
Aku sangat kesal dan tidak bisa menerima semua ini namun justru pria dihadapanku itu seperti dengan sengaja datang menghampiriku lalu dia mengulurkan tangannya mengajakku untuk pergi berjalan jalan bersamanya keluar dari ruang makan, aku tidak bisa berperilaku buruk di depan ayahku dan ayahnya sehingga mau tidak mau aku harus mengikuti alur adegan ini.
Aku pun tersenyum dan menerima uluran tangannya lalu dia membawaku keluar dari sana dengan segera, aku juga berpamitan kepada ayahku dan tuan Bramantyo sebelumnya, hingga tepat ketika baru saja keluar dari ruang makan, aku langsung menghempaskan genggaman tangan pria menyebalkan itu dariku, aku tidak mau berhubungan dengan orang seperti dia yang memiliki dua wajah dalam satu tubuh.
"CK...cukup jangan berakting lagi, kita sudah diluar, tidak akan ada yang melihatmu dalam wujud aslimu" ucapku menyindirnya,
"Apa yang kau katakan manis?, Aku sama sekali tidak mengerti" balasnya sambil menyentuh daguku tanpa permisi.
Aku menampar lengannya dengan kuat karena dia sudah berani-beraninya bertindak tidak sopan terhadapku bahkan di rumahnya sendiri saat ayahku masih berada di sana, aku langsung membentak dia dengan wajah yang kesal.
"Heh, berani-beraninya kau menyentuhku, aku peringatkan padamu jangan beraninya kau melakukan itu lagi denganku, jika kau tetap melakukannya aku akan...." Ucapku tak sampai karena dia tiba tiba saja memeluk pinggangku dan menarikku semakin dekat dengan dirinya,
Aku kaget dan membelalakkan mataku sekaligus, aku juga berusaha untuk melepaskan diri darinya namun pelukan dia terlalu kuat sehingga sulit untukku melarikan diri.
"Hey, apa apaan kau ini, lepaskan aku!" Bentakku cukup keras.
Dia tiba tiba membisikan sesuatu di telingaku yang membuat aku langsung terdiam tak bisa berkutik sedikitpun.
"Syuttt...kau tidak lihat ada pelayan disana mereka akan mengetahui penyamaran kita jika kau berteriak seperti itu" ucapnya memberitahuku.
Aku tahu ini hanyalah sandiwara antara aku dan dia namun tidak seharusnya dia memelukku seperti ini hanya karena takut ketahuan oleh seorang pelayan, sebab sepertinya kupikir pelayan seperti itu bisa dengan mudah dia perdayan oleh uang sehingga tidak perlu takut dia akan melaporkannya.
Aku mendorong tubuhnya agar menjauh dariku dengan sekuat tenaga sampai akhirnya aku berhasil memisahkan kedekatan diantara kami.
__ADS_1
"Heuhh....kau mencuri kesempatan dariku bukan?" Ucapku sangat kesal,
"Jangan gr aku kan sudah bilang itu hanya kebetulan akan bahaya jika sampai pelayan itu mengetahui yang sebenarnya, aku tahu kau membenciku karena sikapku padamu sebelumnya tapi bisakah kau bersikap lebih tenang sekarang?" Ucapnya meminta terhadapku.
Aku langsung tertawa dan menatapnya sinis dalam sekejap karena dia meminta aku agar bersikap tenang sedangkan dia selalu menyulut emosiku.
"Ahaha...lucu ya, kau memintaku untuk tenang sedangkan kau sendiri yang membuatku tidak merasa nyaman dasar pria menyebalkan" ucapku menjawabnya,
"KAU!, berani beraninya kau memanggilku menyebalkan, kaulah perempuan yang merepotkan jangan harap kau bisa bertunangan denganku!" Bentak pria itu lalu pergi meninggalkan aku sendirian.
Aku kaget dan panik ketika dia berbicara sekasar itu terhadapku apalagi mengancam mengenai pertunangan, aku tidak bisa membiarkan dia memutuskan pertunangan saat ini karena aku sangat membutuhkan uang itu demi pengobatan ibu dan keberlangsungan perusahaan, aku pun membuang jauh jauh rasa ego di dalam diriku dan berlari mengejarnya secepat yang aku bisa.
