
Hari ini adalah hari Ulang tahun Bunda. Dan hari ini, juga hari dimana Lia akan memperkenalkan kedua orangtuanya ke publik.
Lia sedang berias di kamarnya dengan Lily dan Viona yang juga berias disana.
Tadi malam, Lily datang bersama Dave. Tepat pukul 08.00 saat mereka sedang makan malam.
Sentuhan di pipi sebagai perona merah membuat make up gadis itu terlihat sempurna. Lia tersenyum puas melihat pantulan dirinya di dalam cermin.
Make up natural sangat cocok di wajah Lia. Meskipun begitu, wajah Lia terlihat sangat cantik. Berbeda dari biasanya. Biasanya, Lia hanya memoles wajahnya dengan sederhana. Tapi kali ini, Lia lebih menambahkan polesan lagi pada wajahnya.
Berbeda dari Lia, Lily justru memakai make up glamor. Gadis itu terlihat sangat telaten merias wajahnya.
Kalau Viona, gadis itu sama seperti Lia. Ia merias wajahnya dengan sederhana.
Mereka bertiga siap berias ketika jam menunjukan pukul 07.00 pagi. Ketiga gadis itu terlihat sangat berbeda.
Dengan memakai baju yang sama, ketiga gadis itu berjalan dengan sangat anggun menuruni tangga dengan Lia yang pertama disusul dengan Lily dan Viona dibelakangnya.
Mereka terlihat seperti tiga orang putri mahkota. Sangat cantik dan elegan.
Lia, Lily dan Viona berjalan kearah ruang makan. Disana, sarapan sudah tersedia. Namun, belum ada orang. Papa dan Bunda mungkin sedang bersiap-siap. Dan Dave, pria itu tak tahu dimana.
Lia duduk di bangku biasanya. Disusul dengan Viona dan Lily yang duduk di sebelah Lia. Ketiga gadis itu menunggu Raja dan Ratu dalam acara nanti.
Tak lama, datanglah Papa dan Bunda yang tampil sangat berbeda.
Mahendra tampak sangat berwibawa memakai sebuah jas mahal dari butik terkenal. Jika orang yang melihatnya, pastilah mengira jika Mahendra adalah seorang Pemilik perusahaan besar. Karna penampilan nya, sangat cocok.
Dan Bunda, wanita paruh baya yang biasanya selalu tampil sederhana kini tampil sangat cantik dalam balutan gaun tertutup yang elegan. Dengan riasan wajah yang sederhana, menambah kecantikan dari istri seorang pria yang orang tidak tahu siapa Ia sebenarnya.
" Wah" Lia ternganga kagum melihat kedua orang tuanya tampil berbeda. Seharusnya, beginilah mereka tampil setiap hari. Tapi, Mahendra tidak mau. Karna Ia ingin hidup sederhana meskipun diluar sana Ia mempunyai sebuah perusahaan yang orang tak akan menyangka itu miliknya.
" Ayo makan" Papa memulai makan ketika Ia sudah duduk di kursinya.
Semuanya mengangguk, mereka memulai sarapan itu dengan tenang dan tanpa bicara. Tak seperti biasanya, tapi Lia tidak protes. Ia hanya diam dan makan.
Setelah selesai makan, seorang wanita paruh baya datang dari arah dapur membuat ketiga gadis itu bingung.
" Sehari ini papa suruh dia ngurus rumah. Kan gak mungkin, kita sudah rapi malah membereskan rumah" Jelas papa yang tahu kebingungan anaknya.
Lia mengangguk, Ia mengerti. Tapi, Lily dan Viona bingung. Mereka hanya diam, tak ingin menanyakan apapun.
****
Raffa sedang bersiap di apartemennya. Ia tampil dengan rapi seperti biasa. Namun kali ini, Ia lebih memastikan penampilan nya lagi.
Pria itu menatap pantulan dirinya di cermin. Ia menghela nafas kasar mengingat hal itu.
Semalam, Rizky mengatakan sebuah berita yang membuat Raffa kesal. Bunda gadis yang Ia cintai ulang tahun dan akan membuat acara yang mengundang banyak orang. Tapi, kenapa dia malah tidak diundang? Apa karena masalah kemarin?
Raffa menghela nafas kasar, Ia tak boleh emosi. Menghadapi seorang wanita harus lah dengan kelembutan. Bukan dengan emosi. Pria itu kembali menatap pantulan dirinya di cermin. Setelah memastikan sudah perfect, pria itu berjalan keluar dan memulai rencananya.
***
Mereka sudah tiba ditempat acara. Lia menatap puas kearah ruangan itu. Ruangan yang sudah disulap menjadi mewah dan berkelas. Sangat pas.
