
Aku hanya bisa duduk di depan meja makan tanpa bisa melakukan apapun dengan perut kosong yang keroncongan, rasanya aku sudah tidak tahan lagi merasakan perutku yang kelaparan sedangkan benar-benar tidak ada bahan makanan yang bisa aku pasak ataupun makanan lain di dalam kulkas yang bisa aku makan, rumah ini memang mewah tapi tidak ada sedikitpun makanan di dalam lemari pendinginnya.
Di rumah itu juga tidak ada pelayan sehingga aku tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa, dan aku hanya bisa menggerutu kesal seorang diri.
"Eughh....sial rumah ini terlihat begitu mewah dan luas tapi kenapa tidak ada makanan sedikitpun di dalam lemari esnya, semua hanya botol minuman soda dan air mineral dingin huaaa mana mungkin aku bisa mengisi perutku hanya dengan minuman seperti ini" gerutuku kesal saat kembali membuka lemari pendingin itu.
Aku menutup pintu lemari pendinginnya dengan kuat dan aku menendang lemari pendingin itu cukup keras karena kesal, namun justru malah kakiku sendiri yang terasa sakit karena menendangnya terlalu keras.
"Dasar lemari pendingin tidak berguna, untuk apa memiliki barang sebagus ini tapi tidak ada isinya eughh...bukk....awwww...sakit adududuhhh" ucapku sambil mengangkat satu kakiku dan mengusapnya beberapa kali karena sakit dan nyeri.
Sudahlah kelaparan kini kakiku juga sakit dibuatnya, hingga mataku tidak sengaja melihat sebuah aquarium yang terpajang di ruang tengah dimana di dalam aquarium itu terdapat beberapa ikan hias di dalamnya, melihat itu aku langsung tersenyum memikirkan sebuah ide yang muncul di dalam kepalaku.
"Ehhh...apa itu, ikan yah?, Ahahaha....aku punya ide" ucapku sambil tersenyum senang dan berjalan menghampiri aquarium yang cukup besar itu.
Karena tidak ada makanan lain di rumah ini sehingga tidak ada cara lain selain menangkap ikan-ikan yang berada di dalam aquarium tersebut, lagi pula ikan di dalam sana sudah cukup besar-besar jadi aku pikir itu siap untuk dipanen, aku segera pergi ke dapur dan mencari cari wajah yang besar agar bisa aku gunakan untuk menangkap ikan di dalam aquarium tersebut.
Aku segera bergegas menangkap ikan itu dengan sekuat tenagaku, meskipun ikan tersebut sangatlah lincah dan aku kesulitan untuk menangkapnya tapi karena aku tidak putus asa akhirnya aku berhasil menangkap empat ekor ikan dari dalam aquarium tersebut, dan tinggallah dia ekor ikan lain yang masih kecil di dalam sana.
Karena sudah berhasil menangkap empat ekor ikan tersebut, aku pun segera membersihkan ikannya dan bersiap untuk membakar ikan tersebut, sayangnya tidak ada rempah-rempah apapun di dapur dan hanya ada gula, garam serta sebuah kecap asin, tidak ada yang bisa aku gunakan untuk memberikan bumbu pada bakar ikanku, sehingg aku hanya membakarnya saja hingga matang dan memberikan sedikit kecap manis diatasnya.
"Eummm....pasti ikan ini akan terasa enak, bukankah ikan orang kaya memang enak-enak ya, hehe" ucapku sambil terus asik membakar ikan diatas tungku kompor yang ada di dapur tersebut.
__ADS_1
Setelah bau ikan tersebut sudah semakin tercium aku pun mematikan kompornya dan segera mengangkat ikat tersebut dan menaruhnya diatas piring yang sudah aku siapkan sebelumnya, aku membawa ikan tersebut ke meja makan dan mulai menyantapnya seorang diri hingga perutku kenyang dan terisi penuh.
"Huaaa...enak sekali, ternyata masakan pertamaku tidak seburuk yang aku bayangkan" ucapku memberikan nilai pada masakan pertamaku ini.
Ya bakar ikan hias dari aquarium tuan Arnold Albertus ini adalah makanan pertama yang aku buat dengan tanganku sendiri, tanpa bumbu tanpa bantuan dari siapapun dan aku membersihkan ikan itu seorang diri sampai harus berlari-lari kecil mengejar ikat yang berlari lari di lantai dapur karena terus tidak bisa diam.
Aku sudah mengeluarkan banyak energi hanya untuk membakar empat ekor ikan hias saja, tadinya aku hanya akan mengambil satu ekor saja tapi setelah aku pikir lagi aku akan makan tiga kali dalam sehari dan jika menunggu tuan Arnold kembali mungkin itu akan sangat lama, aku tidak pernah tahu kapan dia akan kembali ke rumah ini, bisa saja sore, malam ataupun besok jadi aku memutuskan untuk mengisi penuh perutku dulu dengan mengambil empat ekor ikan tersebut.
