
" Rel, mampir disana" Ucap Lia menunjuk Restaurant yang cukup besar diseberang jalan.
Raffa mengernyitkan dahinya heran, untuk apa gadis ini minta berhenti di Restaurant. Padahal tadi jelas-jelas Lia sudah makan. Namun Raffa tetap memberhentikan mobilnya di depan Restaurant.
" Kamu aja yang turun" Ucap Raffa malas dengan bersandar di kursi mobil.
Lia menoleh, dia menghela nafas panjang. Lia keluar dan berjalan memutar . Ia mengetuk kaca mobil yang satunya dimana Raffa berada di dalam. Raffa yang melihat Fia mengetuk kaca mobil, membuka pintunya dengan malas.
"Ayo" Ajak Lia sambil menarik tangan Raffa agar keluar dari mobil.
Raffa berdecak kesal, Ia keluar dari mobil dan berdiri disana dengan menatap Fia kesal. Satu hari ini gadis itu entah sudah berapa kali membuatnya kesal.
" Ayo Rel, malah bengong" Omel lia yang sudah jalan duluan tadi. Namun saat Ia mneoleh, ternyata pria itu masih berdiri dengan memandang kearahnya dengan tatapan aneh.
Raffa menghela nafas kasar. Pria itu kembali masuk kedalam mobil dan menguncinya agar Lia tidak bisa memaksanya keluar.
Lia yang melihat itu mendengus kesal. Niatnya baik tapi malah mendapat perlakuan seperti ini.
Dengan kesal, Lia masuk kedalam dengan hati yang terus mengumpat Farrel.
***
Lia keluar dari sana dengan membawa satu bungkus makanan. Ia mengetuk kaca mobil ketika sudah berada didepan mobil Raffa.
Raffa yang sedang bermain hp itu langsung membuka mobilnya tanpa mengalihkan pandangannya. Setelah dirasa Fia masuk, dia langsung menghidupkan mesin mobil dan keluar dari sana tanpa melihat lagi kearah gadis disampingnya.
Lia mengha nafas dalam dan membuangnya secara perlahan. Dia sedang mencoba sabar. Bagaimanapun kebaikan pria ini harus dibalas.
Lia mulai membuka bungkus makanan itu dan mengeluarkan isinya. Gadis itu membuka tutup kotak makanan itu dan mengambil sendok yang telah disediakan.
Lia mulai menyendokan satu suap ayam bakar dengan nasi dan sambal yang pedas. Ia mengangkat sendok itu dan menyodorkannya ke depan mulut Raffa.
Raffa sontak saja terkejut dengan kelakuan Fia padanya. Pria itu menoleh, Mengerutkan keningnya bingung.
Lia yang mengerti segera menurunkan sendok itu dan meletakan kembali di kotak makanan yang Lia pegang. Gadis itu mulai bicara, " Kamu dari tadi belum makan, ini Uda sore. Nanti kamu sakit" Jelas Lia dengan tersenyum tulus lalu mengambil kembali sendoknya dan menyodorkannya ke mulut Raffa.
Raffa yang mendengar penjelasan Fia, secara reflek membuka mulutnya dengan tetap memperhatikan wajah cantik Fia yang terlihat dewasa.
***
" Makasih ya" Ucap Lia sembari membuka pintu mobil Raffa yang sudah sampai di apartemen nya. Hari sudah sore, dan Lia memutuskan untuk langsung pulang.
"Makasih juga" jawab Raffa tersenyum tipis.
Lia yang hendak keluar menghentikan langkahnya. Dia berbalik, mendapati Raffa yabg sedang tersenyum tipis. Oh tunggu, jantung Lia berdetak sangat cepat. Lia segera mengangguk. Ia keluar dan langsung masuk ke apartemennya tanpa berbalik.
Raffa hanya tersenyum tipis, Ia menghidupkan mesinnya dan melajukan mobilnya menuju kediamannya.
***
Lia berguling diatas tempat tidur dengan bibir yang terus tersenyum. Ia kembali mengingat kejadian tadi. Lia memeganh jantungnya yang berdegup kencang. Lia menghela nafas panjang, berpikir apakah mungkin Ia memang jatuh cinta pada Farrel ?
