Ternyata Kita Berjodoh

Ternyata Kita Berjodoh
Eps 75


__ADS_3

Berulang kali pria itu merapikan penampilan nya yang sudah sempurna. Dengan menghela nafas panjang, Raffa berjalan menuju pintu rumah Lia. Pria itu berusaha bersikap netral dan tidak gugup seperti saat ini. Ia juga meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya akan berjalan sesuai harapan nya.


Tok..Tok..Tok...


" Assalamualaikum" Ucapnya lantang tanpa ragu. Ia menghela nafas panjang menunggu pintu dibukan. Rasanya, semakin lama semakin gugup.


ceklek.


" Eh Raffa, ayo masuk " Mahendra membuka pintu dan langsung mengajak Raffa masuk ke dalam. Mereka duduk di ruang tamu setelah Mahendra menutup pintu kembali.


" Bentar ya " Mahendra segera beranjak dan pergi ke dapur, dimana istrinya sedang menyiapkan makan malam.


" Eh mas " Bunda yang terkejut memukul bahu suaminya cukup keras.


Mahendra tertawa kecil dan mengelus bahu nya yang dipukul oleh istri tercinta.


" Siapa?" Tanya Bunda tanpa mengalihkan pandangannya dari makanan yang sedang ia tata.


" Raffa " Jawab Mahendra santai.


" Raffa?" Bunda menghentikan kegiatannya dan menatap suaminya yang sedang duduk di meja makan.


" Raffa? ngapain datang malam-malam? Eh tunggu, jangan-jangan?" Batin Bunda mencoba mencerna apa yang terjadi. Sampai ia menduga sesuatu dan sukses membuatnya tersenyum.


" Kamu kenapa hm?" Tanya Mahendra memeluk Bunda dari belakang. Sementara kepalanya ia letakan di tengkuk Istrinya.


" Lia Uda turun?" Tanya Bunda berbalik menatap wajah suaminya yang masih saja tampan.


Mahendra menggelengkan kepalanya. Ia memiringkan kepalanya dan perlahan mendekat.


Cup.


Bibir Mahendra mendarat sempurna di bibir manis milik istrinya. Mereka beradu lidah di dalam sana sampai tak menyadari ada mata yang melihat.


" Ck CK CK. Ga bisa di kamar apa " Cibir Lia duduk di meja makan dan mulai mengambil makanannya.


Bunda secara reflek mendorong suaminya sampai nyaris terjatuh jika saja tidak berpegangan pada kursi di meja makan.


" Ayo-ayo makan " Bunda segera duduk dan berpura-pura acuh pada kejadian tadi. Padahal, dalam hati ia terus merutuki suaminya itu.


" Eh sampai lupa kan. Ada Raffa di depan " Ucap Mahendra yang baru teringat tentang tamunya.


" Uhuk "


" Nih minum dulu " Dengan cepat bunda memberikan minum pada Lia.


" Makan itu pelan-pelan " Ucap Bunda geleng-geleng kepala.


" Iya " Lia kembali melanjutkan makannya dengan pikiran yang berkelana. Jantungnya sudah memompa berkali-kali lipat lebih cepat dari biasanya.


" Papa ajak Raffa makan dulu ya " Mahendra berlalu ke ruang tamu dimana Raffa sudah menunggu lama.


" Raffa, ayo makan dulu " Ajak Mahendra berjalan duluan menuju meja makan.


" Iya om " Jawab Raffa tersenyum, ia mengikuti Papa Lia sampai di meja makan. Pandangannya tertuju pada Lia yang terlihat sederhana mengenakan setelan baju lengan panjang dan juga celana panjang berwarna peach dengan motif kelinci. Terlihat menggemaskan.


" Ayo sini Raffa makan dulu " Ajak Bunda tersenyum sambil menuangkan nasi ke dalam piring suaminya.


Raffa mengangguk dan duduk di samping Lia, di depan Bunda. Pria itu mengambil piringnya dan mulai meletakan nasi dan lauknya secukupnya.


Lia berusaha untuk bersikap biasa saja, padahal dalam hati ia sangat gugup dan deg-degan. Gadis itu mengambil gelas di sampingnya dan meminum sampai kandas.

__ADS_1


Makan malam kali ini hening, tidak ada obrolan seperti biasanya. Semuanya diam, termasuk Raffa. Pria itu seperti tidak menikmati makanannya. Terbukti dia yang selalu bergerak dengan gelisah.


" Raffa ayo kita duduk di depan saja. Biar Lia yang bereskan ini " Ajak Mahendra berjalan di depan.


