Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang

Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang
Pergi Ke Restoran


__ADS_3

Namun karena sudah terlanjur tuan Arnold pun tidak bisa melakukan apapun lagi, dan makanannyapun sudah habis di makan semuanya oleh Sesilia hanya tersisa pizza nya saja itupun tersisa hanya beberapa potong saja dan ayamnya yang hanya ada satu lagi.


Aku benar-benar merasa gugup saat itu dan disaat tuan Arnold duduk di hadapanku aku bingung harus melakukan apa, aku pun mempersilahkan dia untuk menikmati makanannya juga karena aku tahu dia belum makan siang hari ini.


"E..e..eheh...tuan kau jangan melihatku seperti itu, ini silahkan nikmati makan siangmu aku sudah kenyang, aku mau kembali ke kamar" ucapku sambil memberikan satu potong ayah yang tersisa ke pada tangannya.


Aku perlahan bangkit berdiri dan tersenyum kecil kepadanya lalu berniat untuk pergi ke kamarku namun dia langsung menghentikan aku padahal saat itu aku kira aku sudah bisa terbebas dariny, ternyata aku salah lagi kali ini dia memang sulit untuk di tebak.


"Berhenti! Mau pergi begitu saja setelah menghabiskan semuanya sendiri dan tidak ingat denganku, apa kau ini menganggap aku atau tidak?" Ucap tuan Arnold yang aku rasa dia benar-benar marah padaku kali ini.


Aku pun berbalik dan berbicara dengan baik kepadanya berusaha membujuk dia agar tidak marah kepadaku karena jika dia yang marah aku takut dia akan mengusir aku seperti sebelumnya dan yang ada aku juga yang akan merasa rugi nantinya.


"A..ahh....hahah.. tidak kok, aku ke kamar hanya untuk bersiap siap saja aku akan mengajakmu untuk pergi makan di luar bagaimana kau pasti mau kan pergi denganku?" Ucapku beralasan begitu saja.


Padahal sebelumnya aku sama sekali tidak ada niatan sekalipun untuk mengajak dia makan di luar bersama dan aku juga mana ada uang untuk membayarnya, tidak tahu apa yang membuat bibirku saat itu malah mengatakan alasan yang sangat tidak masuk akal itu.


Dan sialnya tuan Arnold itu justru malah menyetujuinya dia mengangguk dengan penuh antusias dan menyuruh aku untuk segera bersiap-siap.


"Oh begitu babuslah aku setuju aku mau makan di luar denganmu, ayo cepat sana bersiap-siap aku akan menunggumu di mobil" ucapnya sambil bangkit berdiri dan berjalan keluar melewatiku dengan santai.


Aku berdiri mematung dan merasa sangat heran juga kesal sendiri karena dia malah menyetujuinya dengan sangat mudah dan semua ini sungguh membuat aku semakin berada dalam posisi yang sulit aku tidak tahu harus menghadapinya bagaimana dan untuk membayarnya aku harus melakukan apa nanti.

__ADS_1


"Aduhh... Sial bagaimana sekarang?" Gerutu merasa kebingungan sendiri,


Tuan Arnold muncul kembali ke dalam rumah dan dia mendesak aku untuk cepat menyusulnya ke luar.


"Eh.. kenapa kau masih disana ayo cepat ganti pakaianmu dan segera menyusulku aku akan menyiapkan mobil, yang cepat yah aku sudah lapar" ucapnya mendesakku.


Aku sudah sangat pasrah dan tidak perduli lagi aku langsung masuk ke dalam kamar berganti pakaian dan segera menghampiri dia yang ternyata memang sudah siap duduk di dalam mobil dan memarkirkan mobil di depan pintu keluar, aku langsung masuk dan dia segera melajukan mobilnya dengan cepat setelah masuk jalanan besar dia juga mulai bertanya kepadaku.


"Baik sekarang restoran mana yang akan kita tuju? Tanya dia kepadaku dengan menaikkan kedua alisnya dan terlihat bersemangat.


Wajah dia yang senang seperti itu membuat aku semakin benci dan kesal saja kepadanya karena aku sendiri mana tahu restoran yang ada disekitar sana dan aku tentu harus mencari yang harganya murah tapi aku tetap tidak punya uang sepeserpun.