Memikirkan nya membuat Lia pusing. Di satu sisi Lia tak mau jika harus tersakiti lagi karna Farrel mencintai 2 wanita. Tapi di sisi lain Lia ingin terus berada di dekat Farrel. Pria itu membuatnya nyaman, meskipun mereka masih canggung. Tapi Lia merasa nyaman dan aman berada disisi pria itu.
Sudahlah, gadis itu pusing memikirkannya. Lia membenarkan letak tidurnya. Ia menarik selimutnya dan meletakan selimut itu diatas badannya. Membuat sleimut itu melindungi dirinya dari dingin. Lia memejamkan mata mencoba masuk ke alam mimpi dan melupakan sejenak permasalahan cinta yang membuatnya pusing.
***
Hari ini adalah hari Minggu. Hari dimana orang-orang yang biasanya bekerja akan ada dirumah dan meluangkan waktu untuk keluarga mereka. Begitu juga dengan Lia, gadis itu ingin pergi kerumah Orang tuanya hari ini.
Sudah lama Lia tidak berkunjung, faktor sibuk membuat Lia seakan tak punya wkatu untuk mengunjungi orang tuanya.
Hari ini Lia akan pergi sendiri. Tanpa Lily ataupun Viona. Karna Ia ingin menghabiskan wkatu disana seharian. Lia sudah berdandan rapi selayaknya wnaita dewasa. Gadis itu mengambil tas nya dan keluar dari pintu, setelah sebelumnya dia sudah pamit kepada Lily dan Viona yabg sednag belajar memasak.
Lia turun dan sampai di parkiran. Gadis itu ingin mengendarai mobilnya saat ini. Sudah lama dia tidak mengendarai mobil. Selama ini Viona lah yang selalu menjadi supir Lia.
__ADS_1
Lia menghidupkan .esin mobilnya dan mulai mengendarai mobil itu. Rasanya sedikit canggung karna Lia sudah lama tidak mengendarai mobil itu.
Lia membelah jalanan ramai yabg dipadati orang-orang yang sibuk dengan urusannya masing-masing. Banyak orang yang berada didepan pusat perbelanjaan. Lia melewati mereka dengan lenggang tanpa masalah.
Sekitar 20 menit, Lia sampai dikediaman orang tuanya. Rumah itu memang sudah direnovasi satu tahun yang lalu. Rumah itu tampak lebih mewah dan asri.
Lia turun dari mobil dan berjalan dengan pelan kearah pintu. Ia memperhatikan sekitar. Sampai didepan pintu, Lia langsung menekan password rumah.
Kreeek
Pintu rumah terbuka secara otomatis. Lia langsung masuk dan otomatis pintu itu kembali tertutup. Lia memperhatikan sekitar rumah, tampak sepi. Lia langsung masuk kedalam dan mendapati Pembantu di rumah itu yang sudah Lia anggap sebagai Ibu kedua.
" Bu, jangan cape-cape" Ucap Lia sembari menepuk lenlmbut bahu wanita paruh baya itu.
" Eh" Bu Ina terlonjak kaget. Secara reflek dia berbalik dan mendapati anak majikannya yang sudah Ia anggap anak sendiri ada dibelakangnya. Bu Ina langsung memeluk Lia dengan erat.
" Bu, Bunda mana?" Tanya Lia setelah pelukan itu terlepas.
" Kamu ga rindu apa sama Ibu?" Tanya Bu Ina pura-pura cemberut.
Lia terkekeh kecil, Ia memeluk kembali Ibu Ina. " Rindu Bu " Jawab Lia manja.
Bu Ina membalas pelukannya dengan terkekeh kecil, Ia melepaskan pelukan itu setelah beberapa saat. Wanita paruh baya itu langsung menggandeng tangan Lia membawanya menuju orang tuanya.
" Bunda" Sapa Lia pelan.
Bunda terlonjak kaget, Ia yang sedang menatap pemandangan taman langsung menoleh. Bunda langsung berlari dan memeluk anak gadisnya.
" Kamu Uda lupa sama Bunda " Ucap Bunda sedikit kesal.
Lia terkekeh kecil, Ia membalas pelukan bundanya. Gadis itu menikmati momen ini.
