Ternyata Kita Berjodoh

Ternyata Kita Berjodoh
Viona


__ADS_3

Hay semua, di chapter kali ini author mau menceritakan kisah Viona dari sudut pandang Viona sendiri.


Happy Reading ♥️


****


Aku beruntung, tidak tidak, ini memang takdir. Aku hanya bisa mengikuti takdir ini, dan menikmati prosesnya. Kalian tidak tahu kan bagaiman jalan hidupku? Tapi aku tetap bersyukur, karena setiap manusia pasti mempunyai masalahnya.


Namaku Viona, hanya Viona. Aku tidak tahu nama lengkap ku. Aneh bukan, tapi begitulah faktanya. Ibu Panti hanya memberikan nama itu padaku, tanpa ada kelanjutan nama lainnya. Aku tidak tahu siapa Ibu, Ayah, Kakek, Nenek, dan keluarga yang seharusnya semua orang punya. Tapi aku tetap bersyukur, karena melihat teman-teman ku yang tak pernah mengeluh di panti.


Pernah satu kali aku bertanya pada Ibu Panti. " Bu, dimana keluargaku?" Tanya ku dengan wajah bingung. Aku yang saat itu masih berusia 5 tahun, bertanya karena temanku satu sekolah ku membicarakan keluarga mereka.


" Ibu dan teman-teman yang lain keluarga kamu Viona sayang. Sudah jangan dipikirkan" Jawab Ibu Panti lembut, dapat kulihat guratan khawatir diwajahnya. Tapi, aku yang saat itu masih polos hanya mengangguk dan tersenyum manis.


Sampai aku lulus SMP, aku mulai mengerti. Ternyata, aku tak mempunyai keluarga. Aku menangis, meratapi nasibku yang tidak beruntung. Tapi, saat melihat teman-teman ku yang ceria, aku mulai berubah pikiran. Mereka sama seperti ku, tapi mereka tak pernah bersedih. Jadi, aku mencoba seperti mereka.


Aku membantu Ibu panti dalam mengurus anak-anak yang lain. Aku juga membantu membuat kue bersama Ibu Panti yang nantinya akan dijual di warung depan. Aku dengan semangat terus menjalani hari-hari ku. Sampai aku, lulus SMA. Disana aku mulai bimbang. Aku ingin kuliah. Aku mempunyai mimpi ingin menjadi sekretaris di sebuah perusahaan besar. Mimpi yang terlalu tinggi yang tak akan mungkin untuk ku gapai. Tapi, aku tetap bermimpi, siapa tahu akan ada sebuah keajaiban yang datang.


Aku membantu Ibu Panti di setiap harinya. Aku juga selalu mengajarkan anak-anak panti yang kurang mengerti di sekolah mereka. Sampai, keajaiban itu datang. Seorang donatur memberikanku beasiswa untuk masuk kuliah. Dengan syarat, aku harus selalu berprestasi dalam kuliah ku nanti. Tentu saja aku menerima, aku belajar dengan giat supaya aku bisa lulus tes nanti. Dan ya, aku berhasil. Seakan ada harapan, aku mulai kembali bermimpi, mendoakan agar itu terjadi.


Kuliah ku berjalan dengan lancar, aku kost di sebuah kost-an yang sederhana. Hari-hari ku selalu kuisi dengan belajar dan belajar. Sampai aku lulus dan aku mendapat nilai bagus. Dengan ini, aku bisa mengejar mimpi ku. Dengan semangat, aku mulai melamar pekerjaan di perusahaan besar. Dengan semangat tinggi, aku terus melamar dari satu perusahaan ke perusahaan yang lain. Tapi semua menolak, dengan alasan aku belum memenuhi syarat. Mereka memerlukan sekretaris yang bersekolah sampai S-2. Tapi, aku hanya S-1.


