Ternyata Kita Berjodoh

Ternyata Kita Berjodoh
Eps 83


__ADS_3

Matahari menyambut hangat pagi ini. Sinarnya menembus jendela kamar pria yang sekarang juga menjadi kamar istrinya. Di tempat tidur, seorang wanita tengah tertidur lelap degan selimut yang membalut tubuhnya.


" Eemmh " Lia menggeliat, merasakan badannya pegal dan lelah. Ia terdiam masih dengan posisi berbaring. Mengumpulkan nyawa dan semangat untuk memulai pagi ini. Setelah beberapa saat, wanita itu duduk bersandar di ranjang. Menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Tersenyum tipis mengingat kejadian tadi malam.


" Sayang " Pintu terbuka, Raffa masuk ke dalam dan langsung berdiri di depan istrinya.


" Mas, kamu kok ga bangunin aku? " Tanya Lia yang merasa tak enak dengan mertuanya.


" Kamu nyenyak banget. Pasti cape kan, aku ga tega lah. Uda Gapapa, Mama sama Papa maklum kok " Ucap Raffa mengelus pipi Lia lembut.


Lia mengangguk, menarik selimutnya dan beranjak dari posisinya. " Aku mandi dulu ya " ucapnya lalu berjalan pelan ke kamar mandi.


" Eh Mas " Lia langsung berteriak spontan ketika tubuhnya diangkat oleh Raffa. Ia melingkarkan tangannya di leher sang suami dan menyandarkan kepalanya di dada Raffa.


" Makasih sayang " ucap Lia dengan pelan. Malu-malu wajahnya melihat wajah Raffa.


Raffa tersenyum lebar. Cup, satu kecupan mendarat di kening Lia sebelum pria itu pergi. Membiarkan sang istri membersihkan diri sebelum mereka akan mengunjungi Bunda dan Papa Mahendra.


***


" Bunda Lia kangen " Lia memeluk manja bundanya. Ia benar-benar ingin memanfaatkan waktu bersama sang bunda selagi suami dan papa nya berbincang di ruang kerja.


Bunda tersenyum, mengelus kepala anak gadisnya yang sekarang sudah menikah. Wanita dengan tatapan teduh itu memandang lurus ke hamparan bunga di depannya. Taman belakang memang pilihan terbaik untuk mengobrol santai.


" Lia, kamu sekarang sudah menikah. Bunda gak menyangka secepat ini. Rasanya bunda belum banyak waktu sama kamu. Kuliah di luar negeri, waktu pulang ternyata balik lagi. Lima tahun baru pulang ke sini. Terus kamu nya sibuk sama Resto dan kerjaan kamu. Dan sekarang, kamu Uda nikah sayang. Sama sekali bunda ga nyangka secepat ini. Bunda seneng, seneng banget kamu diberikan jodoh sebaik Raffa " Masih dengan tangan yang mengelus kepala anaknya dan pandangan lurus ke depan. Sesekali tersenyum mengingat momen mereka.


" Bun.. " Lia memperbaiki posisinya menjadi duduk. Ia menatap Bunda dan memeluk wanita yang sangat berarti baginya. Rasa bersalah hinggap di hati Lia mendengar curhatan bunda. Memang benar, ia jarang mempunyai waktu bersama Bunda semenjak kuliah.


" Sekarang kamu sudah menikah. Artinya kamu sudah menjadi tanggung jawab penuh suami mu. Bukan hanya itu, artinya juga kamu mempunyai tugas sebagai seorang istri. Jadi kamu harus patuhi suami mu. Di dalam rumah tangga, pertengkaran itu hal yang lumrah. Tapi di usahakan hindari itu. Keterbukaan dan kejujuran adalah kunci utama dalam sebuah komitmen bernama rumah tangga. Bunda harap kamu bisa menjadi istri yang baik untuk suami mu. Lia, berumah tangga itu banyak resiko nya. Banyak hal yang harus kamu lewati, kamu jalani. Salah satunya adalah keluarga sang suami. Sekarang mereka keluarga mu. Jangan ada prioritas. Karena kedua keluarga itu utama untuk kamu dan Raffa. Duri dalam pernikahan itu mungkin akan banyak. Maka dari itu kamu harus siap dan berpikir dewasa. Jangan menjadi api untuk bara. Jadilah air untuk api. Bunda yakin kamu bisa melewati semuanya " Bunda tersenyum pada Lia dan langsung memeluk anaknya itu. Menumpahkan kerinduan yang mendalam. Air mata tak dapat di hindari keluar dari netra teduh wanita yang di panggil Bunda oleh Lia.


