Ternyata Kita Berjodoh

Ternyata Kita Berjodoh
Pernikahan


__ADS_3

Lily meremas jemarinya dengan erat sehingga menimbulkan keringat yang ada di sela-sela jarinya. Gadis itu menarik nafas dalam dan mengeluarkan nya perlahan, mencoba tetap tenang meskipun hatinya sangatlah gugup, takut, sedih bercampur menjadi satu.


" Li, Uda siap?" Tanya sebuah suara dari arah belakang. Ia meletakan subuah paper bag di meja dekat pintu.


Lily menoleh, ia menampilkan ekspresi gugup. Membuat Lia tersenyum jahil.


" Santai aja " Lia mendekat, ia menggenggam tangan Lily lembut. " Tarik nafas keluarkan...tarik nafas keluarkan...tarik nafas keluarkan"


" Gue gugup, gimana dong" Lily duduk di sebuah sofa dengan bibir yang digigit ke bawah.


Lia tersenyum, ia berjalan dan duduk di samping Lily. " Lo tenang aja kali, ga bakal kenapa-kenapa. Lo cuma tinggal diam dan sah, kalian nikah. Jadi, ga ada yang perlu Lo takutin " Ucap Lia berusaha menenangkan sahabatnya yang beberapa jam lagi akan sah menjadi Istri Dave.


Lily berdecak kesal, " gue bukan takut itu Lia!" gerutu Lily kesal.


" Lah jadi?" Lia mengernyitkan dahinya.


Lily menghela nafas panjang, " Gue takut sama calon mertua " Jawab Lily menekankan setiap katanya.


" Emang Lo belum ketemu sama camer?" Tanya Lia heran, gadis itu bahkan lupa tujuan dia kemari tadi.


Lily menggeleng," Kemaren sebenarnya mau ketemu. Tapi ortu Dave lagi di Luar Negeri. So, gue belum pernah ketemu sama mereka. I'm scared "


" Benar-benar aneh ya. Gimana caranya kalian bisa nikah kalo mertua Lo belum tau siapa calon menantunya" Lia menggeleng-gelengkan kepalanya.


" Gue juga gak tau gimana. Tapi yang jelas, Dave bilang kita direstui" Lily memanyunkan bibirnya.


" Terus, ortu Dave bakal Dateng kan?" Tanya Lia sembari menyelipkan anak rambutnya.


" Ya gue gak tau. Tapi pasti datang lah" Jawab Lily gamblang. Sejujurnya, ia juga belum yakin dengan pernikahan ini. Karna pernikahan yang dadakan, terkesan main-main.


" Uda Lo gausah sedih. Kalo ortu Dave Uda merestui hubungan Lo sama Dave, berarti mereka Uda menerima Lo sebagai anggota keluarga. So, Lo jangan sedih. Be a strong woman" Lia tersenyum manis.


" Thank you" Lily memeluk Lia dari samping. Mereka berpelukan sampai beberapa saat.


" Astaga! gue lupa!" Lia melepaskan pelukannya.


" Kenapa?" Tanya Lily heran.


" Gue tadi kesini, disuruh sama Dave buat nyuruh Lo pake ini" Lia mengambil papaer bag yang tadi diletakkannya di meja samping pintu.


" Apaan nih?" Tanya Lily menatap paper bag yang sudah berpindah di tangan nya.


Lia menggeleng, gadis itu kembali duduk di sofa dan dengan santai ia memainkan hp nya.


Dengan perlahan, Lily membuka paper bag itu. Di dalamnya ada sebuah kotak yang sudah dibungkus rapi. Gadis itu mengambil kotak itu. Dengan cepat, ia merobek kertas sampul itu. Kotak itu terlihat polos, Lily langsung membukanya dan, ia mendelik.


" Cantik" gumam Lily, perlahan ia mengambil sebuah kalung dengan liontin love yang sangat indah. Mulut gadis itu menganga melihat benda indah ini. Ia tersenyum senang ketika mengingat bahwa Dave yang memberikannya.


" Lia" panggil Lily tanpa mengalihkan pandangannya pada kalung itu.


" Hmm" jawab Lia tanpa menoleh.


" Pasangin dong" Pinta Lily menoleh.


