Ternyata Kita Berjodoh

Ternyata Kita Berjodoh
Eps 76


__ADS_3

" Iya sumpah gue kangen banget tau. Tapi, Lo gak boleh kesini! Kalo sampe Lo Dateng, awas Lo!" Lia mendelik. Ia sedikit menjauhkan hp nya ketika suara Lily memekik di sana.


" What?!"


" Hmm" gadis itu mengangguk. " Nikmati aja kali" Sambungnya terkekeh kecil.


" Lia, tapi gue kangen sama Lo berdua. Dan Lo tau gak sih, gue canggung banget sumpah sama keluarga Dave. Nih ya, meskipun gue bersyukur bisa jadi istri Dave, tapi ada rasa menyesal tau gak. Keluarganya itu pada sombong semua. Cuma Mama mertua sama adik ipar aja yang lumayan baik sama gue. Yang lain ehhh gregetan gue tuh "


" Ya sabar Neng. Namanya juga Holkay. Pokoknya Lo harus bersikap ramah meskipun mereka sombong. Yang penting kan, hati Dave dan mama mertua Uda dapet " Lia beranjak berdiri menuju balkon kamarnya.


" Iya sih, tapi gue kangen tau suasana kita dulu. Selama gue jadi istri, gue harus ngertiin ini, ngertiin itu. Pusing gue " Keluh Lily menghela nafas.


" Ya begitulah kalo jadi istri. Gini ya Li, kalo Lo memutuskan untuk menerima lamaran dari pria. Maka berarti Lo Uda sangat siap untuk menjadi seorang istri dan ibu untuk anak-anak Lo kelak. Jadi, jangan pernah sedikitpun Lo bilang nyesel " Tutur Lia menasehati.


" Iya deh " jawab Lily tersenyum tipis. " Oh ya, gimana hubungan Lo sama Raffa? " Tanya Lily berubah antusias.


Lia tersipu malu. Ia menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya. " Ya gitu" Gadis itu tertawa kecil dengan pipi bersemu merah.


" ya gitu gimana?" desak Lily sangat penasaran.


" kasih tau gak ya?" Goda Lia tertawa. Sengaja ingin mengalihkan sikap malu nya.


" kasih tau cepetan Lia" rengek Lily mendekatkan hp nya tepat di depan telinga.


Lia tertawa kecil. " Oke-oke. Jadi hubu-"


" Lia "


" Iya bentar " Teriak Lia berjalan ke dalam kamar. Tak lupa, ia menutup pintu balkon dengan kakinya.


" Nanti lagi ya Li, assalamualaikum " gadis itu langsung mematikan panggilannya sepihak dan melemparkan hp itu di atas tempat tidur.


ceklek.


" Eh, kenapa Bun?" Tanya Lia mengernyit melihat Bunda tersenyum aneh padanya.


Bunda hanya tersenyum dan berjalan masuk ke dalam kamar anaknya. Ia membuka lemari dan terlihat memilih-milih baju.


" Bun kenapa sih?" desak Lia mengguncang tangan Bundanya.


Bunda menghentikan aktivitasnya. Lantas menoleh dan tertawa kecil melihat wajah cemberut anaknya. Wanita paruh baya itu menangkup wajah Lia lembut dan menatapnya dengan hangat.


" Ternyata kamu Uda besar ya Li. Udah ga bisa bunda gendong lagi. Ga bisa bunda pangku lagi "


" Bun, kenapa sih?" Lia memegang tangan Bundanya.


" Orang tua Raffa dibawah. Melamar kamu untuk anaknya. Kamu cepetan siap-siap gih. Mandi sana, biar bunda pilihkan baju buat kamu. cepetan Uda nungguin tuh di bawah.


" huh?" Lia melongo, tak percaya secepat ini. Bahkan Raffa sama kali tak mengabarinya.


" Serius Bun? "


" Iya Lia sayang, serius. Uda cepetan sana mandi " Bunda mendorong Lia yang masih terkejut ke kamar mandi.


****

__ADS_1


" Maaf semuanya nunggu lama " Ucap gadis cantik berjalan anggun ke ruang tamu. Sontak saja, semua perhatian ada padanya. Dengan balutan dress sederhana berwarna putih tulang. Dan rambut yang dibiarkan tergerai dengan pita kecil di bagian belakang.


