
Jantung Lia berpacu lebih kencang. Telapak tangannya sudah basah sangking takutnya. Ia sedang duduk di tempat tidur dengan gaun yang masih melekat di badannya. Raffa, suaminya itu sedang membersihkan diri di kamar mandi. Dan Lia, dia sedang memikirkan kejadian sehabis mereka mandi. Lia memang sudah dewasa, tapi tetap saja ia masih takut menghadapi First Night.
" Loh kamu belum siap-siap? "
Siap-siap, untuk apa? Pikiran liar berkelana di otaknya mendengar kata siap-siap.
" Lia "
" Hmm? " Lia menoleh, sontak berpaling melihat dada bidang yang menggoda iman.
" Mandi gih " Pria itu berganti baju di sana. Tanpa penghalang apapun. Terlihat sangat jelas, bagi yang melihatnya. Tidak untuk Lia yang menatap ke arah lain dengan mata terpejam. Otaknya semakin liar melihat dada suaminya tadi.
" Kamu Uda selesai? " Tanya Lia gugup.
" Hmm "
Lia menghela nafas. Membuka matanya dan menoleh perlahan.
" Aaaaaaah Raffa tutup itu!! "
***
Raffa senyum-senyum tak jelas sementara Lia sudah menunduk malu bercampur kesal. Ia memakan makanannya dengan cepat dan dalam waktu singkat, makanan di piring Lia sudah habis.
" Ga tambah? " Raffa sudah memegang centong nasi, ingin menambahkan ke piring Lia.
Lia menggeleng. Meminum air putih di gelasnya dan mengelap mulutnya dengan tisyu.
" Kenapa? Kaget ya? " Goda Raffa tertawa.
gadis perawan itu cemberut. Lantas berdehem pelan untuk membalas perkataan Raffa. " Hmm, tadi aku liat Monas. Tinggi, panjang, besar..." Lia melirik Raffa sekilas.
" Tapi sayang..." Ia menyunggingkan senyum manisnya. " Dekil dan hitam "
Raffa terdiam, terlonjak kaget dengan kata-kata istrinya. Sesaat kemudian ia menyunggingkan senyum. " Emang dimana? " Tanya Raffa antusias.
" Di mana ya, di dalam celana kamu kali " Butuh keberanian yang besar untuk mengucapkan kata-kata memalukan itu.
Rafa tertawa terbahak-bahak. Istrinya ternyata sudah tidak malu lagi. Beberapa saat, tawanya reda. " Ah masa sih. Aku mau liat deh "
" Eh jangan! " Lia langsung memegang tangan Raffa yang ingin membuka celananya. Ia mendelik.
" Kenapa? Kan aku liat dan buktikan sayang " Raffa tersenyum manis.
Lia berdecak kesal. Ia yang ingin membalas suaminya malah kena sendiri. Menghembuskan nafas kasar, Lia menatap Raffa ingin menjelaskan. Tapi terlambat, karena celana Raffa sudah teronggok di lantai.
" Raffa pake celananya! " Teriak Lia menutup matanya dengan satu tangan dan tangan satunya ia gunakan untuk mengambil celana suaminya.
" Untuk apa sayang, kita kan mau liat Monas nya. Dan juga, mau main wahana disana. You are ready dear ? "
" No, I'm not ready right now " Gumam Lia pasrah. Tubuhnya sudah diangkat oleh Raffa dan di letakan di tempat tidur dengan pelan.
" Tenang Lia, emangnya aku makan orang apa, kamu sampe takut gitu. Sakit dikit doang kok. Janji ga kasar "
Raffa mendekatkan wajahnya hingga bibir mereka bersentuhan. Ia menggigit kecil bibir bawah Lia agar membukanya. Setelah terbuka, pria itu bermain-main di dalam sana.
Malam panjang telah dimulai...
.
.
__ADS_1
.
.
.
****
Hari sudah menjelang siang tapi kedua insan yang baru melewati malam pertama itu masih tertidur pulas di tempat tidur. Mereka bahkan tak sadar jika sedari tadi pintu di ketuk.
Tok.. Tok.. Tok..
" Lia sayang, ini Mama.. Lia, sayang..." Panggil Mama Raffa yang entah sudah kesekian kalinya.
Raffa menggeliat, merasa sangat terganggu dengan suara itu. Perlahan, ia mengerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk dari celah-celah jendela yang tertutup gorden putih.
Tok.. Tok.. Tok..
" Lia, sayang..."
Menghembuskan nafas kasar, Raffa beranjak dari tidurnya. Sesaat ia tersenyum melihat Lia yang tertidur pulas. Ia mengecup kening istrinya sekilas dan memakai baju yang sudah teronggok di lantai.
ceklek.
Raffa menutup kembali pintunya. Lalu keluar dan sedikit terkejut melihat mamanya.
" Kenapa ma? " Tanya Raffa dengan suara serak, khas orang bangun tidur.
" Kamu baru bangun? " Mama meninggikan suaranya karena terkejut.
" Ststt, jangan bising Ma. Lia nanti bangun " Raffa melirik pintu.
" Astaga kalian baru bangun. Oh Ya ampun! Maaf-maaf, mama lupa kalo kalian kan baru malam pertama " Mama senyum-senyum sendiri sambil melirik pintu kamar.
