
" Tok..Tok..Tok..
Pintu ruangan Viona diketuk, Viona berjalan menuju pintu dan membukanya, tampaklah sosok yang setiap harinya datang.
" Iya Tuan? Ada yang bisa saya bantu?" Sapa Viona ramah.
" Saya mau bertemu dengan Fia" Ucap Raffa dengan tegas dan penuh wibawa, sangat berbeda jika bersama Lia.
Viona menunduk takut, namun dia mengumpulkan keberanian nya. " Maaf tuan, Nona Lia sedang tidak bisa diganggu, beliau lelah " jawab Viona sesuai apa yang dikatakan Lia tadi pagi
" Vi nanti kalo Farrel datang jangan kasi masuk ya " Pinta Lia sebelum Ia masuk ke ruangannya.
" Kenapa Nona ?" Tanya Viona heran, biasanya setiap hari Tuan Farrel datang tidak pernah Lia melarangnya.
" Aku lagi sibuk banget, ga bisa diganggu " jawab Lia beralasan.
" Terus kalo Tuan Farrel nanya, saya harus jawab apa ?" Tanya Viona lagi.
" lelah " jawab Lia kemudian masuk ke dalam dan mengunci pintunya.
" Lelah? maksudnya?" lirih Viona bingung.
__ADS_1
Raffa memejamkan matanya, mencoba untuk sabar dan mengerti tentang wanita.
" Saya ingin bertemu dengannya" Balas Raffa kekeh, Ia ingin menjelaskan dan berterus terang pada Fia.
" Maaf tuan tapi saya tidak bisa mengabulkan nya" jawab Viona takut-takut.
" Siapa Vi?" tanya Lily dari dalam, Lily berjalan menuju suara yang menganggu konsentrasi nya.
" Siapa?" bisik Lily pada Viona.
" Tuan Farrel mbak" jawab Viona pelan.
" Oh jadi ini tuan Farrel, anda ingin bertemu dengan Lia, silahkan tuan" Ucap Lily ramah, Ia belum tahu saja jika laki-laki didepannya adalah laki laki yang mempermainkan perasaan sahabatnya.
" Apa ?" Tanya Lily berbisik.
" Mbak Lia gak mau ketemu sama dia" jawab Viona snagqt pelan nyaris tak terdengar.
" Apasih Vi?" tanya Lily agak kuat.
" Tolong beritahu Lia kalau saya ingin bertemu, saya tunggu di taman biasa" Pinta Raffa tegas dan berlaku dari sana.
__ADS_1
" Kenapa sih Vi?" tanya Lily bingung.
" Aku juga gak tau tapi mbak Lia tadi pagi nitip pesen jangan kasi masuk kalo Tuan Farrel datang " Terang Viona masuk ke dalam ruangan nya.
" Kenapa?" tanya Lily heran, ikut masuk dan menutup pintu.
Viona hanya menggeleng, " Aku telfon dulu" jawabnya.
***
Raffa sudah menunggu selama satu jam lebih, namun sosok yang ditunggu-tunggu tidak datang juga. Ia sudah menduga ini sejak awal, namun Raffa juga tidak punya wewenang untuk memaksa Fia.
Jiak Fia tidak juga datang, maka dengan terpaksa pria itu datang ke apartemen Fia yang pasti akan dengan sangat mudah dia mendapat kan alamat nya.
Raffa tahu jika Fia kecewa.Raffa juga tahu seberapa sakit rasa kecewa, karna Raffa sendiri juga pernah merasakan nya. Bahkan sampai saat ini.
Sudah setengah jam lebih Raffa menunggu, tapi Lia juga tidak datang. Raffa mengalah, dia akan datang besok pagi-pagi ke apartemen Lia.
Saat akan pergi dari sana, sebuah suara menghentikan langkahnya.
" Apa lagi?" Tanya Lia dengan nada menantang, menjadi wanita tidak boleh lemah. Atau para pria akan menganggap sepele para wanita. Meskipun tidak smwua pria seperti itu.
__ADS_1
Raffa berbalik, menatap sosok yang Ia cintai duduk dengan anggun di kursi yang Ia duudki tadi. Tidak tampak gurat kekecewaan ataupun kemarahan di wajahnya.
Dengan berjalan mendekati Lia, Rafa berkata. " Aku akan menjelaskan semuanya pada mu, setelah ini semua terserah padamu "