Ternyata Kita Berjodoh

Ternyata Kita Berjodoh
Fakta yang menyakitkan


__ADS_3

" Bun, Pa Lia sama Viona berangkat duluan. Bunda sama Papa jangan lupa datang ya" Lia memeluk Bundanya erat.


" Iya nanti kita datang" Ucap Papa menepuk lembut bahu Lia.


" Yaudah, Assalamualaikum" Lia melepaskan pelukannya dan menyalim Papanya disusul Viona yang menyalim Bunda dan Papa.


****


" Gimana kamu Uda pamit sama Rizky?" Tanya Lia di dalam pesawat setelah tadi mereka melewati beberapa pemeriksaan.


Viona mengangguk, gadis itu menghela nafas panjang. Viona menyenderkan kepalanya dan memejamkan matanya. Tampak lelah.


" Vi kenapa?" Tanya Lia khawatir, tak biasanya Viona seperti ini.


" Huh, ga papa mbak" Jawab Viona tanpa membuka matanya.


Lia mengangguk, " Yaudah kamu tidur aja" Lia menepuk lembut lengan Viona. Lia mengerti gadis itu tak ingin diganggu.


****


Setelah melewati perjalanan yang melelahkan, Lia dan Viona akhirnya sampai di London. Lia dengan senang menikmati perjalan dari bandara ke rumah Lily. Berbeda dari Lia, Viona malah terlihat lesu dan tak bersemangat.


Setelah sekitar 45 menit, akhirnya mereka sampai di rumah Lily dengan diantar oleh orang Rainbow Restaurant atas perintah Lia.


Lia dan Viona langsung masuk karena pak Satpam masih mengenali mereka. Lia dengan semangat mengetuk pintu rumah Lily. Tak berapa lama, pintu itu dibuka, namun yang datang bukanlah Lily, melainkan.


ceklek.


" Who?" Tanya seorang wanita paruh baya yang terlihat elegan dengan pakaian yang terlihat mewah.


" Sorry, I want to meet Lily? Tanya Lia sopan.


Wanita itu mengernyitkan dahinya, ia memperhatikan gadis di depannya.


" I am a friend of Lily from Indonesia " Jelas Lia yang meliaht wanita ini diam saja. Lia mengira itu adalah Ibunda dari Lily.


Wanita itu tampak terkejut, tapi ia menutupinya. " Kamu hubungi sendiri saja dia" Jawab Wanita itu ketus.


Lia tersenyum kikuk, tak menyangka wanita ini bersikap ketus padanya. Lia memang tahu kalau Ibunda Lily orang Indonesia.


Lia segera mengambil hp nya dan menghubungi Lily. Rencananya yang ingin membuat surprise menjadi gagal. Gadis itu menjauh untuk menghubungi sahabatnya.


" Hallo Li" Ucap Lily di seberang sana.


" Lo tinggal dimana?" Tanya Lia dengan suara pelan, sesekali gadis itu melirik ke belakang.


" Huh? Kenapa?" Tanya Lily bingung, ia belum mengerti maksud dari sahabatnya itu.


" Uda Lo tinggal dimana?" Desak Lia penuh penekanan.


" Gue tinggal di apartemen XX jalan XXX" Jawab Lily yang sebenarnya masih bingung.


" Oke" Lia langsung mematikan panggilan nya sepihak dan menyimpan kembali hp nya. Gadis itu berjalan ke arah wanita itu.


" Terimakasih Tante, kami pamit" Lia membungkukkan sedikit badannya tanda hormat. Ia menarik Viona yang tampak tak peduli dengan sekitar.


Lia berjalan keluar gerbang dengan tangan yang menarik Viona. Jujur Lia ingin memaki Viona yang terlihat begitu santai dan bodo amat. Bahkan gadis ini diam saja saat ia menariknya. Tapi Lia tahan karna ingat tempat. Gadis itu segera menelepon John, supir pribadinya yang bekerja di Rainbow Restaurant.