Lagi pula di rumah itu tidak ada nasi maupun beras jadi jika hanya memakan ikan saja tentu tidak akan membuatku kenyang berbeda dengan empat ekor ikan yang sudah aku makan itu baru membuat perutku terisi penuh dan sekarang aku tidak merasa kelaparan lagi.
Saat aku berniat untuk membereskan piring kotor yang aku pakai sebelumnya kulihat dapur yang sudah sangat berantakkan, karena ulahku yang sebelumnya kesulitan untuk membunuh empat ekor ikan itu sampai harus berlari di lantai dan membunuhnya dengan sangat tragis sebelumnya.
Aku menaruh piring kotor bekas makanku di wastafel dapur dan aku tidak tahu bagaimana cara mencuci piringnya, sebelumnya semua pekerjaan rumah dilakukan oleh pelayan di rumahku dan terkadang oleh ibuku, aku sangat jarang datang ke dapur aku hanya pergi ke ruang makan di waktu-waktu tertentu ketika ibu memanggilku untuk makan, saat itu membuat bubur pun aku dibantu oleh pelayan di rumahku sehingga aku hanya duduk menunggu hingga mereka selesai membuat bubur dan aku membawanya untuk ibuku.
Sekarang melihat dapur tuan Arnold yang berantakan karena ulahku aku jadi bingung bagaimana cara untuk membersihkannya, aku sudah mencari cari pelan dan sapu untuk membersihkan kekacauan ini namun di rumah itu sungguh tidak ada alat-alat seperti itu aku justru sudah merasa lelah karena mencari pelan dan sapu hampir ke seluruh penjuru rumah itu.
Sampai akhirnya karena aku merasa lelah aku memilih untuk beristirahat di ruang tengah aku merebahkan tubuhku di sofa dan menyalakan tv di besar di rumah tersebut, karena keasikan menonton film kartun Upin & Ipin di dalam tv aku sampai lupa bahwa dapur yang berantakan belum aku bereskan.
"Ahaha...si botak konyol itu dia menggemaskan, ahaha....aku ingin memiliki anak seperti mereka mereka lucu sekali ahahah" ucapku terus tertawa sambil berbaring menonton tv seorang diri.
Rasanya sangat menyenangkan dan aku tidak sadar ketiduran di sofa hingga sore sementara tv masih menyala karena aku lupa tidak mematikannya.
__ADS_1
Hingga tiba-tiba saja bunyi bel di rumah itu membangunkanku dan aku segera bangkit dengan malas dan berjalan lesu sambil mengucek mataku pelan.
"Iya iya tunggu sebentar, siapa sih?" Ucapku merasa heran.
Saat aku melihat dari layar proyektor di samping pintu rupanya itu tuan Arnold dan sekretaris Ken, aku sangat kaget bukan main, dan aku ingat dapur belum aku bereskan, air yang berserakan bekas menangkap ikan juga belum aku bereskan, lalu sofa depan juga berantakan karena bekas tidurku di sana.
Aku bingung dan clingukan tidak jelas, antara panik dan takut.
"Aishh....bagaimana ini, aaahhh dia pasti akan marah jika melihat semua kekacauan di dalam rumahnya, aduh aku harus bagaimana untuk menghindari amarahnya nanti" gerutuku kebingungan dan panik sendiri.
Aku pun berusaha menenangkan diriku sendiri karena tuan Arnold sudah menekan bel rumahnya berkali kali hingga sudah tidak terhitung lagi jumlahnya.
"Huuuh....oke tenang, tenang Sesilia kamu harus tenang dia tidak akan marah oke iya aku hanya harus masuk ke dalam kamar dan mengunci diri agar dia tidak marah padaku" ucapku menenagkan diriku dan menyusun rencana penyelamatan diri sendiri.
Perlahan aku membuka pintu itu dan memasang wajah tersenyum sebaik yang aku bisa, sedangkan tuan Arnold menatapnya dengan heran serta penuh kecurigaan.
"Heh, bocah kenapa kau terus tersenyum seperti itu kepadaku, Minggu aku akan masuk" ucapnya dengan keras.
"Tidak aku hanya ingin tersenyum saja menyambutmu, kau terlihat tampan saat pulang bekerja, iya kan sekretaris Ken" ucapku sengaja memujinya agar dia merasa senang,
Tuan Arnold dan sekretaris Ken serentak membelalakkan matanya sangat lebar saat mendengar ucapan dari Sesilia yang mengatakan bahwa tuan Arnold tampan secara tiba-tiba, rasa kecurigaan mereka pun semakin meningkat karena keanehan pada Sesilia sangatlah terlihat jelas.
__ADS_1