
Lia terduduk bingung di balkon kamarnya. Memandang langit cerah yang tak secerah hatinya. Huh, Lia mendesah pelan. Ia masih bingung dengan apa yang baru Ia dengar. Jujur Lia belum bisa mempercayainya.
Lia merenung memikirkan hal yang sudah Ia lewati bersama Farrel yang ternyata Raffa. Hahaha, lucu, sangat lucu. Lia menghela nafas dalam. Gadis itu tak menyangka, sosok yang menemaninya selama ini adalah pria yang selama ini sangat ingin Ia temui.
Lia tersenyum tipis, Ia tak tahu tentang wanita itu. Apakah wanita itu Aurel? Apakah Aurel meninggalkan Raffa? Tapi, dirinya tak mirip dengan Aurel. Lalu siapa wanita lain yang dicintai Raffa? Apa jangan-jangan?? Tidak, Lia tak mau lagi berharap. Gadis itu tidak mau jika harus terjatuh dari ketinggian.
Lia memegang dadanya, rasanya sakit mengetahui pria itu mencintai wanita lain. Lia menggeleng, Ia tak mau menduga-duga sesuatu yang belum tentu benar. Lagi pula, Raffa belum memberitahukan kebenarannya.
Gadis itu melihat jam di pergelangan tangannya. Ia berdiri, masuk kedalam dan menutup pintu balkon. Merebahkan tubuh di tempat tidur adalah hal paling menyenangkan. Lia mengambil hp nya yang berada di samping kepalanya. Ia membuka hp itu, kembali mengecek berita hangat yang muncul tadi.
Gadis itu tersenyum tipis, papanya memang sangat bisa diandalkan. Lia meletakan hp nya di nakas samping tempat tidur. Gadis itu menatap langit-langit kamar. Huh, lagi-lagi pikirannya tertuju pada pria itu. Ingin rasanya, Lia membuang pikiran ini dari kepalanya. Tapi itu tak bisa.
Gadis itu berdiri dengan malas. Ia berjalan dengan gontai ke kamar mandi. Tapi sebuah suara menghentikan langkahnya.
" Lia" Panggil Bunda dari luar. Wanita itu mengetuk pintu kamar anak nya.
" Bentar" Lia berjalan kesana dan membuka pintu nya dengan malas. Jujur, ia ingin sendiri.
" Ada tamu yang nyariin" Bunda melirik kearah Ruang tamu yqng ada di lantai bawah.
" Bun" Lia menekan ucapannya.
" Huh, oke. Raffa nyariin kamu" Ucap Bunda terus terang.
Seketika hati Lia sakit. Ia menundukkan kepalanya. Gadis itu belum siap jika harus bertemu dengan pria itu.
" Yaudah, gausah kamu temui. Bunda turun ya" Bunda mengelus kepala anaknya.
" Bun" Lia memegang tangan Bunda yang ingin pergi. Bunda menoleh, Ia tersenyum simpul melihat anaknya.
" Aku belum siap. Kalo aku Uda siap, aku bakal temuin dia sendiri" Lia masuk ke kamar setelah mengatakan itu. Air matanya tak dapat dibendung lagi.
****
Bunda turun kebawah dengan perasaan yang juga sakit. Ia dapat merasakan hati anaknya yang sakit mengetahui hal ini. Ia berjalan kearah ruang tamu dimana disana ada suaminya dan Raffa.
" Raffa, kamu pulang aja. Lia belum mau temuin kamu sekarang " Ucap Bunda dengan tegas.
Raffa menghela nafas dalam, Ia sudah menebak ini akan terjadi. Tapi, Ia mengangguk.
" Saya permisi" Raffa menyalim tangan Mahendra dan Bunda. Tak lupa, ia tetap menerbitkan senyum tipis di wajahnya.
" Sayang, gimana keadaan Lia? " Tanya Mahendra sesudah Raffa pulang.
Bunda menghela nafas panjang, Ia menggeleng. " Lia lesu, dia juga nangis tadi" Bunda sempat melihat air mata Lia yang terjatuh tadi.
" Huh " Mahendra membuang nafas kasar. " Kita gausah bahas masalah ini lagi didepan Lia" Ucap Mahendra menggenggam tangan istrinya.