Aku sedih, mimpi ku seolah telah terkubur dalam. Dengan sisa uang yang ku punya, aku kembali ke panti. Bermaksud ingin mengajar di sebuah sekolah kecil yang ada disana dan juga ingin mengontrak sebuah rumah sederhana yang bisa ku tempati. Sampai di panti, aku bertemu dengan Ibu dan mengutarakan semua yang kujalani. Ibu terlihat sedih, tapi aku tersenyum cerah dan kembali kedalam kamarku yang terlihat bersih dan rapi.


Keesokan harinya, Ibu memanggil ku. Aku menemui beliau, Ibu menceritakan sesuatu yang membuatku merasa tak menyangka. Kalian tahu apa yang dibilang Ibu?


" Ibu menemukanmu bersama surat ini di depan pintu saat subuh tiba. Suart ini, menceritakan asal usul mu. Surat ini, akan membuatmu tahu siapa kamu. Maaf Ibu lancang membukanya dulu. Di dalam surat ini, ada sebuah kalung yang bisa menjadi petunjuk. Vi, Ibu harap kamu mengambil jalan yang benar. Viona, kamu sudah besar. Ibu tahu kamu bisa menjalaninya. Panti asuhan ini akan selalu terbuka untuk kamu" Ucap Ibu panti sembari menyerahkan sebuah surat padaku. Sejujurnya aku belum mengerti, tapi. aku tetap menerima nya dan mengangguk.


Sampai di kamar, aku langsung membukanya dengan ragu dan perlahan. Perlahan tapi pasti, amplop itu terbuka, dan di dalamnya terdapat sebuah kertas dan sebuah kalung yang benar-benar luar biasa. Baru kali ini aku melihat barang semewah itu. Aku mengambil surat itu, meskipun aku terkagum-kagum pada kalung itu tapi aku lebih penasaran lagi dengan suratnya.


*Maaf kan kami. Kamu mungkin hidup dengan tidak layak. Tapi ini adalah cara satu-satunya. Kami hanya ingin yang terbaik untukmu. Kami selalu menyayangi mu. Jangan membenci kami. Kami berjanji, jika sudah saatnya kamu akan mendapatkan sesuatu yang luar biasa.


Cinta dari Mama, Papa ♥️*


Aku tertegun, menatap surat yang telah kubaca itu. Ku tatap surat itu lekat. Huh, aku menghembuskan nafas kasar. Aku tak mengerti, tapi aku mengerti. Hehe, bingung ya. Begini, aku tak mengerti kenapa dengan menitipkan ku di Panti Asuhan adalah yang terbaik. Dan aku mengerti, jikalau orang tua ku dengan sengaja menitipkan ku di Panti asuhan ini dengan suatu alasan yang serius.


Aku menutup kertas itu, hendak memasukkan nya kembali ke dalam amplop. Namun, tanpa sengaja mata ku menatap sebuah tulisan lain di dalam kertas itu. Aku segera membukanya. Dan ternyata ada tulisan panjang yang sepertinya bukan tulisan yang tadi.


Kalian tahu itu apa? Ternyata itu adalah surat dari Oma. Entah bagaimana caranya Oma bisa menuliskan surat itu dengan kertas yang sama dengan surat orang tua ku. Kalian tahu isinya apa? Baiklah akan ku ceritakan.


Kelahiran ku membuat semua keluarga dari Ayahku bahagia. Kalau kalian bertanya dimana keluarga Mama ku? Aku juga tidak tahu. Tapi yang jelas, keluarga ayahku sangat bahagia. Dan karena itu, mereka merayakannya. Saat umurku delapan bulan, kami merayakan kelahiran ku di sebuah Fila punya Oma.


Semua keluarga sangat bahagia, sampai sesuatu terjadi. Para orang-orang berpakaian hitam datang dan menyerang tempat itu. Semua tentu saja terkejut dan bingung. Sampai salah satu dari mereka mengambil senjata api dan mengarahkannya ke arah ku yang saat itu digendong oleh Mama. Semua orang berteriak histeris. Para pria yang ada disana langsung menghajar orang itu terutama Papa. Papa adalah orang yang paling banyak menghajar orang-orang itu.


