Ternyata Kita Berjodoh

Ternyata Kita Berjodoh
BAB 7 SEBUAH TEMPAT


__ADS_3

" Dia balik sama gue! " tandas Raffa dengan mata yang menatap tajam sahabatnya. Persetan dengan sahabat, ia sedang sangat kesal sekarang. Apalagi Raffa tahu betul sifat Bryan yang suka bermain dengan wanita. Dan sekarang, Bryan malah ingin mendekati Lia yang notabene sahabatnya. Tentu saja ia tak akan tinggal diam.


" Raf.. " Lia menatap Raffa penuh tanda tanya, ia berusaha melepaskan tangan Raffa karena tak nyaman dengan tatapan Bryan. Tapi bukannya lepas, pria itu malah mencengkram tangan Lia dengan kuat tanpa sadar.


" Raf! " Suara Lia tertahan, ia melepaskan kasar cengkraman Raffa pada tangannya. Ada bekas merah disana, Lia menatap sahabatnya dengan tatapan bingung. Kenapa hari ini Raffa begitu aneh?


" Raf, seharusnya Lo gak kasar sama cewek. Kalo dia gak mau pulang sama Lo, ya jangan dipaksa " Sahut Bryan dengan nada menantang. Ia tersenyum tipis pada sahabatnya yang tampak kesal itu.


Raffa menghela nafas panjang, " Lia, Lo pulang sama gue! Dan Lo, Lia bukan wanita-wanita murahan itu. Tolong jangan rusak dia! " Tandas Raffa tegas. Ia langsung menarik Lia menuju mobilnya. Tak perduli gadis itu marah atau tidak padanya. Yang terpenting adalah menjauhkan Lia dari pria brengsek seperti Bryan.


" Bro, Lo sama Raffa ada masalah apaansih? " Darwin menepuk pundak Raffa seraya memperhatikan mobil Raffa yang menjauh.


Bryan menggeleng, " Gue balik " langsung pergi menuju motornya tanpa perduli dengan Darwin yang berteriak.


" Sial!! gue ditinggal!!! " Darwin berteriak kesal, untungnya tak ada orang disana. Kalau ada, mungkin ia akan langsung di cap sebagai orang gila.


***


Hening menyelimuti keduanya, kedua orang yang mempunyai sifat sama-sama keras kepala itu memilih diam dengan pikiran masing-masing.


Lia memandang jendela yang menampilkan jalanan dengan angin yang membelai lembut wajahnya. Sementara Raffa fokus mengemudi menuju suatu tempat yang mungkin akan membuat mereka berdua tenang.


Sekitar sepuluh menit kemudian, mobil masih melaju. Lia yang sedari tadi menatap ke arah jalan mengernyitkan dahinya ketika melihat jalanan yang asing untuknya.


" Kita mau kemana? " Tanya Lia yang tak bisa menahan rasa penasarannya. Ia melirik Raffa yang bahkan seperti tak mendengar pertanyaannya.


Hening...


Masih tidak ada sahutan dari Raffa. Lia menghela nafas pelan berusaha menekan kesabarannya. Ia memilih diam sambil memainkan ponselnya yang ia ambil dari dalam tas.


Citt.


Mobil berhenti, Raffa langsung turun sementara Lia menyimpan hp nya. Ia memperhatikan jalanan sekitar, jalan aspal yang hanya bisa dilalui satu mobil, di samping kanan dan kiri terdapat pohon rindang yang ditanam teratur.


" Ayo turun " Ucapan Raffa membuat gadis itu sadar dan segera membuka seat belt nya, ia turun dengan rasa penasaran yang teramat sangat. Tapi malas bertanya kalau hanya di cuekin seperti tadi.


Raffa berjalan masuk ke sisi sebelah kanan, hanya ada pohon disana, mengapa pria itu kesana? batin Lia bertanya-tanya. Tapi ia memilih mengikuti Raffa daripada banyak protes.