Jarak dari Rainbow Restaurant ke Rumah Lily cukup jauh. Maka dari itu, pasti memerlukan sedikit waktu. Lia segera mencari tempat duduk untuk menunggu sekaligus mengintrogasi Viona yang terlihat aneh.


Lia menarik tangan Viona ke sebuah taman yang ternyata ada di samping rumah Lily. Dengan segera, ia duduk di salah satu kursi yang ada disana. Beruntung tempat ini sepi, sehingga memudahkan Lia untuk berbicara dengan Viona.


" Vi"Panggil Lia tanpa melihat Viona, ia sedang mengirim pesan lada John untuk datang langsung ke taman.


" Hmm" Gadis itu bahkan tak menoleh. Ia menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong.


" Kamu kenapa?" Tanya Lia lembut, melihat kondisi Viona membuat Lia menjadi iba dan tak jadi marah-marah.


Viona menggeleng, ia tetap tak melihat Lia. Bahkan ia mengalihkan pandangannya, dan Lia masih dapat melihat air mata yang jatuh itu.


" Vi, dengerin mbak deh. Kamu itu adik mbak sama Lily. So, apapun itu kamu boleh curhat sama kita. Jadi Viona kamu kenapa?" Lia berusaha menjelaskan agar Viona tak perlu merasa sungkan.


Viona mendongak, matanya sudah merah karna menangis. Ia langsung memeluk Lia dengan erat. Menumpahkan air mata itu di punggung Lia.


Lia menepuk lembut punggung Viona. Ia dalat merasakan gadis itu menangis. Lia juga tak tahu, tapi yang terpenting sekarang Viona harus tenang dulu.


Viona melepaskan pelukan itu perlahan, ia mengelap air matanya dan tersenyum tipis pada Lia.


" Makasih ya mbak" Ucap Viona, ia sekarang sudah merasa lebih tenang.


Lia mengangguk, ia mengelus punggung gadis itu. Memberikannya ketenangan.


" Miss " Panggil John berjalan kearah mereka.


Seketika Viona mengelap sisa air matanya. Ia menundukan kepalanya malu jika John sampai melihat nya.


Lia memberikan isyarat tangan agar pria itu pergi. John yang mengerti langsung pergi setelah membungkukkan badan sedikit.

__ADS_1


"Ayo" Lia merangkul Viona dari samping.


****


" Jadi kalian ke rumah gue?" Tanya Lily terkejut, ia terkejut karna Lia dan Viona yang datang tanpa kabar dan sekarang ia lebih terkejut lagi ketika tahu bahwa Lia dan Viona datang ke rumah mereka.


" Iya tapi wanita itu mama Lo kan? Dia itu kayak cuek banget sama kita. Makanya gue langsung telfon Lo dan langsung pamit dari sana " Ucap Lia sedikit kesal.


" Terus Viona mana?" Tanya Lily yang baru menyadari Viona tidak ada.


" Oh itu tadi pas Lo buka pintu dia langsung ke kamar mandi" Jawab Lia, gadis itu ingin Viona sendiri yang menceritakan masalah nya.


" Oh ya, ceritain dong gimana Dave ngelamar Lo?" Tanya Lia penasaran.


Seketika raut wajah Lily berubah. Ia menundukkan kepalanya. Berusaha menahan air mata yang ingin terjatuh dari mata indahnya.


" Li, kenapa?" Lia memegang pundak sahabatnya itu. Terlihat khawatir.


Lily menghapus air matanya, ia menggeleng. Perlahan, ia menaikkan kepalanya. Membuat Lia terlonjak kaget.


" Lo kenapa?" Tanya Lia khawatir. Ia sungguh tak mengerti dengan hari ini. Kenapa semua sahabatnya menangis?


" Lo tau? gue seneng dan sedih" Ucap Lily tersenyum kecut.


"huh? maksud Lo?" Tanya Lia tak mengerti. Bagaimana bisa sahabatnya ini bersedih padahal ia akan segera menikah.


" Jadi......


Flashback


Siang itu, Lily sedang perawatan di kamarnya. Ia mengoleskan masker wajah agar wajahnya tetap mulus dan glowing. Gadis ini sangat memperhatikan penampilan. Dengan bermain hp, Lily menyenderkan kepalanya.