Bunda tersenyum tipis, Ia mengangguk.
***
Lia mengambil hp nya yang ada diatas nakas. Setelah berendam selama setengah jam, pikiran dan hatinya menjadi rileks. Gadis itu duduk di sofa yang ada di kamarnya. Lia mengerucutkan bibirnya kesal, tak ada yang menarik. Ia meletakan hp nya dengan asal. Gadis itu mengambil buku yang ada di rak sebelah sofa.
Bibir Lia menipis, Buku novel bergenre Time Travel sangat cocok untuk memperbaiki mood nya yang sedang buruk. Lia membaca dengan sangat serius. Ia menikmati momen ini.
Sampai ketukan pintu membuatnya harus beranjak dari sofa. Dengan sedikit kesal, Ia membuka pintu kamar nya.
" Lia, ayo makan" Ajak Bunda tersenyum manis. Membuat Lia mengerutkan keningnya bingung dengan oerubqhan bundanya. Lia tentu tahu sifat Bundanya itu. Bundanya adalah wanita yang sulit merubah mood.
Lia mengangguk, Ia menutup pintu dan mengikuti Bundanya turun untuk makan malam.
" Lia, kamu besok sibuk?" Tanya Papa di sela-sela makan malam mereka.
" Enggak" Jawab Lia tanpa mengalihkan pandangannya dari makan malamnya.
" Kamu ikut Papa ke kantor ya" Pinta Papa serius membuat gadis itu tersedak.
" Uhuk uhuk" Bunda segera mengambilkan air minum untuk anaknya yang tersedak.
" Papa serius?" Tanya Lia dengan bingung.
Mahendra mengangguk. " Sedikit banyaknya kamu harus tau tentang perusahaan" Jawab Mahendra sambil menyuapkan satu sendok makanannya.
Lia mengangguk-angguk, " Oke " Jawabnya santai, ia kembali melanjutkan makannya.
" Really ?" Tanya Papa dengan sedikit tidak percaya. Tadi, Mahendra pikir harus ada perdebatan dahulu sebelum Lia menyetujuinya.
__ADS_1
" Hmm iya " Jawab Lia tersenyum manis.
Papa tersenyum senang. Sebenarnya ia melakukan ini untuk mengalihkan pikiran anaknya. Karna Mahendra tahu, anaknya pasti sedang sakit hati saat ini.
****
Lia bangun pagi-pagi. Semangatnya seolah datang saat Papa mengajaknya ke Perusahaan yang belum pernah ia datangi sebelumnya.
Gadis itu berias sederhana. Memakai blazer hitam dengan kem ja putih dan rok hitam membuatnya terlihat seperti karyawan kantor. Lia terkekeh kecil melihat penampilannya di cermin. Gadis itu mengambil tasnya yang sudah Ia siapkan isinya semalam.
***
" Good Morning " Sapa Lia mencium Pipi Bunda dan Papanya secara bergantian. Lia sedikit tidak menyangka, Papa dan Bundanya sudah bangun dan sedang berjalan ke meja makan.
" Good Morning Sayang, semangat banget" Papa duduk di kursinya setelah menarik kursi untuk istrinya.
" Hihihi iya dong" Jawab Lia tersenyum lebar menampakan deretan giginya yang putih.
" Pa, Lia sampe jam makan siang aja ya disana" Ucap Lia di sela-sela sarapan mereka.
" Kamu ada urusan lain?" Tanya Papa masih dengan mengunyah sarapannya.
Lia mengangguk, " Ya..ada Pa " Jawab Lia tanpa menatap Papanya.
" Oke"
****
" Hati-hati ya" Ucap Bunda pada suaminya. Ia mencium tangan suaminya dan dibalas kecupan manis di kening Bunda.
" Lia pergi dulu ya" Lia menyalim tangan Bundanya.
" Hati-hati" Ucap Bunda memeluk anaknya.
Lia dan Mahendra masuk kedalam mobil Mahendra yang biasa saja. Mahendra mulai mengendarai mobilnya keluar dari parkiran rumah.
" Pa, jadi kita nanti nyamar?" Tanya Lia menatap Papanya yang sedang menyetir.