Setelah beberapa saat, orang-orang itu tumbang. Mereka langsung pergi dan Papa tidak bisa melacak jejaknya. Acara itu menjadi rusuh dan para keluarga memutuskan untuk segera pergi dari sana. Awalnya Papa tak setuju karena menurutnya, orang-orang itu bisa saja menyerang mereka di jalan. Tapi, para Ibu-ibu sangat takut dan akhirnya semua orang setuju dengan keputusan itu.


Dengan banyak berdoa, kami mulai pergi dari sana. Ada sekitar enam mobil, mobil pertama berisi Papa, mama, Oma, dan aku. Mobil kedua berisi, Abang Papa yang pertama atau anak Oma yang pertama, istrinya, dan kedua anaknya. Mobil ketiga berisi, adik dibawah Papa, istrinya, dan satu anaknya. Mobil keempat berisi, Kakak kedua Papa, Suaminya, dan juga anak-anaknya. Mobil kelima berisi, Adik Papa yang kedua dan istrinya yang tengah mengandung. Mobil keenam berisi adik Papa yang terakhir dan istrinya yang baru Ia nikahi beberal bulan yang lalu.

__ADS_1


Perjalanan berjalan lancar. Tidak ada kendala. Hari-hari berlalu. Semuanya berjalan seperti biasa. Papa tidak mempermasalahkan hal kemarin lagi asalkan mereka tidak mengganggu keluarga Papa lagi. Sampai pada Papa yang harus ke luar Negeri karena urusan bisnis. Mama tinggal dirumah Oma sementara waktu bersama aku. Beberapa hari berikutnya, masalah mulai datang.


Saat sore menjelang malam, para orang-orang berpakaian hitam itu kembali datang ke rumah Oma. Seolah mereka tahu, jika aku dan Mama ada disana. Mereka masuk ke rumah Oma dengan begitu mudahnya. Setelah itu, mereka langsung berpencar. Ada enam orang, entah siapa yang mereka incar, tapi yang pasti salah satu dari Aku, Mama, ataupun Oma.


Saat itu, kami sedang bersantai di Taman belakang. Oma yang hendak ke kamar mandi, berteriak histeris ketika mendapati sosok orang berpakaian hitam ada di dapur. Mama yang mendengarnya langsung menggendong ku dan bergegas menuju asal suara. Begitu sampai, Mama juga terkejut dan secara reflek berteriak.


Para Orang-orang berpakaian hitam mulai muncul dari berbagai arah. Salah satu dari mereka mengambil senjata api seperti kemarin dan mengarahkannya kepada ku. Ternyata aku adalah sasaran mereka. Mama yang melihat itu langsung melindungi ku. Begitupun Oma, ia langsung memeluk mama guna melindungi ku yang berada di gendongan mama.


Perlahan, orang yang menyodorkan senjata ke arahku mendekat. Oma langsung mundur begitupun mama. Mata Mama mencari-cari alat yang bisa dijadikan sebagai senjata untuk melawan orang ini. Mama juga berusaha untuk mengambil hp yang berada di kantung celananya.


Tapi, orang itu dengan sengaja membiarkan mama menghubungi orang lain. Dia tetap menyodorkan senjatanya, tapi hanya begitu, dia tidak menarik pelatuknya.


Mama langsung menghubungi Papa ketika ia melihat ada celah. Dengan perlahan, mama menyusut ke bawah dan menelepon papa selagi ada Oma yang menjadi benteng. Mama dengan suara pelan langsung mengatakan jika rumah Oma diserang. Papa yang masih ada di Luar Negeri menjadi sangat panik dan langsung menghubungi orang kepercayaan nya disini.


Orang yang menyodorkan senjata tadi bergerak maju dengan perlahan. Oma langsung mundur dan membuat Mama yang baru selesai menelepon Papa langsung berdiri dan ikut berjalan mundur.


Sampai pada saat Mama terpojok dan orang tersebut mulai menarik pelatuknya. Mama mendekap ku erat sambil menangis. Begitupun Oma, ia memeluk Mama erat dan menutup matanya tak sanggup menyaksikan apapun.