Namun baru beberapa saat, pintu diketuk. Membuat Lily dengan malas harus beranjak dari sana. Ia keluar kamar dan membukakan pintu. Ada sebuah peraturan di rumah ini. Asisten rumah tangga tak boleh membukakan pintu. Entah apa alasannya, tapi semua orang yang ada di rumah itu mematuhinya.


Lily membukakan pintu dengan sedikit kesal dan dengan masker wajah yang masih menempel di kulit wajahnya. Membuat pria yang datang membulatkan matanya terkejut sekaligus gemas dengan penampilan kekasihnya.


" Cantik banget sih" Puji Dave tepat di telinga Lily. Membuat gadis itu membeku di tempat.


" Dave? Kamu kenapa gak bilang mau kemari? Dan kamu tau dari mana rumah aku?" Lily sedikit panik jika orang tuanya tiba-tiba pulang dan mendapati Dave ada di rumah.


" Loh emang kenapa sayang? Gak boleh? Aku kan mau kenalan sama Calon mertua" Ucap Dave tersenyum lebar.


" Y.. Ya bukan gitu Dave. Tapi kan, eem kamu sia-sia datang kesini. Karna Orang tua aku gak ada di rumah. Iya gak ada di rumah" Jawab Lia gugup. Ia takut Dave tak percaya.


Dave mengangguk, " Yaudah, aku boleh masuk kan" Dave langsung masuk tanpa menunggu jawaban Lily.


" Bentar ya, aku mau cuci muka sama buatin kamu teh" Lily beranjak pergi ke kamarnya.


Dave melihat-lihat ruang tamu itu. Tampak, banyak foto seorang wanita dan Pria yang terlihat sudah tua. Mungkin itu orang tua Lily. Tapi, yang membuat Dave heran adalah, kenapa tak ada foto Lily disana?


Pandangan Dave tertuju pada seorang wanita paruh baya yang meletakan sebuah nampan berisi teh dan beberapa cemilan. Wanita itu tampak menunduk dan langsung pergi tanpa berbicara. Dave hanya menggelengkan kepalanya heran, ia kembali mengamati foto-foto yang ada di ruangan itu.


" Sorry lama ya" Ucap Lily sembari berjalan, gadis itu duduk di samping Dave.


" Eh enggak kok" Jawab Dave memperhatikan penampilan Lily.


" Kenapa? Ada yang salah?" Tanya Lily yang ikut memperhatikan penampilannya.


Dave menggeleng, ia tersenyum tipis. " Cantik banget" Ucapnya jujur.


" Ah kamu bisa aja" Lily mendorong pelan tangan Dave. Ia tersipu malu.


" Emang iya, rasanya wajah kamu tambah cantik dan lebih fresh" Ucap Dave yang dijawab kekehan kecil dari Lily.


" Makanya aku selalu perawatan, supaya kulit aku tetap cerah dan fresh, juga supaya lebih glowing" Lily tersenyum cerah.


" Kamu kayak iklan tau" Dave tergelak kencang ketika menyadari kekasihnya itu seperti sedang beriklan produk kecantikan.


" Ih kamu, aku tuh lagi menjelaskan kenapa selama ini aku selalu perawatan" gerutu Lily menepuk keras lengan Dave.


" Iya-iya, kamu mau perawatan ataupun enggak tetap cantik dan selalu yang terbaik di mata aku" Dave memeluk lengan gadis itu membuat Lily tersipu malu.


" Oh ya, orang tua kamu pulang jam berapa?" Tanya Dave meminum minumannya.


" Emm kayaknya lama deh. Kalo papa dia emang ke Luar Negeri. Jadi dia gak pulang hari ini. Nah kalo Mama, katanya sih tadi ada urusan dan kayaknya sih pulang agak malem-an gitu" Jelas Lily berharap agar Dave mengerti dan segera pulang sebelum orang tuanya pulang.


" Jadi selama ini kamu kesepian di rumah?" Tanya Dave menatap intens wajah Lily.


