
Lia kembali ke ruangannya dengan pikiran yang terus mengingat-ingat orang tadi. Lia duduk di sofa dan menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa.
" Siapa ya?" Lirih Lia memejamkan matanya.
" Siapa apa mbak?" Tanya Viona yang tiba tiba datang dari arah kamar mandi.
Lia terlonjak kaget. Dia kembali mendudukan tubuhnya dengan tegak.
" Enggak papa Vi" Jawab Lia malas.
Viona diam, dia tahu jika Lia sedang ada masalah. Namun Viona tidak bertanya lagi, karna Lia juga punya privasi.
" Mbak, kita jadi kan ke mall nya?" Tanya Viona semangat. Dia sebenarnya ingin membuat Lia menjadi senang lagi dan tidak sedih seperti ini.
Lia menoleh, menatap wajah gadis itu. Melihat raut wajah semangatnya. Lia menjadi tidak tega jika harus membatalkan nya.
" Iya jadi, mbak ke kamar mandi dulu ya" Jawab Lia berusaha senang kemudian berjalan menuju kamar mandi.
***
" Kamu mau belanja apa Vi?" Tanya Lia saat mereka sudah berada di dalam mall. Mall yang penuh dengan orang-orang yang sedang berbelanja.
" Emm apa ya?" Viona berjalan jalan menuju rak ke rak satunya.
Lia yang melihatnya pun mengikutinya. Namun, Viona hanya berkeliling saja disana.
" Vi, cepetan belanja dong" Ucap Lia kesal.
" Hehe iya mbak. Sebenarnya aku juga gak tau sih mau beli apa" Jawab Viona polos yang membuat Lia menjadi semakin kesal.
__ADS_1
Lia menghembuskan nafas kasar. " Yaudah kita ke tempat makan aja deh" Usul Lia yang langsung berjalan tanpa memperdulikan Viona.
***
" Mbak, Aku bisa jadi pendengar yang baik tau" Ucap Viona di sela sela mereka makan.
Lia tersenyum, dia beruntung memiliki asisten seperti Viona. Sangat baik dan perhatian. " Mbak gak papa kok Vi" Jawab Lia tersenyum.
" Gak papa mbak, Kalo mbak gak mau cerita" Jawab Viona.
Lia menatap Viona, gadis itu terlihat kecewa. Lia menghembuskan nafas nya kasar, " Orang tadi ngingetin mbak sama seseorang di masa lalu" Ucap Lia memulai cerita.
Viona mendongak menatap Lia, gadis itu hanya diam. Sepertinya dia ingin Lia melanjutkan.
" Orang yang mbak cintai di masa lalu, tapi sayang dia Uda punya kekasih. Dan mungkin sekarang mereka sudah menikah" Sambung Lia menunduk. Bagaimanapun dia mencoba untuk menenangkan hatinya. Tapi pasti rasa sakit itu ada.
Viona diam, dia merasa kasihan dengan Lia. " Orang mana mbak?" tanya Viona penasaran.
Viona terkejut, dia mengingat ingat siapa orang itu. " Tapi itu bukan Orang yang mbak cintai kan?" Tanya Viona memastikan. Dia takut jika benar, maka Lia bisa-bisa jadi Pelakor. Itulah isi pikiran Viona yang sangat cepat menyimpulkan.
" Mbak juga gak tau pasti. Orang itu familiar dengan Mbak. Tapi dari wajahnya ada yang beda. Terus namanya juga beda" Jawab Lia mengingat-ingat.
"Kalo masalah nama, bisa aja itu nama samaran. Kalo wajah bisa aja berubah. Dan kalo perasaan mbak yang pernah kenal sama dia gak akan bisa berubah" Ucap Viona pelan. Sebetulnya dia tidak mau jika Lia menduga bahwa orang itu adalah orang yang dicintai Lia. Hanya saja rasanya Viona tidak mau menyembunyikan analisis nya.
Lia terlihat berpikir. Membandingkan wajah Raffa yang dulu dengan yang sekarang. Benar kata Viona, wajah bisa saja berubah. Contohnya dia sendiri berubah, wajah yang dulu manis merubah menjadi sangat cantik. Dan bisa saja Raffa juga mengalami hal itu.
" Mbak, tapi aku harap mbak gak akan melakukan hal bodoh kan" Ucap Viona pelan. Takut menyinggung perasaan Lia.
Lia melihat Viona. Tahu akan arah pembicaraan ini. Tersenyum menatap Viona, gadis yang sangat perhatian padanya. " Kamu tenang aja Vi, mbak gak akan melakukan hal bodoh apapun. Bahkan dulu aja mbak minggat ke Inggris karna mbak gak mau melakukan hal bodoh" Jawab Lia meyakinkan.
__ADS_1
Viona tersenyum lega, meskipun dia belum terlalu yakin. Karna katanya Cinta itu buta.
" Oh ya, kita kerumah Orangtua Mbak ya" Ucap Lia semangat. Lia sudah sangat rindu pada papa dan bundanya. Viona juga sudah akrab pada keluarga nya.
" Oke, aku juga gak jadi belanja deh. Hehehe" Jawab Viona cengengesan.
***
"Assalamualaikum" Ucap Lia dan Viona bersamaan di depan pintu.
" Waalaikumsalam" Suara bunda terdengar dari dalam.
Ceklek
" Lia, Viona?" Bunda langsung memeluk Lia dan Viona.
" Bun, ayo masuk dulu" ajak Lia karna dari tadi bunda hanya memeluk mereka saja.
" Oh iya bunda lupa. Ayo masuk" Ajak bunda merangkul dua lengan Lia dan Viona.
" Kamu itu ya Li, jarang banget datang ke rumah" Omel Bunda sambil membawakan minuman dan cemilan dari dapur.
Lia hanya tersenyum. Hatinya sedang gundah saat ini. Dia ingin mengadu, namun sepertinya waktunya belum cocok.
Bunda yang menyadari Lia sedang ada masalah pun tidak bertanya. Bunda mencoba mngelihkan perhatian Lia menjadi ceria lagi.
***
Sama seperti Lia, Raffa juga sedang gundah saat ini. Saat bertemu dengan orang tadi, Raffa seperti merasa familiar dengan wanita itu. Namun Raffa juga ragu, benarkah wanita itu Lia?
__ADS_1
Secara fisik wanita itu memang agak berbeda dari Lia. Wajahnya yang cantik berbeda dengan Lia yang manis dan terkesan imut. Sikapnya yang sopan berbeda dari Lia yang apa adanya.
Raffa memandangi gantungan kunci yang ada ditangannya. Gantungan kunci yang diberikan Lia padanya. Raffa sangat menyayangi dan menjaga benda itu.