" Maafin Lia ya Bun. Lia kurang ada waktu sama bunda " Lirih Lia dalam dekapan Ibunya. Matanya berkaca-kaca. Akhirnya runtuh karena mendengar suara tangisan sang Ibu.


Kedua wanita berbeda generasi itu saling menumpahkan air mata dalam pelukan rindu. Menangis untuk menguatkan. Ibu mana yang tidak sedih anak perempuan semata wayang sudah menikah dan akan tinggal bersama suaminya. Bukannya tidak ikhlas, tapi hanya ingin berterus terang jika ia belum bisa menerima jauh dari sang anak. Sebisa mungkin bunda bersikap dewasa dan kuat. Meskipun hatinya terasa sakit dan pilu. Bertahun-tahun lamanya, mereka berpisah. Meskipun sesekali Lia datang, tapi tetap saja rindu tak tertahankan.


Momen haru mereka harus selesai karena suara langkah kaki mendekat. Lia maupun Bunda melepaskan pelukannya dan menghapus air mata mereka.


" Loh ini pada kenapa ini. Kok melow semua " Mahendra yang baru datang langsung duduk di samping istrinya.


" Loh sayang kamu kenapa? " Tanya Raffa pelan saat melihat mata Lia yang sedikit sembab seperti habis menangis.


Lia menggeleng, tersenyum tipis dan menggenggam tangan Raffa.


" Jadi kalian mau honeymoon besok? ". Tanya Mahendra menatap pengantin baru itu.


Lia tersenyum malu, sementara Raffa mengangguk. " Kita disana satu Minggu Pa " ucap Raffa sebelum ditanya. Takutnya nanti Papa mertuanya malah memandang buruk dirinya jika menjawab singkat saja.


Mahendra mengangguk, " kemana? " Tanya Mahendra yang sebenarnya ingin memberikan kado pernikahan mereka tiket berbulan madu. Tapi terlambat karena sepertinya menantunya itu sangat gercep.


Raffa melirik Lia, lalu tersenyum tipis. " Itu sebenarnya kejutan sih Pa. Jadi masih rahasia " melirik Lia yang tampak bingung dengannya.


" Oh iya-iya " Mahendra tertawa di susul tawa istrinya.


" Kalian nginap kan? " Tanya Bunda penuh harap.


Lia menatap suaminya. Ia berdehem pelan sebelum menjawab. " Lia terserah mas Raffa aja Bun " jawab Lia dengan senyum manisnya.


Berganti Bunda menatap Raffa. Raffa tersenyum tipis dan mengangguk. " Kita akan nginap Bun "

__ADS_1


" Alhamdulillah " Bunda tersenyum manis. Sebenarnya kalau bisa memilih, ia ingin anak dan menantunya tinggal bersama mereka. Tapi mau bagaimana, sekarang anaknya sudah menikah. Dan sekarang anaknya wajib mengikuti suaminya. Jadi sebagai ibu, bunda tidak bisa melarang selagi itu hal baik.


" Yaudah, bunda buat makan siang dulu ya " seru bunda semangat. Sudah berdiri dan ingin ke dapur. Tapi Lia langsung berdiri mencegah bunda.


" Lia aja Bun. Mending bunda istirahat. Lia pengen masak untuk kita semua. Menu spesial " Lia tersenyum dan langsung ke dapur untuk memasak.


" Bun, Pa, saya ke dapur dulu ya. Mau bantuin Lia " Raffa tersenyum dan pergi ke dapur. Dilihatnya Lia sedang mengiris bumbu dapur. Pria itu tak bisa menahan senyum dan mendekati istrinya. Tangannya langsung melingkar di pinggang Lia.


" Mas, ngapain kesini " ucap Lia santai. Tidak ada wajah terkejut ataupun nada bicaranya yang terkejut. Jelas saja, karena tadi ia sudah melihat Raffa yang berjalan mendekat.


" Mas mau bantuin kamu sayang " Raffa meletakan kepalanya di pundak istrinya.


Lia tersenyum, berbalik dan menangkup wajah Raffa. Ia tersenyum manis dan memberikan kecupan kecil di pipi Raffa.