Lily menggerutu kesal dalam hati, kenapa pria ini malah membahas hal itu sih. Padahal bukan itu poin utama dari maksud Lily tadi.


" Ya gitu deh. Tapi aku seneng loh sendiri di rumah. Aku jadi merasa mandiri dan gak ada yang ganggu" Jawab Lily berbohong, jelas ia kesepian di rumah.


" Oh" Dave pura-pura tak tahu dengan itu. Padahal, dia bisa melihat dengan jelas kesedihan yang terpancar dari mata Lily.


Setelah itu, mereka mengobrol ringan. Bercanda, tertawa, bermesraan, menghabiskan makanan yang ada di meja. Sampai keduanya tak sadar hari sudah mulai sore. Senja mulai menyapa.


" Mommy kamu lama lagi?" Tanya Dave melirik jam di pergelangan tangannya.

__ADS_1


" Emm gak tau sih, tapi kayaknya pulang malam" Jawab Lily sedikit gugup. Ia berharap ucapannya benar.


Dave menghembuskan nafas panjang, ia tersenyum tipis. " Belum saatnya aku jumpa sama orang tua kamu. Jam 5 aku ada meeting penting. Jadi aku harus pergi" Dave berdiri dari duduknya.


" Yaudah ga papa. Kamu hati-hati ya. Aku antar ke depan" Lily juga berdiri dan mengikuti Dave yang berjalan duluan. Dalam hati, gadis itu merasa lega karna Dave pulang sebelum mommy nya pulang.


" Hati-hati" Ucap Lily tersenyum manis sambil melambaikan tangannya.


Dave tersenyum lebar, ia membalas lambaian tangan Lily. Tapi, pria itu tak kunjung pergi. Bahkan ia berjalan mundur demi bisa melihat Lily sampai mobilnya.


" Uda sana balik" Lily tersenyum gemas melihat kekasihnya itu.


" I love you" Dave mendekatkan tangannya ke bibir dan mengecup tangannya kemudian membukanya kearah Lily.


" I love you too" Lily tersenyum manis. Tapi kemudian senyuman itu berubah tatkala ia melihat seorang wanita sedang menatap tajam dirinya.


Dave mengernyitkan dahinya, ia melihat kebelakang. Dave memiringkan kepalanya, mencoba menebak wanita ini. Ha, dia tahu! Ini pasti Ibu Lily. Dengan senyuman lebar, Dave menyalim tangan wanita itu dengan sopan.


Wanita itu tampak bergeming. Ia berjalan dengan acuh. Langkahnya terhenti di depan Lily. "Siapa?" Tanya wanita itu dingin.


Lily melirik kearah Dave. Tampak pria itu terkejut mendengarnya.


" Dia....."


" Saya Dave, calon suami Lily" Jawab Dave berjalan kearah mereka. Pria itu terkejut ketika mendengar wanita ini bisa berbahasa Indonesia.


Alice tampak cuek. Ia berjalan pergi tanpa mengatakan apapun. Membuat Dave terheran-heran membuatnya. Sementara Lily sudah takut akan terjadi sesuatu.


" Dave kamu pulang aja ya " Lily mendorong pelan bahu pria itu. Mendesaknya agar cepat pulang.


"Li, kenapa? Dia siapa? Mama kamu?" Tanya Dave memegang tangan Lily yang terus mendorongnya.


Lily menatap wajah itu. " Nanti aku jelaskan, kamu pulang dulu " Ucap Lily memelas.


" Lily, emang kenapa?" Tanya Dave bingung.


Belum sempat Lily menjawab, Alice berteriak dari dalam rumah. Membuat Lily langsung masuk tanpa peduli pada Dave lagi.


" Iya Mom " Lily menundukan kepalanya. Tak berani menatap mommy nya yang tampak marah. Gadis itu bahkan tak berani untuk duduk.


" Duduk" Pinta Alice dengan nada rendah dan penuh penekanan.


