Ternyata Kita Berjodoh

Ternyata Kita Berjodoh
Eps 85


__ADS_3

Lia tersenyum tipis, memandang kedua wanita yang menjadi sosok Ibu untuknya. Kedua wanita yang berbeda namun sama. Hatinya terasa teduh melihat Bunda dan Mama mengobrol dengan begitu akrabnya. Sementara Papa sedang membelikan makanan untuk mereka di kantin. Lia duduk di sofa pojok ruangan. Sementara suaminya menyender di pundaknya dengan mesra. Sesekali Lia mengusap rambut Raffa dengan sayang.


" Mas, kamu ngapain sih? " Tanya Lia mendekatkan wajahnya ke wajah Raffa agar bisa melihat kegiatan yang dilakukan suaminya di hp sedari tadi.


Raffa segera menarik hp nya dan wajah Lia yang sangat dekat langsung ia tarik dan,


Cup.


" Ekhem "


Lia langsung menarik wajahnya. Sungguh ia terkejut dengan aksi Raffa. Tapi ia lebih terkejut lagi dengan suara seorang pria yang ia yakini Papa nya. Wajah Lia sudah memerah, sangat malu. Diliriknya Raffa, suaminya itu sudah duduk tegak tapi masih menempel padanya. Lia hanya bisa bermain hp berpura-pura sibuk.


Mahendra tersenyum melihat adegan romantis antara anaknya dan menantunya. Lega rasanya jika melihat pria yang mengistimewakan anaknya. Ia masuk ke dalam ruangan dengan pelan. Berpura-pura tak tahu apapun padahal tadi ia berdehem dan Mahendra yakin, Lia mengetahui keberadaannya.


" Lia, ini makanannya " Mahendra memberikan bungkusan plastik pada Lia. Karena ia segan bila harus meletakkannya di nakas samping tempat tidur.


Lia berdiri, mengambil bungkusan itu dan melihat isinya. Aroma kuah soto yang dibungkus plastik membuatnya selera. Ia mengambil satu porsi nasi yang dibungkus kotak makan berwarna putih. Dan mengambil satu bungkus kuah sotonya. Lia meletakan plastik itu di atas nakas dan berjalan menuju sofa.


" Mas, temenin aku makan yuk " Ajak Lia masih dengan posisi berdiri dan tangan yang memegang kotak nasi dan kuah soto.


Raffa mendongak, terkejut mendengar perkataan istrinya dan lebih terkejut lagi melihat kotak nasi di tangan Lia. Ia tersenyum dan mengangguk. Mereka berjalan pelan tanpa pamit. Hanya di taman rumah sakit, udaranya sejuk meskipun masih di kawasan rumah sakit.


" Kamu ga makan Mas? " Tanya Lia sembari membuka makanannya. Lia langsung menuangkan kuah soto ke dalam kotak nasinya. Ia mengambil sendok yang ada di dalam kotak dan membuka plastiknya. Setelah itu, Lia langsung menyendokan satu suap besar nasi kuah soto dengan suiran ayam yang sudah di goreng.


Raffa menggeleng, menatap istrinya lekat. Heran kenapa Lia makan seperti ini. Biasanya Lia akan makan dengan tenang dan anggun. Tapi hari ini, berbeda.


" Mas tolong beliin minum dong " Lia membereskan makanannya dan membuangnya di tempat sampah tak jauh dari mereka.


" Yaudah, mau minum apa? "


" Es jeruk aja. Makasih ya sayang " Lia memeluk manja Raffa. Sedetik kemudian ia melepaskannya dan berdiri dari duduknya.


" Yaudah ayo cepetan " Ajak Lia mendesak. Tangannya sudah menarik Raffa yang masih duduk hingga berdiri kebingungan.


" Tadi dia minta tolong beliin. Tapi kenapa dia ikut? " gumam Raffa dalam hati.


***


" Buk, es jeruk nya satu ya " pesan Lia pada Ibu kantin rumah sakit. Ia duduk kembali setelah mendapatkan anggukan dari Ibunya.


" Udah? " Lia mengangguk, duduk di samping Raffa dan menempel bak prangko.


" Mas itu siomay? " Lia langsung berdiri ketika melihat penjual siomay di luar rumah sakit. Wanita itu segera berjalan keluar dari gerbang samping yang memang di sediakan khusus untuk pembeli makanan di kantin.


" Bang beli! " teriak Lia seraya berlari mengejar Abang tukang siomay.


Abang siomay yang memakai topi berwarna cream itu berbalik. Lantas berjalan mendekat ke arah mbak yang mau membeli dagangannya.


" Berapa bang satu porsi? " Tanya Lia antusias.


