Ternyata Kita Berjodoh

Ternyata Kita Berjodoh
Eps 78


__ADS_3

Sore harinya, Lia dan Lily langsung pulang ke rumah Lia. Seharian ini mereka hanya mengobrol dan bercanda ria. Lia bahkan tidak mengerjakan pekerjaan apapun. Ia hanya mengobrol bersama Lily sesuka hati. Sungguh mereka merindukan masa-masa ini. Dimana, mereka yang setiap harinya pasti meluangkan waktu untuk mengobrol santai.


Rencana party nanti malam sedikit dirubah. Tadinya Lily ingin party kecil di kamar Lia diisi dengan obrolan santai dan cemilan ringan. Tapi, berhubung Viona yang sepertinya sedang ada masalah membuat Lia mengubah rencana. Lia ingin party kecil malam nanti diisi dengan curhatan seorang adik pada kakaknya. Lia ingin mengajak Viona terbuka dan bisa mencurahkan keluh kesahnya pada mereka. Dan hal itu di setujui oleh Lily.


Sore hari, tepat pukul 17.00 mereka sudah sampai di rumah. Rumah yang sudah lama tak Lily datangi. Tidak lama-lama amat sih, tapi Lily merasa sudah sangat lama. Mereka langsung masuk ke dalam rumah setelah sebelumnya menggunakan sidik jari Lia.


" Bunda mana?" tanya Lily yang sedari tadi tak melihat sosok Bunda yang sudah ia anggap bunda sendiri.


Lia mengangkat bahunya tanda tak tahu. Ia berjalan kearah dapur karena yakin Bundanya pasti ada disana.


" Bun" Panggil Lia pada Bunda yang sedang membereskan dapur yang terlihat sedikit kacau dengan tepung yang berserakan.


" Eh" Bunda menoleh, sedikit terkejut melihat Lily ada disana. Ia mencuci tangannya dengan cepat dan menghampiri mereka.


" Lily " gumam Bunda tersenyum.


" Bun" Lily menyalim tangan Wanita itu lembut. Ia memang sudah memanggil wanita paruh baya ini Bunda. Itu atas permintaan Bunda sendiri dan langsung disetujui oleh Lily.


" Kamu apa kabar?" Tanya Bunda menatap Lily.


" Baik Bun. Bunda sendiri gimana kabarnya?" Lily tersenyum lembut sembari menggandeng tangan Bunda.


" Ekhem" Lia berdehem, menyadarkan kedua wanita beda usia yang sedang asyik bercengkrama melepas rindu.


" Eh Bunda sampe ga sadar ada Lia" Canda Bunda tertawa kecil. Lia mengerucutkan bibirnya, berpura-pura cemberut.


" Oh ya Bun, ini kenapa dapurnya berantakan gini?" Tanya Lia mengalihkan topik pembicaraan.


" Oh itu tadi Bunda ga fokus sampe ga sadar kalo tepungnya belum diikat. Ya terus pas ga sengaja kesenggol jatuh deh " Jawab Bunda kembali membereskan sedikit kekacauan di dapur.


" Oh" Lia berjalan ke meja yang ada di dapur. Ia duduk di sana memperhatikan Bunda.

__ADS_1


" Bun" Panggil Lia tiba-tiba. Ia melirik Lily yang ikut duduk di sampingnya.


" Hmm?" Tanya Bunda tanpa menoleh pada Lia. Ia masih sibuk membersihkan dapur.


" Gapapa" seru Lia setelah beberapa saat berpikir. Tadinya ia ingin curhat pada Bundanya terkait kebimbangan yang ada di hati. Tapi, melihat kondisinya, sepertinya kurang cocok.


Bunda menghentikan aktivitasnya, lalu menoleh menatap Lia dengan heran. " Kenapa?" Tanya Bunda kembali melanjutkan kegiatan bersih-bersih nya.


" Gapapa, aku mau bilang biar aku aja yang bersihkan" Ucap Lia yang tiba-tiba sudah berada di samping Bunda. Ia sengaja mengalihkan topik dengan mencari alasan. Dan saat melihat Bunda, ia langsung berjalan kearah wanita itu.


" Udah gapapa Bunda aja. Kamu pasti capek baru pulang" Tolak bunda melanjutkan aktivitasnya.


Lia melirik Lily yang ternyata melihatnya. Tampak gadis itu menjulurkan lidahnya mengejek dan tertawa tanpa suara. Sementara Lia mengerucutkan bibirnya. Jelas ia tidak lelah sama sekali. Ia hanya tertawa dan mengobrol seharian.