Raffa mengangguk, ia mengikuti Mahendra setelah melirik sebentar Lia yang tampak acuh padanya. Lia segera membereskan meja makan dibantu Bunda. Gadis itu langsung mencuci piring sementara Bunda mengelap meja makan.


" Ayo kita ke depan " Ucap Bunda menghentikan langkah Lia uang tadinya ingin ke kamar.


" Iya " Lia tersenyum dan mengikuti Bunda. Ia berulang kali menghela nafas panjang. Gadis itu duduk di samping Bunda ketika mereka sudah berada di ruang tengah.


Raffa menghela nafas panjang, ia menatap satu persatu orang-orang yang ada disana. Sampai pandangannya jatuh pada Lia. Rasanya seperti mendapat Vitamin, ia menjadi bersemangat dan yakin.


" Om Tante, saya mau bicara serius " Ucap Raffa memulai pembicaraan serius setelah tadi mereka sempat mengobrol ringan.


Mahendra diam mendengarkan apa yang akan di bicarakan anak muda di depannya. Sementara Bunda sudah tersenyum diam-diam. Ia sudah menebak apa yang akan terjadi. Lia meremas jemarinya merasa sangat gugup.


" Saya ingin melamar Alisya Putri Mahendra menjadi istri saya dihadapan Om dan Tante. Saya serius mencintai Lia. Izinkan saya melamarnya menjadi istri saya kelak "


Deg. Deg. Deg.


Jantung Lia maraton rasanya saat mendengar kata-kata Raffa uang begitu terlihat serius. Lia menunduk merasa malu sekaligus senang dan gugup.


Mahendra tersenyum ketika mengerti situasinya. Begitupun Bunda, wanita itu terlihat sangat antusias.


" Lia itu anak kami satu-satunya. Lia itu bagaikan berlian yang harus kami jaga dengan sangat hati-hati. Kami mengatur pendidikannya agar kelak ia bisa menjadi sukses seperti saat ini. Tapi kami tidak bisa mengatur jodohnya. Jikalau kamu serius pada anak kami, kami mengizinkan mu. Semua keputusan ada di tangan Lia " Jelas Mahendra panjang kali lebar, tulus dari hatinya. Lia adalah anak gadisnya, yang harus ia jaga seperti berlian. Ia sangat menyayangi Lia. sangat.


Raffa menatap Lia yang menunduk. Pria itu perlahan mendekat dan menekuk lututnya. Mengeluarkan sebuah kotak cincin yang sama seperti kemarin. Membukanya dan menunjukannya pada sang pujaan hati.


"Will you marry me ?"


Lia terhenyak, gadis itu perlahan mengangkat kepalanya, menunjukan wajahnya yang cantik natural. Selama tiga hari ini, Lia berusaha untuk meyakinkan perasaannya sendiri. Jujur ia bingung, tapi ia sudah menemukan jawabannya ketika Bunda datang ke kamarnya.


" Yes " Jawab Lia yakin.


Raffa tersenyum lebar, sangat lebar. Sungguh ini adalah hari yang paling ia nantikan. Pria itu memasangkan cincin indah itu ke jari manis Lia yang lentik.


" Makasih. I Love you " Ucap Raffa menggenggam tangan Lia erat. Mengecup punggung tangannya. Merengkuhnya dalam.


" I Love you too " jawab Lia pelan, hanya dapat di dengar oleh Raffa. Pria itu tersenyum semakin lebar dan mempererat pelukannya.


" Ekhem "


Raffa melepaskan pelukannya dan kembali duduk di tempatnya dengan sangat bahagia.


" Tapi saya mau kalian menjalin hubungan serius. Kalian sudah dewasa dan bukan waktunya lagi untuk bermain-main " Ucap Mahendra tegas menatap Raffa dan Lia bergantian.


" Saya janji Om. Secepatnya, orang tua saya akan datang untuk melamar Lia secara resmi " Jawab Raffa yakin.


" Bagus " Mahendra mengangguk puas dengan pria di hadapannya.


***


Senyum tak henti-hentinya hadir di bibir seorang gadis yang tengah berguling di ranjangnya dengan perasaan yang bahagia.


" Astaga Lia, ayo tidur!" Lia menepuk-nepuk pipinya sendiri. Gadis itu kembali berguling dan membenamkan wajahnya di bantal.


" Aaaaaaah ga bisa tidur " rengeknya tersenyum lebar. Gadis itu tertawa kecil dan kembali berguling lagi.