Lia meletakan hp nya. Ia menoleh manatap Lily. " Cie " goda Lia tersenyum jahil ketika melihat kalung di tangan Lily.


" Pasangin" Lily memberikan kalung itu pada Lia dan menghadap belakang, ia menaikan rambutnya agar Lia mudah memasangkan kalung itu padanya.


" Oke" Lia mulai mengalungkan kalung itu dan memasangkan pengaitnya dengan ketat.


" Cantik banget" Lily terus menatap kalung itu dengan senyum cerah.

__ADS_1


" Uda Lo siap-siap. Bentar lagi, perias pengantin nya bakal datang" Ucap Lia mengambil hp nya.


" Gue keluar dulu ya, gue juga mau siap-siap sama Viona di kamar sebelah. Lo jangan gugup, jangan takut, Everything will be alright " Lia berjalan keluar dengan senyum manisnya.


***,


Setelah beberapa jam berias, Lily sudah selesai. Ia bagaikan seorang ratu. Dengan kebaya panjang yang sangat mewah berwarna putih tulang. Dan dengan make up pengantin yang terlihat glamour. Sungguh, penampilannya mengalahkan seorang Ratu. Gadis itu berjalan anggun dengan diapit oleh kedua gadis yang tak kalah cantik.


Lia memakai baju seragam yang sudah Dave sediakan untuk mereka. Gaun sederhana berwarna putih yang terlihat lembut saat Lia memakainya. Dengan rambut yang ditata sanggul dan menyisakan poni tipis yang di keriting. Dan make up yang sedikit glamour menambah kesan dewasa pada Lia. Tampak berbeda.


Sedangkan Viona, gadis itu membiarkan rambutnya tergerai indah dengan sedikit hiasan di bagian atas. Sementara gaun yang panjangnya selutut, menambah kesan manis pada diri Viona.


Ketiga wanita yang sangat cantik itu berjalan dengan sangat anggun nya di tikar merah. Dengan si pengantin yang ditengah dan dua orang gadis yang mengalir pengantin wanita. Mereka berjalan menuju tempat akad nikah. Setelah mengantar Lily, Lia dan Viona duduk di tempat yang sudah disediakan.


Akad nikah berjalan dengan sangat lancar. Tampak, keluarga Dave yang paling banyak hadir disana. Sementara dari Lily, hanya Lia dan Viona. Dan yang menjadi wali Lily adalah, Mahendra selaku ayah dari sahabat baik Lily. Tadi pagi, orang tua Lia sudah sampai dan menginap di hotel. Dan karena Lily tidak mempunyai wali, maka Mahendra mengusulkan diri untuk menjadi wali dari Lily. Mahendra merasa iba pada gadis bernama Lily itu.


Lily berganti baju dan kembali dirias. Dirinya akan melakukan resepsi pernikahan. Oleh karena itu, ia kembali berganti baju. Kali ini, Lily memakai gaun yang sangat mewah berwarna navy. Dengan riasan wajah yang lebih glamour. Dan dengan tatanan rambut yang terlihat memesona. Smagta cantik.


Lily tersenyum manis melihat pantulan dirinya di cermin. Gadis itu tak berhenti untuk tersenyum. Sekarang, ia telah sah menjadi istri dari Dave. Dan itu artinya, ia bukanlah seorang gadis yang bisa keluyuran kemanapun. Sekarang, Lily mempunyai tanggung jawab atas suaminya. Ia harus bangun pagi, memasak sarapan, membereskan rumah, membangunkan suami, dan masih banyak yag lainnya. Dan Lily harus....


Lily menggelengkan kepalanya merasa malu sendiri dengan pikirannya. Ia menjadi takut, memikirkan malam pertama. Gadis itu bergidik ngeri.


" Li, Uda siap?" Tanya Lia berjalan masuk kedalam.


" Hmm" Lily mengangguk, ia melihat pantulan Lia dari cermin besar di depannya.


Lia juga mengganti bajunya. Gadis itu kini memakai gaun panjang tertutup yang terkesan elegan di tubuhnya. Dengan riasan wajah yang terlihat glamour, Lia menjadi tampak sangat sangat berbeda. Rambutnya tetap ia sanggul rapi dengan poni yang sengaja tergerai.


" Wah wah wah, ampun yang mulia Ratu" Lia membungkukkan badannya sambil tertawa kecil.


