatuhkan diri dengan sengaja ke belakang, aku langsung diam membisu dan tidak berani mengatakan yang sebenarnya karena aku takut mereka akan memarahi aku jika tahu bahwa sebenarnya aku memang dengan sengaja menjatuhkan diri.
Dan sudah tahu bahwa aku akan jatuh ke sofa itu sebelumnya.
Aku pun menenangkan mereka segera agar mereka tidak terus diam di situ menatapku dengan tatapan aneh ke duanya yang membuat aku merasa tidak nyaman juga membuat aku merasa sedikit bersalah kepada mereka.
"AA...ahhh...tuan... Sekretaris Ken aku ini baik-baik saja, sudah jangan pedulikan aku berlebihan begitu, kalian fokus saja dengan pekerjaan kalian, ayo sana cepat pergi aku akan diam di sini dengan tenang" ucapki sambil mendorong tubuh sekretaris Ken dan aku tersenyum lebar kepada tuan Arnold.
Sampai akhirnya mereka pun mau pergi dari sana sekretaris Ken yang keluar dari ruangan tuan Arnold dan tuan Arnold yang kembali fokus dengan layar komputer di hadapannya sedangkan aku hanya duduk di sofa sambil membaca buku yang aku ambil dari rak milik tuan Arnold dan buku itu memiliki tulisan yang sangat aneh, bahasanya semua bahasa asing dan aku tidak dapat memahaminya.
Sehingga aku langsung saja duduk merebahkan tubuhku ke belakang dan menaruh buku itu ke samping dengan menghembuskan nafas yang lesu juga menyerah pada keadaan saat ini.
"Haaahhhh.... Ini semua sangat menjengkelkan huaaa....semuanya tidak dapat aku baca" gerutuku merasa kesal sendiri.
Aku sudah menjadi mahasiswa tapi aku tetap tidak bisa memahami bahasa asing yang tertulis di buku itu, memang sedikit menjengkelkan bagiku namun itulah kenyataannya aku hanya bisa diam saja dan mengeluh.
Sampai tidak lama tiba-tiba saja tuan Arnold berdiri dan merapihkan jas nya aku langsung ikut bangkit berdiri dan mengikuti dia dari belakang karena dia berjalan pergi begitu saja hingga di depan pintu keluar dia malah berhenti mendadak sehingga aku menabrak bagian belakang tubuhnya cukup keras.
__ADS_1
"Dukk" suara kepalaku yang menabrak bagian belakang tubuh tuan Arnold.
"Aduh.....aaaahhh ini sakit tuan kenapa kau berhenti mendadak sih?" Ucapku sambil mengusap keningku pelan,
Tuan Arnold langsung berbalik menatapku dan dia membungkuk merendahkan tubuhnya menjadi sejajar denganku.
"Apa dahimu terluka? Coba aku periksa" ucapnya sambil memegangi dahiku,
Aku kaget bukan main mendengar dia bicara seperti itu dan aku pikir dia sungguh berubah menjadi perhatian kepadaku namun ternyata aku salah besar hal itu hanya bertahan selama beberapa detik saja dan dia langsung malah menyentil dahiku dengan jarinya cukup keras dan itu sangat sakit bagiku.
"Aduhh....tuan Arnold kenapa kau malah menyentil dahiku, aduhhh ini sakit sekali, aishh kau ini menyebalkan!" Ucapku meringis kesakitan,
"Heh, siapa suruh kau malah mengikuti dari belakang seperti itu dan kenapa kau malah mengikuti aku, cepat kembali ke tempatmu disana dan jangan ikut campur urusanku di kantor" ucap dia dengan tegas.
Aku kesal dan cemberut dan aku tetap keras kepala dengan pilihanku untuk ikut dengannya pergi ke luar karena aku sangat bosan duduk disana hanya berdiam diri membaca buku aneh yang bahasanya tidak bisa aku terjemahkan sedikitpun.
"Tidak tuan aku ingin ikut denganmu siapa tahu kau akan pergi ke luar dan aku ingin berjalan-jalan" ucapku sambil tersenyum ceria kepadanya.
Tuan Arnold langsung memijat keningnya lagi yang terasa pusing dalam menghadapi Sesilia yang memang adalah gadis nakal dan tidak pernah bisa diam ataupun tenang sejenak saja.
Dia selalu penasaran dengan semua hal yang akan dirinya lakukan, banyak bertanya dan selalu banyak bicara dia juga tidak pernah mendengarkan ucapannya dan tidak takut dengan peringatan ataupun ancaman yang dia lontarkan, dia tidak pernah takut apapun dan itu sangat menjengkelkan bagi seorang tuan Arnold karena harus mengurusi bocah nakal yang kuat itu.
