Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang

Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang
Bertemu Dona dan Siska


__ADS_3

Saat itu juga Johana hanya terus mengangguk menyetujui semua yang dikatakan oleh tuan Bramantyo karena saat ini dia sangat membutuhkan pinjaman uang tersebut untuk mempertahankan posisi perusahaannya.


Hingga beberapa saat kemudia dia pun akhirnya pergi meninggalkan perusahaan tersebut dan kembali menuju perusahaannya tapi saat dia baru saja tiba, di depan pintu masuk perusahaan sudah ada Dona dan putri simpanannya Siska yang berdiri di sana menunggu kedatangan dia.


Johana sangat kaget dan dia langsung berlari kecil menghampiri mereka berdua lalu langsung menyeret mereka untuk masuk ke dalam mobil agar orang orang di kantor tidak mencurigai dirinya.


"Kalian ini, ayo ikut aku" ucap Johana dengan wajah yang memerah menahan amarah sambil menarik mereka berdua masuk ke dalam mobilnya dengan cukup kasar.


Johana bahkan membanting pintu dengan cukup keras hingga membuat anak dan ibu itu tersentak kaget.


"Sayang ada apa denganmu?, seharusnya yang marah adalah aku karena ini sudah satu bulan lebih dan kau masih belum memenuhi janjimu pada aku dan anakmu" ucap Dona dengan wajah yang tak kalah kesal dari Johana.


Rupanya kedatangan mereka berdua ke kantor Johana adalah untuk menagih janji Johana sebelumnya dan kini mereka sudah jauh lebih berani untuk menampakkan diri mereka di depan umum secara langsung bahkan tanpa memberitahu Johana mengenai kedatangan mereka terlebih dahulu.


Johana berusaha mengontrol emosinya dia menghembuskan nafas kasar dan barulah mulai mengeluarkan suara untuk Dona yang ada di sampingnya kala itu.


"Dengarkan aku baik baik, aku sudah memproritas kan kalian sejak dahulu, dan tidak bisakah kalian sedikit menunggu untuk saat ini sebentar saja ha?" Bentak Johana dengan keras.


Dona tetap tidak bisa menerima semua itu karena dia sudah tidak sabar untuk merebut semua harta yang dimiliki oleh Johana dan dia sungguh ingin menjadi nyonya besar keluarga itu, sementara belakangan ini dia merasa Johana telah menghindarinya sehingga dia mulai merasa cemas.


"Sayang bagaimana aku tidak marah dan cemas kau tidak datang untuk mengunjungi kami akhir akhir ini, dan kau juga tidak memberikan kabar apapun, terlebih aku membutuhkan dana untuk biaya Siska yang ingin pindah kuliah semester ini, dia ingin kuliah di tempat yang sama dengan Sesilia, karena dia iri terhadapnya dan itu wajar saja bukan, dia tidak pernah mendapatkan apapun yang Sesilia dapatkan darimu" ucap Dona dengan memasang wajah pilu dan menyedihkan.

__ADS_1


Begitu pula dengan Siska yang mulai menguasai aktingnya dengan sangat baik. Dia berpura pura merasa sedih sambil memeluk ibunya yang mulai menangis sehingga membuat Johana merasa kasihan dan tidak tega dengan kondisi mereka, dan dia telah membuat sebuah keputusan saat itu juga.


"Kalian bersabarlah sebentar lagi, setelah kondisi perusahaan telah membaik ketika Sesilia telah bertunangan dengan Brain dan aku mendapatkan pinjaman dana dari Bramantyo maka aku akan membawa kalian masuk dan menjadi nyonya di rumah itu" ucap Johana telah memutuskan,


"Benarkah, kau harus menepati janjimu itu ayah" ucap Siska dengan senyum bahagia yang terbentang sangat jelas di wajahnya.


Johana segera mengangguk memberikan jawaban atas keraguan putrinya tersebut dan Dona langsung kembali memeluk Siska dengan bahagia, mereka sangat senang karena telah berhasil mendesak Johana dan akan secepatnya menempati rumah mewah tersebut.


Setelah berbicara dengan mereka di dalam mobil Johana pun segera menyuruh mereka berdua untuk kembali ke desa dan dia memberikan sejumlah uang tunai yang cukup banyak ke pada Dona untuk biaya kuliah Siska.


"Sudah sebaiknya kalian cepat pergi dari sini dan kembalilah ke desa, ini uang untuk biaya kualih Siska dia bebas memilih untuk kuliah di manapun karena akan ayah pastikan kalian akan menempati rumah itu secepatnya" ucap Johana meyakinkan mereka agar bisa cepat pergi dari hadapannya.


Setelah kepergian mereka barulah Johana bisa bernafas dengan tenang, dan kembali pada dirinya namun ketika di hadapan Dona seakan semua kendali dirinya hilang dan beralih pada Dona, cintanya kepada Dona telah membutakan mata hatinya sendiri sehingga dia selalu mendengarkan semua keinginan Dona tanpa berpikir jernih terlebih dahulu.