" Udah sini gapapa" Lia langsung merebut alat Pel yang ada di tangan Bunda. Ia tersenyum sesaat dan mulai mengepel lantai yang terkena tepung setelah tadi sudah disapu oleh Bunda.


" Kamu ih maksa " Bunda berjalan dan duduk di samping Lily. Ia menyandarkan punggungnya dan menghela nafas. Belakangan ini, ia susah tidur dan banyak pikiran. Tak lain dan tak bukan karena anaknya yang sebentar lagi akan menikah dan pastinya ia tak akan bisa sebebas dulu dengan anaknya. Pasti anaknya akan lebih memprioritaskan suaminya. Itu tak salah, tapi sebagai Ibu, Bunda merasa sangat berat melepaskan anaknya.


" Bun" Lia memegang tangan Bunda lembut. " Bun" Ia kembali memanggil saat tak ada sahutan dari Bundanya.


"kenapa Li?" Tanya Bunda berusaha bersikap biasa saja.


Lia menyipitkan matanya, merasa curiga dengan sikap Bunda yang aneh menurutnya.


" Yaudah Bun, kita ke kamar dulu ya " Lia beranjak dari duduknya dan menarik Lily yang masih duduk.


***


" Li, Lo coba telfon Viona gih" Pinta Lia pada Lily yang sedang asyik bermain hp di tengah hangatnya sinar matahari sore. Mereka sedang duduk di balkon kamar Lia setelah tadi membersihkan diri.


" Kenapa ga Lo aja?" Tanya Lily heran, ia mematikan hp nya dan menatap Lia dengan heran.

__ADS_1


Lia menghela nafas, " Viona ga akan jawab telfon gue di jam segini " Jawab Lia menyenderkan kepalanya.


" Kenapa?" Lily membetulkan posisi duduknya menghadap Lia agar lebih leluasa.


" Gue juga ga tau" ucap Lia dengan nada sedih. " Viona itu Uda berubah. Uda lama gue coba ngajak dia ngobrol, tapi dia selalu menghindar " Lia menatap Lily dengan kening berkerut.


" Ya ampun, sebenarnya tuh anak kenapa sih!" Lily berkata dengan nada kesal.


" Udah, jangan marah. Siapa tau aja Viona punya masalah besar. Lo jangan marah sama dia " Tutur Lia menepuk pundak Lily untuk menenangkannya.


Lily menghela nafas, " Hmm" Ia menatap Lia dengan tersenyum.


" Oh ya gue sampe lupa " Lia menepuk jidatnya dengan tatapan yang mengarah pada Lily.


" Apa?"


" Lo kesini sendiri? Suami Lo mana? terus Lo Uda izin belum? Terus gimana ceritanya Lo bisa kesini?" Pertanyaan beruntun langsung di lemparkan pada Lily.


Lily tersenyum, " Lo tuh ya, kaya Mama gue tau gak. Cerewet" Cibir Lily mencubit gemas pipi Lia.


Lia mendelik, " Terserah deh, yang penting jawab!" Lia mencubit gemas pipi Lily.


" Iya deh iya, hamba kalah paduka ratu " Canda Lily tertawa.


" Lily pliss, jawab! Gue cape nunggunya" gerutu Lia menopang wajahnya.


" Oke, gue cerita " Lily menghela nafas dan melirik Lia sebentar.


" Jadi gini, gue kangen nih kan sama kalian. Nah gue ngajak Dave lah untuk datang ke sini. Tapi, Dave ga bisa ninggalin perusahaan nya. Gue bingung dong, nanti kalo gue pergi sendiri, mertua gue Mandang jelek. Tapi, gue kangen banget tau. Jadi, gue berunding deh sama Dave. Untungnya Dave itu tipe cowok super sabar dan pengertian banget. Dia kasih saran kan, katanya gue pergi sendiri baru nanti dia nyusul. Dan dia bakal kasih alasan sama mertua gue dan keluarganya itu. So, gitu deh "


" Astaga Lily" Lia menepuk jidatnya sendiri merasa gemas. " kalo Lo kangen sama kita, ga segitunya juga kali. Ingat Li, Lo Uda nikah. Setiap keputusan apapun yang Lo buat itu harus di pertimbangkan matang-matang. Karena resiko apapun itu, bukan cuma Lo aja. Tapi juga suami Lo dan mungkin keluarga Dave yang nanggung "

__ADS_1


Lily menghela nafas, " Iya iya. Itu sudah Lia! Liat aja nanti, saat Lo Uda nikah sama Raffa " cemberut cemberut tapi tertawa juga.


***


__ADS_2