" 10.000 neng "


" Lima porsi ya " Lia langsung duduk di kursi yang di bawakan abangnya. Ia tersenyum cerah membayangkan rasa siomay itu.


" Huh, serius Neng? " Tanya Abang penjual siomay kaget. Jarang-jarang ada yang membeli hingga lima porsi. Biasanya juga paling banyak dua porsi.


" dua rius atuh bang " sahut Lia tertawa kecil. Matanya mengedarkan pandangan ke sekitar. Jalanan sepi, wanita itu kemudian teringat dengan suaminya. Ia langsung berdiri dan celingukan berusaha melihat Raffa dari pagar kantin.

__ADS_1


" Ditunggu ya, sebentar " Lia tak menjawab, ia mengambil hp nya dan menelepon Raffa.


" Kamu dimana? " Lia membeku, suara Raffa sudah mode dingin nan tegas. Wanita itu berdehem pelan sebelum menjawab.


" Sayang, aku lagi beli siomay di depan. Kamu kok ga nyusul aku? " Lia berkata dengan mode manja. Kalau keadaannya biasa saja, wanita itu akan sangat malu. Tapi kalau mendesak begini, jurus andalan harus keluar.


Terdengar helaan nafas dari Raffa, " Kamu tunggu disana, jangan kemana-mana "


Tut.. Tut..


Lia menggelengkan kepalanya melihat panggilan yang sudah mati. Ia memasukan hp nya ke dalam tas sambil bergumam pelan.


" Ini neng, totalnya 50.000 ya " Lia tersenyum puas, mengambil plastik berisi siomaynya dan merogoh uang di tas nya.


" Makasih ya bang " Lia memberikan uang 50.000 dan tersenyum manis sebelum ia berjalan pergi karena segan jika berada disana terus. Dari kejauhan, tampak suaminya datang dengan plastik di tangannya.


" Mas, itu apa? " Tanya Lia heran, tangannya menunjuk bawaan Raffa.


" Jus Jeruk " jawab Raffa singkat, langsung memberikannya pada Lia tanpa banyak bicara.


Sementara Lia hanya berdecak kesal, ia mengambil jus pemberian Raffa dan mencari tempat duduk yang nyaman.


" Kalo kamu mau balik ke ruangan mama, gapapa kok. Aku disini aja, mau makan " Nada bicaranya sudah berubah, terkesan ketus. Lia langsung berjalan kembali ke taman rumah sakit tempat mereka makan tadi. Wanita itu mendudukkan dirinya dan membuka plastik siomay setelah meletakan plastik jus disampingnya.


" Emmmh harum " Lia menghirup aromanya dalam-dalam, selera makannya semakin meningkat dan langsung saja wanita itu memasukan siomay ke mulutnya satu persatu sampai satu porsi habis.


Lia mengambil jus nya dan memasukan sedotan ke dalam cup bening berisi Jus jeruk. Langsung di sedotnya dengan rakus sampai habis setengah.


Sementara Raffa menghela nafas di sampingnya. Pria itu berdiri dengan tatapan datar. Sungguh heran dengan sikap dan tingkah laku istrinya yang berbeda jauh dari karakternya. Sejak pulang dari Luar Negeri, Raffa melihat perubahan besar pada diri Lia. Sikapnya dewasa dan bisa menyelesaikan masalah tanpa berbuat masalah. Tingkah lakunya sopan dan sangat menjaga. Pribadinya baik dan ramah namun tegas saat bekerja. Tapi hari ini, Lia makam tanpa mengajak yang lain makan. Ia meminta Raffa membelikan minuman. Saat di kantin, Lia pergi begitu saja saat melihat tukang siomay lewat. Dan sekarang, ia mengusirnya dan makan dengan tenang tanpa menawari atau sekedar berucap.


Raffa langsung mengangkat telepon yang masuk, sedikit menjauh agar bisa mendengar dengan jelas suara di balik telepon.


" Assalamualaikum nak Raffa "


" Waalaikumsalam bunda " Raffa tersenyum tipis. Suara lembut bunda mampu membuat mood nya sedikit baik.


" Kalian dimana, ini kita mau pulang. Lia bunda telfon ga diangkat "


Melirik Lia, pria itu menjawab, " Tadi Lia ngajak makan Bun. Katanya lapar, segan makan disana. Ini masih makan. Bunda mau pulang? Kami segera kesana ya "


" Iya nak Raffa, kami mau pulang. Mama kamu juga mau pulang, sudah di bolehin dokter dan ini lagi siap-siap "


" Oh gitu Bun, iya-iya saya sama Lia langsung kesana ya. Makasih ya Bun "


" Iya nak, yaudah ya. Assalamualaikum "


Raffa segera berjalan ke arah Lia. Dilihatnya istrinya itu sudah selesai makan dan sedang duduk selonjoran.