" Diampuni putri " Lily terkekeh sambil mendorong pelan bahu Lia.


" Cantik banget sih sahabat gue ini " Puji Lia tersenyum manis. Ia menatap lekat penampilan Lily yang sangat cantik.


" Eh, gue mau nanya" Lily melirik para perias yang masih membereskan alat mereka.


" You can go " Pinta Lily tegas. Seketika mereka semua pergi dengan alat make up yang masih ada di meja.


" Nanya apa?" Tanya Lia santai. Ia neranjak duduk di sofa menunggu Lily bertanya.


" Viona kenpa sih? Sejak dia datang kesini gue ngerasa aneh. Bahkan hari ini, gue gak ada bicara sama dia. Dia juga keliatan diam aja. Dan lebih sering murung. Lo tau kenapa?" Tanya Lia serius.


Lia menghela nafas panjang, ia menggeleng. " Gue gak tau sih. Tapi dari Indonesia dia Uda kaya gitu. Lebih tepatnya, pas dia pulang keteuan sama Rizky. Mungkin aja mereka ada masalah?"


Lily mengagguk, " Tapi dia gak ada cerita apa gitu sama Lo?" Tanya Lily ikut duduk di samping Lia.


" Gak ada, cuma pas di taman dekat rumah Lo gue tanya dia kenapa. Terus dia gak bilang apa-apa tapi dia nangis. Dan setelah itu, saat gue coba bicara sama Viona dia selalu menghindar " Jawab Lia menghembuskan nafas kasar.


" Kenapa sih Viona gak mau cerita sama kita" Lily memanyunkan bibirnya.


"Gini aja, gue yang bakal tanya sama Viona. Lo gausah ikut campur. Takutnya, nanti Dave dan keluarga nya malah Mandang buruk ke Lo gitu. Jadi, Lo fokus sama Dave aja deh. Sekarang kan Lo Uda jadi istri. So, Lo menjalankan tugas sebagai seorang istri" Ucap Lia tegas, ia tak mau jika sampai Lily mendapat respon buruk dari keluarga Dave.


Lily tersenyum manis, " Makasih" Gadis itu memeluk Lia dengan hati-hati, takut jika riasannya berantakan.


" Yaudah, gue tinggal ya. Nanti Lo turun sama Dave. Gue mau ketemu Viona dulu" Lia beranjak pergi dari sana.


***


Acara resepsi dimulai. Tampak, pengantin baru itu datang dengan bergandengan tangan mesra. Lily dan Dave duduk di pelaminan mewah. Lily dengan anggun tersenyum kepada para tamu yang mengucapkan selamat pada mereka. Meskipun dalam hati, gadis itu merasa cemas. Sebagai wanita dewasa, tentu Lily sangat mengerti yang namanya malam pertama. Dan itu, membuatnya menjadi gelisah dan takut.


Lily mengedarkan pandangannya menatap kerumunan orang yang sedang menikmati pesta. Ia menoleh menatap Dave yang ternyata sedang menatapnya dengan tersenyum.

__ADS_1


" Dave, mama kamu dimana?" Tanya Lily mengesampingkan rasa gugup nya karna ditatap dengan begitu intens oleh Dave.


Dace tersenyum tipis, pria itu menggeleng. " Gausah khawatir " Ucap Dave yang seolah tahu kekhawatiran istrinya itu.


Lily mengangguk, ia tersenyum tipis dan mengalihkan pandangannya ke depan.


***


Lia beranjak dari acara itu, ia baru menyadari bahwa Viona tidak ada disana. Sedari tadi, Lia sibuk mengobrol dengan kedua orangtuanya.


" Bun, pa, aku temuin Viona dulu ya" Ucap Lia menunjuk kearah atas, dimana kamar peristirahatan mereka tadi.


Bunda mengangguk, sementara papa sedang sibuk menelepon seseorang.


Lia mengangguk, ia segera berjalan dengan cepat menuju lift yang ada di pojok ruangan yang tertutup oleh tirai mewah itu. Gadis itu dengan cepat naik ke lift dan keluar ketika sudah sampai.


