
Suasana di siang hari sangat panas. Matahari sedang berada di atas kepala. Orang-orang lebih memilih berdiam diri di rumah. Entah untuk tidur, makan, menonton tv, atau hanya rebahan sambil scroll scroll Instagram. Tapi berbeda dengan gadis yang sedang duduk di bawah pohon rindang yang ada di taman rumahnya. Dengan buku di pangkuannya dan pulpen yang ia mainkan di tangannya, gadis itu tampak serius menatap air pancur mini di tengah taman itu. Dahinya berkerut, tanda ia sedang berpikir dengan keras.
" Haaaah " Ia menghela nafas panjang, Menatap buku yang masih suci alias belum ternoda oleh pulpen yang sudah dibuka dari setengah jam yang lalu.
" Oke Lia, fokus-fokus ayo fokus! " Gadis itu terus menyemangati dirinya sendiri agar bisa menulis kata-kata indah penuh makna yang membuat orang yang membacanya mengerti perasaannya. Tapi apalah daya, ia sangat sulit dalam hal menulis, kalau boleh di uji, gadis yang hari ini memakai kaos berlengan panjang dan celana panjang berwarna senada itu lebih memilih mengerjakan soal matematika yang paling sulit daripada menulis. Sungguh, ia tak bisa.
Gadis yang kerap di sapa Lia itu menyandarkan kepalanya pada pohon rindang yang menghasilkan angin sejuk. Matanya menatap lurus ke depan. Sedang membayangkan sosok idamannya.
" Lia "
" Lia, dimana sih, Ayo makan! "
Bibirnya masih tersenyum, membayangkan jika ia dan pria idamannya bersatu. Hidup bahagia dengan anak-anak yang lucu. Tanpa adanya halangan dan rintangan di hidup mereka kelak.
" Lia, kamu disini rupanya, bunda cariin loh dari tadi " Seorang wanita berparas ayu dengan senyuman lembut menghampiri anaknya yang tampak terkejut melihatnya.
Buku dan pulpen yang ada di pangkuan gadis itu terjatuh bersamaan dengan ia yang berdiri.
" Hehe Bun, kenapa? " Alisya Putri Mahendra, gadis manis dan ceria yang selalu membawa warna pada orang-orang di sekitarnya. Bahkan di kelasnya pun ia dijuluki si matahari sangking cerianya. Akrab dengan semua orang, tapi semua orang juga tahu kalau ia bersahabat dengan salah satu geng cogan yang mempunyai paras tampan. Tapi Lia bukan semua orang yang mengagumi sahabatnya itu. Ia justru menyukai teman sahabatnya yang juga cukup terkenal di sekolah mereka.
Maria menghela nafas, " Ayo makan siang dulu. Anak perempuan siang-siang begini kok tiduran di bawah pohon. Anak gadis itu di kamar, di dapur, bukan di bawah pohon. Uda berapa kali bunda bilang...... " Omelan bundanya terus berlanjut hingga di meja makan. Lia hanya mengangguk, telinganya sudah bosan mendengar Omelan bundanya yang itu-itu saja.
***
" Enggak! Uda berapa kali sih aku bilang Pa! Aku gak mau dijodohin sama Aurel! Lagian kenapa sih? aku masih SMA loh Pa. Oke bentar lagi aku lulus, tapi setelah itu kan aku harus kuliah dan urus perusahaan Papa. Jadi aku gak ada waktu buat urusin anak manja itu! " Seorang pria berwajah tampan berteriak dengan kesal di meja makan. Ini bukan kejadian pertama, tapi ini kejadian kesekian kalinya. Makan siang ataupun malam pasti akan selalu berakhir dengan pertengkaran antara anak dan ayahnya yang membahas masalah itu-itu saja.
" Raffa... kamu sopan dong sama Papa kamu " Wanita di sebelahnya menasehati dengan lembut namun tegas yang membuat anaknya bungkam.
" Raffa! Udah berapa kali papa bilang! Kalian cuma tunangan! Cuma tunangan Raffa! Yang penting ada ikatan aja dulu, nanti kalo kamu Uda sukses, baru kalian menikah " Tandas pria paruh baya yang masih terlihat gagah di umurnya sekarang.
" Enggak! Aku gak mau! " Raffa Adiputra, pria berwajah tampan yang terbilang terkenal di sekolahnya. Ia bersama kedua sohibnya dijuluki geng cogan yang diperebutkan oleh banyak siswi. Tapi hatinya hanya berlabuh pada satu orang, orang yang bahkan menyukai temannya yang tak kalah tampan darinya.
Putra menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap keras kepala anaknya. Ia menghela nafas panjang dan meneguk air di gelasnya.
__ADS_1
***
Suara bel berbunyi yang cukup nyaring membuat semua siswa-siswi berhamburan masuk ke dalam kelas. Mereka duduk di tempatnya masing-masing sembari menunggu guru les pertama masuk. Bagi anak-anak yang baik, mereka akan membaca buku atau kertas hafalan di tangan mereka untuk memulai ujian semester yang dimulai dari hari ini. Tapi bagi mereka yang pasrah dan bodo amat dengan hasil ujian akan bersikap santai dan tetap bermain saat jam pelajaran belum dimulai.
" Li " seorang gadis dengan rambut lurus sebahu berbisik pada teman yang duduk di bangku depannya.