" Lia, kita balik ke ruangan Mama. Hari ini mama pulang. Ayo cepet, nanti keburu pulang " Pinta Raffa menarik tangan Lia yang masih duduk.


" Bentar mas, aku masih kenyang banget " keluh Lia menarik tangannya.


Menghela nafas, pria itu melepaskan tangan Lia dan duduk di samping istrinya itu.


" Sayang, mama mau pulang sekarang, lagi siap-siap. Gak enaklah kalau kita ga disana " terang Raffa memberi pengertian.


" Yaudah ayo " Langsung berdiri, Lia menarik tangan suaminya dan menggandengnya menuju ruangan mama.

__ADS_1


Raffa hanya tersenyum tipis dan mempererat gandengan tangannya.


***


" Sayang, mama seneng banget bisa cepet-cepet pulang " seru Mama dengan senyuman lebar. Ia menyandarkan punggungnya di sofa.


Lia tersenyum, " Alhamdulillah Ma. Aku juga seneng Mama Uda baikan "


" Oh ya, suami kamu kemana? " Tanya Mama heran. Karena sedari tadi, setelah mereka sampai di rumah, Raffa sama sekali tidak terlihat. Hanya ada Lia yang menemaninya sementara suaminya ada di ruang kerja.


" Mungkin di kamar atau di ruang kerja Ma.. " jawab Lia ragu. Karena ia sendiri juga tak tahu dimana Raffa sekarang.


Mama mengangguk, matanya menatap Lia dengan hangat. Wajah cantik, otak cerdas, perilaku sopan, sikap lembut, sungguh ia beruntung memiliki mantu seperti Lia.


" Mama kenapa liat aku gitu " Lia tersenyum malu dan tertawa kecil. Ia berdiri dari duduknya dan menatap Mama.


" Mau minum apa? "


Mama lagi-lagi tersenyum, " gausah sayang " tolaknya lembut.


" Gapapa Ma, Lia juga mau minum kok. Mama mau teh jahe aja? " Tawar Lia menunjuk dapur.


" Yaudah kalo anak mama ini maksa, mama teh aja. Kalo kamu mau cemilan, ada di lemari. Ambil aja sesuka kamu "


Lia tersenyum dan mengangguk. Melangkahkan kakinya menuju dapur dengan cepat. Karena sedari tadi ia sangat haus sehabis minum jus jeruk tanpa air putih.


***


Cahaya hangat menerpa wajah Lia yang sedang bersantai di balkon kamar. Ia duduk di bangku empuk dengan kaki yang di silangkan. Di matanya bertengger kaca mata hitam untuk menghindari cahaya matahari yang menembus matanya. Lia hanya duduk, melamun. Sejujurnya bingung ingin melakukan apa. Aktivitasnya serasa hilang setelah menikah. Apalagi mereka di rumah mertua. Jadi semuanya sudah dikerjakan oleh art.


Lia sebenarnya ingin tinggal berdua dengan sang suami. Karena ia ingin menjalankan tugas istri sepenuhnya. Seperti memasak, membersihkan rumah, menyiapkan kebutuhan Raffa, dan lain-lain. Tapi mau bagaimana kalau Raffa belum mengajaknya pindah.


Suara langkah kaki membuat Lia beranjak dan masuk kedalam kamar. Tak lupa ia menutup pintu balkon sebelum matanya menangkap Raffa yang berbaring dengan posisi tak beraturan di kasur.


" Mas " Lia mendekat, mengecek Raffa yang terlihat sangat lelah.


" Hmm? Kenapa? " Masih dengan posisi awalnya.


" Kamu kenapa? darimana? "


Raffa berbalik, menghadap Lia. Ia menghela nafas pelan sebelum menjawab.


" Kayanya bulan madu kita di tunda lagi " tangan Raffa sudah mengelus pipi Lia lembut.


Lia mengernyitkan dahinya, " kenapa? " tanyanya penasaran, bukan karena kecewa tidak jadi berbulan madu. Bagi Lia, di manapun itu sama saja asalkan bersama suaminya. Karena kalau pun mereka bukan madu, pasti menghabiskan waktu di kamar.


Raffa kembali menghela nafas, " perusahaan papa ada masalah. Dan ya aku harus ikut serta menyelesaikan semuanya. Karena perusahaan itu juga nantinya untuk mas "


" Oh " Lia ber-oh ria. Tapi sedetik kemudian ia kembali bertanya, " terus tadi kamu darimana? sampe kecapean gini " Tangan Lia menghapus keringat di dahi suaminya.


" Tadi aku di ruang kerja papa. Bantuin papa lah menyelesaikan semuanya "


" Cape banget ya? "


" Hmm "


***

__ADS_1


__ADS_2