Alhasil aku hanya bisa pasrah dan mengatakan yang sebenarnya kepada tuan Arnold sebelum dia terus mendesakku seperti itu dan aku tidak bisa terus menerima tekanan darinya yang membuat aku terus merasa tidak tenang dan membuat dadaku sesak sedari tadi.


"Tu...tuan karena kau sudah mengetahuinya aku tidak bisa berbohong lagi padamu aku memang hanya beralasan saja tadi, dan aku hanya asl bicara aku tidak tahu restoran manapun di sekitar sini dan aku juga tidak punya uang mana mungkin aku akan mentraktirmu makan di sebuah restoran, bahkan untuk membeli minuman murah saja aku meminta uangnya darimu, aku minta maaf" ucapku menjelaskannya sambil menunduk dan menghembuskan nafas lesu.


Dia langsung terdiam dan aku pikir dia diam karena marah denganku aku tidak bisa melihat wajahnya aku sama sekali tidak berani hingga tiba-tiba saja dia menepuk kepalaku dengan lembut beberapa kali membuat aku merasa kaget mendengar ucapannya setelah itu.


"Bodoh, dasar kau bodoh, aku sudah tahu sejak awal kalau kau berbohong, aku memang ingin makan siang denganmu sejak awal tapi kau terus merajuk padaku, dan aku senang kau berkata jujur padaku padahal aku tidak mengira kau akan sejujur itu" balas dia sambil tersenyum kecil padaku.


Aku menatapnya dengan heran karena ini pertama kalinya dia tersenyum kepadaku meskipun hanya sebuah senyuman yang kecil dan tipis juga hanya bisa aku lihat sekilas karena aku kebanyakan menunduk saat itu.

__ADS_1


Bahkan aku masih bertanya tanya sendiri di dalam kepalaku apakah aku benar-benar melihat dia tersenyum padaku barusan atau tidak, itu sangat langka dan membuat aku kaget tidak percaya hingga membelalakkan mata.


"Tu...tuan apa kau baru saja tersenyum padaku? Apa kau tidak marah denganku?" Ucapku kepadanya dengan mata yang terbuka dan merasa tidak percaya dengan semua ini,


"Em.... Aku tidak marah karena aku bukan anak TK sepertimu yang bisa merajuk hanya karena hal sepele" balas dia dengan santai dan wajah datarnya lagi.


Aku merasa sangat senang sekali dan seketik wajahku langsung berubah kembali senang dan ceria aku tidak mengira dia memang orang dewasa yang baik walaupun wajahnya sedikit membosankan karena tidak memiliki ekspresi lain yang bisa di perlihatkan kepadaku selain dari marah dan datar tapi dia ternyata memiliki sikap yang bagus.


"Hehe... Aku senang kalau kau tidak marah" ucapku menanggapinya.


Hingga tidak lama kemudian dia pun membawa aku ke sebuah restoran yang jaraknya lumayan jauh dari kediamannya tapi restoran itu terlihat cukup mewah dan pengunjungnya juga banyak sekali kami hampir kesulitan mencari meja yang kosong disana.


Namun untungnya aku datang dengan seorang tuan Arnold yang kaya raya dan terhormat, para pelayan seperti sudah mengenalinya dan langsung memberi hormat kepadanya, mereka juga langsung menuntun kami dan mempersilahkan untuk pergi ke ruangan VIP restoran tersebut dimana tempatnya berada di lantai dua dan disana semuanya menggunakan kata tebal yang transparan juga kami mendapatkan meja di samping kaca tersebut sehingga bisa duduk menikmati makanan sambil melihat pemandangan kota di waktu senja dengan sangat jelas dan cantik dari atas sana.


"Wahhh.... Ini indah sekali, aku tidak pernah melihat pemandangan seindah ini" ucapku sambil terus menatap tanpa berkedip ke depan sana.


Aku bahkan menempelkan tanganku ke kaca tersebut seakan aku bisa menyentuh matahari yang berwarna jingga tersebut.


"Yah ini sangat indah" balas tuan Arnold sambil menempelkan tangannya juga di samping tanganku.


Aku menoleh ke arahnya dengan segera karena merasa aneh mengapa orang seperti dia dan selalu dia bisa melakukan hal seperti itu dan dia seperti meniru gerakan tanganku yang menempelkannya ke dinding saat itu juga mengatakan kalimat yang sama.

__ADS_1


Aku pun segera menarik kembali tanganku dan hanya menatap terus menikmati keindahan kota yang luar biasa.


__ADS_2