Ternyata Kita Berjodoh

Ternyata Kita Berjodoh
BAB 5 KULIAH DIMANA?


__ADS_3

Langit berubah warna menjadi oranye kemerah-merahan. Suasana terasa hangat. Meskipun matahari kian terbenam, namun cahayanya seolah masih memancarkan sinar kehangatan pada penduduk bumi.


Termasuk seorang gadis yang sedang duduk di balkon kamarnya. Menikmati hangatnya cahaya matahari senja. Dengan benda pipih di tangannya, gadis itu begitu menikmati momen yang jarang ia lakukan.


Ia tadinya baru selesai mandi setelah beberapa jam berada di luar. Gadis itu memutuskan untuk pergi ke balkon sembari menunggu orangtuanya pulang dari kantor. Memegang ponselnya, ia membaca sebuah pesan dari Bryan yang dikirim beberapa jam yang lalu.


Lia, aku minta maaf. Ada urusan mendadak, sorry ya aku gak bisa jalan sama kamu. Next time, aku janji.


Tadinya ia ingin mengirimkan pesan permintaan maaf pada Bryan karena tidak mengabarinya terkait batalnya rencana jalan mereka. Tapi melihat pesan pria itu, ia mengurungkan niatnya dan membalas pesan Bryan dengan singkat.


No problem.


Suara dering ponsel membuyarkan lamunan gadis itu. Dengan gelagapan ia mengangkat telepon dari Raffaaaa.


" Hallo.. " ucap Lia dengan malas, ia mengerucutkan bibirnya seraya menatap ke bawah. Mobil Lamborghini Veneno memasuki gerbang rumahnya. Lia tahu itu pasti papa dan Bundanya.


" Li, ortu Lo Uda pulang? " Lia mengangguk. Namun gadis itu tersadar jika Raffa tak dapat melihatnya. Ia tertawa kecil seraya masuk kedalam kamar.


" Lo kenapa ketawa? " Tanya Raffa bingung. Saat ini pria itu sedang ada di balkon kamarnya. Menikmati indahnya senja yang membuat hati damai dengan segala hiruk pikuk kota.


" Emm gapapa. Iya ortu gue Uda pulang, baru aja. Kenapa emangnya? " Lia terus berjalan keluar kamar, menuruni anak tangga untuk menemui orangtuanya.


" Gapapa, gue nanya aja. Lo lagi ngapain? " Lia menghentikan langkahnya di pertengahan anak tangga mendengar pertanyaan aneh dari Raffa.


" Gue lagi bingung kenapa Lo aneh banget hari ini " jawab Lia dengan nada ketus.


Raffa terkekeh pelan disana, " Oke-oke, yaudah sana. bye" panggilan dimatikan oleh Raffa. Lia hanya menghela nafas dan melanjutkan langkahnya menemui Mahendra dan Maria.

__ADS_1


" Assalamualaikum " Suara lembut Maria membuat senyum Lia mengembang. Ia mendekat ke bundanya yang duduk di ruang tengah dengan kepala yang bersandar pada sofa.


" Waalaikumsalam " Lia meraih tangan bundanya, mencium punggung tangan wanita yang sangat ia sayangi itu dan duduk di sampingnya.


" Cape banget ya Bun? Papa mana? " Lia mengedarkan pandangannya, sosok papanya tak terlihat sama sekali.


Maria tersenyum tipis, " Iya lumayan cape. Tadi Bunda bantu Papa di kantor. Ikut meeting juga. Uda lama, jadi luamayan cape lah " Maria dulunya adalah sekretaris Mahendra. Zaman dulu, disaat Mahendra sedang terpuruk karena perusahaannya terancam bangkrut, Maria datang dan membantu Mahendra. Akhirnya mereka membangun usaha bersama sampai cinta tumbuh di keduanya.


" Oh, terus papa mana? " Lia kembali mengedarkan pandangannya.


" Masih di depan, lagi bicara sama Pram... " Ibu dan anak itu kembali mengobrol dengan ringan hingga Mahendra masuk. Kedua pasangan suami-istri itu naik ke atas sementara Lia pergi ke kamarnya.


***


Makan malam berlangsung tenang, seperti biasa saat makan Lia akan bercerita tentang kegiatan sehari-harinya. Begitupun dengan Maria yang ikut menimpali dan Mahendra yang merespon ucapan putri kesayangannya.


" Mas.. " Maria memegang tangan suaminya, menggeleng pelan dan tersenyum lembut agar suaminya itu puluh.


" Aku cuma tanya sayang " Mahendra tertawa kecil lalu mengelus tangan istrinya.


" Ekhem! " Lia berdehem dengan keras, membuat pasangan suami-istri itu kembali tersadar jika ada anak mereka yang masih terbilang kecil ada disana.


" Papa sih gak terlalu masalah. Papa senang, kamu bisa mengatasi masalah kamu sendiri. Tapi lain kali, kamu harus lebih bijak. Supaya orang itu gak kurang ajar " Tutur Mahendra dengan lembut.


Lia mengangguk, " Iya pa " Ia meneguk airnya dan mengelap mulutnya dengan tisyu.


" Oh ya sayang, rencana kedepan kamu mau kuliah dimana? " Pertanyaan dari Bundanya membuat Lia membeku. Apa bisa ia mengutarakan cita-citanya untuk berkuliah di Harvard University? Tapi, mengingat papanya yang terbilang posesif membuat gadis itu ragu.

__ADS_1


" Kenapa Lia? Kamu belum punya rencana? bentar lagi loh kamu lulus " timpal Mahendra.


" Kalo kuliah di LN apa boleh? " Tanya Lia pelan, ia meraih gelasnya dan meminumnya untuk menghilangkan kegugupannya.


Maria dan Mahendra saling tatap, mereka sama-sama menghela nafas pelan mendengar keinginan putri tercinta mereka. Tentu saja sebagai orang tua mereka sangat tahu keinginan Lia. Sejak SMP, Maria sudah mengetahui kalau Lia ingin berkuliah di Luar Negeri lebih tepatnya di Harvard University. Tapi apa bisa ia mengabulkannya? Mengingat pergaulan di sana sangat berbeda dengan di tanah air. Mana mungkin Maria tega membiarkan putrinya tinggal di lingkungan yang tidak sehat.


***


Hari-hari berlalu, segala ujian telah di selesaikan oleh para murid SMA untuk meraih kelulusan mereka. Selama beberapa Minggu ini, hubungan Lia dan Bryan terbilang baik. Namun belum ada perkembangan jauh seperti pacaran dan sejenisnya. Mereka hanya dekat, dan tidak lebih. Karena Mahendra yang posesif pada putrinya sehingga membatasi gerak Lia untuk bertemu dengan Bryan.


Raffa, pria itu masih sama. Hubungan keduanya biasa saja. Tidak ada yang istimewa karena mereka berdua hanya bertingkah sebagai seorang sahabat.


Esok adalah hari dimana Lia dan teman-temannya yang lain akan menyelesaikan ujian yang menentukan kelulusan mereka. Tiga hari kedepan mereka akan melaksanakan Ujian Nasional yang dikenal dengan sebutan UN.


Lia sudah belajar dari jauh-jauh hari. Malam harinya pun ia tetap belajar dengan serius. Sampai waktu menunjukan pukul setengah sebelas malam, gadis itu baru menghentikan kegiatannya dan bersiap-siap untuk tidur.


_


_


_


_


_


_

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2