
Setelah kopi keduanya habis, mereka sama-sama berdiri dari tempatnya. Saling memandang, kemudian membuang muka secara bersamaan.
" Lo yang bayar, gue gak bawa uang " tutur Lia tanpa sungkan dan berlalu dari sana menuju mobil Raffa yang terparkir di depan.
Lia bersandar di dinding mobil mewah itu dengan wajah frustasi. Mana mungkin ia bisa membuat Raffa membantunya, apalagi melihat sikap pria itu yang cuek dan benar-benar membuatnya kesal.
Masa iya gue gak datang ke party itu. Gimana sama Bryan? hmm lebih parahnya sama Aurel. Pasti tuh cewek ngeledekin gue deh.
" Jam berapa ya? " Gumam Lia sambil melihat jam tangannya. Jarum jam menunjukkan pukul 2 siang. Lia menghela nafas, sudah jam segini, bagaimana caranya membujuk Raffa? Bahkan waktu dan tempat pastinya saja Lia tak tahu dimana.
" Kenapa Lo? " Raffa membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya diikuti Lia di sisi satunya. Gadis itu menarik nafas panjang sebelum masuk kedalam.
" Lo tau gak sih Raf, ada party ternyata di sekolah! Gue baru tau dari temen gue, party nya dimana ya? Lo tau gak? " Ujar Lia antusias sambil tersenyum senang.
Please kali ini jangan ngeselin Raf. Gue Uda bela-belain akting di depan Lo.
" Gue gak tau " jawab Raffa acuh tanpa ada nada minat sedikitpun. Menatap fokus kedepan tanpa menoleh ke gadis di sampingnya.
Huaaaa! Raffa sialaaaan!!
" Ish kok Lo gitu sih. Jutek amat " Lia membuang muka ke jendela. Apa memang ia tak bisa datang ke party itu? hmm entahlah, mungkin ini memang takdirnya. Tak bisa kemana-mana, selalu dilarang oleh papanya. Dan sekarang, Raffa malah ikut-ikutan melarangnya.
Hmmm pacar bukan, saudara bukan, tapi udah posesif aja! Dasar Raffa gilaaaa!! Gue tau Lo sengaja kan nutup-nutupin party itu biar gue gak kesana!!!
***
" Raf, mampir ke toko buku dulu " Lia menunjuk sebuah toko buku besar yang terletak di sisi kiri jalan. Ia akan membeli beberapa buku Novel untuk mengisi kebosanan nya di kamar selama beberapa hari ini.
" Lo mau beli buku? " langsung membuka pintu dan keluar begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Raffa. Raffa hanya menggelengkan kepalanya lalu ikut keluar mengikuti Lia.
" Selamat datang di toko kami Nona. Mau buku yang seperti apa? Untuk buku koleksi terbaru kami ada di sebelah sana. Mari saya tunjukkan " pelayan wanita muda itu dengan ramah menuntun Lia ke rak-rak buku terbaru yang dari sampulnya saja sudah bisa menilai isi dalamnya.
" Saya mau genre Romance ya mbak. Terus ada komedinya, dan setting anak sekolah " Pinta Lia sambil tersenyum. Buku-buku yang ia baca memang selalu berlatar anak sekolah, karena Lia tidak menyukai cerita dengan setting menikah. Selain karena ia belum cukup umur, Lia juga kesal dengan konflik yang berputar tentang mertua, tidak bisa hamil, perselingkuhan, atau poligami.
" Wah selera anda sangat bagus Nona. Kami mempunyai banyak buku-buku bagus bergenre Romantis teen. Mari saya tunjukkan " Setelah berada di rak yang dimau, pelayan wanita itu pamit undur diri.
" Pernikahan Dadakan " Eja Lia pada salah satu buku yang menarik perhatiannya.
" Hmm lumayan, tapi ini ada konflik mertua gak ya? " Gadis itu membolak-balikkan buku yang terbalut plastik putih itu. Membaca sinopsis yang ada di bagian belakang sampulnya.
" Ternyata selera Lo begini ya " Raffa datang dari arah belakang. Tadi ia harus bertanya pada pelayan terlebih dahulu dimana keberadaan Lia.
" Hmm " hanya menyahut singkat, bahkan tak sadar dengan suara Raffa. Lia fokus membaca sinopsis yang lumayan menarik.
