Ternyata Kita Berjodoh

Ternyata Kita Berjodoh
BAB 9 : COFFE SHOP


__ADS_3

Hari sedang sangat terik. Matahari sedang berada di atas kepala. Saat ini adalah saat dimana semua orang menginginkan pulang ke rumah untuk istirahat atau hanya sekedar berlindung dari terik nya matahari siang.


Tapi berbeda dengan seorang gadis yang saat ini sudah mengenakan pakaian casual dengan tas mini berwarna putih yang melingkari pundaknya hingga pinggang. Di tangannya ada sebuah ponsel yang sudah terhubung ke panggilan.


Gadis itu berdecak kesal ketika panggilannya tak kunjung diangkat. Ia menghela nafas panjang. Haah, sungguh hari yang mengesalkan.


" Sekali lagi kalo gak Lo angkat, gue ga mau temenan sama Lo lagi!! " ia berucap dengan sangat kesal sebelum menekan tombol panggilan.


" Hallo " suara seorang gadis membuat Lia tersenyum. Akhirnya Amel mengangkat panggilannya juga. Oke baiklah, mari kita selesaikan permasalahan ini.


" Hallo Mel, sorry ya gue ganggu " Lia berjalan duduk di tempat tidur. Matanya sibuk melirik jam dinding yang menggantung sempurna di dinding kamarnya.


" Iya Li, kenapa? " Tanya Amel di seberang sana. Ia tadinya sedang membuat kue ketika temannya menelepon.


" Emmh gue mau tanya, Lo ikut party ntar malem? " Tanya Lia sedikit ragu. Jujur ia takut kalau Aurel hanya mengerjainya saja. Mau ditaruh dimana muka nya kalau ternyata party itu tidak ada dan ia sudah bertanya pada orang-orang.


Tak ada sahutan. Beberapa detik hingga Lia kembali bertanya.


" Mel? " Lia menjadi ragu, jangan-jangan party yang dibilang Aurel tidak ada, karena itu Amel menjadi bingung.


" Iya? Lia? halo Lia? Lia... " Lia menjauhkan ponselnya. Menatap layar ponselnya dengan bingung, kenapa Amel mematikan panggilannya. Apa memang sinyalnya yang jelek, tapi tidak mungkin. Rumah Amel terletak di pusat kota, masa iya tidak ada sinyal. CK, kalau begini ia harus menelepon siapa lagi? hanya Amel teman yang menurutnya bisa dipercaya.


Tring.


Ponsel yang tadinya digenggamnya berbunyi, Lia segera membuka ponselnya untuk melihat pesan yang masuk. Apa mungkin Amel? atau jangan-jangan Raffa yang ingin meminta maaf.


Hay Lia, kamu ikut party nanti malam kan? bareng aku ya? nanti aku jemput🥺


Mata Lia membulat, jadi party yang dikatakan Aurel benar adanya? kenapa tidak ada yang memberitahunya sih. Kalau saja Bryan tidak mengajaknya pergi bersama, mungkin ia tak akan mengikuti party itu.


Hmm, Bryan memang baik hati. Tapi... pesan yang dikirimkan pria itu membuat Lia sedikit Ilfeel. Apalagi melihat emoji alay yang membuatnya jijik. Oke itu hanyalah emoji, lupakan itu. Sekarang ia harus memikirkan cara untuk mendapatkan izin ke papanya.


Tok... Tok... Tok...


" Lia! ada teman kamu itu di bawah "


" Siapa Bun? " Lia berteriak, ia meletakkan ponselnya di tempat tidur dan beranjak menuju pintu.


" Ada teman kamu itu dibawah " Maria menunjuk tangga yang menghubungkan ke lantai satu.


" Siapa? " Lia mencoba mengintip, tapi tak ada siapa-siapa di lantai bawah yang ia lihat. Mungkinkah teman yang dikatakan bundanya Raffa? apakah pria itu ingin meminta maaf? Tapi..

__ADS_1


" Lia, temui teman kamu sana, bunda udah suruh bibi buat minum " Suara Maria membuat Lia tersadar dari lamunannya. Gadis itu mengangguk ragu.


" Bunda ke kamar ya, ingat kamu jangan keluar. Nanti papa marah loh " Lia mengangguk malas, Belum apa-apa bundanya sudah mengancam saja.


***


" Non itu temennya Uda nungguin. Udah bibi kasih teh dia Non" Ucap Bi Ema pada majikannya yang sedang menuruni anak tangga terakhir.


" Iya Bi makasih ya " Lia tersenyum dan menunduk sekilas sebelum beranjak dari sana.


Langkahnya terhenti di ruang tengah ketika ia melihat seorang pria sedang duduk di sofa ruang tamu. Raffa, pria itu tampak memakai celana jeans, kaos oblong dan stelan jaket yang membuat penampilannya terlihat memukau.