Mahendra menoleh sebentar, " Enggak, kita lewat jalan rahasia" Jawab Mahendra masih fokus menatap kedepan.
" Gak akan ada yang curiga kalo kita bikin mereka gak curiga" Jawab Papa tersenyum tipis.
" Huh?" Lia dibuat bingung dengan perkataan papanya. Ya kalo gak buat curiga orang gak bakal curiga. Tapi maksudnya gak buat curiga gimana?
Mahendra tidak merespon anaknya yang terlihat bingung. Ia terus fokus mengendarai mobilnya. Sampai Mahendra membelokan mobilnya ke sebuah Bengkel kecil.
" Loh?" Lia melihat dari kaca mobil, ini bukan perusahaan. Ini sebuah bengkel kecil. Untuk apa mereka kesini.
" Ayo turun" Ajak Papa membuka seat belt miliknya.
Lia mengangguk, meskipun bingung Ia tetap turun dari mobil. Gadis itu memperlihatkan sekitar. Tempat ini sangat sepi. Seperti tak berpenghuni. Lia jadi merasa sedikit takut. Tidak, gadis itu menggeleng. Ia segera mengikuti papanya yang masuk kedalam bengkel.
Dari dalam, Lia melihat ada sosok yang berjalan keluar. Gadis itu menutup matanya. Lia adalah gadis yang snqhat takut pada apapun yang berbau mistis.
Ricko atau asisiten Mahendra keluar dari dalam. Pria itu m membungkukkan badannya sedikit tanda hormat. Ia melirik ke belakang, Ricko menggeleng gelengkan kepalanya melihat kelakuan anak dari bos nya.
" Ricko" Panggil Mahendra dingin. Auranya sangat berbeda ketika berada di dalam rumah dan bersama keluarga nya.
Ricko mengangguk, Ia segera menyerahkan sabuah papaer bag yang Ia bawa dari dalam. Mahendra mengambilnya dan masuk kedalam untuk berganti.
Lia membuka matanya sedikit setelah dirasa aman. Mata gafis itu membulat, ia terlonjak kaget. Dengan kesal, Lia berjalan kesana dan memukul keras lengan asisten ayahnya yang sudah Ia anggap Paman itu.
" Kenapa?" Tanya Ricko pura-pura tak tahu.
" Entah" jawab Lia acuh. Ia mengalihkan pandangannya dengan mengelus dadanya yang terkejut.
" Eh Papa mana?" Tanya Lia, gadis itu baru sadar tidak ada pqpanya disini.
" Kayaknya aku gak perlu ngasih ini lagi sama kamu "Ricko menaikan keatas paper bag yang ada di tangannya.
Lia menyipitkan matanya, gadis itu berkacak pinggang. " Itu apa?" Tanya Lia ketus.
" Ini itu pe- "
" Ayo" Ajak Papa memotong ucapan Ricko. Ricko mengangguk sopan. Ia mengikuti bos nya yang berjalan ke samping bengkel itu.
Lia membulatkan matanya, Ia hampir tertawa melihat papanya. Tak ada yang lucu, hanya saja papanya terlihat gagah dan sangat keren. Dengan jas dan rambut palsu tak lupa pula sebuah kaca mata hitam yang bertengger di matanya. Dan itu malah membuat Lia ingin tertawa.
__ADS_1
" Ini sebenarnya apa sih?" Gumam Lia mengikuti dua pria itu. Masih dengan menahan tawanya.
Lia menganga lebar, Ia meliaht sebuah mobil mewah yang bahkan ia tak akan mungkin sanggup membelinya.
" Ini mobil siapa?" Tanya Lia antusias.
Tak ada yang menjawab. Mahendra langsung masuk kedalam diikuti asisten nya yang menjadi sopir.
Lia mengerucutkan bibirnya kesal, ia mengikuti papanya masuk kedalam mobil. Mobil itu dengan cepat melaju melalui jalanan yang Lia belum tahu sebelumnya.
" Pa, ini sebenarnya gimana sih? Aku bingung" Lia yang tak tahan menahan rasa penasarannya langsung bertanya kepada papanya yang duduk di sampingnya dengan gaya cool.