Berjalan sekitar lima langkah, sebuah pintu yang terbuat dari daun melengkung di tengah, tampak begitu indah dan sedikit seram karena hanya ada mereka berdua disana.


Raffa berjalan dengan santai kedalam, sementara Lia sudah was-was melihat tempat ini begitu sepi. Tak mungkinkan sahabatnya itu berbuat macam-macam? Hmm, tidak mungkin.


Menghela nafas panjang, Lia berjalan masuk ke dalam dengan ragu. Ia masih menatap sepatunya. Sampai gadis itu mendongakkan kepalanya, matanya membulat melihat apa yang ada di depannya.

__ADS_1


Sebuah danau dengan banyaknya tempat duduk yang berjarak sekitar dua meter dari sana. Tak ada pohon disana, rumput membentang luas tempat itu. Dengan beberapa spot foto yang terdapat di pohon bagian pojok.


Bibir Lia tersenyum, tak menyangka ternyata Raffa membawanya kesini. Hatinya sedikit damai karena perihal tadi.


" Woy, sini " Suara Raffa yang memanggilnya membuat gadis itu menoleh. Tampak Raffa sudah duduk di bangku yang berada di tengah tepat di hadapan danau indah itu.


Lia duduk disana, matanya memandang danau di depannya. Haaah, udara disini begitu sejuk. Menenangkan hati dan pikiran selepas ujian yang melelahkan.


" Ini salah satu tempat wisata yang gak banyak orang tau. Gue sama mama sering kesini, biasanya di sini rame. Tapi tadi udah gue booking tempatnya. Kebetulan yang punya tempat ini temen mama gue "


" Oh " Lia mengangguk, ia masih memandang kedepan.


" Kalo gue lagi suntuk, gue suka kesini. Tempatnya adem, sejuk, bikin tenang.. " Raffa kembali bersuara, ia tersenyum mengingat mamanya yang membawanya kemari saat ia sedang marah.


Kali ini gadis itu menoleh, " Hmm, tempatnya sejuk. Bisa nenangin pikiran karena cowok yang hari ini ga jelas banget " sindir Lia dengan senyuman di bibirnya. Senyuman sinis yang ia tujukan pada Raffa.


Raffa menghela nafas pelan, ia memang salah dengan sikapnya tadi yang begitu kekanak-kanakan. Seharusnya ia bicara baik-baik pada Lia tanpa harus menyakiti gadis itu.


Raffa tersentak, ia baru sadar kalau tadi ia mencengkram tangan Lia cukup kuat.


Raffa langsung menatap tangan sahabatnya, bekas cengkraman tangan yang memerah terlihat samar. Rasa bersalah menyeruak membuat pria itu tanpa sadar menarik tangan Lia ke pangkuannya.


" Eh, Raf Apasih! " Lia yang terkejut langsung menarik tangannya dan menatap tajam Raffa. Tapi Raffa kembali menarik tangan Lia ke atas pahanya.


" Minyak urut? Lo bawa minyak ke sekolah buat apaan?? " Tanya Lia seraya menaik-naikan alisnya. Ia menahan tawanya melihat wajah kesal Raffa.


" Yang penting berguna juga kan " Raffa menuangkan dua tetes minyak urut yang selalu dibawanya itu ke tangan Lia yang memerah. Ia mengoleskannya dengan lembut dan memijit-mijit tangan Lia pelan. Mamanya selalu melakukan ini padanya saat ia terjatuh atau terkilir. Jadi, sedikit banyaknya Raffa tahu cara memijit orang.


" Aww shh " Lia meringis sakit ketika tangan Raffa memijit bagian merah di tangannya. Beberapa saat kemudian, pria itu selesai.


" Udah, coba gerakin tangan Lo " Lia dengan patuh menggerakkan tangannya, hmm lumayan lah. Tak ada yang sakit, hanya saja sekarang tangannya berminyak dan bau. Hmm, ia tak menyukainya.