Brak.


Seorang pria yang entah siapa langusng datang dan berlari kearah kami. Saat itulah, orang yang menarik pelatuk itu langsung melepaskan nya dan


dor.


Satu tembakan mendarat di dinding samping Mama terepojok. Mama yang sangat terkejut langsung jatuh pingsan begitupun Oma.


Setelah kejadian itu, Papa langsung pulang secepat mungkin dan melaporkan hal ini ke Polisi dengan bukti cctv yang ada di rumah Oma. Tapi, tidak semudah itu. Ternyata, mereka adalah orang-orang licik yang sangat susah dilacak keberadaannya.


Sampai aku dibawa ke Rumah Sakit karena suatu hari aku pingsan secara mendadak. Dokter mengatakan, jika aku mengalami keterkejutan yang sangat hebat sehingga menyebabkan aku drop. Dan karena itu, Papa, Mama, Oma, dan seluruh keluarga Besar menjadi sangat takut dan marah. Mereka mencoba untuk melacak informasi apapun tentang penjahat itu. Namun nihil, hasilnya nihil.


Sampai, Oma memberikan usul yang luar biasa. Suatu hari, Oma berbicara dengan Papa dan Mama. Oma memberikan usul kepada Papa dan Mama, bahwa aku harus di titipkan fi Panti Asuhan. Awalnya Papa dan Mama menolak keras, butuh berhari-hari untuk Oma meyakinkan mereka.


Sampai saat orang-orang itu datang dan hampir membunuh ku, Papa dan Mama akhirnya menyerah. Dan meletakan aku di Panti Asuhan. Selama itu, mereka tetap mengawasi ku dari jauh.


Oma punya rahasia, rahasia besar yang ia tulidkan di surat itu beserta asal usul ku tadi.


Ternyata, Oma menyelidiki kasus ini. Dan ternyata, Oma menemukan sebuah foto yang ada di meja kerja Papa. Oma langsung bertanya dan Papa menjawab dengan sedikit terkejut. Itu adalah musuh Papa. Mahendra.


Sekarang kalian tahu kan. Menurut kalian, bagaimana aku harus bersikap pada keluarga Mbak Lia. Keluarga yang sudah kuanggap sebagai keluarga ku sendiri. Dan ternyata, ia adalah musuh Papa ku, dan mungkin juga dia adalah Orang yang ingin membunuh ku. Dunia terlalu sempit.


Oh ya, yang aku ceritakan adalah isi surat dari Oma. Awalnya aku tak tahu siapa Mahendra. Saat aku bertemu dengan Mbak Lia di Inggris, itu karena aku menemukan letak tempat di balik kalung pemberian orang tuaku. Dan aku memutuskan untuk mencari mereka, namun ternyata aku malah bertemu Mbak Lia.


Saat aku bertemu Papa mbak Lia, aku tidak tahu namanya. Sampai saat Mbak Lia menurunkan ku di cafe pinggir jalan untuk bertemu Rizky.


Saat itu, aku berjalan masuk. Aku memilih bangku, dan memesan oranye Juice. Setelah itu, aku memberikan pesan pada Rizky. Aku menunggu, sampai aku mendengar sesuatu.


" Nona Fia Uda cantik pinter lagi. Sempurna banget deh " Ucap seorang wanita paruh baya yang duduk di belakangku.

__ADS_1


Aku mengernyitkan dahi, menoleh kebelakang dan mendapati seorang wanita paruh baya dan seorang gadis berusia sekitar 19 tahun.


" Iya aku nge-fans deh sama Nona Fia. Dia cantik, anggun, tegas, pokoknya Teh Best deh " Puji Gadis itu.


" Bener banget, beruntung kakak mu bisa kerja sama Nona Fia " Ucap Wanita paruh baya itu.


" Eh tapi namanya siapa sih? Fia doang?" Dapat kudengar nada bicaranya yang antusias.