" Papa sama Bunda bisa tunggu di ruangan sana. Disana udah ada orang aku. Nanti mereka bakal kasih aba-aba kalo Papa sama Bunda bisa keluar " Lia menunjuk sebuah ruangan yang tertutup dengan hiasan.
" Oke" Jawab Papa langsung pergi dari sana dengan menggandeng tangan Istrinya.
" Mas, kamu suruh orang kamu jaga disini? Tadi aku liat Rehan didepan" Ucap Bunda dengan berbisik.
Mahendra tersenyum, " Demi keamanan kita sayang. Gak akan ada yang tau" Mahendra tersenyum menatap istrinya yang terlihat menggemaskan ketika sedang bingung.
" Oke" Jawab Bunda membalas senyuman suami tercinta nya.
***
Tamu satu persatu mulai berdatangan. Mulai dari para klien Lia sampai kerabat terdekat dan para keluarga. Acara itu mejadi sangat meriah.
Setelah para tamu berdatangan, acara pun dimulai. Dengan dipandu oleh MC. MC mulai mengatakan kalimat sambutan, dan Ia mulai membacakan acara pertama.
" Selamat datang Para Tuan dan Nyonya. Terimakasih karna sudah berkenan hadir di acara ini. Semoga kita selalu diberikan kesehatan " MC mulai mengatakan kalimat sambutan yang disambut tepukan tangan dari semua orang.
" Baiklah untuk acara pertama, kalimat sambutan dari Nona Fia. Nona Fia, kami persilahkan"
Lia tersenyum, Ia berjalan kesana dengan anggun menatap semua orang yang sedang memfokuskan perhatian mereka pada dirinya.
" Selamat Pagi semua. Saya ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada para Tuan dan Nyonya yang menyempatkan diri untuk hadir di acara saya. Hari ini, saya ingin membuat acara syukuran atas kesuksesan Rainbow Restaurant. Dan saya juga ingin memperkenalkan Orang tua yang sangat saya sayangi. Demikian, terimakasih atas perhatiannya. " Lia mengakhiri ucapannya dengan tersenyum manis pada semua orang. Ia kemudian melangkah kembali menuju tempat duduknya.
Semua orang bertepuk tangan ketika Lia sudah selesai berbicara. Termasuk pria itu.
" Terimakasih atas sambutannya Nona Fia. Baik, kita lanjut ke acara selanjutnya. " MC tersebut mulai membacakan acara selanjutnya.
Acara demi acara berlalu. Kalimat penyambutan dari berbagai pejabat penting sudah dilakukan.
" Baik, kini saatnya acara yang kita tunggu-tunggu. Yaitu acara pemotongan kue Tuan dan Nyonya dari orang tua Nona Fia. Kami persilahkan "
Lia tersenyum menatap orang tuanya yang berjalan dengan sangat bagus. Dan saat Papa dan Bunda mendekat, Lia menghampiri mereka. Memberikan mereka senyuman indah.
__ADS_1
" Apakah ada kata-kata yang ingin diucapkan. Kami persilahkan" MC tersebut memberikan sebuah mic pada Papa Lia.
Papa Lia mengangguk, Ia menatap semua orang yang hadir dengan mata yang tajam.
" Terimakasih saya ucapkan atas kehadirannya. Saya sebagai ayah sangat senang melihat anak perempuan saya satu-satunya bisa sukses seperti ini tanpa ada campur tangan saya. Saya mengucapkan terimakasih pada kalian semua" Papa mengakhiri ucapannya. Ia memasang ekspresi datar.
Semua orang bertepuk tangan secara serentak.
Lia tersenyum senang mendengarnya. Rasanya ingin Lia memeluk Papanya sekarang. Namun, Lia masih ingat tempat.
" Baik, kini saatnya acara potong kue. Kami persilahkan"
Lia dan orang tuanya sudah berdiri di depan kue yang sangat besar itu. Disampingnya ada sebuah pisau yang lebih mirip pedang karna ukurannya yang panjang. Namun pisau itu tidaklah tajam, hanya mampu memotong kue.
" Happy Birthday to you... Happy Birthday to you...." MC itu mulai menyanyi membuat semua orang ikut bernyanyi Happy Birthday.
" Happy Birthday to you..Happy Birthday to.. Happy Birthday... Happy Birthday... Happy Birthday to you... "
" Selamat ualng tahun wanita hebat " Lia memeluk Bundanya dengan erat. Ia merasa terharu.
" Selamat ulang tahun sayang" Gantian papa yang memeluk istrinya erat.
