
Hari-hari berlalu, tak terasa sudah tiga hari lamanya para murid SMA melaksanakan ujian Nasional. Ujian yang menjadi ujian terakhir mereka di SMA. Setelah ini, mereka akan naik ke jenjang yang lebih tinggi yaitu kuliah.
Ujian nasional adalah ujian yang sangat meresahkan bagi mereka yang malas dan pasrah akan nilai. Tapi bagi mereka yang rajin dan ambisius dengan nilainya, ini merupakan sebuah tantangan bagi mereka.
Kring...
Kring...
Bel berbunyi dengan keras ketika jarum jam menunjukkan pukul sebelas tepat. Para murid bersorak dan langsung berlari keluar kelas. Mereka berdesak-desakan ingin cepat pulang karena setelah ini mereka akan diliburkan dan akan datang untuk mengurus ijazah dan sebagainya.
Lia berdecak kesal ketika tiga orang temannya tanpa sengaja mendorongnya karena berdesakan keluar. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah temannya yang menurutnya kekanakan.
" Lia " sebuah suara memanggilnya ketika ia akan melangkahkan kakinya menuju anak tangga pertama setelah semua temannya keluar kelas.
Seorang gadis berambut lurus sedada tersenyum manis sambil berjalan mendekati gadis yang dikenal dengan julukan si matahari.
Lia menoleh, wajah terkejutnya tak bisa ia hilangkan ketika melihat gadis yang cukup terkenal di sekolah mereka. Gadis cantik yang banyak dikagumi oleh para pria. Lia masih menatap bingung pada perempuan di depannya. Tapi sebisa mungkin ia mencoba tenang.
" Hay Lia, kenapa kok kaget liat gue? " Aurelien Devi Tafina, anak seorang konglomerat yang menjadi yayasan di sekolah ini. Ia dikenal sebagai gadis yang cantik dan penampilannya yang selalu perfect. Semua orang tahu untuk tidak mencari masalah dengannya karena kapanpun ia bisa mengeluarkan mereka dari sekolah ini.
Lia tersenyum tipis, " ada perlu apa? "
Sial, nih cewek berani juga ternyata. Oke, kita liat, malam ini Lo bakal abis di tangan gue.
Aurel tersenyum sinis memikirkan rencananya, ia menatap Lia dengan senyuman manis di bibirnya.
" Gue cuma mau tanya, Lo ikut party kan malam ini? " Aurel mengangkat sebelah alisnya.
Party? party apa? kok gak ada yang bilang ke gue sih!
__ADS_1
Lia berusaha menutupi keterkejutannya. Ia mengangguk dengan senyuman tipis yang menambah kesan manis di wajahnya.
" Oh, gue tunggu ya malam ini. Gue harap sih Lo bisa tepatin janji " tersenyum sinis menatap wajah Lia. " Yaudah gue cuma mau bilang itu aja, bye " gadis itu pergi dengan menahan rasa kesal karena tak bisa membuat Lia takut padanya.
Lia menghela nafasnya, ia berbalik dan menuruni anak tangga dengan pikiran berkecamuk. Kenapa tak ada yang memberitahunya? apa ia tak dianggap sebagai teman mereka di sekolah itu. Atau Aurel yang berbohong padanya? Lagi pula, party apa?
" Li! " Seorang pria yang memakai jaket untuk menutupi kemeja putihnya dan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya berlari kearah gadis yang sedang berdiri di anak tangga terakhir.
Lia menghela nafas pelan melihat Raffa yang berlari dari arah parkiran. Ia bisa menebak pria itu pasti ingin mengajaknya pulang sama. Eh, sebentar. Ia bisa menanyakan party yang dibilang Aurel kan pada Raffa? pasti Raffa memberitahunya. Dan pasti Raffa juga tahu tengang party itu kalau memang itu benar ada.
" Kenapa? " Lia menahan tawanya melihat Raffa yang ngos-ngosan. Sepertinya pria itu berlari tanpa mengatur nafasnya yang membuatnya kesulitan bernafas setelahnya.
" Sialan Lo! " umpat Raffa setelah ia berhasil mengatur nafasnya yang tersengal. Raffa bersandar di tiang penyangga tangga. Wajahnya tampak lelah padahal hanya berlari dari parkiran menuju anak tangga yang mengarah ke kelas mereka di lantai atas.