" Bagus sih, tapi cowoknya play boy. CK, sorry ya! Gue gak suka sama buaya darat " Tandas Lia kesal lalu mengembalikan buku itu pada tempatnya dengan sedikit kasar.
" Eh! " Raffa yang berdiri tak jauh di belakangnya mengelus dada. Bisa-bisanya gadis itu berbicara pada sebuah buku.
" Ini..... Bagus banget. Mungkin penulisnya sarjana sastra ya " Gumam Lia ketika ia melihat sinopsis dari sebuah buku berjudul Takdir. Bahasa nya berupa kata-kata kiasan. Rapi, tertata, dan begitu mendalam.
__ADS_1
" Woy! " Akhirnya Raffa tak tahan lagi, ia menepuk pundak gadis itu hingga Lia meringis pelan.
" Apa? " Tanya Lia santai tanpa merasa terkejut di nada bicaranya setelah ia mengusap pundaknya.
Raffa berdecak sambil berdiri di sisi Lia. Menatap Lia dengan lekat tanpa berkedip. Namun yang ditatap tetap acuh, seolah itu tidaklah mengganggu.
" Kalo Lo mau ngagumin gue, nanti aja ya. Gue lagi sibuk " Tutur Lia lalu membalikkan badannya dengan tiga buku di tangannya. Melangkah begitu saja tanpa ada niatan berbalik menuju kasir.
" CK, dasar cewek. Kalo ngambek aja gengsinya setinggi langit " Raffa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat perilaku gadis itu.
***
" Gue anter Lo pulang " Ucap Raffa membuka pembicaraan di mobil mewah yang semula hening itu. Pria itu melirik ke samping, tampak Lia dengan acuh memainkan ponselnya tanpa ada niatan merespon.
Drrt.... Drrt...
Ponsel Raffa berdering, tapi pria itu hanya fokus pada kemudinya. Dua kali getaran, masih tak ia hiraukan hingga getaran yang ketiga, terpaksa Raffa menghentikan mobilnya.
" CK, Hallo " berdecak kesal, Raffa menggeser tombol hijau setelah melihat Bryan yang menelepon.
" Hallo bro, Lo dimana? " Tanya Bryan panik, sambil berjalan mondar-mandir di dekat meja nya hingga pelayan yang ada disana menjadi bingung.
" Gue di jalan, kenapa? " Raffa masih bertanya dengan santai meski dalam hatinya rasa cemas mulai melanda. Pikirannya secara otomatis menerka-nerka, ada apakah gerangan hingga Bryan yang selalu santai menjadi panik seperti ini.
" Bro, Tante Amela masuk rumah sakit! Darwin gue telponin gak bisa-bisa. Lo bisa ke rumah sakit IMC sekarang? Gue juga gak bisa kesana bro " Ujar Bryan cepat.
" Gue kesana sekarang. Lo terus coba telponin Darwin! " Raffa mematikan panggilannya. Langsung menginjak pedal gas dengan kecepatan cepat.
Hanya sepuluh menit, mobil sport Raffa berhenti di parkiran rumah sakit. Pria itu langsung turun diikuti Lia yang bingung.
" Raf " panggil Lia ketika pria itu akan berlari masuk kedalam.
" Lo tunggu di mobil! " Teriak Raffa lalu berlari masuk kedalam meninggalkan Lia yang bingung di tempatnya.
Apaansih tuh orang. Siapa yang sakit sih? Disuruh nunggu lagi. Mending gue naik taksi pulang. Ish kenapa hari ini banyak banget sih masalah.
Lia berdecak kesal. Membuka pintu mobil, ia masuk kedalam lalu memainkan ponselnya. Mungkin ia akan menunggu beberapa menit.
Tok...tok...
Kaca jendela diketuk, Lia menoleh secara reflek. Bayangan seorang pria yang tidak terlalu jelas membuat gadis itu menurunkan kacanya. Lagi pula mana ada penjahat di parkiran rumah sakit begini.
" Bryan? " Tanya Lia tak percaya. Bryan mengenakan pakaian santainya, hanya saja wajahnya tertutup masker dan kacamata hitam.
Lia membuka pintu mobil, gadis itu benar-benar bingung sekarang. Kenapa pula Bryan bisa ada disini? Apa jangan-jangan ada kaitannya dengan Raffa yang panik? Segala pemikirannya ia hanya bisa di telan sendiri. Mana mungkin menanyakannya pada Bryan.