Semua orang tak tahu apa yang mereka ucapkan. Mereka hanya melihat saat Lia dan Bundanya berpelukan begitupun saat Papa dan Bunda berpelukan.
" Wow sangat harmonis ya keluarga mereka " Puji MC itu dengan keras.
" Baik, sekarang acara pemotongan kue. Potong kue nya.. potong kue nya.. potong kue nya sekarang juga... sekarang juga.. sekarang juga..." Semua orang bernyanyi mengikuti MC itu.
Bunda mengambil pisau dengan tangan suaminya ada diatas tangannya. Dengan perlahan, mereka memotong kue itu.
Suara tepuk tangan menggema di ruangan itu.
Bunda mengambil satu potongan kue. Ia meletakkan nya di sebuah tapak kaca. Suapan pertama jatuh pada suaminya. Dan suapan kedua jatuh pada anaknya, Lia.
Semua orang bertepuk tangan dengan sangat meriah. Lia memeluk kedua orangtuanya dengan erat.
" Para Tuan dan Nyonya silahkan menikmati hidangan yang ada" MC itu menunjuk hidangan yang sudah tersedia di depan.
Para Tamu mulai membaur. Mereka mengobrol, mengambil makanan, membahas tentang bisnis, dan lainnya.
" Aku temuin para tamu dulu ya" Lia tersenyum lebar menampakan kedua giginya yang putih.
Bunda tersenyum, Ia mengangguk.
****
Tadi, saat Ia sudah di mobil dan ingin pergi ke gedung tempat acara, asisten nya membawa kabar yang membuatnya harus menahan kesal.
Raffa mengingat lagi kejadian itu, kejadian yang membuat nya sangat kesal. Karna itu, Ia terlambat datang kesana.
" Maaf Tuan, tapi Tuan besar meminta bertemu" Rizky sang asisten mengatakan hal itu disaat majikannya sudah tidak sabar untuk pergi.
Mengingat hal itu membuat Raffa menjadi sangat kesal. "Sialan" Umpat Raffa dengan keras. Sengaja agar asistennya yang sangat patuh itu mendengar.
Rizky melirik dari kaca. Ia tersenyum sopan ketika pandangan nya bertemu dengan majikannya.
"Mau berapa lama lagi kita disini?" Tanya Raffa dengan dingin. Sudah 30 menit lebih mereka terjebak macet. Tapi sampai sekarang, mobil itu tak bisa bergerak sedikitpun.
" Maaf Tuan, tapi macetnya sangat panjang " Jawab Rizky sambil melihat kearah kaca spion dimana menampilkan para pengendara lain yang juga terjebak macet.
" Ck" Raffa berdecak kesal, mau berapa lama lagi Ia menunggu?
" Apa motor juga tidak bisa lewat?" Terpikir satu ide yang membuatnya semangat.
Rizky melirik, " Maaf Tuan sepertinya akan susah " Menunduk merasa bersalah.
" Lakukan" Pinta Raffa dengan tegas.
" Huh?" Rizky mendongak, Ia kurang mendengar dengan jelas.
" Lakukan" Pinta Raffa penuh penekanan.
" Baik Tuan" Rizky langsung mengambil hp nya dan menghubungi orangnya untuk datang kesini dengan menaiki kendaraan beroda dua.
****
Menghela nafas panjang, Raffa masuk kedalam gedung tempat berlangsungnya acara. Meskipun terlambat, tapi pria itu tetap akan melanjutkan rencananya.
Di pintu depan, seorang penjaga menghadangnya. Menyuruhnya memberikan kartu undangan. Raffa mengernyitkan dahinya bingung. Ia tak menyangka, keamanan tempat ini sangat terjamin.
Pria itu menoleh ke belakang, disana Ia dapat melihat asistennya sedang menelepon seseorang. Raffa berjalan kearahnya. Menepuk bahunya keras, mengejutkan pria yang sedang menelepon seseorang itu.
Rizky segera menutup panggilan nya. Matanya menatap pada majikannya yang sedang menatapnya dengan pandangan menusuk.
" Telfon pacar mu" Pinta pria itu dengan dingin.
" Maaf Tuan, maksudnya?" Tanya Rizky dengan bingung sekaligus takut. Pria itu takut jika Bos nya ini memutuskan hubungannya dengan Viona. Karna tadi, Ia sedang menelepon Viona, pacarnya.
" Telfon pacar mu" Ulang Raffa dengan sangat jelas.
__ADS_1
" Baik Tuan" Hanya bisa pasrah jika hubungannya harus berakhir disini. Karna ini memang salahnya, berpacaran di waktu kerja.