"Sesilia diam dan tunggulah aku disini nanti aku akan memberikanmu makanan apa kau mengerti" ucap dia kepadaku dengan senyum yang dia paksakan.
Aku tahu bahwa saat itu dia tengah berpura-pura baik kepadaku dan mau menyogok aku dengan makanan, tentu saja aku tidak akan tergoda dengan sangat mudah dan aku tahu jelas jika aku ikut keluar dengannya jangankan makanan apapun bisa aku dapatkan jika aku memaksanya dan membuat dia semakin pusing.
"Tidak aku tidak mau makanan aku ingin ikut denganmu saja aku tahu kau akan pergi ke luar bukan, jadi aku ingin ikut.
Dia terus saja mengacak rambutnya frustasi dan tuan Arnold bahkan sampai berteriak cukup keras saat itu sangkin kesal dan stress nya menghadapi Sesilia yang sulit di atur dan di bujuk olehnya.
"Aaarrkkkhhh....hah...hah...harus bagaimana lagi aku menyuruhmu agar kau diam!" Gerutu tuan Arnold setelah berteriak cukup keras.
Hingga tidak lama sekretaris Ken muncul dan dia mengatakan bahwa mobil sudah siap sehingga aku langsung berjalan lebih dulu keluar melewati tuan Arnold dan sekretaris Ken yang berdiri di depan pintu.
"Permisi tuan mobilnya sudah siap" ujar sekretaris Ken yang saat itu tidak melihat bahwa ada Sesilia di sana,
Sehingga saat aku keluar sekretaris Ken terlihat kaget dan dia bertanya kepada tuan Arno dengan bingung.
"Tuan kenapa ada dia apa dia akan ikut dengan kita memantau proyek itu?" Tanya sekretaris Ken kepada tuan Arnold,
"Aaaahhhh...aku tidak tahu, biarkan saja dia melakukan apapun yang dia inginkan kau anggap saja dia tidak ada jika tidak ingin stres sepertiku" balas tuan Arnold sambil menepuk sebelah pundak sekretaris Ken.
Setelah itu barulah tuan Arnold langsung melanjutkan langkahnya menyusulku dan dia juga sekretaris Ken ikut masuk ke dalam lift denganku sampai kami turun ke lantai bawah dan langsung masuk ke dalam mobil yang di kemudikan oleh sekretaris Ken, aku sangat senang bisa pergi ke luar dan perjalanan yang cukup jauh saat itu hingga aku melihat sebuah pantai yang aku lewati.
Dan banyak pemandangan indah lainnya, aku sungguh merasa senang dan beruntung karena aku mau tetap ikut dengannya.
__ADS_1
"Wahhhh....pemandangan yang indah sekali, tuan apa kau akan ke pantai? Aishhh pantas saja kau melarang aku untuk ikut sebelumnya aahhh aku merasa senang karena membantah mu haha" ucapku kepadanya.
Aku terus sibuk melihat pemandangan dari kaca jendela mobil yang aku turunkan dan bisa merasakan angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahku hingga membuat rambut panjangku terbang ke belakang.
Sedangkan tuan Arnold sedari tadi terus saja menahan emosi dengan sekuat tenaganya dia berusaha untuk tidak marah dan melewati batas kesabarannya dengan Sesilia yang sangat menjengkelkan baginya di tambah dia berani sekali menurunkan kaca mobil seperti itu selama perjalanan membuat tuan Arnold juga ikut merasakan angin itu dan dia sangat tidak suka hal tersebut.
"Aishhh.....kenapa bocah nakal ini begitu menjengkelkan dan menguji kesabaranku!" Gerutu tuan Arnold sambil mengepalkan kedua tangannya yang sudah tidak tahan lagi.
Aku merasa dingin dan langsung menaikkan lagi kaca jendela mobil itu lalu duduk merebahkan diri ke belakang dengan senang dan mulai sedikit bosan karena kita tidak sampai juga di tempat tujuan.
"Aaahhhh ...tadi semuanya sangat bagus dan sekarang membosankan, kapan kita akan sampai tuan?" Tanyaku kepada tuan Arnold dan melihat dia mengeratkan giginya juga mengepalkan tangannya dengan kuat.
Aku menaikkan kedua alisku merasa heran melihat dia mengepalkan kedua tangannya sekuat itu dan wajahnya mulai terlihat meras begitu juga dengan telinganya, aku pun langsung bangkit dan mendekati dia lalu aku meraih tangannya dan melihat tangannya yang sudah terlihat bekas kukunya sendiri karena dia mengepalkan tangannya terlalu kuat dalam waktu yang lama.