" Bryan? Kamu disini? " Bertingkah pura-pura terkejut sambil melihat sekitar.
" Iya. Lia, kamu mau ke party itu kan? " Tanya Bryan tergesa. Nada bicaranya menuntut meskipun masih dalam tahap bicara santai.
__ADS_1
" Iyaa, kenapa? " Tanya Lia bingung. Otaknya menerka-nerka skenario apa yang ada di balik ini semua.
" Aku bisa bantu kamu. Raffa gak ngizinin kan? Papa kamu juga kan? Aku bisa bantu kamu datang kesana tanpa ketauan " Ujar Bryan.
" Hah? " Kali ini gadis itu benar-benar terkejut. Menatap Bryan dengan curiga. Sikap Bryan saat ini benar-benar diluar dugaannya. Bryan adalah pria ramah dengan senyuman manis, baik pada semua orang serta bersikap santai. Tapi kali ini, pria itu berkata dengan nada memaksa yang cukup terlihat dan juga sikap tubuhnya yang seolah-olah tergesa membuat Lia menjadi curiga.
" Anak-anak yang lain pada nungguin aku. Aku salah satu panitia penyelenggara party itu. Kalo kamu mau sekalian kesana, boleh bareng sama aku. Ya, setau aku Raffa itu orangnya pemaksa dan posesif " Tutur Bryan tersenyum, nadanya santai dan asyik seperti biasa.
Lia tersenyum tipis, mungkin sikap Bryan tadi karena sudah ditunggu oleh yang lain. Ia saja yang terlalu berlebihan.
" Tapi, sorry ya Bryan. Kayanya aku gak bisa datang deh. Papa aku gak ngizinin " Ucap Lia, pelan.
" Oh gitu. Ya gak masalah sih. Tapi, saran aku ya. Kamu mendingan datang sebentar kesana, setidaknya nunjukin batang hidup kamu, hehe. Abis itu langsung pulang, papa kamu gak akan tau kan? Gak enak aja kan kalo kamu gak ikut party itu sementara nama kamu udah jadi tamu yang hadir " Ungkap Bryan panjang lebar.
" Oh gitu " Lia mengangguk-anggukkan kepalanya. Menimbang-nimbang ucapan Bryan.
" Emang jam berapa acaranya? Terus dimana? " Hal penting yang Lia sendiri belum tau jawabannya.
" Acaranya di club Darwin. Jam delapan malam nanti sih, tapi gapapa kok kalo kamu mau langsung pulang. Ya setidaknya sekarang kamu datang untuk minta maaf sama ketua panitianya " Jawab Bryan.
" Ketua panitia? siapa? David? " Lia sudah dapat menebak ketua panitia acara party malam ini. David, seorang pria santai yang lebih baik daripada teman-temannya. Lumayan pintar, bertanggung jawab serta baik hati dan ramah. Tapi uniknya, ia adalah pria yang tidak pernah absen dalam acara-acara di sekolah.
" Seperti biasa " Bryan tersenyum manis. " Jadi kamu mau? " Tanyanya lembut.
" Gimana ya, " Lia menggaruk tengkuknya, ia juga bingung sebenarnya mau menjawab apa. Kalau ikut dengan Bryan, bisa saja kan papanya atau Raffa tahu. Apalagi party itu di selenggarakan di club yang notabene tempat tidak baik untuk para wanita.
" Kalau kamu gak mau aku gak maksa. Sekedar saran aku aja, soalnya kan gak enak aja nanti sama anak-anak yang lain kalo kamu gak datang gitu aja " ucap Bryan kemudian.
" Oke deh aku ikut " Lia menarik nafas sebelum menjawab. Mungkin hanya Lima menit setelah itu pulang.
Seutas garis senyuman membentuk sempurna di bibir Bryan.
" Yaudah, ayo. Aku bawa mobil " Bryan tersenyum lalu mempersilahkan Lia berjalan duluan.
" Oke " ucap Lia, pelan. Melangkahkan kakinya setengah ragu menuju mobil Bryan yang terletak tak jauh dari sana.
Ya, silahkan.
_
_
_
_
_
_
__ADS_1
_
BERSAMBUNG