
Dentuman musik yang berbunyi keras dengan gemerlapnya lampu-lampu yang memantul ke sudut-sudut ruangan membuat suasana riuh itu begitu tak nyaman di telinga seorang gadis yang mengenakan celana jeans serta kaos putih polos.
" Dimana David?!! " Tanya Lia setengah berteriak karena kuatnya musik yang membuat kepalanya pusing. Apalagi melihat banyaknya orang yang menggoyangkan badan mereka mengikuti arus musik yang dipimpin seorang DJ diatas sana.
" Ayo ikut aku! " Bryan menarik tangan Lia dengan cepat menjauh dari sana. Di pojok ruangan, ia menekan tombol lift dan masuk kedalam dengan Lia di sisinya.
" Itu tadi lantai satu. Party nya ada di lantai empat. Maaf ya, kamu gak nyaman "
" Ooh " Lia mengangguk ringan, meski perasaannya mulai tak enak sekarang. Apalagi melihat orang-orang yang berjoget ria itu padahal hari masih terbilang siang.
Ketika lift terbuka, Bryan dan Lia keluar dari sana. Bryan yang memimpin jalan, dengan santai seolah ia sudah tahu seluruh seluk beluk club yang terletak di pusat kota ini.
" Acaranya belum dimulai. Anak-anak masih nyiapin makanan" Ucap Bryan sebelum mereka memasuki sebuah ruangan luas yang terlihat seperti ballroom hotel. Ruangan luas itu kini sudah dihias sedemikian rupa hingga menyerupai cafe yang nyaman.
Meja-meja yang tersusun atas empat kursi tampak sudah dilapisi kain putih terletak di beberapa tempat. Di meja utama yang terletak di tengah, terdapat banyak gelas-gelas kecil yang sudah berisi air berwarna sedikit kuning.
Sementara ada sebuah karpet merah yang terhubung dengan panggung kecil di sana.
" Dav! " Panggil Bryan pada seorang pria muda yang tampak menjadi mentor disana. Mengatur ini dan itu, mengomentari ini dan itu, membuat teman-temannya yang lain menjadi geram namun hanya bisa menggertakkan giginya karena tak berani melawan David yang notabene selalu menjadi anak bawang karena para guru selalu melindunginya.
" Eh Bryan. Wih sama siapa nih? Matahari? wow amazing, gak nyangka sih gue cewek rumahan kaya Lo datang juga ke acara kaya beginian " Oceh David tanpa memperdulikan akibat ucapannya.
" Ada-ada aja Lo Dav " Bryan melakukan tos ala mereka dengan David dan beberapa teman-temannya yang lain baru menghampiri Lia yang masih berdiri terpaku di tempatnya.
" Dav, Lia mau ngomong ini " David yang tadinya asyik menyuruh Nina-anak perempuan yang sebenarnya ia sukai tapi ditolak, mengalihkan pandangannya pada Bryan.
" Mau ngomong apa? " pria muda yang mempunyai senyuman manis tapi mulut pedas itu mendekat kearah Bryan dan gadis si matahari.
" Acaranya jam berapa dimulai? " Awalnya ia ingin mengatakan langsung dan segera pulang. Tapi melihat sikap David membuatnya sungkan sekaligus takut pria itu mengeluarkan kata-kata pedasnya.
" Acaranya jam tujuh malam. Kalo mau nunggu, lebih baik bantuin aja deh " Sarkas David sambil tersenyum manis. Senyuman bak malaikat tapi kalau sudah membuka mulutnya terlihat seperti setan karena ucapan pedasnya.
" Oh " Lia mengangguk-anggukkan kepalanya.
" Gue mau minta izin gak datang ya.. " Ucap gadis itu, pelan.
__ADS_1
" Loh kenapa? karena baju Lo? santai aja kali, tuh minjem sama si Nina. Dia bawa dress banyak. Dari yang panjang sampai yang pendek. Uuhh yang tembus pandang juga ada " David menunjuk Nina yang sedang berbicara dengan Angga-temannya yang juga menyukai Nina dengan wajah kesal.
" Ish apaansih Lo! " Lia memukul pundak David cukup kuat dengan wajah kesal.
" Sakit woy! " teriak David keras sambil mengelus pundaknya hingga beberapa orang menatap mereka. Tapi melihat David yang berteriak membuat orang-orang itu kembali melanjutkan pekerjaannya.