Satu menit, Dua menit, Tiga menit. Panggilannya juga tidak diangkat. Membuat Rizky menjadi gelisah. Ia melirik bos nya yang menunggunya. Dengan cepat, ia kembali menelepon Viona dengan harapan gadis ini
mengangkatnya.
"Tidak pernah Tuan Farrel menunggu, maka jangan sampai membuat beliau menunggu" Kata-kata itu seolah terngiang-ngiang di kepala Rizky. Membuat pria itu menjadi sangat gelisah.
"Tidak bisa diam" Bentak Raffa dengan keras. Membuat Rizky menjadi sangat terkejut.
" Maaf Tuan" Hanya bisa meminta maaf, jantungnya seakan copot tadi.
" Hallo" Terdengar suara di seberang sana.
" Vi, kamu keluar ya. Ke depan "Pinta Rizky sambil melirik Tuan Farrel.
" Huh?" Viona menjadi bingung disana. Dengan cepat, ia berjalan kearah pintu depan.
" Kamu kedepan aja" Rizky menggigit bibir bawahnya geram.
" Oke" jawab Viona membuka pintu.
" Sudah tuan. Saya menyuruhnya kesini" Ucap Rizky dengan sopan.
Raffa mengangguk, tak berniat membalas. Pria itu berjalan kearah mobil tanpa mengatakan apapun.
" Tuan" Panggil Rizky spontan.
Raffa menoleh, Ia menghela nafas panjang. Ternyata, asisten nya tidak peka.
" Bilang sama dia kamu mau masuk " Hanya itu yang diucapkannya. Setelah itu, Pria itu pergi.
Rizky terdiam sejenak, dia mengangguk. Ia baru ngeh sekarang.
Viona muncul setelah tadi Ia mencari keberadaan pacarnya itu.
" Hay " Rizky memeluk Viona dengan mesra. Ia sudah sangat rindu dengan pacar kecilnya.
Viona membalas pelukan pacarnya karna mengira tidak ada orang. Padahal, Raffa menatap mereka dengan tatapan tajam dari dalam mobil.
" Sayang, aku mau ketemu sama Orang tua mbak kamu" Ucap Rizky dengan senyuman manisnya.
" Maksudnya mbak Lia? Kamu mau ketemu? Oke" Viona mengizinkan saja. Dia selalu berpikir positif.
" Yaudah ayo" Ajak Viona menggandeng tangan pacaranya. Rizky mengangguk, ia melirik sebentar kearah mobil memberi isyarat dengan kedipan mata.
****
" Tante " Panggil Viona pada Bunda dari mbak nya itu.
" Eh" Bunda menoleh, mendapati Viona bersama dengan seorang pria. Wanita paruh baya itu tampak berpikir. Sesaat kemudian, senyuman di bibirnya mengembang. Ia tahu siapa pria ini.
Viona menyenggol lengan Rizky sebagai isyarat untuk memberi salam karna pacarnya itu hanya diam saja.
" Emm perkenalkan Tante, saya Rizky. Calon suami Viona" Rizky menyalim tangan Bunda dengan sopan.
" Saya Bunda Lia" Jawab Bunda tersenyum.
Rizky mengangguk, Ia menatap sekeliling seolah mencari sesuatu.
" Emm Tante, saya boleh bicara" Melirik sebentar pada Viona yang terlihat bingung.
" Bicara saja" Jawab Bunda santai.
" Emm " Rizky memperhatikan sekitar. " Disana boleh?" Menunjuk salah satu tempat yang terlihat sepi.
Bunda melihat kearah yang ditunjuk Rizky. Ia mengernyitkan dahinya heran.
" Ada hal penting" Berusaha meyakinkan atau Ia akan mendapat hukuman.
Bunda mengangguk, Ia melirik kearah suaminya. Dengan isyarat mata, Bunda meminta izin pada suaminya itu. Mahendra mengangguk.
Bunda berjalan kesana dengan langkah tegas. Wanita paruh baya itu menatap Rizky dengan tatapan tajam. Batu kali ini ia memperlihatkan nya pada orang lain.
Rizky berjalan kesana setelah memberi isyarat pada Viona agar tidak kesana.
" Bicaralah" Bunda menatap Rizky lekat.
" Emm bukan saya yang mau bicara" Ucap Rizky dengan gamblang.
" Jadi?" Tanya bunda dengan ekspresi datar.
" Selamat siang Tante, Saya Far- " Raffa membeku di tempatnya. Ia menatap dengan lekat seolah ingin memastikan penglihatannya.
****
...Jangan lupa komen✨...
...Love you all✨♥️...
__ADS_1