Ternyata Kita Berjodoh

Ternyata Kita Berjodoh
Kedatangan Dave


__ADS_3

Sudah dua hari setelah kejadian itu, hubungan Lia dan Raffa menjadi renggang. Lia dengan sengaja menghindari pria itu. Ia tidak menjawab chat dan telfon dari Farrel. Gadis itu hanya merasa takut jika pria yang sedang dekat dengannya ini hanya memanfaatkan dirinya.


Lia sendiri sebenarnya tidak percaya dengan apa yang ia duga. Tapi, gadis itu tak mau jika sampai kejadian kemarin terulang lagi. Cukup satu kali Ia berbohong pada orang tua Farrel. Dan Lia, merasa kapok untuk itu. Ia takut kebohongannya malah membawa petaka, misalnya saja orang tua Farrel percaya dan melamar Lia di rumahnya. Tidak! Jangan sampai seperti itu.


Lia menghembuskan nafas pelan, gadis itu melangkahkan kakinya menuju pintu apartemen dan keluar dari sana setelah sebelumnya Ia pamit pada Lily dan Viona.


***


Lily sedang bersiap-siap di ruang tengah. Gadis itu sedang merapikan anak rambutnya yang cukup mengganggu. Setelah selesai, Lily dia segera berdiri dan memanggil Viona agar segera pergi.


" Vi, Viona" Panggil Lily setengah berteriak.


" Bentar mbak, aku sakit perut" Jawab Vioan berteriak dari kamar mandi.


Lily berdecak kesal, Ia kembali duduk dan memainkan hp nya guna menghilangkan rasa bosan. Baru saja Ia memainkan hp nya, ketukan di pintu sangat keras dan mengganggu pendengaran orang yang mendengarnya.


Lily segera meletakan hp itu dengan kasar, Ia berdiri dan berjalan menuju pintu. Membukakan pintu kasar dan memasang wajah sebal. Mulutnya menganga lebar, Ia merasa seperti mimpi.


Lily terbengong dengan menatap sosok pria didepannya. Gadis itu tidak bisa berpikir sekarang. Rasanya seperti mimpi yang nyata namun jika nyata itu tidak mungkin.


Cubitan kecil di hidung dihadiahkan Dave pada Kekasihnya yang terbengong dengan mulut menganga lebar. Sangat menggemaskan.


" Eh" Lily snagat terkejut saat rasa mimpi itu nyata. Dengan segera, Ia menepuk-nepuk pipinya berulang untuk membuktikan ini nyata.


Sakit. Lily merasa sakit ketika Ia menampar sendiri pipinya cukup keras. Gadis itu segera tersadar. Dengan segera Ia memeluk erat pria didepannya. Sangat erat. Sampai Dave merasa tercekik sendiri.


" Sayang jangan dicekik" Ucap Dave berusaha melepaskan tangan Lily.


" Ouh maaf By, aku kangen banget. Ini beneran kamu. Aku ga mimpi kan. Kamu kenapa ga ngabari Aku. Aku kangeeeeeeeeen banget" Cerocos Lily dengan menangkup wajah Dave.


" Aku ga dibolehin masuk nih" Ucap Dave melirik ke dalam.


Lily tertawa kecil, Ia menggandeng tangan Dave masuk ke dalam. Mereka duduk di sofa. Dave memperhatikan sekitarnya.


Viona yang baru keluar dari kamar mandi langsung menuju ruang tengah untuk menemui Lily. Namun, Ia terkejut saat melihat kak Dave ada disana.


" Kak Dave" Ucap Viona senang, gadis itu segera berlari dan memeluk Dave yang masih dalam posisi duduk.


Dave yang awalnya terkejut, membalas pelukan gadis yang sudah Ia anggap adik sendiri.


Lily yang melihat itu sedikit cemburu, Ia mengerucutkan bibirnya cemberut.


Viona melepaskan pelukannya setelah beberapa saat. Gadis itu tersenyum lebar dan melihat kearah Dave. Kemudian Ia mengalihkan pandangannya pada Lily yang terlihat cemberut. Viona tertawa dalam hati.


" Yaudah kalo gitu aku berangkat dulu. Mbak Lily gausah kerja hari ini. Biar aku yang kerja. Assalamualaikum" Pamit Vioan dan langsung berlalu dari sana.

__ADS_1


Dave menoleh pada Lily setelah Viona pergi. Ia mengernyitkan dahinya heran dengan Lily yang tiba-tiba cemberut.


Bibir pria itu melengkung membentuk sebuah senyuman yang sangat lebar. Dave bersorak dalam hati. Ia sudah tahu, ternyata kekasihnya itu cemburu.


Dengan masih tersenyum, Dave memeluk Lily dari samping. Ia mengeratkan pelukannya saat Lily mencoba melepas.


" Dave kamu kenapa?" Tanya Lily heran, Ia berusaha melepaskan pelukan itu namun gagal.


