
Raffa mengikuti Rizky dari belakang. Ia berjalan dengan santai seolah itu tak masalah. Tidak ada yang menyadari bahwa seorang Tuan Farrel ada disana. Pria itu mengedarkan pandangannya menatap sekitar. Ia tak melihat Fia ataupun teman gadis itu.
Raffa kembali memperhatikan sekitar. Dia melihat Rizky sedang berbicara dengan seorang wanita yang mungkin Bunda Fia. Wanita itu tampak memunggunginya. Raffa tak bisa melihat wajahnya.
Dan saat Rizky dan wanita itu pergi, Raffa mengikutinya. Ia dapat melihat interaksi dua orang itu. Tapi, Ia masih belum bisa melihat wajahnya karna posisi wanita itu yang membelakanginya.
Dan saat wanita itu menanyakan kepada asisten nya. Raffa berjalan dan menjawab.
" Selamat siang Tante, Saya Far-" Raffa membeku di tempatnya. Ia menatap dengan lekat seolah ingin memastikan penglihatannya.
Saat Raffa ingin menyebutkan namanya, wanita itu berbalik. Wanita yang tentu sangat Ia kenal. Meskipun sudah lama tak berjumpa, tapi Raffa tentu masih mengingat dengan jelas.
Sama hal nya dengan Raffa, wanita itu juga diam ditempat. Menatap lekat pria yang kini tampak berbeda. Pikirannya kosong.
Semua orang tiba-tiba menyita perhatian mereka ketika salah seorang dari mereka menyadari keberadaan CEO besar di kota ini ada disini.
Semua orang, termasuk Lia dan Lily. Mahendra segera berjalan kesana karna Ia belum melihat dengan jelas wajah pria yang menjadi perhatian semua orang.
Mata Mahendra membulat. Dengan cepat, Mahendra memeluk Raffa dengan erat. Menepuk bahunya dengan sedikit keras.
Raffa hanya diam saja, tak tahu harus berbuat apa. Pikiran di otaknya seakan terputus. Ia tak bisa berpikir.
Lia berjalan dengan cepat membelah kerumunan orang yang melihat hal itu. Lia mengernyitkan dahinya bingung dengan ini semua.
Lia berjalan kearah Bundanya, Ia membulat kan mata ketika menyadari siapa pria itu.
Dengan cepat, gadis itu berjalan kearah mereka dan menarik lengan papanya. Pelukan itu terlepas. Semua orang menatap kearah mereka. Para wartawan yang disediakan untuk menanyai mereka malah meliput kejadian itu.
" Kamu ngapai?" Tanya Lia berbisik.
Raffa hanya diam. Pikirannya buntu. Ia tak bisa berpikir secara jernih sekarang. Yang ada dipikirannya hanyalah siapakah gadis didepannya.
" Pa, ini ada apa?" Lia berganti bertanya pada papanya. Ia sungguh bingung. Sejak kapan papanya mengenal pria ini. Bahkan mereka berpelukan tadi.
Papa menggeleng. Ia melihat sekitar. Mahendra menghela nafas panjang.
" Pa ini kenapa?" Desak Lia mengguncang tangan Papanya. Ia sungguh bingung sekarang.
" Ayo Lia kita-"
" Pa jelasin" Lia tak membiarkan papanya membawanya dari sana. Gadis bahkan tak perduli pada sekitar. Ia hanya sangat penasaran dengan ini semua. Karna Farrel adalah temannya dan bagaimana mungkin orang tuanya mengenal baik dirinya.
" Bunda" Lia beralih pada bundanya. Ia menatap wajah wanita paruh baya itu.
Lia memejamkan matanya menahan kesal, kenapa semua orang hanya diam saja. Lia menghela nafas panjang. Gadis itu pergi dari sana.
__ADS_1
" Dimana dia?" Tanya Raffa dengan penuh harap. Pikirannya langsung memikirkan gadis yang Ia cintai itu.
Lia menghentikan langkahnya. Ia terdiam di tempat. Masih mencerna semuanya.
Papa diam begitupun dengan Bunda. Mahendra sudah sangat ingin menarik anak dan istrinya pergi dari sini. Tapi, itu akan merusak acara ini. Jadi, dia harus meluruskan semuanya.
" Dia ada disini" Papa menegakkan kepalanya menatap lekat wajah Raffa, pria yang dicintai anaknya dulu.
Raffa mengedarkan pandangannya, melihat ke segala arah. Mempertajam matanya guna menemukan sosok yang sangat Ia cintai itu.
" Dimana" Lirih Raffa dengan tak sabar.
" Siapa" Lia angkat bicara, gadis itu sudah sangat muak dengan situasi ini. Kenapa tidak langsung saja.
Raffa memfokuskan pandangannya pada Fia. Gadis yang mempunyai acara ini. Tunggu, tiba-tiba pikiran pria itu terhubung. Jika gadis ini yang mempunyai acara, lalu orang tua Lia yang ber ulang tahun. Maka berarti.....??
