
Sesampainya di rumah aku segera menghampiri ibu dan melihat kondisinya namun rupanya ternyata itu tengah tertidur dengan lelap, aku pun hanya mencium keningnya dengan penuh kasih lalu segera pergi karena tidak ingin mengganggu waktu istirahatnya.
Aku pergi ke dapur karena mendapati perutku yang keroncongan, rupanya disana sudah ada Tante Maria yang tengah memasak sesuatu aku sudah bisa mencium bau yang sangat lezat ini sejak dalam jarak yang cukup jauh hingga aku berdiri tepat di samping tante Maria yang tengah memasak dengan serius.
"Eummm....baunya enak sekali, boleh aku menikmatinya?" Tanyaku dengan tatapan yang cemerlang kepada tante Maria.
Aku sudah tahu jika aku memasang wajah seperti itu pasti tante Maria tidak akan bisa melarang apalagi menolak dan rupanya semua itu nyata dia hanya mengusap kelapaku dan menyuruhku untuk duduk di depan meja makan lalu dia membawakan menu yang baru saja dia masak ke hadapanku.
Aku sangat senang dan sudah tidak sabar untuk mencicipi menu tersebut, aku langsung mengambil piring dan menuangkan nasi juga lauk yang sudah dimasak oleh Tante Maria sebelumnya.
"Tante makananmu aku cicipi dulu ya" ucapku meminta izin dahulu.
Lalu Tante Maria langsung saja mengangguk tanda mempersilahkan, aku pun tidak perlu malu atau merasa senggang lagi terhadapnya sehingga aku langsung menyantapnya dengan suapan yang besar, saat masuk ke dalam mulutku itu sungguh sebuah perpaduan rasa yang sangat nikmat dan mengagumkan, rasanya aku belum pernah merasakan menu udang seenak ini.
"Eummm ini enak sekali bahkan lebih nikmat dari ekspektasi diriku sendiri, huhu tante kau sungguh berbakat" ucapku memuji masakan dan keahliannya,
"Ahaha...kamu ini bisa saja, kamu selalu tahu apa yang membuatku senang hingga tersipu dasar anak nakal" ungkap Tante Maria dengan pipinya yang mulai merona.
Aku hanya cekikikan sebentar lalu kembali fokus menghabiskan makanan di tas meja hingga perutku benar benar penuh dan rasanya sangat kenyang sekali. Karena perutku sudah kenyang aku langsung menyandarkan tubuhku ke belakang dan mulai memejamkan mataku dengan tangan yang mengusap perutku.
"Aaahhh... Ini enak, sehat dan mengenyangkan huhu aku ingin tidur sekarang" ucapku sambil menguap dengan mata yang sayu.
Saat aku baru saja berniat ingin memejamkan mataku dan beristirahat tiba-tiba saja jidatku di sentil cukup keras oleh tante Maria hingga membuatku sedikit meringis kesakitan juga refleks langsung tersadar hingga mataku merah dan kepalaku terasa sedikit pusing sebab dia melakukan itu secara langsung kepadaku dan aku terbangun dengan kaget.
__ADS_1
"Aaawww...sttt....Tante apa yang kau lakukan ini sakit" ucapku sambil mengusap keningku,
"Sesilia kamu itu seorang gadis muda, ayo kembali ke kamarmu juga mengantuk jangan tidur di sini, lagi pula bukankah kamu memiliki janji makan malam untuk pertemuan dengan colan suamimu itu?" Ungkap tante Maria mengingatkanku,
Aku baru saja teringat dengan pesan yang dikirimkan oleh ayah kepadaku sebelumnya ya pesan itu adalah waktu dimana aku akan bertemu dalam perjamuan makan malam di kediaman tuan Bramantyo disana aku akan bertemu dengan putranya yang selalu ayah bilang sebagai pria sempurna di manatanya dan juga calon suami yang baik untukku di masa depan.
Aku langsung terbelalak dan segera terperanjat berlari ke kamarku karena aku lupa belum mempersiapkan apapun untuk pergi ke perjamuan tersebut.
"Astaga, tante aku lupa belum menyiapkan apapun untuk itu, aishhh bagaimana aku bisa kesana sekarang waktunya juga tidak lama lagi aku pasti akan terlambat mana ayah belum kembali lagi" ucapku kebingungan dan panik seorang diri.
Tante Maria langsung membantuku mencari pakaian yang pantas di lemari bajuku dan membantuku untuk segera bersiap siap sampai tak lama ayahku datang dan dia menyelematkan aku dengan memberikan sebuah gaun mewah untuk aku pakai ke acara perjamuan tersebut.
"Sesilia ini gaun untukmu pakailah perhiasan ini juga, ayah ingin kamu terlihat sempurna Dimata mereka agar mereka bisa melihat betapa cantiknya putri ayah ini" ujar Johana sambil memegangi sebelah pundakku.