" Gue ada urusan penting. Ini aja kebetulan lewat makanya mau minta izin. Boleh ya? sekalian bilangin sama yang lain kalo gue gak bisa datang " Pinta Lia.
" Ya boleh-boleh aja sih. Apalagi semua orang juga tau kan kalo elo itu si matahari yang tinggal di kastil mewah dan gak boleh kemana-mana. Uuhh kasian deh! "
" Hmm terserah Lo deh. Jadi boleh kan? " Baginya itu sudah biasa. Bahkan bagi semua orang, mendapatkan hadiah berupa ledekan ataupun sindiran dari seorang David adalah sesuatu yang lumrah.
" Boleh " Jawab David ringan sambil melirik Bryan yang hanya diam.
" Yaudah sana deh Lo pulang. Gue mau lanjut dekor acara ini " Usir David santai lalu berlalu dari sana dan kembali mengatur-atur teman-temannya.
Lia menghela nafas pelan. Ternyata tak sesulit itu. Ia menatap Bryan.
" Boleh minta anterin ke bawah? aku pulang naik taksi aja " Pinta Lia, pelan.
" Oke " jawab Lia, pelan. Antara gugup dan tersipu dengan perilaku manis Bryan. Gadis itu mengedarkan pandangannya, orang-orang pada sibuk semua, ia jadi sungkan sendiri hanya berdiri disini.
" Nina " Panggil Lia pada gadis berambut lurus sepinggang yang sedang sibuk menata bunga-bunga kertas di meja.
" Eh Lia " Nina menghentikan pekerjaannya, ia menghampiri Lia yang berdiri tak jauh darinya.
" Hey, Lo cepat banget datangnya " Ujar Nina heran, terutama saat melihat pakaian Lia yang hanya mengenakan celana jeans dan kaos putih.
" Iya gue tadi izin sama David karena gak bisa dateng " Nina mengangguk. Gadis itu bukan teman sekelas Lia, tapi dia anak kelas sebelah, satu kelas dengan Darwin dan Angga, sementara Raffa dan Bryan berada di kelas lainnya.
" Oh gitu. Terus Lo mau pulang? "
" Hmm, tapi nunggu Bryan lagi di toilet. Tadi kita gak sengaja ketemu di jalan " Lia langsung memberikan sanggahan, takut Nina berpikir yang macam-macam.
" Yaudah gue lanjut kerja ya. Ntar si David marah lagi. Tau sendiri kan dia. Nyesel gue mau jadi salah satu panitia acara ini " gerutu Nina sambil melirik David tajam.
__ADS_1
" Yaudah, bye Lia " setelah gadis itu berlalu, Lia kembali menatap sekitar.
Bantu gak ya? tapi ntar kalo Bryan datang kan jadi sungkan kalo bilang, eh gue pulang dulu ya. Tapi kalo gak dibantu, ntar malah kesannya sombong banget. Ish lagian Bryan ngapain si di kamar mandi?? lama banget!!
***
" Iya Lo cepetan kemari. Iya, nyokap Lo baik-baik aja. Kata dokter cuma asam lambung biasa. Makanya Lo jadi anak itu jangan bandel, tuh Tante Amela jadi sakit kan. Hmm iyaaa. Yaudah cepetan kesini. Gue mau nganterin Lia pulang ini. Iyaa Darwin cepat woy! oke, hmm " Raffa mematikan panggilannya. Menyimpan ponselnya lalu berdiri dari duduknya.
Pria itu membuka pintu ruangan Tante Amela, lalu masuk kedalamnya.
" Raffa " ucap Amela lirih, masih lemas rasanya setelah pingsan selama satu jam.
" Tante, gimana keadaan tante? masih sakit? " Tanya Raffa lembut lalu menarik kursi dan duduk di samping ranjang Mama Darwin.
Amela tersebut lemah, " Tante Uda enakan. Makasih ya kamu mau jagain Tante " Ucap wanita paruh baya itu pelan.
" Iya Tante, selama Darwin gak ada, aku akan jagain Tante " Raffa tersenyum tipis.
" Tapi kalo kamu ada urusan, gak apa-apa kok. Tante bisa sendiri " Ujar Amela kemudian.
" Gak apa-apa kok Tante. Teman aku sabar kok nungguin " Raffa tersenyum, tapi kemudian ia baru teringat dengan Lia. Gadis itu sedang dalam kondisi kesal, dan ingin pergi ke party yang diselenggarakan di club Darwin.
Sial!! bodoh banget sih gue!
_
_
_
_
_
_
__ADS_1
BERSAMBUNG