Ternyata Kita Berjodoh

Ternyata Kita Berjodoh
BAB 3 PRIA DATAR


__ADS_3

" Iya pa beneran. Iya, aku jalan sama Raffa. Cuma bentar doang kok, sekitar kompleks aja Pa. Iya Papa, sama Raffa " Lia berjalan mondar-mandir dengan ponsel di telinganya yang terhubung dengan papanya.


" Papa kok gak yakin ya " Mahendra masih mencoba membujuk anaknya agar tidak keluar rumah dengan cara yang halus.


" Ish papa, boleh ya? pliss " Bujuk Lia dengan nada memelas. Ia duduk di pinggir tempat tidur, menunggu jawaban papanya yang masih berpikir.


Mahendra menghela nafas panjang, " Beneran sama Raffa? " Tanya pria paruh baya itu sekali lagi.


" Iyaaa Paaaa "


" Yaudah, kalau memang perginya sana Raffa. Tapi ingat, jangan pulang sampai sore, batasnya jam 4 sore. Kedua, jangan pergi jauh-jauh, cuma sekitar kompleks aja. Yang ketiga, kalau sampai ada apa-apa, kamu gak akan papa kasih izin keluar lagi "


Lia memutar bola matanya malas, kenapa papanya selalu memberikan ancaman sih? Bagaimana kalau sampai papanya tahu jika ia pergi dengan Bryan, bukan Raffa. Raffa hanya ia jadikan sebagai alat agar ia bisa keluar. Apakah ia terlalu egois?


***


Sebuah mobil sport mewah berwarna hitam memasuki gerbang besar rumah pengusaha Mahendra. Seorang pria dengan kacamata hitam keluar dari mobil itu.


Ia membuka kacamatanya lalu menyimpannya di saku celananya. Dengan stelan jas hitam, pria itu tampak keren apalagi ketika melihat wajahnya yang rupawan.


Ia memasuki rumah mewah itu melalui pintu utama, secara otomatis pintu terbuka dan pria itu masuk kedalamnya dengan langkah tegas.


" Selamat siang Tuan Adelard, ada keperluan apa anda kemari?" Seorang pria paruh baya dengan stelan resmi menemui pria yang ia tahu anak dari asisten majikannya.


" Selamat siang Pak, saya diperintahkan Tuan besar untuk menemani Nona Alisya yang ingin pergi keluar " Jawab Pria yang kerap disapa Al itu dengan datar.


" Baik Tuan, anda bisa menunggu di ruang tengah. Nona Alisya sebentar lagi akan turun " Al menganggukkan kepalanya, ia menunduk sekilas pada pria di depannya dan berjalan dengan langkah tegasnya menuju ruang tengah.


***


" Lo Uda sampe mana Raf? lama banget sih " Lia menghela nafas panjang. Ia sedang berada di balkon kamarnya dari tadi, menunggu Raffa datang untuk menjemputnya. Tadi ia memang sempat melihat sebuah mobil sport yang asing di mata Lia.

__ADS_1


Tapi melihat pria itu bisa masuk, membuat Lia yakin jika itu adalah salah satu orang kepercayaan papanya. Jadi ia lebih memilih menunggu dari balkon kamarnya, karena gadis itu sungguh malas bila harus berbasa-basi dengan orag datar dan dingin. Lia bisa menebak, orang itu pasti datar dan dingin seperti orang-orang kepercayaan papanya.


Senyum di bibir Lia terbit melihat sebuah mobil yang ia kenal memasuki gerbang rumahnya. Gadis itu masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu balkon. Ia mengambil tas nya yang ada di tempat tidur dan keluar kamar menuju lantai satu.


" Nona " langkah Lia terhenti di anak tangga terakhir ketika sebuah suara datar memanggilnya. Ia menoleh, mendapati seorang pria yang terlihat begitu tampan sedang berjalan kearahnya.


" Anda ingin pergi sekarang? " Tanya Al dengan suara khasnya.


Lia mengangguk, " Saya pergi ya, Tuan. Bye " Lia kembali berjalan dengan cuek. Karena saat ini tujuannya hanya Raffa agar bisa cepat bertemu dengan Bryan.