" Oke-oke pejamkan mata dan tidur " Lia terus berbicara sendiri guna membuat tubuhnya mematuhi perintahnya. Gadis itu menutup matanya, memperbaiki posisi tidurnya, dan berusaha tenang agar bisa masuk ke dalam alam mimpi.


***

__ADS_1


" Selamat Pagi " Lia menarik kursi nya dan duduk dengan tenang.


" Kenapa kamu?" tanya Bunda yang melihat Lia terlihat tidak bersemangat dan lemas.


" Ngantuk" jawab Lia santai.


" Huh? tumben?" Bunda mengernyitkan dahinya.


" Hmm" Jawab Lia dengan mulut yang penuh dengan makanan.


" Sudah makan dulu " Sela Mahendra menyendokan makanannya.


***


Tok...Tok...Tok...


" Masuk " seru Lia dari dalam ruangannya. Ia bisa menebak siapa yang datang.


ceklek.


" Good Morning"


" Good Morning" Lia beranjak berdiri dan menghampiri Raffa yang berjalan kearahnya.


Pria itu langsung memeluknya erat. Mengusap kepalanya lembut. Seolah menyalurkan semangat di pagi yang cerah ini.


Lia mendongak, menatap wajah Raffa yang tampak ceria lagi ini. " Kenapa?" tanya Lia kembali menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu.


Raffa menggeleng dengan senyum manisnya. Ia menuntun Lia duduk di sofa dengan terus memeluk gadis ini.


" aku bawain kamu makanan " Pria itu meletakan sebuah paper bag di tangannya ke atas meja dengan tangan satunya yang masih memeluk pinggang ramping wanitanya.


" ih gausah repot-repot kali " Ucap Lia agak canggung. Rasanya dulu, saat mereka masih bersahabat, tidak ada rasa canggung sedikit pun yang hadir diantaranya. Tapi sekarang, setelah sekian lama tak bertemu dan saling mengetahui perasaan masing-masing, rasanya sangat canggung.


" Lepasin dong tangan kamu, aku ga bisa duduk " Lia memegang tangan Raffa dan hendak melepasnya, tapi pria itu dengan sengaja melingkarkan tangan satunya sehingga pelukan itu semakin erat.


" Raffa gimana gue bisa duduk kalo gini caranya " keluh Lia kesal. Ia memanyunkan bibirnya. Mencoba bersikap biasa seperti mereka dulu saat bersahabat. Rasanya lebih asyik. Beginilah resiko pacaran dengan sahabat sendiri. Canggung dan malu bercampur satu.


" Kiss dulu dong. Biar aku semangat kerjanya " Raffa memajukan pipinya. Memejamkan matanya bersiap mendapatkan kecupan yang bisa membuatnya semangat.


Lia mengalihkan pandangannya. Memegangi jantungnya yang rasanya akan meledak sekarang juga. Ia sungguh Malu. Perlahan, rona merah terlihat di pipi mulus gadis itu.


" Sayang, mana? aku nunggu loh ini " Protes Raffa masih dengan mata terpejam. Lantas ia semakin memajukan pipinya.


" Aaaa imut banget" Gumam Lia lirih nyaris tak terdengar. Dengan menghela nafas ia mendekatkan bibirnya di pipi pria itu.


Lia menggeleng, menarik kembali bibirnya yang tinggal beberapa centi dari pipi Raffa.


Gadis itu menghela nafas panjang, frustasi. Ia sungguh Malu tapi tak tega dengan wajah tampan ini. Jika yang di depannya masih sahabatnya seperti dulu, maka tak akan berpikir dua kali untuk sekedar memberikan kiss di pipi.


" Lia sayang aku Uda nungguin kam-"


Cup.


****


Hay semuanya ♥️. Gimana kabarnya? Semoga sehat selalu ya♥️. Aku minta maaf sebesar-besarnya atas keterlambatan up chapter ini. Aku punya alasan kenapa gak up. Salah satunya ide uang benar-benar buntu banget. Dan juga mood aku yang anjlok membuat aku sulit untuk mikir. Jadi aku harap, kalian bisa ngerti dan masih mau baca karya aku.


Sekali lagi aku minta maaf. Oh ya, aku mau ngasih tau nih. Aku punya Instagram yang emang baru aku buat. Dulu sih ada, tapi itu akun pribadi aku. Nah makanya aku buat akun baru khusus untuk info karya aku.


@Aulia16563

__ADS_1


Itu username aku. Profil nya cover karya ini. Belum ada postingan apapun. Tapi next aku bakal posting dan ngasih tau pengumuman update terbaru. See you Next time ♥️


__ADS_2