Lia Mengerutkan keningnya bingung dengan semua manusia yang ada disini. Semuanya hanya diam. Para tamu pun hanya diam dengan menatap mereka. Para wartawan sibuk meliput kejadian ini tanpa berbicara. Lia menggeleng-gelengkan kepalanya menatap semua orang termasuk Papa dan Bundanya.
" Ini sebenarnya ada apa?" Tanya Lia dengan pelan dan penuh penekanan. Ia sungguh sedang menahan rasa kesalnya.
Bunda berjalan dengan cepat kearah anaknya. Ia baru tersadar dari pikirannya.
" Ayo " Bunda menarik tangan anak nya pergi dari sana.
Lia memegang tangan Bundanya, mencegah wanita itu membawanya pergi.
Mahendra segera memberi isyarat mata kepada asisten nya yang ada di pojokan mengawasi bos nya. Dengan cepat, asisten yang menyamar menjadi satpam itu membubarkan kerumunan yang ada.
Mahendra segera pergi dari sana mengikuti istri dan anaknya. Sebelumnya, Ia menatap wajah Raffa. Mahendra mengangguk, Ia langsung pergi dari sana.
***
" Bun, bunda kenal sama Farrel?" Lia mencoba bertanya karna rasa penasarannya sudah sangat besar sejak tadi di acara itu. Mereka pulang lewat pintu belakang. Sebelumnya, Lia sudah mempercayakan Viona untuk mengurus acaranya. Bukan tanpa alasan, tapi karna Bundanya yang mendesaknya.
Bunda berbalik, Ia melihat anaknya yang terlihat sangat penasaran. Wanita paruh baya itu tersenyum kecut, ia tak mau hati anak gadisnya kembali sakit.
" Kita bahas dirumah" Mahendra yamg sedang menyetir langsung angkat bicara ketika melihat istrinya yang bingung ingin menjawab apa.
" Oke" Jawab Lia malas, Ia menyenderkan kepalanya. Pikirannya berkelana, apa yang tadi dibicarakan Farrel pada ibunya. Lia menghela nafas panjang. Gadis itu mengambil hp nya untuk menghilangkan sebentar rasa penasarannya.
Lia membulatkan matanya. Ia berdecak kesal, bagaimana bisa berita ini muncul secepat ini. Lia menggerutu dalam hati. Kenapa tadi Ia tak mengingat para wartawan itu.
Bunda menoleh, " Kenapa? " Tanya Bunda khawatir terjadi sesuatu pada anaknya.
" Berita nya muncul" Jawab Lia sembari menunjukan Hp nya.
__ADS_1
Bunda mengambil hp Lia dan langsung membacanya. Ia membuang nafas kasar.
" Biar Papa urus" Sahut Papa yang tahu kegelisahan istri dan anaknya itu.
" Thank you" Lia tersenyum simpul, Ia kembali menyenderkan kepalanya.
****
" Jadi, tolong jelaskan" Pinta Lia tegas, Ia tak mau harus menunggu lebih lama lagi penjelasan ini. Mereka sudah sampai di rumah dan hadis itu segera duduk di ruang tengah untuk mengintrogasi Papa dan Bundanya.
Bunda melirik suaminya, minta izin dan pendapat melalui isyarat mata. Mahendra mengangguk, menyembunyikan hal ini juga tak ada gunanya.
" Kamu kenal sama pria tadi" Memulai dengan bertanya.
Lia mengernyitkan dahinya heran, kenapa bundanya malah balik bertanya. Tapi Ia tetap menjawab. " Iya" Jawab Lia dengan tidak sabaran.
" Siapa" Bunda menatap Lia dengan lekat.
Lia berdecak kesal, Ia sangat lelah berbicara. Lebih tepatnya malas. Kenapa harus muter-muter.
" Teman" jawab Lia dengan malas.
" Namanya?" Tanya bunda masih dengan menatap anaknya. Melihat setiap ekspresi yang dikeluarkan oleh anaknya itu.
" Bunda pliss" Lia memohon dengan raut wajah yang memelas. Ia sangat capek menanggapi ini.
" Oke oke " Bunda mengangguk yakin, Ia menarik nafas dalam sebelum memulai.
" Pria tadi, Bunda kenal. Papa juga kenal, bahkan kamu pun kenal " Menarik nafas sebentar sebelum melanjutkan ucapannya.
" Dia Raffa" Ucap Bunda dalam satu tarikan nafas. Ia menatap wajah anaknya, memastikan anaknya baik-baik saja.
" Huh?" Lia langsung menegakkan tubuhnya. Apa ia tak salah dengar? Pria tadi,,,Raffa??? Sulit dipercaya.
" Bun, Pa, kok diem? Jawab Lia"Ucap Lia dengan tak sabar.
" Lia, dia Raffa. Kamu masih ingat kan? Ya dia pria itu" Jawab Papa dengan menatap lekat wajah putri nya.
" Huh? " Lia masih belum bisa mempercayai itu. Otaknya seakan buntu untuk mencerna semuanya. Gadis itu segera pergi dari sana setelah mengatakan nya pada orang tuanya.
" Aku ke kamar"
****
...Jangan lupa komen ✨...
__ADS_1
...Love you all♥️✨...