" Lia "


***


" Gausah cemberut " Raffa melirik gadis di sampingnya yang terlihat begitu menggemaskan saat memasang wajah kesalnya.


" Terserah gue! " tandas Lia ketus, sungguh rasa kesalnya pada Raffa semakin bertambah berkali-kali lipat saat pria itu memaksanya untuk ikut pergi ke suatu tempat yang entah dimana. Padahal tadi ia sudah menolak, tapi Raffa malah seenaknya meminta izin pada bundanya yang saat itu turun dari atas. Dan dengan sedikit terpaksa, gadis itu ikut pada Raffa yang masih bersikap datar seperti orang gila yang tiba-tiba kumat tanpa alasan.


" Ayo turun, gausah banyak tingkah " Raffa membuka seat belt nya dan langsung turun dari mobil.


Gila ya nih orang! Arghhh! Raffa SIALAN!!!!!!


Eh..


Bryan, tunggu tunggu. Bukankah tadi pria itu mengirimkannya pesan. Pesan yang berisi ajakan untuk.... party?!


Sial! kayanya si Raffa sengaja nih biar gue ga ikut party!!


***


Sebuah tempat asri dan teduh. Coffe Shop yang terletak tak jauh dari sekolah mereka. Coffe shop yang lumayan ramai pengunjung yang rata-rata para anak muda.


Raffa sudah memesan Bangku di luar ruangan yang memberikan kesan tenang karena tempatnya yang strategis.


" Lo mau kopi apa? " melihat-lihat buku menu di tangannya sambil melirik Lia yang hanya diam.


" Saya Latte satu saya mbak " Raffa menyodorkan buku menu itu ke hadapan Lia setelah ia memesan kopinya.


" Macchiato latte satu " Tanpa melihat Lia memesan minuman kopi yang selalu ia minum jika ke tempat coffe shop.

__ADS_1


" Baik, mohon ditunggu ya " Setelah pelayan wanita itu pergi, Lia membuka ponselnya. Hanya sekedar meng-scrol tampilan beranda sosial media nya. Gadis itu sedang memikirkan cara aman agar ia bisa pergi ke party itu, sekaligus pulang tepat waktu ke rumah.


Eh, tapi party nya di mana ya? Kalo tanya Bryan, masa iya gue bersikap seolah-olah gue belum tau itu party. Tapi kalo gue tanya sama Raffa, mana mungkin tuh cowok ngasih tau. Ishh! gimana dong.. mana Uda sok-sokan lagi tadi sama Aurel.


Lia menghela nafas panjang, kenapa semuanya jadi ribet begini sih? ia hanya ingin ikut party untuk dua hal. Yang pertama karena Bryan, dan yang kedua karena Aurel.


" Gausah bingung begitu " Suara Raffa tak Lia hiraukan, ia hanya sibuk pada ponselnya dengan pikiran yang terus mencari-cari ide brilian.


" Gue gak mau bantu Lo ya " Lia tetap tak menghiraukan, hanya buang-buang waktu meladeni ocehan Raffa.


Eh, tunggu


gadis itu menghentikan gerak tangannya, sepintas ide terlintas di benaknya, membuat Senyuman tipis tertarik di bibirnya.


Hmmm, berarti gue harus cari cara biar Raffa mau bantuin gue. Kalo Raffa udah mau bantuin, everything will be easy.


" Ekhem " Lia berdehem keras, membuat Raffa menatapnya datar.


" Kopinya lama banget sih " keluh Lia sambil melihat jam tangannya. Oke, mungkin ia harus sedikit bermanis-manis agar pria mengesalkan, pengatur dan pemaksa itu luluh.


" Silahkan Mbak, Mas kopinya " Setelah meletakan dua gelas kopi dengan varian berbeda, pelayanan wanita itu pergi dengan nampan di tangannya.


" Emmm, enak banget " rasa kopi dan susu yang bercampur dengan perbandingan 1:4 begitu nikmat ketika di seruput saat sedang hangat-hangatnya.


" Kaya anak-anak Lo. Minum kopi kok Macchiato latte. Minum kopi apa susu mbak? " Sindir Raffa sambil menyeruput kopinya.


" Suka-suka gue lah. Lah elo, cuma latte aja bangga. Espresso dong baru bangga " Lia tersenyum mengejek lalu kembali meminum kopinya.


" Biar latte tapi mending kan daripada Macchiato latte punya Lo " Raffa kembali membalas dengan santai membuat Lia menggertakkan giginya.


Raffa sialan! sama cewek aja kok gak mau kalah sih!!


_


_


_


_


_

__ADS_1


_


BERSAMBUNG....


__ADS_2