" mau ngapain? " Lia menatap Raffa penuh selidik. Jarang-jarang kan sahabatnya itu mencarinya sampai segitunya.
" hah? kenapa Lo? " Lia menatap heran pada sahabatnya yang tiba-tiba menatapnya datar seperti pria yang dikirim papanya untuk menemaninya saat makan bersama Raffa tempo hari.
Raffa menggeleng, " gue tunggu di mobil " Lia tersenyum kecut melihat punggung pria itu yang berjalan menjauh menuju parkiran.
" Kenapa hari ini semua ngeselin? " Gumam gadis itu kesal. Cemberut-cemberut ia tetap berjalan menuju gerbang.
***
" Raf.. " panggil Lia pelan, sedari tadi hadis itu mencoba mengumpulkan keberaniannya untuk bertanya pada Raffa tentang party yang dikatakan Aurel.
" Hmm? " Raffa bahkan tak menoleh. Lia berdecak kesal melihat respon Raffa yang sungguh menyebalkan.
" Lo ikut party nanti malam? " Setelah dipikir-pikir, kalau ia langsung bertanya apakah ada party nanti malam yang dihadiri teman-temannya, Raffa mungkin tak akan menjawab karena tahu ia yang belum mengetahui hal itu. Tapi kalau ia memancing seperti ini, mungkin Raffa akan mengangguk dan ia bisa minta nebeng agar ikut ke sana. Ya tentunya kalau papanya mengizinkan. Haah, kenapa sulit sekali sih hanya ingin datang ke pesta yang diakan teman-temannya?
__ADS_1
Dahi Raffa berkerut, wajahnya berubah datar dan auranya terasa mencekam. Raffa hanya menatap lurus kemudi di depannya tanpa ada niatan untuk membalas perkataan gadis itu.
" Raf " Lia memanggil pelan karena melihat wajah datar Raffa yang membuatnya lumayan takut.
" Rafaa " Lia memanggil pria itu lebih keras karena tak ada respon dari Raffa. Dengan sedikit takut ia melirik Raffa. Wajahnya datar dengan tatapan matanya yang sungguh belum pernah Lia lihat. Ada apa dengan pria itu? kenapa ia begitu marah?
Akhirnya Lia menyerah dan mengambil ponselnya. Ia membuka aplikasi berlogo C dengan gradasi warna ungu, biru tua dan hijau tosca. Menunggu beberapa saat sampai layar beranda terlihat. Lia mengklik tanda plus dan mulai membuat desain wallpaper untuk laptopnya. Ia memang suka mengedit, membuat desain, dan hal lainnya yang berkaitan dengan seni. Tapi itu hanya sebatas hobi yang tak ingin ia kembangkan. Karena gadis itu sadar, dirinya adalah pewaris perusahaan papanya. Bagaimana mungkin ia memikirkan hobinya itu kalau setelah ini ia harus menanggung beban sebagai penerus perusahaan.
***
Mobil berhenti di depan sebuah rumah mewah yang terkesan minimalis. Seorang perempuan turun dengan wajah kesal. Di pundaknya sebuah ransel menggantung sempurna.
Brak!
Ia menutup pintu mobil dengan keras dan langsung berjalan menuju pintu rumahnya tanpa menoleh ke belakang. Sungguh ia sangat kesal, sudah berulangkali gadis itu mencoba mengaja Raffa berbicara, mencoba membuat suasana mencair, ia mencoba membujuk pria itu. Tapi apa? Raffa bahkan tak menoleh sama sekali. Tentu saja itu membuatnya kesal dan kecewa dengan sikap Raffa yang selalu seperti ini kalau sedang dalam mood yang tidak baik.
Sementara itu pria yang masih berada di dalam mobil, memandangi gadis yang sudah menghilang di balik pintu mewah rumahnya. Ia menghela nafas. Setelah beberapa saat, akhirnya pria itu melajukan mobilnya meninggalkan rumah mewah yang pemiliknya adalah orang yang berhasil membuat tidurnya tidak nyenyak.
_
_
_
_
_
BERSAMBUNG
__ADS_1