Lia melirik Raffa yang menyimpan botol minyak itu. Pria itu kembali menatap kedepan dengan tatapan nanar. Lia yang melihatnya menjadi bingung hingga bibirnya sangat gatal ingin bertanya.


" Lo ada masalah? "


" Bokap gue marah.. " menatap danau di depannya dengan pandangan menerawang. Mengingat bagaimana perdebatan yang setiap hari terjadi karena ia yang tidak mau bertunangan dengan anak teman papanya itu.


" Dan.. kali ini mama ikut marah karena gue gak ngabulin permintaan Papa " Raffa menghela nafas pelan, beban ini terasa begitu berat. Mama tempat selama ini ia berkeluh kesah juga marah padanya. Ia benar-benar bingung.


Lia menoleh dengan pelan, ia menepuk pundak pria itu, memberikan semangat pada pria yang selalu membantunya dulu. Jujur ia juga bingung ingin memberi respon bagaimana. Tapi sebisa mungkin gadis itu mencoba membantu.


" Gue harus gimana " Entah pertanyaan atau bukan, tapi Raffa menatap Lia dengan lekat. Seolah meminta bantuan gadis itu dalam masalahnya.

__ADS_1


Lia tersenyum tipis, " Mama Lo udah ikut andil, selama ini mama Lo kan selalu dukung Lo. Berarti kali ini permintaan bokap Lo di setujui sama Mama Lo. So, Lo tinggal kabulin aja permintaan mereka. Kalau emang itu masih terbilang wajar, patuhi aja " Lia tersenyum.


Raffa lagi-lagi menghela nafas, " tapi masalahnya permintaannya ga bisa gue kabulin "


" Kenapa? " Dahi Lia mengernyit, selama ini yang ia tahu permintaan papa Raffa masih terbilang wajar. Seperti belajar untuk mengurus perusahaan, ikut ke perusahaan, dan lain-lain yang berkaitan dengan bisnis.


" Karena ada hati yang gue jaga... "


Deg.


Perasaan Lia seolah mencelos, entah kenapa tadi mood nya seolah hancur. Gadis itu menatap kedepan, nanar


" Kita pulang aja ya, bunda udah nungguin di rumah " Raffa mengangkat alisnya mendengar ucapan Lia yang terkesan ketus. Ia menghela nafas melihat wajah tak bersahabat dari gadis itu. Padahal ia masih ingin menumpahkan keluh kesah hatinya, tapi gadis ini sepertinya tak nyaman.


" Ayo " Berdiri dari duduknya dan hendak pergi dari sana ketika tangan Lia menarik tangannya.


Lia menatap wajah Raffa lekat. Ada rasa bersalah karena tak bisa memberikan pria itu bantuan atau sekedar saran. Dengan sedikit ragu, Lia mendekatkan tubuhnya dan melingkarkan tangannya di tubuh pria itu.


Deg.


Tubuh Raffa membeku merasakan Lia yang memeluknya. Ada sesuatu yang menggelora ketika tubuh gadis itu sangat dekat padanya, bahkan saking bersentuhan meskipun terbalut kain yang dikenakan mereka. Ia membalas pelukan itu dengan hati yang membaik.


" Sabar ya Raf, gue yakin masalah Lo pasti ada jalan keluarnya. Mama Lo kan selama ini selalu dukung dan ngerti perasaan Lo. Jadi coba ngomong dari hati ke hati sama Lo. Dia pasti ngerti apa yang Lo rasain, dan Lo juga harus ngerti apa yang mama Lo rasain. Coba untuk terbuka ya Raf sama Mama Lo. Gue ga bisa bantu apa-apa selain ngasih Lo semangat.. "


***


NB : Tempat yang tertera murni kehaluan author 😂. Jadi jangan tanya dimana itu tempat wisata mereka.


_


_


_


_


_


_


_


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2