Ternyata Kita Berjodoh

Ternyata Kita Berjodoh
Eps 79


__ADS_3

Pernikahan sudah semakin dekat. Tinggal hitungan hari mereka akan sah menjadi suami istri. Semua persiapan sudah selesai, bahkan mereka sudah fitting baju pengantin kemarin. Terpaksa sendiri karena pekerjaan Raffa yang masih menumpuk.


Lusa adalah pernikahan mereka. Tapi, gadis yang sebentar lagi akan menjadi seorang istri itu tampak galau di kamarnya. Banyak faktor yang membuat Lia galau. Salah satunya adalah Viona, karena sampai sekarang mereka belum berhasil berbicara dari hati ke hati dengan Viona.


Hal itu tentu saja menjadi beban pikiran Lia. Tapi, dengan Lily disisinya, membuat Lia menjadi lebih tenang. Lusa pernikahan akan dilaksanakan. Tentu saja banyak media yang meliput. Sang mempelai Pria yang merupakan CEO dari LIFAGroups. Dan sang mempelai wanita, yang merupakan pemilik sekaligus pemimpin dari Rainbow Restaurant.


Hari ini, Lia dan Lily sedang berbelanja di mall. Sebenarnya bukan karena mereka yang ingin membeli barang. Tapi, karena Lily yang memaksa agar Lia bisa sedikit lebih fresh dan tenang menjelang pernikahan nanti.


Seperti biasa, jika sudah berada di mall, tangan Lily tidak afdol jika tidak membeli sesuatu. Dan disinilah mereka berada, di toko sepatu. Sedari setengah jam yang lalu, Lily masih bingung ingin memilih antara sepatu warna biru atau warna putih.


" Kalo yang biru, cantik sih, keliatan fresh. Tapi kalo yang putih, kesannya bersih dan murni " Lily terus bergumam sampai Lia di sampingnya jengah.


" Beli dua-duanya aja kenapa sih!" Lia menatap Lily dengan geram.


" Iya juga sih, tapi...."


" Lily pliss! gue cape nih!" Keluh Lia menghentakkan kakinya kesal.


" Ya ampun Lia. Lo itu kaya anak kecil tau gak " Lily tertawa membuat Lia meremas udara.


" Uda ah, bodo amat! Lo pilih dulu deh terserah. Gue mau keliling bentar, nanti telfon gue ya " Lia menepuk pundak Lily pelan sebelum pergi dari toko sepatu bermerk terkenal itu.


***


" Bagus juga sih " Lia menggeser baju-baju yang digantung dengan perlahan. Banyak yang bagus dan sepertinya cocok, tapi entah kenapa Lia tidak mood sekarang. Jadi, ia hanya berkeliling dan membolak-balikkan baju itu. Untungnya, mbak-mbak yang berdiri di pojok ruangan sebagai pembantu pembeli tidak marah pada Lia yang hanya berkeliling.


" Mbak, ruang ganti dimana ya?" Tanya Lia tiba-tiba. Saat berkeliling tadi, ia melihat sebuah dress sederhana berwarna biru elegan. Gadis itu langsung mengambilnya tanpa berpikir panjang lagi.


" Oh disana mbak " Menunjuk sebuah ruangan yang tertutup oleh tirai.


" Makasih ya " Lia tersenyum manis sebelum berlalu ke ruang ganti yang ditunjuk mbak itu.


" Wow, cantik banget " Gadis itu terus memandangi pantulan dirinya di cermin yang disediakan. Dress itu tampak melekat sempurna di badan Lia. Sangat pas dan nyaman. Lia kembali mengganti bajunya dan keluar dengan wajah sumringah. Ternyata, ucapan Lily tadi pagi ada benarnya. Mall adalah tempat yang membuat para wanita happy.


Lia segera membawa dress itu ke kasir. Ia mengeluarkan uang cash ketika mbak kasir mengatakan bayarannya. Setelah selesai, Lia menerima paper bag itu dengan senyuman manisnya. Lia keluar dengan membawa paper bag di tangannya.

__ADS_1


Matanya tak sengaja menatap sebuah toko tas yang terlihat menarik. Tanpa sadar, Lia berjalan ke arah toko tersebut untuk melihat-lihat. Sebelumnya, Lia sudah menitipkan paper bag nya di tempat yang disediakan. Tempat yang dijamin aman yang disediakan untuk pembeli.


" Cantik " Puji Lia terkagum-kagum dengan tas mini berwarna biru yang persis seperti dress nya. Ia langsung membawanya ke kasir dan membayarnya dengan yang cash. Setelah selesai, Lia keluar dengan menenteng sebuah paper bag di tangannya. Tak lupa, gadis itu mengambil paper bag nya yang tadi dengan kode yang terpampang di awal saat hendak menitipkan barangnya. Sekarang gadis itu menenteng dua paper bag dengan wajah sumringah.


