
" Li, semalam si temen Lo itu dateng, siapa sih namanya?" Ucap Lily sembari mengingat lagi sosok pria yang semalam datang ke apartemen Lia saat Lia sedang pergi ke rumah orangtuanya.
" Siapa?" Tanya Lia santai, gadis itu tetap asyik dengan hp nya.
" Tuan Farrel loh mbak" Sahut Viona dari belakang kemudi.
Lia meletakan hp nya, Ia terlihat berpikir. Gadis itu kemudian terlonjak kaget setelah mengingatnya.
" Dia bilang apa?" Tanya Lia dengan sedikit takut.
Viona membalik sebentar menghadap Lia, gadis itu mulai menceritakan kronologi kejadian semalam tapa melihat Lia. Dia fokus dengan kemudi didepannya.
Flashback On
Lily sedang belajar memasak dengan Viona sebagai gurunya. Kedua gadis itu asyik sendiri di dapur tanpa perduli ada orang yang sedang mengetuk pintu apartemen.
Sampai pada saat Viona yang sedang pergi ke ruang tengah untuk mengambil hp nya. Gadis itu mendengar suara pintu yang diketuk. Samar-samar Ia juga mendengar suara orang yang memanggil Lia. Dari suaranya Viona dapat menyimpulkan itu suara pria.
Viona yang tidak berani membukanya, menghampiri Lily dan meminta gadis itu membukakan pintu. Lily sontak saja terkejut dan menolak. Namun, Viona langsung pergi dengan alasan sakit perut.
Dengan terpaksa, Lily pergi kedepan dan membukakan pintu untuk orang itu. Secara perlahan pintu itu terbuka. Lily muncul dengan ragu dibalik pintu.
Matanya membulat, dia seperti mengenal orang ini tapi Ia tak tahu dimana. Lily langsung bertanya tanpa mempersilahkan orang itu masuk.
Pria itu berkata Ia adalah sahabat Lia. Namun, Lily tak percaya. Karna setahunya, Lia tak pernah dekat dengan pria manapun. Hanya Dave pria yang dekat degan Lia, itu pikiran Lily.
Lily khawatir orang ini hanya menipunya lewat Lia. Karna gadis itu takut terjadi apa-apa. Lily segera menutup pintu dan menguncinya tanpa berkata apapun. Gadis itu segera masuk kedalam dan memberitahu Viona.
Viona yang sebenarnya tidak berada dalam kamar mandi langsung berlari ketika Lily meneriakkan namanya. Gadis yang lebih muda satu tahun dari Lily itu langsung bertanya dengan cepat.
Dan Lily menjawab sesuuai pemikirannya. Alhasil, Viona juga ketakutan seperti Lily. Mereka menelepon Lia namun hp gadis itu tidak aktif. Mereka berdua hanya bisa berdiam didalam kamar tanpa melakukan apapun.
Saat siang hari, Viona memberanikan diri untuk mengecek orang itu. Ia tak mau hari minggunya yang berharga sia sia karna orang itu.
Lewat jendela, Viona mengintip. Matanya membulat sempurna. Gadis itu terkejut. Pria yang didepannya ternyata Farrel. Tuan CEO dari perusahaan besar.Viona langsung panik dan membuka pintu.
Gadis itu meminta maaf berkali kali. Raffa yang mendengar semua itu bertambah pusing dan kesal. Sudah beberapa jam Ia duduk disana dengan menahan kesal.
Raffa langsung bertanya keberadaan Lia. Namun karna Viona yang masih takut, gadis itu terus saja meminta maaf tanpa perduli apapun.
Raffa yang sudah kesal bertambah kesal dan langsung pergi meninggalkan Viona yang masih meminta maaf.
Flashback off
Lia membulatkan mata terkejut mendengar cerita Viona. Gadis itu sangat merasa bersalah sekaligus takut.
Lia memejamkan matanya sembari bersender ke sandaran kursi mobil. Gadis itu sedang memikirkan alasan yang tepat nanti.
Sudah ada beberapa kata yang dirangkai Lia dalam pikirannya. Namun, tiba-tiba Lia tersadar, dia tidak boleh berbohong. Dia harus menceritakan apa adanya.
Lia bertekad untuk jujur dan meminta maaf. Disini Lia lah yang salah.
***
Lia mencoba menghubungi Farrel untuk meminta bertemu. Namun boro-boro diangkat, hp nya saja tidak aktif.
Huh, Lia menghembuskan nafas dalam dan mengeluarkannya dengan perlahan. Gadis itu tersenyum yakin dengan apa yang akan Ia putuskan.
Lia tahu dia bersalah, maka dari itu dialah yang harus meminta maaf.
Lia keluar dari ruangannya dan langsung berjalan emnuju lift. Gadis itu keluar dan langsung menuju parkiran. Dengan cepat Lia berjalan masuk ke mobil dan langsung keluar meninggalkan parkiran.