" Wah cantik sekali ya nak Lia. Raffa tidak salah pilih ini " Puji Mama Raffa tertawa kecil.


Lia tersenyum dan menyalim tangan Mama Raffa. Setelah itu, ia menyalim tangan seorang pria di sebelahnya yang pasti Papa Raffa. Gadis itu duduk di samping Raffa yang berada di seberang orangtuanya.


" Ini Lia yang waktu itu kan ya." Tanya Papa Raffa yang baru ingat setelah melihat lebih dekat wajah Lia, calon anaknya.


Lia tersenyum malu dan mengangguk. Ia tak menyangka, sandiwara waktu itu bisa berlanjut sampai saat ini.


" Oh Lia sudah pernah ketemu sama Papa Raffa ya?" Tanya Mahendra basa-basi. Padahal, ia sangat malas berbicara dengan orang baru. Tapi, demi citra sebagai calon besan, ia terpaksa berbasa-basi seperti ini.


" Iya, jadi waktu itu pernah Raffa bawa seorang wanita menemui saya dan istri. Wanita ini ya Lia. Mereka bilang, mereka pacaran. Awalnya saya tidak percaya, karena Raffa ini sangat sulit dekat dengan wanita. Tapi sekarang, saya percaya 100 persen " Jelas Papa Raffa tertawa.


" Oh begitu, iya-iya" sahut Mahendra tertawa.


Acara lamaran itu berjalan lancar. Setelah itu, dilanjut dengan makan siang yang sempat dimasak cepat oleh Bunda. Setelahnya, kedua calon besan itu mengobrol akrab. Entah benar-benar akrab atau hanya basa-basi saja.


" Li-"


" Raf, gue ke kamar mandi dulu ya " ucap Lia beranjak dari duduknya.


Raffa menghela nafasnya. Ia mengangguk dan menyenderkan punggungnya. Pria itu ingin membangun kedekatan seperti dulu pada Lia. karena dia sadar, Lia merasa canggung bersamanya.


Tak berapa lama, Lia kembali duduk di samping Raffa. Ia sedikit menjaga jarak. Bukan tanpa alasan, gadis itu hanya ingin mengamankan jantung nya yang sangat tidak nyaman berada di dekat Raffa.


" Lia ke-"


" Raf bentar ya gue ambil kue dulu, Uda abis soalnya" Lia menunjuk nampan di atas meja yang sudah kosong.


" Oh ya tadi Lo mau ngomong apa?" tanya Lia tanpa menatap Raffa. Ia berpura-pura sibuk meletakan nampan itu di meja.


Raffa menoleh, " Kita ke taman samping yuk " Ajak Raffa berdiri dari duduknya. Dengan cepat, ia menarik tangan Lia lembut. Membuat gadis itu tak bisa berkutik.


***


" Li, Lo tau gak sih " Raffa menoleh. " Gue kangen banget jalan berdua sama Lo. Kapan ya terakhir kali kita jalan berdua kaya dulu"


Lia tersentak. Tak percaya pria yang menggenggam tangan nya ini berbicara dengan gaya bahasa seperti itu.


" ya, gue juga kangen " Jawab Lia tersenyum tipis.


" Lia " Raffa menatap mata gadis itu dalam.


" Hmm?" Lia mengalihkan pandangannya. Tapi Raffa, pria itu malah menarik dagunya membuatnya harus bertatapan dengan mata itu.


" Gue mau kita akrab kaya dulu Li. Ga ada yang namanya canggung dan sungkan. Bisa kan?"


Deg.


" Raffa gue..."


" Lia, bisa kan?" Ulang Raffa menekankan setiap katanya.


" Gue ga tau Raf " jawab Lia terus terang.

__ADS_1


" Gue ngerasa kita Uda beda. Kita Uda punya hubungan. Dan, gue ga bisa bersikap sama kaya dulu. Tapi gue juga sedang mencoba untuk akrab kok sama kamu yang sekarang " lanjut Lia menatap Raffa lekat.