Lily segera duduk, tapi ia masih menundukan kepalanya. Jujur, ini pertama kali untuk Lily dimarahi seperti ini. Tapi dalam hati gadis itu, ia merasa senang. Setidaknya, orang tuanya masih peduli dengannya.


" Kamu pacaran?" Tanya Alice datar.


Lily mengangguk ragu. Ia meremas jarinya di bawah.


" Kenapa tidak izin?" Tanya Alice menaikan satu tangga nada bicaranya.


" Maaf" Ucap Lily pelan.


" Kamu tidak menghargai kami" Alice menatap Lily dengan tatapan aneh.


Lily menoleh secara spontan. Ia sama sekali tidak bermaksud seperti itu.


" Bukan gitu, tapi kita jarang ada waktu buat sama" Ucap Lily kembali menundukan kepalanya.


Alice menghela nafas panjang. " Kamu tahu, seharusnya kamu bersyukur. Kamu hidup enak dengan segala kemewahan yang ada. Sementara dia, dia hidup tersiksa dan akhirnya pergi" Air mata jatuh ke pipi wanita paruh baya itu.


Lily terkejut, siapa yang dimaksud mom nya? Gadis itu mendongak dan semkain terkejut ketika melihat Mom nya menangis.


" Mom, maksudnya apa?" Tanya Lily bingung.


Alice menatap gadis itu, ia sebenarnya tak tega namun karna gadis ini lah ia kehilangan anaknya.


" Kamu sudah besar, kamu berhak tahu yang sebenarnya. Selama ini, kami sengaja tidak membuang mu karena kamu yang masih kecil. Tapi sekarang kamu sudah besar, dan kamu sudah mempunyai calon husband " Alice menatap lekat wajah Lily.


" Maksudnya?" Tanya Lily dengan ragu, Ia takut mendengar sesuatu yang tak mau ia ketahui.


" Puluhan tahun yang lalu, saya melahirkan seorang anak perempuan. Saya bawa dia pulang ke rumah. Tapi ada orang yang menculiknya, entah siapa dia tapi dia mengincar anak kami. Sampai, kami bisa menemukannya di sebuah tempat sampah. Kami langsung percaya itu dia. Tapi saat kamu berusia 7 tahun, kami baru tahu suatu kebenaran. Ternyata, yang kami ambil itu bukan dia, melainkan kamu. Dan anak kami sudah meninggal karna penculikan itu. Kamu tahu, kami tetap mengadopsi kamu meskipun kami tak memberikan kamu kasih sayang " Alice menangis dengan sangat pilu mengingat anak nya yang meninggal dengan sadis karena penculikan itu.


Lily membeku di tempat, ia tak tahu harus bagaimana. Rasanya waktu berhenti, membuatnya tak bisa melakukan apapun. Rasanya, Lily seperti bermimpi. Rasanya, ia seperti jatuh kedalam jurang yang sangat dalam. Air matanya menetes dengan sangat deras ketika ia mencoba untuk mengerti. Jadi ini ternyata alasannya. Ia baru tahu, hatinya sakit, perih, ternyata selama ini mereka bukan orang tuanya.


" Prilly, tolong jangan gunakan nama itu lagi. Prilly Alice Michael, anak kami yang sudah meninggal. Jadi kamu jangan memakai nama itu lagi" Pinta Alice dingin, air matanya terus meluncur bebas ke pipinya yang mulai keriput.


Lily terdiam, ia bergeming. Rasanya sangat sakit. Sampai pandangannya kabur dan ia tak tahu apa yang terjadi setelah itu. Ia hanya mendengar seseorang memanggilnya dengan sangat khawatir.


Flashback off


" Terus?" Tanya Lia ragu, karena dilihatnya air mata yang terus berjatuhan di pipi Lily.


Lily menggeleng, " Gue dibawa sama Dave dan dia belikan gue apartemen ini. Dan ya, dia mau nikahin gue secepatnya, 3 hari lagi " Jawab Lily tersenyum pahit.


" Lo sabar ya" Lia memeluk erat sahabatnya. Ia tak bisa membayangkan jika berada di posisi Lily.


****

__ADS_1


__ADS_2