Setelah beberapa saat bunda melepas pelukannya, wanita yang sudah mulai berumur itu mengajak lia untuk duduk di kursi yang tadi didudukinya.
Lia duduk dengan kepala yang menyender ke bahu bundanya. Bunda yang melihat putrinya, menghembuskan nafas kasar. Dia tahu jika Lia seperti ini maka putrinya mempunyai masalah.
Lia menarik nafas dalam dan menghembuskan nafasnya secara perlahan. Gadis itu duduk dengan tegak dan berdiri dengan menghadap Bunda.
" Papa mana?" Tanya Lia dengan raut wajah yang kembali seperti biasa.
" Lagi keruamh temennya, temen lama. Mereka Nostalgia" Jawab Bunda terkekeh kecil. Merasa lucu dengan kelakuan suami dan sahabat suaminya itu.
Lia yang mendengar itu manggut-manggut. Ia berjalan mengitari taman yang dipenuhi dengan bunga. Sangat indah, mampu membuat pikiran Lia tenang.
" Li, kamu sibuk ya?" Tanya Bunda tiba-tiba.
Lia berbalik, dia berjalan dan kembali duduk di samping bunda. Gadis itu mengangguk.
" Jangan terlalu capek Nak " Ucap Bunda menepuk lembut bahu Lia.
Lia mengangguk, " Aku gak capek banget kok Bun, ya..capek biasa" Jawab Lia santai.
Bunda terkekeh pelan mendengar jawaban Lia. Bunda menatap Lia, dia ingin bicara. Namun, wanita itu juga takut menyinggung perasaan anak gadisnya itu.
Lia yang melihat bundanya, merasa heran. Gadis itu menggenggam tangan Bunda lembut sembari tersenyum kepada wanita yang sangat Ia sayangi itu.
" Bun, Lia itu anak bunda. Mau Lia udah besar ataupun belum, Bunda masih pantas marahi Lia. Bunda masih bisa nasehati Lia. Lia ini anak bunda. Bunda boleh masuk dalam urusan Lia. Selama Lia belum menikah, bunda masih berhak seratus persen atas Lia. Bunda boleh atur Lia. Lia anak Bunda. Bunda pasti tau yang terbaik buat Lia. Dan Kalo bunda mau marahi ataupun bicara secara khusus sama Lia, gak papa. Lia ga bakalan marah. Bunda jangan merasa sungkan sama Lia. Bunda bicara aja. Bunda masih sangat boleh buat nasehati dan marahi Lia" Ucap Lia panjang lebar.
Bunda membelu ditempatnya, bagaiman bisa anak gadisnya tahu isi pikirannya. Bunda tersenyum, dia menggenggam erat tangan Lia.
" Lia, bunda cuma mau yang terbaik buat kamu. Bunda mau tanya, kamu belum bisa berpaling dari Raffa?" Tanya Bunda langsung.
Lia membeku, dia yang menyuruh bunda untuk bicara tanpa sungkan. Tapi sekarang Lia sendiri yang tidak bisa menjawab.
Lia tersenyum, gadis itu mengangguk.
__ADS_1
Bunda menghela nafasnya pelan, Wanita itu masih belum percaya pada anaknya. " Kamu juga bisa cerita apapun sama Bunda " Balas Bunda membalikan apa yang tadi dibicarakan oleh anaknya.
Lia mematung, dia tidak bisa menjawab. Perkataannya tadi malah menjebak diri sendiri.
Menghela nafas panjang, Lia menunduk untuk menyembunyikan raut wajahnya. Setelah dirasa sudah baik kembali, Lia mendongak. " Tapi Lia Uda bicara apa adanya sama Bunda" Jawab Lia dengan santai.
Bunda menatap anaknya, mencari kebenaran di mata anaknya itu. Namun, Lia malah memalingkan wajahnya mengelak. Bunda yang melihat itu, menghela nafas pelan. Ia mengerti untuk tidak terlalu mencampuri urusan anaknya. Meskipun Lia sendiri yang berbicara seperti itu, namun bunda tetap tau untuk tidak terlalu ikut campur dalam urusan percintaan anaknya.
