
Siska merasa sakit hati dengan perbuatan ayahnya itu dan dia langsung saja membentak Johana di hadapan ibunya sendiri.
"Kenapa ayah? Kenapa kau menamparku apa salahku padamu?" Bentak Siska dengan keras,
"Kau masih berani bertanya apa kesalahanmu hah? Kau sudah tahu bahwa Brain adalah satu-satunya yang bisa menyelesaikan permasalahan perusahaan kenapa kau malah putus dengannya? Kau sama tidak bergunanya dengan Sesilia kalian berdua sama saja, hanya bisa menghabiskan hartaku saja" balas Johana yang di kuasa oleh api kemarahan.
"Jadi hanya karena itu kau menamparku? Kau melampiaskan emosimu padaku dan menyalahkan aku atas semua kesalahan ini, seandainya kau tahu ayah bahwa Sesilia lah yang menyebabkan aku putus dengan Brain dia yang merusak rencanamu bukan aku!" Bentak Siska dengan keras dan dia langsung berlari menaiki tangga kembali ke kamarnya dengan cepat.
Dona langsung menghampiri Johana dan dia menampar Johana untuk membalas perlakuan Johana yang sebelumnya menampar putrinya Siska.
"Kau ....plakk....berani sekali kau menampar putriku, kau tidak tahu apa yang dia derita selama ini, dia mengorbankan masa kecilnya karenamu, dia tidak memiliki ayah selama ini dan kau malah memperlakukan dia seperti itu!" Bentak Dona kepada Johana.
Setelah itu Dona langsung pergi menaiki tangga dan dia segera menyusul Siska ke kamarnya yang ternyata saat itu Siska mengurung dirinya di dalam kamar, Dona terus mengetuk pintu kamar Siska dan berusaha keras untuk membujuk dia agar mau keluar dari sana.
"Tok ..tok...tok....Siska buka dulu pintunya Siska ini ibu nak, biar ibu bicara dahulu denganmu, ayahmu hanya di kuasai oleh emosi dia tidak bermaksud melakukan itu Siska" ucap Dona berteriak sambil mengetuk pintunya berkali-kali.
Sayangnya Siska tetap tidak menyahut dia terus menangis terisak di dalam kamarnya seorang diri, sedangkan di sisi lain Johana mulai merasa bersalah karena dia tidak mendengarkan penjelasan dari Dona dan Siska terlebih dahulu dan dia malah langsung menampar Siska begitu saja.
Dia pun segera menemui Siska dan berusaha membujuknya juga berbicara kepada Siska lagi karena dia sudah menyadari kesalahannya itu, Johana merasa sangat bersalah kepada Siska karena sudah menampar putrinya itu, dia pun berbicara kepada Dona dan mulai menyuruh Siska untuk keluar dari kamar.
"Dona biar aku yang bicara padanya" ujar Johana kepada Dona,
__ADS_1
"Bujuk dia atau aku tidak akan memaafkanmu lagi!" Ucap Dona memberikan ancaman pada Johana.
Johana segera berdiri di samping pintu Siska dan dia mulai memanggil Siska dengan perlahan juga membujuknya secara pelan-pelan.
"Siska sayang ...maafkan ayah, ayah sungguh terbawa emosi tadi, ayah tidak tahu jika sebenarnya semuanitu ulah dari Sesilia, maafkan ayah sayang tolong keluarlah" teriak Johana berbicara dengan perlahan kepada putrinya Siska.
Tidak ada sahutan lagi dari Siska dan Johana segera memanggilnya lagi karena sangat mencemaskan keadaan Siska.
"Siska maafkan ayah, ayah mohon padamu sayang tolong jangan membuat ayah mencemaskan kamu nak, ayah tidak akan menyalahkan kamu lagi" tambah Johana sambil memegangi gagang pintu kamar Siska saat itu.
Hingga lama kelamaan akhirnya Siska mau keluar dan dia segera menemui sang ayah juga ibunya, Johana juga langsung memeluk Siska ketika Siska baru saja membuka pintu kamarnya tersebut.
"Ayah....." Ucap Siska yang akhirnya membuka pintu kamarnya tersebut,
Siska pun mengangguk dan dia mulai merasa jauh lebih baik setelah mendapatkan pelukan dari sang ayah setidaknya dia merasa nyaman karena ayahnya sudah memaafkan dia dan dia berhasil sudah memfitnah Sesilia lagi sehingga membuat Johana semakin membenci Sesilia saat ini.
