
Persiapan pernikahan mulai dipersiapkan. Papa dan Mama Raffa yang menyiapkan semuanya dengan sempurna. Mereka bahkan melarang Papa dan Bunda Lia untuk membantu. Jadi, keluarga Lia tinggal terima bersih. Mahendra bersyukur karena anaknya sebentar lagi akan menikah dengan pria tampan dan mapan. Bertanggung jawab dan kelihatannya baik. Mahendra berharap, ini jodoh yang terbaik untuk anaknya.
Rencana pendekatan antara Lia dan Raffa tidak bisa berlangsung. Karena Raffa yang sangat sibuk demi bisa mendapatkan waktu untuk berbulan madu bersama sang istri nantinya. Lia memaklumi, gadis itu juga pergi setiap hari ke Resto seperti biasa. Toh, persiapan pernikahan mereka sudah ada Papa dan Mama Raffa yang menyiapkan. Ia hanya perlu menyiapkan diri.
Hari ini, seperti biasa Lia berangkat ke Resto agak siang. Belakangan ini, mood Lia sangat mudah berubah. Jadi, ia harus benar-benar menjaganya atau mood nya akan hancur dalam sekejap. Lia tak mengerti kenapa itu terjadi. Entah karena sebentar lagi akan menikah dan ia menjadi bimbang, atau karena yang lain? Entahlah, gadis itu juga tak tahu jawabannya.
Pintu ruangan Viona terbuka, membuat Lia mengerutkan keningnya. Sedikit heran karena Viona tak pernah dengan sengaja membuka pintu ruang kerjanya disaat jam kerja. Apakah ada tamu? Tapi kenapa Viona tidak melapor. Buang semua pemikiran itu dan lebih baik lihat sendiri. Lia mengangguk, masuk kedalam dengan perlahan.
Matanya membulat, sosok wanita yang sangat ia kenal sedang duduk di sofa bermain hp dengan kaki yang disilang. Oh My God.
" Lily" Pekik Lia tak percaya.
" Huh?" Lily menoleh, bibirnya melengkung sempurna. Dengan segera, Lily meletakan hp nya dan berjalan kearah Lia dengan cepat. Tak sampai tiga detik, tubuh Lia sudah berada dalam pelukan erat Lily.
"gue kangen" seru Lily terisak.
" eh " Lia terlonjak kaget, secara spontan ia melepaskan pelukannya. " Lo nangis?" Gadis itu menghapus air mata yang jatuh ke pipi Lily dengan lembut.
" cengeng Lo " Cibir Lia bermaksud menghibur.
Lily tertawa kecil, lantas menghapus air matanya dan menarik tangan Lia duduk di sofa.
" Gue kangen beneran tau" seru Lily tersenyum simpul.
" Iya gue tahu. Siapa coba yang ga kangen sama gue setelah sekian lama bersama" Canda Lia tertawa kecil.
" Gue serius Alisya" sahut Lily cemberut.
" Hmm iya deh " Lia melirik Lily yang pura-pura cemberut di samping nya. Gadis itu tersentak, baru menyadari jika mereka berada di ruangan Viona.
" Lo kenapa bisa disini?" tanya Lia mendesak.
" Ya karena gue kangen sama Lo" jawab Lily dengan bodohnya.
__ADS_1
Lia memejamkan matanya sabar, ia tersenyum lebar pada Lily yang tampak bingung. " Maksud gue, Lo kenapa di ruangan Viona. Kenapa ga langsung ke ruangan gue dan Viona dimana?" Jelas Lia penuh penekanan.
"Oh " Mulut Lily terbuka membentuk huruf O. Sesaat kemudian, ia menggeleng.
" dimana Viona?" tanya Lia tak sabaran.
" Gue juga ga tau. Tadi, waktu gue datang kesini, niatnya sih mau nyapa Viona dulu buat bikin surprise untuk Lo. Tapi, pintu ruangan Viona dibuka. Yaudah gue masuk, lah rupanya ga ada orangnya. Gue keluar mau ke ruangan Lo. Eh, rupanya dikunci. Yaudah deh gue duduk disini " Jelas Lily.
" Viona kemana ya? Ga biasanya loh dia keluar tanpa kunci ruangannya" Gumam Lia bertanya-tanya.
" Uda deh biarin aja kali. Ya mungkin dia suntuk Lia karena kerja Mulu. Udah mending sekarang kita party. Party kecil doang, untuk kita bertiga kalo Viona balik nanti. Party nya dikamar aja. Cukup dengan cemilan ringan dan obrolan santai. Gue kangen "
" Emm gimana ya?" Goda Lia melirik Lily.