" Nona " Al berjalan menghampiri anak dari bos papanya. Ia menatap tajam gadis itu, membuat nyali Lia seketika menciut.


" Ada apa Tuan? saya buru-buru " Lia berusaha membangun keberaniannya. Karena ia tak mau merasa terintimidasi oleh pria dingin ini.


" Tuan besar memerintahkan saya untuk menemani anda menemui teman anda Nona. Saya akan mengikuti dari belakang tanpa mengganggu. Silahkan Nona "


Lia menatap tak percaya pria di depannya. Kalau ada yang mengawasi mana bisa ia bertemu dengan Bryan. Arggh, kenapa jadi begini?


" Li, sorry gue telat- " Raffa menatap pria di samping Lia dengan dahi berkerut. Tapi sesaat kemudian, ia kembali berjalan dengan santai menemui gadis itu.


" Maaf Tuan, tangan anda tolong dikondisikan " Al menatap tajam teman majikannya. Ia menunduk sekilas pada Lia dan keluar terlebih dahulu ke mobilnya.


" Raf, ayo berangkat " Lia berjalan dengan cepat, sambil terus memikirkan Bryan. Ia menatap Raffa yang juga berjalan beriringan bersamanya. Ada rasa bersalah karena membohongi pria ini. Tadi Lia memang mengatakan ingin pergi dengan Raffa. Padahal sebelum itu Bryan menelepon ingin mengajaknya jalan. Dan Raffa ia jadikan sebagai alat agar papanya mengizinkannya keluar rumah. Tapi, kalau ada pria datar itu bagaimana ia bisa bertemu Bryan? Yang ada nanti anak buah papanya pasti akan melaporkannya pada papanya. Dan papanya tidak akan mempercayainya lagi. Dan yang paling parah bisa saja cita-citanya ingin kuliah di Luar Negeri gagal.


***


" Raf, kita- "


" Itu siapa? " Raffa menyela ucapan Lia. Matanya masih fokus pada kemudi di depannya.


Lia menghela nafas, " Gue ga tau namanya. Dia orang suruhan Papa gue buat awasi kita. Mungkin karena papa khawatir sama gue Raf. Tapi gapapa ya Raf, janji dia ga bakal ganggu deh "

__ADS_1


" Oh, oke " Lia menatap pria itu dengan sorot mata bersalah. Ia tahu, pasti Raffa tak nyaman dengan kehadiran pria datar yang mengikuti mereka sedari tadi.


" Kita ke warung bakso depan aja deh Raf. Kayanya Uda hampir sore juga. Gausah jauh-jauh lah " Lia menunjuk warung bakso yang berada beberapa meter di depan. Gadis itu sudah memutuskan untuk tidak menemui Bryan. Ia sendiri yang akan mengatakannya pada Bryan nanti malam lewat telepon.


Mereka turun yang membuat orang-orang yang ada di sekitar warung bakso menatap mereka. Bagaimana tidak, penampilan kedua orang itu begitu mencolok. Mobil mewahnya, pakaiannya, tas nya, dan barang-barang branded lainnya yang ada di tubuh kedua orang itu. Terlebih lagi, wajah mereka yang cantik dan tampan membuat orang-orang menatap mereka dengan lekat.


" Kayanya gausah kesini deh Li, banyak orangnya " Raffa berbisik tepat di telinga gadis itu.


Lia mematung, hembusan nafas Raffa masih terasa di telinganya. Bulu kuduknya serasa berdiri, meremang mendengar suara bisikan Raffa.


" Hmm terserah deh " Lia hanya mengangguk saja, rasanya ia benar-benar gugup sekarang.


" Yaudah, Lo masuk ke mobil dulu. Gue mau beli air mineral aja sebentar " Raffa berjalan masuk sementara Lia masuk ke mobil. Tak berapa lama, Raffa keluar dengan plastik putih di tangannya.


" Itu apa? "


" Air sama Snack. Kalo Lo mau ambil aja "


" Engga, gue kenyang "


" Oh, yaudah " Mobil kembali melaju diikuti mobil hitam di belakang mereka.


_


_


_


_


_

__ADS_1


_


BERSAMBUNG


__ADS_2