"Ehh..hey...tunggu....tunggu pria jelek" teriak ku keceplosan.
Namun ucapan hinaanku itu berhasil membuat seorang Brain berhenti lalu membalikkan badan dan berjalan ke arahku, aku senang dia kembali padaku namun setelah dia berjalan semakin dekat aku mulai melihat sorot matanya yang begitu tajam dan aku langsung berubah pikiran untuk menghindar dahulu darinya karena melihat raut wajahnya yang menakutkan.
Belum sempat aku melangkahkan kakiku dia sudah berhasil menahan lenganku lalu mendorongku hingga tersentak ke dinding dan dia mengunciku.
"Aaahhh...apa yang kau lakukan lepaskan aku!" Bentakku sambil berontak.
Dia semakin menekan lenganku keatas dan membuatku tidak bisa berkutik sedikitpun lalu dia mendekatkan wajahnya padanya dan hampir membuatku kehilangan kesadaran karena ulahnya yang tiba-tiba seperti itu.
"Lihat baik baik ke wajahku, apa kau masih bisa mengatakan bahwa wajah ini jelek! Apa kau buta hah!" Bentak pria itu yang nampak sangat kesal.
__ADS_1
Sebenarnya dia juga tidak jelek wajahnya tampan tapi aku mengatainya seperti tadi karena marah dan kesal, tidak pernah kusangka dia akan semarah ini kepadaku hanya karena aku menghinanya sebagai pria jelek.
"Ti...tidak...kau tidak jelek kau tampan jadi tolong lepaskan aku" ucapku langsung mengubah ucapanku.
Dia menatapku semakin dalam seperti tengah menyelidiki aku dan aku sangat takut ketika itu sehingga aku langsung saja berkata memujinya sebisaku agar aku bisa lepas dengan cepat dan dimaafkan olehnya meski bukan aku yang salah.
"Aaa...cukup kau tampan, baik dan berkarisma apa itu tidak cukup untukmu, kau sempurna makanya aku mau menerima pertunangan ini, dan tolong jangan menyentuhku sebelum kita benar-benar menjadi pasangan suami istri" ucapku mengatakan semua hal yang aku bisa karena aku panik tak karuan.
Dia terdiam sejenak lalu mulai melepaskan cengkraman dirinya dari tanganku l, aku pun bisa merasa lebih lega saat itu dan langsung mengatur nafasku yang sempat menderu dengan hebat.
"Hah...hah...hah.... syukurlah kau melepaskanku, huhu terimakasih" ucapku sambil memegangi dadaku yang terasa jantung di dalamnya hampir jatuh,
Brain hanya diam memperhatikan wajah lucu Sesilia ketika dia panik dan dibuat takut olehnya.
"Deg....deg...deg...apa apaan dengan jantungku, kenapa aku merasa senang melihatnya seperti ini, dia sangat menggemaskan" gerutu Brain tanpa sadar.
Dia memang berbicara pelan namun Sesilia masih sempat mendengar ucapannya sekilas sebab saat itu mereka berhadapan dan sangat dekat satu sama lain.
"Hah? Barusan apa yang kau katakan aku tidak mendengarnya dengan baik, boleh kau mengulanginya?" Tanyaku pada Brain karena aku rasa dia berbicara sesuatu.
"Hah?, Apa aku tidak mengatakan apapun mungkin itu hanya perasaan kau saja, atau apa kau memang ingin mendengar sesuatu dariku ya?" Balas Brain yang malah menggodaku.
Aku kesal dia melakukan itu padaku tapi aku harus mengambil kesempatan tersebut untuk membujuknya agar tidak marah lagi denganku dan tetap melanjutkan pertunangan diantara aku dan dia.
__ADS_1
"Eum...kalau begitu bisakah kau tidak membatalkan pertunangan ini, aku mohon padamu ayahmu tidak akan pernah memberikan pinjaman kepada ayahku jika kita berpisah" ucapku memohon dengan tulus kepadanya tanpa ada yang aku tutupi sama sekali.
"Dasar bodoh, bagaimana bisa dia berkata begitu jujur di depanku sekarang, dia memang sesuatu" gumam Brain merasa bahwa Sesilia menarik baginya.