" Kalo bantuin nya meluk aku gitu, mending mas duduk aja deh. Nanti yang ada aku ga bisa fokus. Karena Suami tercinta gangguin Mulu ih " Mata Lia berkedip nakal dan tertawa terbahak-bahak. Ia melanjutkan memasaknya dengan riang. Melirik suaminya yang berjalan ke meja dapur. Wanita itu tak bisa untuk tidak terus tersenyum. Rasanya bahagia sudah, sesederhana itu.


Drtt.. Drtt..


" Sayang, aku angkat dulu ya " Lia mengangguk. Meneruskan kegiatan memasaknya dengan cepat. Ia cukup cekatan di dapur. Masakannya juga enak.


Tak berapa lama, Raffa kembali dengan tergesa-gesa dan raut wajah khawatir. Lia yang melihatnya langsung mematikan kompor dan membawa piring berisi masakannya ke meja makan. Ia segera menemui suaminya yang sudah menunggu Lia di meja dapur.


" Mas kenapa? " Tanya Lia cemas melihat raut wajah suaminya yang panik.


" Mama masuk rumah sakit. Ayo kita ke sana Sa " Raffa langsung menarik Lia yang bingung ke taman belakang.


" Bun, Pa, saya sama Lia pamit dulu. Mama masuk rumah sakit " Raffa menyalim tangan Bunda dan Papa dengan tergesa-gesa. Ia langsung menggandeng Lia ikut setelah istrinya mengambil tas.


" Mas mama kenapa? " Tanya Lia cemas. Iya tidak bisa duduk diam selagi suaminya menyetir menuju rumah sakit.


" Mas gak tau sayang, kamu tenang dulu. Mas ga bisa fokus nanti " Ucap Raffa tanpa menoleh.


Lia mengangguk, langsung menggeser tombol hijau dan mendekatkan ponsel itu ke telinganya.


" Hallo Raf, kamu dimana? "


" Hallo Pa, ini Lia. Kami lagi di jalan menuju rumah sakit. Mama gimana keadaannya? " Lia melirik suaminya yang terlihat sangat khawatir.


" Alhamdulillah, Mama baik-baik saja. Ini baru sadar, kalian hati-hati. Bilang sama suami mu pelan-pelan saja. Jangan buru-buru, Raffa itu kalau sudah panik suka lupa keadaan " Lia tersenyum, lega karena mertuanya baik-baik saja.


" Iya Pa, Lia bilangin nanti " jawab Lia dengan senyum tipis.


" Yaudah, nanti lagi ya. Assalamualaikum "


" Waalaikumsalam " Jawab Lia memberikan hp nya ke Raffa. Dengan wajah manis ia berkata, " Mas kamu tenang ya. Mama baik-baik aja. Baru aja sadar " Lia mengelus tangan suaminya. Berusaha menenangkan.


Raffa menghela nafas lega, ia merubah ekspresi wajah nya menjadi tenang dan tersenyum sesekali menoleh ke Lia.


***


" Ma, gimana keadaan mama sekarang? " Tanya Raffa dengan wajah yang lebih tenang.


" Iya ma, mama baik-baik aja kan? " Sahut Lia yang baru masuk ke dalam ruang rawat. Ia duduk di sisi kiri sementara suaminya duduk di kanan.


Mama tersenyum, mengangguk meskipun masih lemah. Tangannya meraih tangan Raffa dan Lia lalu menggenggamnya.


" Mama seneng kalian sudah menikah. Mama bahagia punya mantu seperti Lia. Mama Uda tenang "

__ADS_1


" Ma, ngomong apa sih " sanggah Raffa kesal. Hingga ia menarik tangannya secara spontan.


tersenyum lalu menggeleng, mama kembali berucap. " Mama tadi jatuh di kamar mandi. Uda enakan kok, gapapa. Kalian gausah khawatir gitu " Wanita bernama Emily ini mengambil tangan Lia dan Raffa.


" Mama cuma minta cucu sama kalian. Bisa kan? Mama pengen sekali menimang cucu Mama. Kalian bisa kan mengabulkan permintaan Mama? "


Lia menghela nafas pelan, Ia mengangguk dan tersenyum. Dalam hati ia sebenarnya gelisah. Takut jika permintaan mertua tidak bisa ia kabulkan dalam waktu dekat.


" Makasih ya " Netra wanita paruh baya itu mulai tertutup dengan lemah. Seketika ruangan menjadi heboh.