Dan setelah Johana pergi Siska dan Dona justru malah tersenyum dan menepuk tangan mereka satu sama lain karena mereka berhasil membodohi Johana, sedangkan di sisi lain Johana sendiri sudah sangat kesal dan kini emosinya meluap kepada Sesilia seorang dia terus membuat rencana yang sangat jahat kepada Sesilia sampai dia ingin menemui Sesilia untuk menyelesaikan permasalahan perusahaannya tersebut.
"Dasar Sesilia itu, dia putri yang sangat tidak berbakti dan tidak bisa diandalkan dia juga membuat aku menampar Siska tadi, aku benar-benar harus membuat perhitungan kepadanya!" Ucap Johana meluapkan emosinya sendiri.
Dona langsung menghampiri suaminya itu dan dia segera menghasut Johana untuk membuat Sesilia kembali ke rumah itu dan menyuruh Sesilia agar bertunangan lagi dengan Brain namun sayangnya Siska tidak setuju dengan hal tersebut dan dia dengan cepat menahan ibunya untuk tidak mendesak Johana lagi karena Siska juga menyukai Brain.
__ADS_1
"Bu...jangan lakukan itu, aku menyukai Brain dan kau tahu tentang itu bukan, Brain juga menyukaiku dan kau tahu jelas tentang hal itu, sebaiknya kita buat pelajaran dengan membuat dia menerima tamparan yang sama denganku saja agar dia tahu rasanya di tampar oleh ayahnya sendiri" ucap Siska kepada ibunya.
Dona pun mengangguk dan dia langsung meminta Johana untuk memberikan pelajaran itu kepada Sesilia.
"Sayang sebaiknya kau juga harus memberikan tamparan pada Sesilia karena kau juga telah menampar Siska baru itu akan menjadi adil, kamu juga suruh saja dia menggantikan uang yang telah di ambil oleh tuan Bramantyo bukankah dia sekarang ada di bawah naungan tuan Arnold? Dia berada dalam cakar yang jauh lebih kaya di bandingkan tuan Bramantyo, pasti dia akan memiliki uang yang banyak, kamu temui saja dia di gerbang kampusnya besok dan desak saja dia sampai dia meminta maaf pada Siska dan dirimu juga mau memberikan kita uang" ucap Dona mulai menghasut pikiran Johana.
Lama sekali Johana terdiam dan dia mulai terpikirkan akan hal tersebut sampai akhirnya sebuah senyum jahat tergambar pada wajah Johana dan Dona juga Siska yang sudah merencanakan hal itu bersama.
Sedangkan di sisi lain aku juga mulai merasa tidak enak hati bahkan malam itu aku sampai terbangun di tengah malam dan merasakan hatiku yang tidak enak, aku langsung bangkit dari ranjang dan pergi ke dapur untuk mengambil minum dan menenangkan diriku sendiri.
"Aahhh....kenapa hatiki terasa resah seperti ini yah? Semoga saja tidak akan terjadi apapun" gerutuku berbicara sendiri dan aku segera keluar dari kamar.
Aku pergi mengambil air dan meminum air tersebut dalam sekali tegukan sekaligus lalu terdengar perutku yang keroncongan dan aku mulai ingat bahwa aku belum makan malam sebelumnya karena tiba-tiba saja ketiduran dalam pelukan tuan Arnold sebelumnya.
"Kreokk.....kreokk.....kreokkk....." Suara perutku yang kelaparan.
"Aduhhh.....aku lapar, aku lupa kalau sebelumnya melewatkan makan malam, apa mungkin karena ini yah aku terbangun tengah malam begini? Aaahhh aku harus mencari makanan semoga saja tuan Arnold menyisakan makanan untukku" ucapku sambil segera menggeledah dapur itu.
Aku mencari ke setiap sudut dapur tersebut dan membukakan semua yang ada disana namun sayangnya tidak ada yang aku temukan sama sekali sehingga aku mulai merasa kesal dan lesu hingga ketika aku membukakan lemari es ku lihat ada sebungkus mie instan yang ada di dalam sana.
Dan melihat itu adalah sebuah keajaiban bagiku juga anugrah untuk perutku yang sudah sangat kelaparan sejak tadi.
__ADS_1
"Aahhhh....untunglah masih ada secercah cahaya disaat aku sedang kelaparan seperti ini, huhu mie instan ini adalah malaikat penolongku" ucapku sambil mengambil mie itu dan segera merebusnya.
Aku menikmati semangkuk mie instan seorang diri di tengah malam dan terus menyeruput mie itu hingga habis dan akhirnya perutku bisa terisi penuh hingga aku mulai bisa merasakan kantuk lagi di mataku.