Lia membuka pintu kamar mereka tadi, kosong. Gadis itu menghela nafas panjang, sudah ia tebak. Lia kembali berjalan sambil mengambil hp nya di dalam kantung gaunnya. Gaun ini memang unik, ada kantung yang bisa diisi dengan tas kecil di dalamnya. Dan itu tak terlihat, tertutupi oleh kain mewah itu.


Lia segera menelepon Viona, tapi gadis itu tak mengangkatnya. Lia mendengus kesal, ia berjalan cepat kearah bawah, dimana ada sebuah taman kecil disana. Dan benar saja, disana ada seorang gadis yang melamun menatap kosong ke depan. Lia menjadi iba, ia tak tahu Viona kenapa.


" Vi" Lia menepuk pelan bahu gadis itu. Membuat Viona terkejut dan segera menunduk.


" Vi, kamu kenapa? Cerita dong sama mbak" Lia mengelus lembut punggung Viona.


Viona mendongak, ia menatap wajah mbak Lia yang terlihat sangat cantik hari ini. Gadis itu seketika memeluk Lia, membiarkan dirinya bersandar pada punggung Mbak nya.


Lia menepuk-nepuk punggung Viona, meskipun tak tahu kenapa, tapi Lia yakin sesuatu yang besar telah terjadi. Karna Viona, tak mungkin seperti ini tanpa sesuatu yang benar-benar serius.


" Mbak" Perlahan Viona melepaskan pelukannya. Di tatapnya wajah cantik itu.


" Hmm?" Lia menggenggam lembut tangan Viona. Memberikan ketenangan pada gadis yang terlihat terpuruk beberapa hari ini.


" Maaf ya, aku Uda buat mbak susah " Viona tertunduk sedih, ia merasa bersalah karena membuat Lia terus memikirkannya.


" Kamu gak buat mbak susah Vi. Wajar mbak khawatir kalo adiknya sedih kan" Lia mengangkat dagu Viona, membuat Viona kembali menatap Lia.


" Makasih ya mbak" lirihnya pelan.


" Kamu kenapa?" Tanya Lia serius.


Viona menatap lekat Lia, ia ragu memberi tahu kan pada Lia. Gadis itu kembali menunduk, meremas jemarinya.


" Vi, kamu kenapa?" Ulang Lia sabar, ia mengerti perasaan Viona.


" Maaf mbak, tapi Viona belum siap bicara sekarang" Ucapnya tertunduk, menahan air mata yang akan keluar dari matanya.


Lia menghela nafas panjang, ia mengangguk pasrah. Mungkin ini masalah serius, pikir Lia menatap gadis yang sedang tertunduk itu.


****


" Gue bakal kangen banget sama Lo" Ucap Lily terisak, ia memeluk erat tubuh Lia.


" Li, sini deh" Lia menarik Lily agar duduk di sofa. Selesai acar resepsi, Lily akan langsung pulang ke rumah keluarga Dave. Maka dari itu, Dave memberikan waktu untuk Lily dan sahabatnya.


" Denger ya, Lo sekarang Uda jadi seorang istri. Ini nasehat gue sebagai sahabat yang gak mau sahabatnya kena masalah nanti. Lo kan belum pernag ketemu ortu ataupun keluarga Dave. Jadi, Lo harus bersikap baik sama mereka. Lo harus masak pagi dan buatkan teh untuk mertua Lo. Li, gue mau Lo diterima di keluarga itu. Gue mau Lo bahagia disana. Gue gak mau Lo kekurangan kasih sayang lagi. Lily, gue sayang sama Lo. Gue harap, mertua Lo bisa menerima Lo dengan senang hati. Gue juga akan rindu banget sama Lo. Tapi, Lo harus mengutamakan yang namanya keluarga. Jadi, Lo harus sering-sering ingat kalo Lo Uda punya keluarga dan punya tanggung jawab " Ucap Lia panjang lebar, ia meneteskan air matanya merasa senang sekaligus sedih.


Lily mengangguk, ia memeluk Lia dengan erat. " Makasih ya, gue akan selalu ingat pesan Lo"


" Uda, jangan nangis. You can do it " Lia menghapus air mata di pipi Lily.


Lily mengangguk, ia tersenyum manis sambil mengelap air matanya.

__ADS_1


" Yuk gue antar kebawah" Ajak Lia menggandeng tangan Lily.


***


__ADS_2