" Kamu yang kenapa sayang. Aku cuma mau peluk kamu" Jawab Dave semakin mengeratkan pelukannya.


" Apaansih" Balas Lily merona malu, Ia tak bisa menyembunyikan senyumannya.


Dave melonggarkan pelukannya setelah dirasa Lily tidak lagi memaksa untuk dilepas. Ia menatap wajah yang baginya selalu cantik yang terlihat malu-malu.


Senyuman Lily membuat Dave tak tahan dengan itu. Dengan yakin pria itu memiringkan kepalanya dan mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan.


Lily yang sangat terkejut, menatap kearah Dave yang sangat dekat dengannya. Seketika rona merah kembali hadir di wajahnya.


Dave semakin mengikis jarak diantara mereka. Dengan perlahan tapi pasti, bibir mereka bertemu. Dave mulai mengecup lembut bibir itu.


***


Lia sedang berada di halaman belakang rumah orangtuanya. Gadis itu melamun menatap hamparan bunga di depannya. Tadi pagi Lia tidak pergi ke Resto, gadis itu memilih untuk pergi ke rumah orang tuanya.


Bunda yang sedari tadi memperhatikan anaknya itu menghela nafas dalam. Bunda tak tahu anaknya itu kenapa. Tapi bunda yakin kalau anaknya itu sedang ada masalah.


***


Hp Lia berdering menandakan ada panggilan masuk. Gadis itu dengan malas meraih hp nya dan melihat nama kontak yang meneleponnya.


Lia langsung mengangkatnya ketika membaca nama kontak itu.


." Hallo Li, kenapa?" Tanya Lia pada Lily diseberang sana.


" Lia Lo dimana!" Tanya Lily.


" Gue di rumah ortu. Kenapa?" Jawab Lia sembari menyelipkan anak rambutnya yang keluar.


" Oh gitu. Gue boleh kesana gak? Gue pengen ketemu sama orang tua Lo " Tanya Lily memelas.


" Emm boleh sih, sama Viona?" Tanya Lia balik.


" Enggak, Viona ke Resto " Jawab Lily sambil melirik kearah Dave yang ternyata melihat dirinya.


" Oh gitu, boleh kok. Ntar gue share lock ya" Ucap Lia santai.

__ADS_1


" Oh oke, bye" balas Lily langsung mematikan teleponnya.


Lia langsung mengirim lokasi rumah orang tuanya ke Lily. Gadis itu kemudian beranjak dari sana menuju dapur.


Lia mengambil bahan-bahan membuat cookies. Ia ingin membuatkan cemilan untuk sahabatnya itu.


Lia melakukan itu dengan senang hati. Gadis itu memang suka jika membuat kue dan sejenisnya.


" Loh Lia, kamu ngapai?" Tanya Bunda sedikit bingung, tadi anaknya murung. Tapi sekarang anaknya malah membuat kue.


" Buat cookies Bun, sahabat Lia mau Dateng" Jawab Lia tersenyum.


" Bunda bantuin ya" Ucap Bunda hendak membantu.


" Gausah Bun, ini Uda mau siap. Uda mau Mateng cookies nya" Seru Lia sembari menunjuk oven yang ada cookies didalamnya.


" Sahabat kamu dari Inggris?" Tanya Bunda memilih duduk di kursi yang ada di dapur.


Lia mengangguk, gadis itu sedang sibuk mengangkat cookies yang sudah matang dan memindahkannya kedalam wadah.


" Uda jadi deh" Ucap Lia tersenyum puas. Ia merasai satu cookies, " Enak" Seru Lia melebarkan senyumnya.


Bunda tersenyum melihat anaknya tersenyum seperti itu.


Lia segera meletakan wadah berisi banyak cookies di dalamnya. Ia meletakan itu di meja yang ada di dapur.


Dengan cepat, Lia membereskan bekas masakannya. Ia kemudian mencuci bekas wadah yang tadi dipakai. Setelah semua beres, Lia langsung ikut duduk di samping Bunda.


Saat Bunda ingin bicara dan menanyakan masalah Lia, bel rumah berbunyi. Lia segera beranjak dari sana.


ceklek.


" Hay Lily, kamu-" Ucapan Lia terhenti karna pandangan nya terfokuskan pada sosok pria dibelakang gadis itu.


" Dave" Panggil Lia senang dan langsung memeluk Dave.


Lily yang melihat itu tersenyum, Ia tak cemburu. Gadis itu sangat tahu kalau sahabat dan kekasihnya tidak mempunyai perasaan apapun.


Dave tersenyum senang dengan membalas pelukan Lia. Pria itu sangat rindu dengan gadis yang Ia anggap saudara sendiri.


" Ayo masuk" Ajak Lia menarik tangan kedua orang itu masuk ke rumahnya.


***


...Jangan lupa like and komen🥰...

__ADS_1


...Komen dulu sebelum lanjut😁...


...Author tunggu ya😉...


__ADS_2