Pria itu tak menjawab. Ia menatap wajah Lia lekat beberapa saat. Sampai tiba-tiba pria itu memeluk erat Lia. Mengelus punggungnya lembut. Berusaha menenangkan gadis yang pasti akan menangis sebentar lagi. Bertahun-tahun bersahabat dengan Lia. Membuat pria ini mengerti dengan jelas dengan Lia.


" Maaf ya Raf. Kalo aku bersikap kaya gini. Aku belum bisa bersikap kaya gimana pasangan pada umumnya. Aku masih ngerasa canggung dan sedikit sungkan sama kamu. Aku butuh waktu untuk mengenal kamu. Karena kita Uda terpisah bertahun-tahun. Dan saat aku kembali, aku malah jumpa orang yang sama tapi identitas berbeda. Jadi, aku benar-benar canggung sama kamu. Aku butuh waktu untuk itu. Maaf "


" It's Okay' Lia. Uda tenang ya" Raffa terus mengelus punggung gadis itu. Tubuhnya gemetar. Ia menangis.


" Lia jangan nangis " Raffa melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Lia dengan tangannya.


" Ma-af Raf..." Lia terus terisak. Entah apa yang membuatnya tiba-tiba begini.


" No, kamu ga salah " Raffa kembali mengelap air mata yang mengalir deras dari mata indah milik Lia.


" Tapi.. aku...."


" Ststt" Raffa membawa Lia ke pelukannya. Ia jadi merasa bersalah karena mengatakan hal tadi yang membuat Lia seperti ini.


" Jangan pernah nangis untuk hal ga penting gini Lia. Kamu tahu, kamu harus selalu bahagia. Karena mulai sekarang, aku akan selalu membuat kamu bahagia. Selamanya " Raffa mengecup pucuk kepala Lia. Memberikan ketenangan dalam kehangatan kecupan itu.


****


" Eh Lia Raffa ayo sini duduk " Ajak Mama Raffa berdiri dan langsung menggandeng tangan calon menantunya.


" Kita mau nentuin tanggal pernikahan kalian. Biar cepet sah nya " Ucap Mama Raffa tertawa kecil diikuti yang lain kecuali Raffa.


" Kalau saran saya, mereka saja yang menentukan tanggalnya. Karena kan, ini pernikahan mereka. Jadi biar mereka menentukan kapan hari spesial itu " Saran Papa Raffa.


" Saya setuju, bagaimana Raffa Lia?" Mahendra menatap anaknya dan calon menantunya bergantian.


" emm " Lia melirik Raffa. Ia juga bingung menjawabnya. " Ya terserah aja sih Pa, Om. Kalo misalkan kita yang nentuin, kita bakal tentuin pasti " jawab Lia canggung.


" Ya aku setuju " sahut Raffa datar.


" Yasudah begini saja, gimana kalo kalian tentukan berdua di tempat yang santai. Supaya lebih fresh gitu " Ucap Bunda yang sedari tadi banyak diam.


" Saya setuju banget sama Nyonya Mahendra " timpal Mama Raffa tersenyum.


" Oke kalau gitu. Besok kalian pergi berdua deh. Kalau begitu, kita pamit ya " Papa Raffa berdiri dari duduknya diikuti yang lain.


" Kita pamit ya Nyonya, saya senang loh punya besan seperti Nyonya Mahendra ini "


Setelah Bunda dan Mama Raffa cipika-cipiki. Bergantian dengan Mahendra dan Papa Raffa yang berjabat tangan. Setelahnya, mereka berdua pamit sekali lagi dan pergi menggunakan mobil. Sementara Raffa, pria itu menaiki mobilnya sendiri.


" Om, Tante saya pamit dulu ya " Raffa menyalim tangan Mahendra dan Bunda bergantian. Ia tersenyum dan masuk kedalam mobilnya.


" hati-hari Raf " Ucap Mahendra sedikit berteriak.


Raffa mengangguk dari dalam mobil. Ia menghidupkan mesin mobilnya.


" Assalamualaikum " ucapnya membuka jendela Samapi setengah. Setelah itu, Raffa mengendarai mobil nya menuju rumahnya. Untuk saat ini, ia akan tinggal beberapa saat di rumah.


****


Kalo ada waktu, aku crazy up deh. Semoga mood bagus dan ide lancar.

__ADS_1


__ADS_2