"Ehhh ...tuan tanganmu, aaahhh hentikan itu, tuan ayo bukan tanganmu kenapa kau terus mengepalkan tanganmu sekuat itu, lihatlah ini akan berdarah jika kau terus mengepalkan ya sangat kuat" ucapku sambil memegangi tangannya dan berusaha membuka kepalan tangan tuan Arnold dengan kedua tanganku yang kecil.
Tuan Arnold langsung merasa aneh dengan dirinya sendiri di saat Sesilia menyentuh tangannya emosi dia mulai menurun sedikit demi sedikit namun dia tetap ingin mengepalkan tangannya karena masih cukup kesal dengan tingkah Sesilia sebelumnya.
Sedangkan aku sangat panik dan tidak tega melihat tuan Arnold terus membuat tangannya terluka sendiri aku pun memiliki ide untuk membuat tangannya itu terbuka, aku mencium tangannya itu dengan sekilas dan tiba-tiba saja tangannya langsung terbuka, tuan Arnold juga langsung menarik tangannya yang aku pegang saat itu, membuat tubuhku juga langsung tertarik ke arahnya dan badanku menimpa pangkuannya di mana aku malah tengkurap di atas pangkuannya di dalam mobil saat itu.
"Ehh....tanganmu langsung terbuka saat aku menciumnya, wahh apakah itu keajaiban?" Ucapku sangat senang.
Sampai tiba-tiba dia menarik tangannya dengan cepat dan matanya yang terbuka lebar,
"Aaahhhhh ....aduhh...tuan Arnold ada apa sih denganmu, aaaa.....kau membuat aku kaget saja" ucapku yang langsung dia angkat.
Tuan Arnold mengangkat tubuhku yang jatuh ke pangkuannya dengan menarik pakaian bagian belakangku bak seperti menjewer seekor kucing sehingga aku merasa sangat kesal dengan perlakuannya itu, padahal dia bisa saja menyentuh tanganku atau pundakku untuk membantu aku bangkit.
"E...e..ehh....tuan lepaskan kenapa kau mengangkat aku dengan cara seperti itu memangnya kau pikir aku ini kucing apa?" Bentakku kesal padanya.
Dia baru mau melepaskan pegangannya dariku ketika aku sudah membentaknya, itu cukup menjengkelkan bagiku dan aku langsung membenarkan pakaianku yang tertarik ke atas karena dia mengangkat aku seperti mengambil seekor kucing jalanan, tidak tahu kenapa dia melakukan itu padaku padahal aku sudah berbuat baik membuat tangannya bisa kembali terbuka.
"Heh, aku peringatkan padamu jangan, memeluk dan mencium tubuh orang lain sembarangan apa kau masih tidak mengerti juga dengan peringatan yang selalu aku katakan padamu hah?" Bentak dia sangat keras kepadaku,
"Apa? Aku tidak pernah memeluk orang lain sembarangan aku hanya mencium tanganmu karena kau terlihat marah dan tidak bisa membuka kepala tanganmu itu, aku hanya khawatir tanganmu akan terluka jadi aku melakukan itu dan hasilnya, kau langsung membuka kepalan tangannya bukankah itu berhasil?" Balasku kepadanya dengan kesal.
"Iya itu berhasil dan kau juga berhasil membuat jantungku berdegup kencang setiap kali kau menyentuhku, aishhh....dasar gadis sialan ini" gumam tuan Arnold yang tidak bisa mengungkapkan itu.
Dia pun hanya bisa langsung memalingkan pandangan dari Sesilia sebelum dia akan keceplosan dan tidak bisa menahan lagi dirinya sendiri.
Aku juga memalingkan pandangan darinya dan aku sangat tidak suka dengan sikapnya yang kasar seperti itu, aku mulai merasa tidak enak dan ingin segera pulang karena dia sudah marah kepadaku dan aku berdebat panjang dengannya sedangkan di depan sekretaris Ken bahkan tidak mau ikut campur apapun dengan masalah itu, dia hanya fokus menyetir saja di depan sana tanpa mengatakan apapun lagi.
"Huh....mereka berdua sangat menyebalkan, aku tidak suka dengan sikap kedua orang ini" gerutuku pelan.
Entah itu di dengar mereka atau tidak aku sudah tidak perduli lagi dan aku hanya ingin sendiri saja dan diam terus sekarang, sampai ketika kita sampai di tempat tujuan rupanya tuan Arnold pergi ke tempat sebuah proyek bangunan yang masih dalam proses.
__ADS_1
Dan tempatnya itu cukup dekat dengan pantai sehingga melihat hal tersebut rasa kesal ku langsung hilang seketika karena melihat pantai yang sangat cantik dengan airnya yang biru dan banyak orang juga yang berwisata ke tempat tersebut.