" Lia pliss " Pinta Lily memasang wajah imut.
" Muka Lo jelek " ledek Lia tertawa.
Lily mengerucutkan bibirnya. " Sialan Lo Li" Umpatnya kesal.
" Ke ruangan gue aja yuk " Ajak Lia berjalan duluan. Kemudian Lily mengangguk dan mengikuti Lia. Tak lupa, Lia menutup pintu ruangan Viona rapat. Meskipun tak dikunci, karena Lia tak membawa kuncinya.
***
" Oh Astaga gue sampe lupa!" Lily menepuk jidatnya sambil tertawa.
" Lo belum minum obat!" Ketus Lia merasa kesal. Ia menepuk jidat Lily dengan keras. Membuat wanita yang sedang tertawa itu seketika menghentikan tawanya.
Lily berdehem, merubah ekspresi nya dan mulai berbicara dengan nada tegas bak orang yang sedang mengintrogasi musuhnya.
"Hubungan Lo sama Raffa Uda sampai di tahap mana?" Tanya Lily dengan wajah datarnya. Tak ada raut wajah penasaran ataupun antusias yang biasanya selalu ada di wajah Lily jika sedang bertanya.
Mulut Lia menganga lebar, bukan karena pertanyaan Lily. Tapi karena wajah sahabatnya yang terkesan aneh itu. Malah ingin membuatnya tertawa.
__ADS_1
" Pfftttthh hahahahahahahahhaha" Lia tertawa terbahak-bahak. Tak bisa lagi menyembunyikan tawanya. Ia bahkan tak perduli pada wajah Lily yang sudah sangat kesal.
" Lia!" Pekik Lily memegang tangan Lia yang memukul-mukul meja sangking lucunya.
Lia menoleh, berusaha menghentikan tawanya dengan menggigit bibir bawahnya. Sementara Lily sudah menatap tajam ke arah Lia. Sungguh ia kesal setengah mati dengan sahabat nya ini.
" Lia gue serius"
Lia mengangguk, mengalihkan pandangannya dan berusaha merubah ekspresi nya. Berkali-kali tubuhnya bergetar karena menahan tawanya. Lia menghela nafas panjang berkali-kali.
" Oke" gadis itu berbalik dan menatap Lily dengan datar. Padahal, jika mengingat lagi ekspresi Lily, rasanya ia ingin tertawa. Tapi semua itu ditahan, karena melihat Lily yang sudah kesal.
" Gue serius. Hubungan Lo sama Raffa Uda sampe mana?" Ulang Lily menatap Lia. Kali ini, tidak dengan ekspresi anehnya tadi.
Lia menghela nafas, " Minggu depan kita nikah" jawab Lia menghela nafas. Raut wajahnya terlihat bimbang. Hanya didepan Lily dia bisa sejujur ini.
" Li" Lily mendekat. " Kenapa?" Tanya Lily lembut. Ia mengusap punggung tangan sahabatnya itu.
" Gue bingung " jawab Lia mendongakkan kepalanya menghadap langit-langit ruangannya.
" Why?"
Lia menghela nafas, lalu menoleh menatap Lily. " Lo tau kan, gue sama dia Uda lama ga ketemu. Jadi, saat kita ketemu dan langsung ungkapin perasaan. Terus dia langsung lamar gue, jujur gue ngerasa canggung dan sungkan banget. Gue ga bisa anggap dia sebagai Raffa yang dulu. Gue bingung Li. Di satu sisi gue seneng, tapi gue juga canggung gitu loh " Keluh Lia menghela nafas.
Lily diam, mencerna apa yang dikatakan sahabatnya itu. Saat ini, Lily hanya bisa mengibur Lia agar gadis itu tenang.
" Tapi Lo cinta kan sama dia?" Tanya Lily memegang bahu Lia.
Lia mengangguk cepat, " Dari gue masih SMA. Gue Uda suka sama dia. Dan jangan tanya lagi sekarang, gue Cinta banget tau gak "
Lily tersenyum tipis, " Kalo Lo cinta sama dia, dan dia cinta sama Lo, dan hubungan kalian direstui. Jangan pernah khawatir untuk gak bahagia " Tutur Lily menatap Lia intens.
Lia menghela nafas, mengangguk dan memeluk sahabatnya itu erat. " Makasih ya " Lirih Lia tersenyum simpul.
__ADS_1
***