Mahendra tersenyum tipis. Anaknya memang belum tahu sepenuhnya. Lia hanya tahu bahwa papanya mempunyai sebuah perusahaan yang cukup besar. Bahkan nama perusahaan itu pun Lia tak tahu. Yang tahu sepenuhnya adalah istrinya. Istri tercinta nya.
" Nanti kamu akan tahu" Jawab Mahendra tanpa menoleh.
Lia berdecak kesal. Ia mengalihkan pandangannya menatap jendela dengan menggerutu di dalam hatinya.
Setelah setengah jam lebih menempuh perjalanan, mereka akhirnya sampai. Tapi, gadis itu tak meliaht ini sebuah perusahaan. Lebih tepatnya, ini seperti sebuah rumah kecil yang minimalis.
" Ini?" Tanya Lia sembari menunjuk keluar.
" Ayo" Mahendra membuka pintu dan keluar dari sana. Berjalan masuk kedalam Rumah itu diikuti asisten nya.
Lia mendengus kesal, tak ada yang membukakan pintu untuknya. Gadis itu membuka sendiri pintunya dan berjalan cepat sebelum tertinggal.
Lia memperhatikan rumah itu. Minimalis dan sangat nyaman. Ia kagum melihat interior rumah itu. Lia terus mengikuti Papanya yang melangkah ke sebuah ruangan dengan asistennya yang terus mengikuti.
" Pa, sebenarnya perusahaan papa dimana sih?" Tanya Lia sewot.
Mahendra tak menjawab, Ia hanya tersenyum tipis yang membuat Lia semakin bingung.
Di dalam ruangan itu, ada sebuah dinding yang dipajang foto-foto yang menurut Lia tak penting. Foto yang hanya dijadikan hiasan. Tapi, foto itu adalah kuncinya.
ceklek.
Mahendra menempelkan sidik jarinya, membuat sebuah alat men-scan dirinya dan seketika itu juga dinding itu berubah menjadi sebuah lift yang langsung terbuka.
Mulut Lia menganga sangat lebar menyaksikan hal ini. Ia tak percaya tapi ini nyata.
Ricko menarik tangan anak majikan yang sudah ia anggap anak sendiri itu. Membawa Lia kedalam lift yang sama dengan Mahendra.
Mahendra menekan tombol 35 yang ada di dalam lift. Lift itu seketika bergerak membawa mereka ke lantai 35. Lia maish terdiam bingung sekaligus takjub.
Sampai pada lift itu berhenti, pintunya pun terbuka. Mahendra disusul Ricko yang mendorong pelan Lia keluar dari sana.
Pemandangan pertama adalah lamtai putih dan beberapa ruangan tertutup berwarna hijau melon. Mahendra masuk kedalam sebuah ruangan dengan Papan nama CEO di pintunya.
Lia yang masih terkejut mengikuti papanya dengan Ricko yang mendorong nya pelan.
" Pa, ceritakan dong" Pinta Lia memohon. Ia duduk di sofa yang ada di ruangan mewah itu.
" Ricko kamu pergi" Papa memberikan isyarat mata mengusir. Ia berjalan ke sofa tempat anaknya.
Ricko mengangguk, ia membungkukkan badannya sedikit dan pergi dari sana.
Mahendra duduk di samping anak nya. " Akan papa ceritakan" Ucap Mahendra menyenderkan punggungnya ke sofa.
" Intinya perusahaan ini ada karna tekanan dari keadaan. Juga karna Bunda kamu" Ucap Mahendra singkat, ia belum bisa menceritakan secara detail.
" Ih yang jelas dong" Lia cemberut.
" Suatu saat akan papa beritahu kamu" Mahendra mengelus pucuk kepala anaknya.
" Yaudah, apa yang bisa aku kerjakan" Lia mengadahkan tangannya kedepan.
" Emm kamu bisa baca dulu ini " Mahendra memberikan sebuah buku tebal yang ia qmbil di rak sebelah nya.
" Ini apaan?" Tanya Lia membolak-balikkan buku itu.
" Itu tentang bisnis. Kalo kamu pelajari pasti kamu ngerti" Mahendra beranjak dari sana menuju meja kerjanya.
***
...Jangan lupa komen✨...
...Love you all ♥️...
__ADS_1