" Sayang, kita masak yuk buat makan siang" Ajak bunda semangat yang sebenarnya tak ingin membuat anaknya merasa tidak nyaman.
Lia langsung menoleh, dengan semangat Ia megangguk.
Mereka berjalan beriringan menuju dapur, sampai di dapur mereka melihat Bu Ina yang sedang sibuk memasak. Bunda yang melihat itu menjadi sedikit kesal, padahal Ia sidah memberi tahu untuk tidak melakukan pekerjaan apapun pada Bu Ina. Bunda sudah menganggap Bu Ina sebagai kakak sendiri. Umur mereka berselisih 3 tahun.
Bunda segera berjalan menuju Bu Ina dan langsung menepuk pundak Bu Ina pelan.
Bu Ina yang sedang memotong bawang terkejut, Ia menoleh kebelakang. Ternyata ada majikannya.
" Iya Bu" Sapa Bu Ina sopan.
Bunda semakin kesal melihatnya. " Kak, Uda berapa kali aku bialng. Jangan ngelakuin pekerjaan apapun. Dan jangan panggil aku Ibu. Panggil aku adik" Jelas Bu Ina untuk kesekian kalinya.
Bu Ina hanya tertawa kecil, dia merasa sungkan tidak melakukan apapun.
" Aku gak enak dek, masa iya aku digaji tapi aku gak kerja" Jawab Bu Ina mengutarakan hatinya.
Bunda menghela nafas pelan, dia mengerti. Tapi dia sudah berulang kali memeberi tahu untuk tidak pernah sungkan. Bunda tau Bu Ina ini orang yang sanagt baik.
" Kak, jangan sungkan sama aku. Uda sekarang kakak duduk ya" Balas Bunda menuntun Bu Ina duduk di kursi yang ada di dapur.
Sementara Lia yang sedari tadi melihat interaksi itu, merasa sangat senang. Ia sanagt senang mempunyai seorang bunda yang snagat baik dan perhatian pada semua orang. Meskipun sedikit cerewet, namun Lia sangat menyayangi sosok itu.
***
"Bun, Pa Lia pamit ya" Pamit Lia menyalim tangan Papa dan Bundanya.
" Gak nginep aja Nak?" Tanya Bunda yang masih sangat rindu dengan anak nya.
" Iya Li, Papa baru sebentar ketemu kamu" Sahut papa menggenggam erat tangan Lia.
Lia tersenyum, dia sangat senang diperlakukan seperti ini. Sebenarnya Lia ingin menginap, namun pekerjaan membuatnya tidak bisa melakukan itu.
" Lia janji deh, nanti kalo Lia Uda agak lenggang. Lia bakalan nginep disini" Janji Lia sembari menautkan hari kelingkingnya ke jari kelingking kedua orang tuanya.
Papa dan Bunda tertawa melihat anak gadis mereka.
" Papa antar ya" Tawar papa yang maish ingin berlama-lama dengan anak gadisnya itu.
" Iya nak, diantar papa aja ya" Sahut Bu da yang tahu suaminya sedang ingin berdua dengan anaknya.
Lia tersenyum, " Gausah pa, Lia sendiri aja. Lagian kan ini masih sore. Lia masih pengen menikmati jalanan sore" Jawab Lia menolak halus.
Hati papa merasa kecewa, dia sudah snagat lama tidak bersama dengan anak gadisnya itu. Bunda yang melihat suaminya juga mengerti perasaan nya. Nmaun, wanita itu juga tak bisa memaksakan anaknya.
Lia yang melihat perubahan raut wajah papanya merasa bersalah. Gadis itu menggenggam tangan Papa erat. Gadis itu tersenyum sembari berkata, " Ayo Pa antar Lia"
Seketika papanya mendongak, dengan raut wajah semangat pria itu mengangguk.
" Ayo" Ajak papa semangat, Papa langsung menggandeng tangan Lia berdiri.
Lia memeluk bundanya, Ia mencium pipi bundanya. Kemudian gadis itu keluar bersama papa yang tampak sangat senang.
***
Hay, Uda author banyakain ya satu cahpternya. Author mohon komennya ya🥰
__ADS_1
...Author selalu menunggu😉...