" Kita mau pamit pulang duluan. Papa sama Bunda nya Lia Uda pulang tadi habis sarapan. Kalian emang sengaja ga dibangunin tadi "
Raffa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia jadi merasa tak enak dengan mertuanya.
" Udah, it's Okay'. Mama pamit dulu ya. Assalamualaikum "
Raffa menghela nafas, membuka pintu kamar dan masuk ke dalam. Istrinya masih tidur disana. Terlihat sangat nyenyak. Raffa tahu Lia pasti sangat lelah. Ia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari segala kotoran yang melekat di tubuh.
****
" Emmmh " Lia menggeliat, merenggangkan otot-otot nya. Ia menatap ke sekeliling, kamar hotel ini sudah bersih dan rapi. Baju mereka semalam sudah tidak ada di lantai. Lantainya tampak sudah di sapu. Sofa di pojok juga sudah rapi dengan rak buku di sampingnya yang tertata.
Lia melirik jam, Astaga!
" Sayang.."
Lia menoleh, baru menyadari ada tangan yang melingkar di pinggangnya.
" Kamu Uda mandi? " Tanya Lia menatap Raffa yang sudah segar.
" Hmm " Suaminya itu masih memeluknya erat. Padahal dia sudah berusaha melepaskan pelukan di pinggangnya.
" Sana ih, aku mau mandi " Pinta Lia menarik tangan Raffa.
" Yaudah mandi aja "
" Raffa, sana ih " Lia menarik selimut sampai lehernya. Ia beranjak duduk tapi ************ sangat perih.
__ADS_1
" Aaah awwww "
" Kenapa, kamu kenapa? " Tanya Raffa panik, langsung duduk dan memegang tangan Lia.
Lia menggeleng, " Gendong ke kamar mandi " Ia mengerucutkan bibirnya dan mengulurkan tangannya. Langsung mengalungkan kedua lengannya di leher Raffa.
Raffa tersenyum, membalut badan istrinya dengan selimut dan menggendongnya ala bridal style.
Setelah sampai di kamar mandi, Raffa meletakan tubuh Lia ke dalam bathtub yang sebelumnya sudah diisi air hangat selagi Lia tidur.
Ia menyingkap selimut Lia dan menariknya hingga istrinya itu meringkuk malu.
" Uda sana, makasih ya " Lia mengusir Raffa dengan cepat. Sebelum suaminya melihat sesuatu yang bahaya.
" Iya, nanti panggil aku ya " Raffa tersenyum dan pergi dari sana. Tentu saja ia sudah melihat seluruh lekuk tubuh istrinya.
***
" Raf, kita kapan pulang? " Lia menyenderkan kepalanya di pundak Raffa. Mereka sedang duduk di balkon kamar hotel menikmati pemandangan dari atas.
" Kamu bosan? " Raffa mengelus kepala Lia lembut.
Lia mengangguk, " Kalo cuma mau duduk-duduk aja, mending di rumah aja deh " rengek Lia manja.
" Kamu mau honeymoon kemana? "
Lia cemberut, itu saja yang ditanyakan suaminya ini. " Nanti deh aku pikirin " Jawab Lia masih dengan posisi manjanya.
" Kita mau berangkat entar sore sayang.. "
" Huh? " langsung bangkit dari duduknya dan hendak protes. Masa iya sore ini, berkemas apapun belum. Lagian kan baru menikah, pasti banyak yang harus dipindahkan.
" Ya kali raf, kenapa ngebet banget sih. Nanti aja kan bisa. Lusa mungkin " Sebenarnya lusa terlalu cepat menurut Lia. Tapi ya mau bagaimana, lebih baik daripada sore nanti.
Raffa tersenyum, menarik kembali Lia agar bersender di pundaknya. Ia mengelus kepala Lia sayang. " Semuanya Uda siap. Tinggal kamu nya aja "
" Kalo gitu aku belum siap Raffa " Lia menggesek-gesekkan kepalanya di pundak Raffa. Sekarang, Lia mencoba bersikap terbuka. Toh, ini suaminya kan.
Cup.
Raffa mencium kepala Lia. Ia membalik posisi mereka hingga ia bisa melihat wajah cantik istrinya.
" Kamu ubah panggilan kamu " Pinta Raffa dengan menatap dalam mata Lia.
Lia yang di tatap menjadi gugup. Apalagi setelah mendengar perkataan Raffa.
" Jadi manggil apa? " Tanya Lia membalas tatapan suaminya. Berusaha terbiasa dan berani dengan perilaku ini.
" Emm terserah kamu, nyaman nya aja. Yang penting sopan dan yang pasti mesra.. "
" Banyak maunya, katanya terserah " Lia mengerucutkan bibirnya.
Raffa dengan gemas mengecup singkat bibir Lia. Ia mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan.
" Raf, ka- "
" Sayang... "
" Oke-oke, gini deh. Aku mau mikirin dulu. Nanti bakal aku kasih tau. secepatnya. Tapi jangan gini dong, bentar dulu deh, bentar dulu bentar " Lia mendorong Raffa pelan dan berdiri dari duduknya.
" Aku ke kamar mandi dulu ya. Eummah " Satu kecupan singkat mendarat di pipi Raffa sebelum Lia pergi ke kamar mandi.
__ADS_1
Raffa memegangi pipinya. Tersenyum dan geleng-geleng kepala. Tingkah Lia sungguh gemas. Membuatnya ingin memakan wanita itu. Ups.