Aku langsung mengambil gaun itu dengan antusias dan segera mengenakannya dibantu oleh tante Maria lalu aku mulai memeriksa tubuhku di depan cermin dan ternyata benar saja gaun yang dibelikan oleh ayah untukku sangat cocok di tubuhku dan itu memiliki harga yang sangat pantastis, aku sampai tercengang saat pertama kali mengetahuinya.
"Ya ampun ayah bahkan rela merogoh kocek harga semahal ini hanya untuk sebuah gaun" gerutuku pelan.
Ini adalah pertama kalinya aku datang menghadiri sebuah perjamuan makan malam, meskipun aku tidak tahu siapa pria yang akan bertunangan denganku dan bagaimana rupanya nanti namun aku akan tetap berpenampilan rapih sebagai tanda bahwa aku menghormati undangan tersebut.
Aku juga tidak ingin mengecewakan ayahku sendiri, meski tidak dapat dipungkiri aku benci pernikahan bisnis ini, namun untuk saat ini memang tidak ada cara lain lagi yang bisa aku lakukan untuk membantu mempertahankan perusahaan peninggalan kakek ku, tante Maria membantuku untuk merias diri dan dia sangat pandai dalam hal ini hingga bisa meriasku layaknya seperti perias profesional dan hasilnya sangat memuaskan.
Saat menatap wajahku di cermin yang sudah mengenakan gaun cantik juga make up di wajah rasanya aku bahkan hampir tidak bisa mengenali wajahku sendiri karena make up dari tante Maria sungguh merubah penampilanku, aku menelan salivaku seakan masih merasa tidak percaya dengan pantulan tubuhku di cermin.
__ADS_1
"Wahhh....tante Maria kau sangat hebat, bagaimana bisa kau merubah wajahku menjadi secantik ini, bahkan aku masih kebingungan apa yang ada di dalam pantulan cermin itu benar diriku atau bukan?" Ucapku dengan tatapan terkagum melihat diriku sendiri.
Tante Maria hanya terkekeh beberapa saat dengan tangan yang menutupi mulutnya dia terlihat begitu lemah lembut dan karismatik seperti biasanya, aku sangat bangga dan bahagia bisa mengenalnya.
Tapi meski aku merasa diriku begitu cantik di dalam cermin aku mulai sadar bahwa aku berdandan seperti ini untuk orang yang tidak aku kenal sama sekali, padahal niatku aku hanya akan memperlihatkan pesonaku kepada orang yang aku cintai saja, mengingat hal itu rasanya aku langsung sedih dan hampa.
Aku menundukkan kepalaku hingga tante Maria menghampiri dan memegang kedua lenganku dengan lembut.
"Sesilia ada apa lagi?, Kenapa kamu tiba tiba seperti ini?, Katakan padaku apa yang mengganggu pikiranmu?" Ujar tante Maria dengan wajahnya yang begitu mendamaikan.
Aku langsung memeluknya dengan erat karena aku tidak bisa mengatakan apa yang sebenarnya benar benar membuatku sedih seperti ini.
Entah kenapa tiba-tiba saja aku merasakan sebuah firasat buruk di dalam hatiku aku yang sebelumnya antusias dengan perjamuan ini karena ini pertama kalinya untukku kini aku merasa seperti perjamuan ini bukanlah hal baik untukku, namun jika harus menolak pergi ini sudah sangat terlambat untuk melakukannya.
Ayah sudah mengetuk pintu kamarku dan itu artinya sudah waktunya untukku pergi, tante Maria menepuk punggungku beberapa kali dan dia mengangguk memberiku semangat aku pun mengikuti ayahku dan segera pergi ke tempat kediaman tuan Bramantyo.
Sepanjang perjalanan aku merasa sangat gugup dan tidak menentu, ayah sesekali melirik ke arahku dan dia hanya memberikan beberapa kalimat untuk menenangkan ku.
"Sayang, tenang saja mereka orang baik ayah telah mengenalnya dalam waktu yang lama dan tuan Bramantyo tidak memiliki istri sehingga akan mudah untukmu masuk ke dalam keluarga tersebut, terlebih sejak kau kecil dia sangat menyukaimu karena kau sama cantiknya dengan ibumu" ujar Johana berusaha membantuku untuk lebih tenang.
"Eumm!, Iya ayah aku yakin dengan diriku sendiri hanya saja aku takut jika nanti melakukan kesalahan sebab ini pertama kalinya aku menghadiri acara seperti ini" balasku mengungkapkan kegundahan hatiku sedari tadi.
"Tenang saja kita akan pergi bersama sama, ayah akan ada di sampingmu selalu" kata ayah dengan senyum lebar di wajahnya yang membuatku seketika merasa jauh lebih baik.
__ADS_1