Di dalam mobil, Lia menelepon Viona. Ia akan memberitahu asisten sekaligus adiknya itu.
__ADS_1
" Hallo Nona, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Viona formal, ini masih jam kerja dan Viona tahu harus bersikap seperti apa.
" Hallo Vi, aku lagi diluar bawa mobil nih. Aku ga tau pulang jam berapa, tapi nanti kalo uda pulang kamu sama Lily naik taksi aja. Nanti aku langsung pulang aja. Jangan khawatir. Bye" Jelas Lia panjang lebar.
.
" Eh" Viona yang mendengarnya masih bingung. Apalagi Lia langsung mematikan teleponnya.
Lia langsung membuka google dan men-search dengan kata kunci Letak Perusahaan LiFA.
Lia langsung melajukan mobipnya menuju letak perusahaan Farrel. Dia menancap gas agar lebih cepat sampai.
Setelah menempuh selama 25 menit, akhirnya Lia sampai disana. Mulutnya ternganga lebar melihat gedung tinggi didepannya.
Lia langsung turun setelah memarkirkan mobilnya, gadis itu langsung berjalan masuk menuju resepsionis.
" Selamat siang, ada yang bisa saya bantu" Sapa Resepsionis itu ramah.
" Siang, saya mau bertemu dengan Tuan Farrel" Jawab Lia juga ramah.
" Sudah punya janji sebelumnya Nona ?" Tanya Resepsionis itu.
Lia sudah tahu ini akan terjadi. Untuk itu Ia sudah mempunyai jawabannya. Jawaban yang Ia pikirkan saat dijalan tadi.
" Sudah, saya sahabatnya" Jawab Lia santai. Dalam hati gadis itu sangat takut bila ketahuan, namun Lia bersikap sangat santai demi meyakinkan Mbak didepannya.
" Sebentar saya hubungi dulu Nona, silahkan tunggu disana" Balas Resepsionis itu tersenyum sambil menunjuk kearah sofa.
Lia berjalan kearah yang dimaksud. Namun saat Ia hendak melangkah, Resepsionis itu memanggilnya.
" Nama anda siapa Nona?" Tanya Resepsionis yang sedang menelepon, resepsionis itu menjauhkan sebentar telepon nya.
" Fia" Jawab Lia mantap.
Memikirkannya membuat Lia tersenyum, bukan karna status Farrel. Tapi karna sifat pria itu yang benar-benar tulus padanya.
" Nona" Panggil Resepsionis itu sedikit kuat.
" Eh" Lia sedikit terkejut, gadis itu langsung berdiri dan berjalan kesana.
" Silahkan menuju lantai 25, disana akan ada dua ruangan. Ruangan CEO tempat Tuan Farrel berada. Jika nona ditanya sekretaris atau asistennya, Nona tinggal memperkenalkan diri " Jelas Resepsionis itu sopan.
Lia mencerna semuanya dengan baik, gadis itu mengangguk dan tersenyum. Ia kemudian berlalu dari sana dan menuju lift yang ada disana.
Segera Lia menekan tombol 25. Butuh waktu yang lumayan lama kesana, lantainya sungguh banyak membuat Lia sangat bosan berada dalam sana.
Sesampainya dilantai yang dimaksud resepsionis itu, Lia melihat dua ruangan. Ia membaca tulisan diatas. Lia langsung tersenyum dan berjalan masuk kesana. Ia masuk bertepatan dengan seorang pria paruh baya yang keluar.
Lia sedikit terkejut, namun Lia segera merubah sikapnya. Ia tersenyum dan memberi hormat. Gadis itu sudah paham tentang cara bersikap pada Orang penting seperti mereka ini.
Pria paruh baya itu memandang Lia dengan tatapan heran, seperti pernah mengenal gadis didepannya. Tapi Ia lupa dimana.
Lia segera permisi dan ingin masuk kedalam, namun ucapan pria paruh baya itu menghentikan langkahnya.
" Kamu ada hubungan apa dengan Farrel?" Tanya pria paruh baya itu to the point.
Lia mengejntikan langkahnya, Ia berbalik. Gadis itu menghela nasaf pelan dan menjawab. " Saya dan Farrel bersahabat Tuan" Jawab Lia sopan dengan senyum yang hadir.
Pria paruh baya itu mengernyitkan dahinya heran, Tak pernah Ia tahu anaknya itu dekat dengan wanita manapun. Bahkan alasan dia datang kesini karna Ia ingin membujuk anaknya agar segera menikah.
Namun sekarang dia mendapati anaknya mempunyai sahabat perempuan. Seorang wanita dewasa yang cantik, sopan, sangat cocok untuk anaknya. Dan lagi, mereka sudah dekat sebelumnya.
Pria paruh baya itu tersenyum tipis, Ia seperti mendapatkan jawaban atas doanya selama ini. Ia berlalu pergi tanpa bicara apapun.