" Hmm? " Lia tidak menoleh, ia tetap fokus pada buku di hadapannya.
" Gue minta contekan ya " Mata Lia langsung melotot, ia berbalik menghadap temannya yang memasang wajah memelas.
" Enggak, enak aja " Lia langsung berbalik, tak memperdulikan Naya yang menggoyangkan pundaknya. Enak aja meminta contekan sementara ia yang belajar hingga larut malam.
" Li ayolah, cuma esainya aja kok. Pliss lah Li, gue bisa ga lulus Li! " Naya menggoncang pundak temannya dengan mulut yang terus memohon.
" Li ayolah, pliss. Ntar gue dimarahi mama gue Li kalo sampe nilai gue di bawah KKM "
" Lia, Lo harapan gue Li? Lia pliss lah "
" Enggak Naya, ya Lo belajar lah " sahut Lia dengan malas, ia menghela nafas pelan dan kembali membaca bukunya
" Lia tolonglah, Lia please!! "
" Lia!!! Lo dengar gue gak sih!! "
" Naya bisa diem gak! " Ucap Lia dengan suara tinggi. Ia berdiri, menatap Naya yang terkejut melihatnya. Sungguh, Naya benar-benar menguji kesabarannya. Selama ini ia selalu sabar menghadapi teman-temannya yang selalu berbuat sesuka mereka. Tapi tidak untuk hari ini atau seterusnya, ia akan berubah menjadi sosok yang lebih tegas dan berwibawa.
Semua orang menatap kearah mereka ketika mendengar suara bentakan dari gadis yang selama ini selalu ceria. Tentu saja mereka terkejut, karena yang mereka tahu, Lia adalah seorang anak manis yang polos dan mudah disuruh-suruh. Tapi ini, ia bahkan menatap Naya dengan tatapan tajam bak elang.
Hehe, ada gunanya juga niruin tatapan Papa kalo sama Om Pram
Dalam hati gadis itu tertawa. Ia menatap Naya dengan keberanian penuh. Tangannya berkacak pinggang seraya berjalan ke meja gadis bernama Naya yang dikenal sebagai cewe tercentil di kelas mereka.
" Kalo mau ujiannya lancar, ya belajar. Bukan ngemis minta jawaban. Punya malu lah! " Tandas Lia dengan senyum menyeringai. Tentu saja semua itu ia pelajari dari papanya. Ia tersenyum sinis kemudian kembali duduk, mengabaikan semua orang yang menatap tak percaya sekaligus kagum padanya.
__ADS_1
Itu Lia? Batin Naya yang masih terkejut sekaligus takut.
***
Siang hari setelah pulang sekolah, Lia langsung pulang tanpa menemui Raffa terlebih dahulu seperti biasanya. Entahlah, mood nya sedang jelek jari ini. Sekelas temannya saat pulang tadi berbisik-bisik tentangnya. Tentu saja hal itu membuat mood seorang Alisya Putri Mahendra menjadi down. Lia pulang diantar supir yang dipercayakan papanya untuk mengantar jemputnya.
Setelah kurang lebih sepuluh menit, mobil yang dikendarai oleh supir Lia berhenti di sebuah rumah mewah bernuansa putih abu-abu yang terlihat minimalis.
" Makasih ya Pak, Lia masuk dulu " Lia melambaikan tangannya sebelum masuk ke dalam rumah. Di dalam, hanya ada seorang wanita yang sedang menonton tv di ruang tengah.
" Assalamualaikum Bunda " Ucap Lia kemudian mengalami bundanya dan ikut duduk disana.
" Waalaikumsalam, gimana ujiannya? lancar? " Tanya Maria dengan suaranya yang lembut, terdengar sejuk di telinga.
Lia mengangguk, " biasalah, selalu lancar dan sukses " jawab Lia tersenyum menyombongkan dirinya.
Maria tertawa melihat sifat anaknya yang narsis seperti suaminya. Dibalik wajah garang dan tatapan tajam Mahendra, ia adalah orang yang narsis dan humoris. Karena itulah, sampai sekarang pernikahan mereka tetap lancar, karena suaminya itu tidak seperti apa yang orang-orang lihat.
" Yaudah Bun, aku ganti baju dulu ya " Lia berdiri, tersenyum pada Bundanya dan berjalan ke kamarnya yang ada di lantai 2. Kamar dengan nuansa putih, abu-abu dan cream dengan desain minimalis adalah kamar impian Lia sejak ia SMP. Juga karena itulah, rumah ini di desain dengan desain minimalis modern sesuai keinginan Nona Muda Keluarga Mahendra.
Setelah berganti baju, Lia turun ke bawah dan langsung menuju meja makan untuk makan siang berdua dengan Bundanya. Papanya? Hmm jangan ditanya, papanya itu akan makan siang di kantor bersama asistennya. Terkadang Lia kesal karena papanya yang menurutnya terlalu sibuk bekerja. Tapi bundanya selalu menerangkan kepadanya dengan lembut. Ya, dengan lembut, kalau sedang mood yang baik. Tapi kalau bundanya sudah marah, haah, dijamin tujuh hari tujuh malam ia akan mendengarkan ceramah yang itu-itu saja.
_
_
_
_
_
_
__ADS_1
BERSAMBUNG