" Bibi kagak tau dah "


Aku mengernyitkan dahi, aku baru sadar kalau aku juga tak tahu siapa nama lengkap dari Mbak Lia. Aku mengingat-ingat. Pertama kali bertemu, Mbak Lia hanya mengucapkan Lia. Dan sampai saat ini, aku juga tak tahu.


Aku jadi penasaran, aku mencoba membuka aplikasi XX. Itu adalah aplikasi dimana semua data karyawan ada disana termasuk data ku dan data Mbak Lia. Hanya di hp ku dan hp Mbak Lia yang bisa melihat data karyawan tersebut.


Aku menghembuskan nafas kasar, tidak ada. Yang ada hanyalah Fia. Huh, aku sudah terlanjur penasaran. Ingin rasanya aku menelepon Mbak Lily dan bertanya. Namun, aku ingat jika ia akan menikah dan pastinya sangat lah repot saat ini.


" Hay " Suara yang sangat ku kenal. Aku segera mengubah ekspresi ku dan tersenyum kearahnya.


" Lama ya!" Tanya nya melirik minumanku yang sudah setengah.


" Enggak kok" Jawabku masih dengan senyum cerah.


" Jadi kamu pergi ke London buat datang ke acara pernikahan selama tiga hari ?" Tanya Rizky serius. Aku mengangguk sedikit ragu, takut dia marah.


" Mbak Lily itu kan Uda kayak kakak aku. Jadi, gak enaklah Riz kalo aku datang di acaranya doang. Kita ini Uda kayak keluarga. Jadi, ya gitulah " Jelas ku setelah beberapa saat kami diam.


Rizky terlihat mengangguk, " Iya aku ngerti kok. Yang penting, kamu jaga diri disana. Kabari aku kalo Uda sampe. So, kalo kamu Uda balik, telfon aku. I Miss You So Much "


Viona tersenyum dan mengangguk. " Aku bakal kabari kamu kok " Jawab ku menggenggam tangan Rizky.


" Thanks ya Uda mau Nerima aku" Ujar Rizky tulus. Ia mengecup lembut punggung tanganku.


Aku tersenyum, " Hmm" jawabku singkat, malu.


" Aku ke Toilet sebentar ya " Ucap Rizky berlalu.


Aku itu memainkan hp nya bosan. Saat membuka Sosmed, aku kembali teringat dengan nama asli Mbak Lia. " Nanti aku tanya sendiri aja deh " Batinku mematikan hp.


Setelah beberapa saat mengobrol, aku pulang dan tiba di rumah. Ku lihat, kamar Mbak Lia terbuka sedikit dan aku bermaksud untuk bertanya padanya. Namun, yang kudapat sudah menjelaskan semuanya.


Aku melihat sebuah pigura dengan nama seseorang disana. Pigura itu terletak di atas nakas samping tempat tidur dengan foto seorang gadis yang terlihat memakai baju wisuda.


" Alisya Putri Mahendra" Gumam ku mengeja nama itu. Tunggu, aku terdiam beberapa saat. Aku mengingat-ingat nama itu. Benarkah? aku ingat. Nama itu adalah nama dari musuh Papa ku yang berarti itu Papa Mbak Lia. Dan, ah ingin rasanya aku menangis. Mendapati fakta ini, rasanya dunia terlalu sempit.


****


Hay semuanya, gimana kabarnya? Semoga sehat selalu dan dalam lindungan Tuhan. Aku mau minta maaf pada semua Reader yang mungkin kecewa karena aku yang lama gak up. Sebelumnya, aku Uda bilang kalo aku bakal lama up nya. Karena ide yang lagi buntu dan mood yang anjlok banget.

__ADS_1


Dan sekarang, aku up satu chapter. Sesuai apa yang aku bilang, di chapter kali ini aku akan menceritakan kisah hidup Viona secara singkat dan padat. Chapter kali ini lumayan panjang, semoga kalian tetap mau baca dan selalu menunggu ♥️.


Sekali lagi aku minta maaf. Love you all ♥️


__ADS_2