Saat keluar dari mobil ponsel milik Johana jatuh dan terinjak oleh orang lain dengan cukup kuat sehingga membuat ponselnya itu rusak total, Johana sangat kaget dan dia segera mengambil ponselnya lalu memarahi orang yang telah menginjak ponselnya tersebut, lalu dia segera masuk ke kantornya dan mencoba ponselnya agar bisa menyala kembali, namun sayangnya ponsel itu benar benar sudah mati total sehingga Johana menaruh ponsel itu ke laci meja kerjanya.


Dan dia segera mengganti dengan ponsel yang baru untuk sementara waktu namun saat dia berniat untuk memperbaiki ponsel lamanya dia menemukan sebuah benda aneh di ponselnya tersebut sehingga saat dia memeriksanya dia pun mengetahui bahwa itu adalah alat pelacak GPS yang berukuran sangat kecil, Johana langsung menghancurkan alat pelacak itu dengan kakinya sendiri dan dia dipenuhi amarah karena mengetahui ada yang telah memata matai dirinya selama ini.


"Sial...siapa yang berani memata matai aku selama ini, pasti semuanya adalah rencana dari musuh bisnisku, pantas saja semuanya tiba tiba anjok seperti ini, sial aku akan melakukan pelakunya!" Ucap Johana dengan penuh emosi.


Saat itu Johana masih mengira bahwa itu perbuatan dari musuh bisnisnya yang telah menyebabkan usaha yang dia kelola menjadi hancur dan saham perusahaan miliknya menjadi turun secara drastis, namun dia tidak mengetahui bahwa itu adalah perbuatan putrinya sendiri Sesilia Kiehl.

__ADS_1


Jika Johana mengetahui kebenarannya entah apa yang akan dia lakukan terhadap Sesilia, namun untungnya alam masih berpihak pada Sesilia untuk saat ini.


******


Waktu terus berlalu dan kini Sesilia sudah kembali di kediamannya bersama sang ibu sedangkan suster Maria baru saja berpamitan pulang kepada mereka dan Sesilia segera membawa sang ibu ke kamar untuk beristirahat, karena dia mengerti ibunya pasti akan merasa sangat lelah setelah banyaknya serangakain pengobatan dan terapi yang sudah ibunya lalui hari ini.


"Ibu istirahatlah dengan tenang aku akan pergi menyiapkan beberapa urusan kuliahku" ucap Sesilia sambil menyelimuti sang ibu,


"Se..Sesilia...terimakasih kamu telah mengurus ibu, nak ada yang ingin ibu bicarakan denganmu" ucap ibu Laura menahan lengan Sesilia yang hendak pergi.


Sesilia pun kembali duduk di samping ibunya yang sudah merebahkan tubuhnya.


"Ada apa ibu, katakan saja" balas Sesilia sambil tersenyum pada ibu,


"Sayang meskipun ayahmu telah melakukan kesalahan ibu tahu betul dia bukan orang yang jahat, dia akan tetap menyayangi kamu apapun keadaannya, tapi ibu mohon padamu jangan pernah membencinya ibu ikhlas atas apa yang dia lakukan pada ibu, dan ibu rasa ibu tidak akan lama lagi, kamu harus tumbuh menjadi wanita yang sukses dan teruslah tersenyum bahagia agar ibu bisa merasa tenang ketika ibu pergi" ucap ibu Laura yang tiba tiba saja berbicara seperti itu membuat Sesilia kebingungan dan merasa sedih,


"Ibu tolong jangan bicara seperti itu, aku yakin kau akan sembuh buktinya kini kau sudah bisa berbicara bukan, dan sebentar lagi aku yakin ibu akan sembuh seperti sedia kala" kata Sesilia pada ibunya sambil menggenggam kedua lengan ibunya dengan lembut,


"Sesilia ibu tidak ingin membuat pendidikan kamu terlambat karena mengurusi ibu, teman temanmu yang lain sudah mulai mendaftar kuliah sejak lama, kapan kau akan pergi kuliah, kuliahlah di universitas yang kau impikan sejak lama, kamu harus tetap mengejar mimpimu dan jangan khawatirkan tentang ibu" ucap ibu Laura sambil tersenyum sendu,


"Bu aku baik baik saja, tidak papa meski aku terlambat mendaftar, lagi pula yang terpenting untukku adalah kesehatan ibu, aku bisa mulai kuliah kapan saja, ibu juga tahu kan aku anak yang pintar jadi tidak mungkin aku akan tertinggal pelajaran, sudah ibu istirahat saja dan jangan memikirkan apapun lagi, ini demi kesembuhanmu. Muach...selamat malam Bu" ucap Sesilia sambil mencium kening ibunya dan mematikan lampu kamar lalu segera pergi dari sana.

__ADS_1


__ADS_2