" Ma, ma bangun Ma. Jangan nakutin aku Ma " Raffa terus menggoncang lengan mamanya dengan wajah yang sangat panik. Ia langsung berteriak memanggil dokter sementara Lia menangis dan terus membangunkan Mama.


" Dokter! Dokter! Dokter cepat dok!!! " Berulang kali memencet bel dengan pandangan nya yang fokus ke arah Mama.


" Ma, jangan buat kami takut Ma. Ma, sadar ma " Lia mengguncang tubuh mertuanya dengan tangan bergetar. Sama sekali tak menyangka apa yang akan terjadi nanti.


Dokter langsung masuk ke dalam dan menangani pasien. Sementara seorang suster menyuruh Raffa dan Lia keluar.


" Maaf Pak, Bu, silahkan tunggu diluar " Ucap suster tersebut ramah. Ia menunjuk pintu keluar dan mendorong pelan kedua pasangan itu.


" Sus tolong selamatkan Mama saya Sus " Pinta Raffa dengan air mata yang terus mengalir.


Suster mengagguk, langsung masuk ke dalam dan menutup pintu. Masih dengan air mata yang mengalir, Lia berjalan mendekati suaminya yang duduk di bangku rumah sakit.


" Mas, kamu sabar ya. Mama pasti baik-baik aja " Lia mengusap-usap lengan Raffa agar tenang. Meskipun hatinya juga gundah, tapi Lia sangat yakin jika saat ini suaminya itu sangat terpuruk.


Sesaat kemudian, pria itu mengambil hp nya dengan tergesa. Menelpon orang yang harus tahu keadaan sang Mama. Raffa menjauh, terdengar berbicara dengan nada lemah. Beberapa saat kemudian, ia kembali dan mendudukkan tubuhnya di bangku tadi. Langsung memeluk istrinya yang juga menangis.


" Sabar ya sayang, mama pasti baik-baik aja " Lia mengelus punggung Raffa yang bergetar karena terisak.


***


Suara langkah kaki terdengar begitu jelas di lantai 3 ini. Seorang pria paruh baya datang dengan wajah khawatir dan tegang. Ia langsung menghampiri anaknya yang terduduk di bangku.


" Raffa, gimana keadaan mama kamu? " Tanya Papa Raffa mendesak. Ia mengguncang pundak anaknya agar cepat menjawab.


" Dari 5 menit yang lalu dokter belum keluar " Jawab Raffa dengan suara lemah. Tak sanggup membayangkan kejadian berikutnya yang mungkin akan terjadi.


" Mas ini aku bawain kopi. Eh Papa " Lia berjalan cepat dan menyalim tangan mertuanya. Ia duduk di samping suaminya dan memberikan plastik berisi satu cup kopi yang dibeli di kantin oleh Lia.


" Aku ga ingat beliin Papa. Papa mau aku beliin Kopi? " Lia sudah berdiri. Bersiap ingin pergi ke kantin untuk membelikan minuman bernama kopi untuk Papa mertua.


Baru saja hendak menjawab, dokter keluar membuat Papa langsung berdiri menemui dokter.


" Gimana dok keadaan istri saya? " Tanya Papa harap-harap cemas. Melihat ekspresi dokter membuatnya takut terjadi sesuatu.


" Bu Emily hanya pingsan. Itu diakibatkan pikiran yang banyak. Mungkin Bapak bisa bicara nanti sama Bu Emily untuk tidak berpikir keras dulu saat ini. Saya permisi "


Papa bernafas lega. Ia segera masuk ke dalam ruang rawat istrinya untuk melihat kondisinya.


" Alhamdulillah sayang, Mama baik-baik aja " Raffa memeluk Lia dengan erat. Bersyukur karena mama nya hanya pingsan dan akan segera membaik.


" Iya Mas, aku seneng Mama baik-baik aja. Yaudah kita masuk yuk " Lia melepaskan pelukannya dan menggandeng tangan Raffa.


" Sayang tunggu " Raffa menarik tangan Lia hingga Lia menghentikan langkahnya dan menatap suaminya dengan gemas.


" Apa sayang ku? " Tanya Lia dengan senyum semanis gula.

__ADS_1


" Kita ke kantin aja. Beliin Papa makanan juga untuk kita. Lagian, aku rasa Papa butuh waktu berdua sama Mama. Jadi kita ke kantin aja yuk " Raffa menggandeng tangan istrinya menuju kantin.


***


__ADS_2