__ADS_1
Lia yang melihatnya bergidik ngeri, Ia merasa takut dengan senyum itu. Lia menggeleng pelan, melangkah masuk kedalam. Namun langkah Lia terhenti karna ternyata pintu ruangan itu dibuka hanya dengan sidik jari yang telah terdaftar. Ia mendengus kesal, kenapa susah sekali sih bertemu dengan Farrel.
Lia kemudian teringat tentang runagan lainnya. Ia segera beranjak ke sana. Disana, pintu itu ternyata tidak menggunakan sidik jari. Lia mengetuk dengan semangat, Ia berharap ini ruangan sekretaris atau asisten Farrel.
ceklek.
Pintu dibuka, dari balik pintu nampaklah sosok gadis berparas manis dengan tinggi badan ideal dan rambut lurus sebahu. Lia sempat terkagum melihatnya, namun Lia membandingkan lagi dengan dirinya. Tidak, lebih cantik dirinya daripada orang ini.
" Maaf, anda siapa?" Tanya sekretaris itu sopan.
" Saya Fia" jawab Lia tersenyum.
" Oh nona Fia, mari ikut saya" Ucap Sekretaris itu tersenyum dan menuntun Lia menuju ruangan Raffa.
Dari sana, sekretaris itu mengeluarkan hp nya dan menelepon seseorang. Tak lama, pintu terbuka. Sekretaris itu langsung mempersilahkan Lia masuk dan pergi dari sana.
Lia masuk ke dalam dengan sedikit ragu. Ia mengedarkqn pandangan nya menyapu seluruh ruangan Farrel. Sampai pandangannya tertuju pada sosok yang sedang duduk di sofa dengan kaki disilangkan ke meja. Jas yang melekat di tubuh pria itu sangat cocok. Menambah karisma dan wibawa pada diri Farrel.
Lia berjalan dengan sedikit ragu ke sofa. Ia dudukdi sofa seberang Raffa dengan gugup.
"Ekhem" Gadis itu berdehem untuk menyadarkan pria ini.
Raffa tak menggubris, menoleh pun tidak. Pria itu seolah tidak mendengar apapun.
Lia yang melihat itu menjadi kesal, gadis itu mengalihkan pandangannya dan mengumpat Farrel dalam hati.
Setelah dirasa wajahnya sudah bisa bersikap biasa, Lia kembali menatap Raffa.
Pria itu masih sama, tidak memperdulikan Lia disini.
Lia menghembuskan nafasnya dalam dan mengeluarkan nya secara perlahan. Gadis itu kembali mengingat tujuan awalnya datang. Dengan meyakinkan diri, Lia berbicara.
" Maaf " Ucap Lia dengan menunduk. Dia merutuki dirinya sendiri, padahal gadis itu sudah merangkai kata-kata didalam pikirannya. Tapi yang keluar hanyalah kata 'maaf'.
Raffa menoleh, dia tersenyum tipis melihat Lia yang menunduk seperti merasa bersalah.
" Ada syaratnya " Jawab Raffa dengan dingin dan tegas.
Lia secara reflek mendongak, Ia tak percaya dengan sikap Farrel yang seperti ini. Gadis itu selama ini mengetahui kalau Farrel pria yang baik, perhatian, tulus. Tapi sekarang, pria didepannya ini malah membuat syarat agar dia mau memaafkan kesalahan Lia yang sebenarnya tidak terlalu masalah.
Lia memejamkan matanya mencoba sabar, dia merasa seperti dimanfaatkan. Gadis itu menjawab setelah dirasa pikiran dan hatinya sedikit tenang.
" Apa?" Tanya Lia dengan nada menantang. Gadis ini memang gadis yang akan menangis jika disakiti hatinya. Namun, dia bukan gadis lemah yang akan diam jika ditindas dan dimanfaatkan.
Raffa tersenyum tipis dengan respon gadis didepannya. Pria itu mulai menyebutkan syarat dengan sangat santai. Seolah itu adalah hal mudah yang mampu dikerjakan Fia.
" Kamu ikut aku nanti malam ketemu orang tua ku" Jawab Raffa dengan sangat santai.
Lia terkejut setengah mati, gadis itu dengan cepat mengalihkan pandangannya dan merubah raut wajahnya kembali tenang.
Lia kembali menatap Farrel, gadis itu kembali bertanya.
" Buat apa?" Tanya Lia masih dengan nada menantang.
Bukannya menjawab, Raffa malah beranjak dari sana dan berjalan menuju jendela besar yabg menampakan keindahan kota itu.
Lia menjadi bingung dibuatnya, gadis itu juga berjalan kesana dan berdiri tepat dihadapan Farrel.
***
Hay Readers author yang selalu mendukung author 🥰. Jangan lupa like and komen ya🥰
...Tinggalkan komen sebelum lanjut😉...
__ADS_1
...Author selalu senantiasa menunggu😉...