" Ah rasanya happy deh. Tau gini, kenapa ga dari dulu sih aku shopping " Gumam gumaman keluar dari bibir Lia tatkala ia merasa perasannya lebih baik saat berbelanja. Inilah yang dinamakan mood booster seorang wanita. Senangnya.


***


" Aduh cape " kedua wanita yang baru berbelanja itu menghempaskan tubuh mereka di kasur Lia dengan paper bag yang tadi sudah di letakan di sofa ujung kamar.


" Lo tadi belanja juga?" Pertanyaan yang sama kembali Lily lontarkan.


" Iya Lily, Lo ga liat apa gue bawa paper bag" jawab Lia santai. Tak ada nada kesal atau pun malas.


" Eh bentar deh, Lo berarti Uda happy nih ceritanya?" Lily menyenggol lengan Lia sambil tertawa. " Cie...selamat ya Lia, akhirnya kamu ga bad mood lagi " gadis itu tertawa terbahak-bahak dengan terus menggoda Lia.


" Iya deh, thanks ya Bestie " seru Lia dengan nada manja. Ia mencubit pipi Lily gemas sebelum mereka berdua tertawa terbahak-bahak.


***


Hari ini, Lia tengah bersiap-siap pergi menemui Dave yang sudah bersama Lily di Resto. Tadi pagi, tepat pukul 05.00, Dave sampai di bandara dan langsung pergi menuju Resto. Karena hanya itu alamat yang ia ingat. Setelahnya ia menelepon Lily. Dan Lily, bagaikan kebakaran jenggot langsung pergi ke Resto bahkan tanpa mandi dan sarapan. Ia hanya memakai celana jeans dan kardigan yang menutupi piyamanya. Mungkin saat sadar, Lily akan berteriak sangking malunya.


Setelah selesai, Lia turun kebawah untuk berpamitan pada Bunda. Bibir Lia membentuk sebuah senyuman tatkala ia melihat adegan romantis sepasang suami istri yang tengah beradu lidah dengan mesranya.


Aaah, Lia rasanya ingin teriak melihat adegan romantis itu. Apakah nanti Raffa juga begitu? bayangan setelah menikah kembali menghantui Lia. Ia menggeleng cepat dan mengurungkan niatnya untuk pamit. Dengan perlahan, Lia pergi dari sana menuju Resto.


***


Mobil yang baru ia beli belakangan ini berhenti di parkiran. Ia tersenyum ramah lada Pak Satpam sebelum masuk ke dalam. Hari gadis itu berada hangat ketika melihat para pengunjung yang selalu ramai. Rasanya, dulu Lia sama sekali tak menyangka akan mempunyai Restoran seperti ini. Bahkan sudah mempunyai cabang hingga ke Inggris. Ia tersenyum tipis dengan hati yang tak henti bersyukur.


" Lia "


Lia tertegun, menerka-nerka siapa yang memanggilnya. Apa mungkin....? Tapi kan, pria itu sedang sangat sibuk di Kantornya.


" Lia "

__ADS_1


Kali ini gadis itu langsung menoleh dan....Rasanya bibir ini tak bisa berhenti untuk tersenyum. " Raffa " Gumam Lia tersenyum manis.


***


" Kangen banget tau " Raffa memeluk Lia dari samping. Menguyel-uyel kepalanya di leher Lia.


" Aku juga " jawab Lia pelan, nyaris tak terdengar. Ia menggeliat merasa geli sekaligus gugup saat Raffa memainkan lehernya dengan kepala pria itu.


" Apa?" Pria itu mendekatkan telinganya ke wajah Lia. Membuat jarak diantara mereka seolah terkikis.


Lia menggigit bibir bawahnya gugup, " Aku juga kangen " lirihnya mengalihkan pandangan.


" Oh "


" Ih jangan gitu " Lia menggeliat, mendengus kesal saat pria di depannya kembali memainkan lehernya. Membuatnya ingin mendesah, ups. Jujur saja, leher merupakan area sensitif bagi Lia, sangat sensitif. Belum pernah ada yang memainkan lehernya sampai begini. Baru pria ini, pria yang besok akan menjadi suaminya.


" Aku.."


" Kamu..."


Eh. Kedua manusia berbeda gender ini saling menatap dan mengalihkan pandangannya.


Raffa berdehem, lalu menatap gadis yang besok akan ia nikahi. Yang besok akan menjadi miliknya secara sah Dimata agama maupun hukum. Membayangkannya saja sudah se-senang ini.


" Lia " Raffa mendekatkan wajah mereka. Hingga hidung keduanya bersentuhan.


" Ya?" Lia memberanikan diri membalas tatapan mata itu. Ia tersenyum tipis saat melihat mata tajam Raffa..


" Imutnya"


Raffa menahan diri untuk tidak mencium bibir merah yang terlihat sangat menggoda, ia berdehem pelan sebelum berucap. " Tomorrow you are ready to marry me ?"


" Very ready " Lia melebarkan senyumnya.


Cup.

__ADS_1


***


__ADS_2