
" Jadi gimana By? " Lily menyenderkan kepalanya di dada Dave.
" Sabar Honey. Kita harus pikirkan baik-baik. Untuk sekarang, jangan dulu ganggu kebahagiaan mereka. Tunggu aja dulu, nanti baru kita kasih tau Lia sama suaminya itu " Dave membelai rambut Lily lembut.
Lily mengangguk, " you know what, I am so sad "
" Calm dear,. Everything will be alright "
Lily mengangguk, " Makasih ya Baby "
" Whatever, dear.. "
***
" Sasa.. " Teriak Raffa memenuhi kamar hotel itu. Lia menutup telinganya dengan kesal. Beranjak dari posisi duduknya dan menghampiri sang suami yang berada di kamar mandi. Malam-malam begini Raffa masih ribut juga. Haduh...
" Bisa diam gak sih Mas! " Teriak Lia dengan kesal. Tadi sore ia memang sudah mengganti nama panggilan menjadi 'Mas. Agar lebih sopan dan terkesan mesra juga kan. Ya.. daripada Sayang, Honey, Baby, Husband, dan lain sebagainya yang membuat Lia geli sendiri.
Ceklek.
" Sa, kamu Uda mandi? "
" Huh? Sa? " Lia mendelik.
" Iya sayang, Sasa... " Raffa tersenyum tipis dan beranjak ke sisi ranjang untuk berganti pakaian.
" Sasa? Astaga, masa iya baru nikah Uda selingkuh " Muka Lia sudah berubah. Pikiran buruk menghantui pikiran nya. Bisa-bisanya suaminya memanggil nama wanita lain di depannya.
" Mas, siapa Sasa? " Tanya Lia ketus. Berterus terang jauh lebih baik daripada marah dalam diam. Ia berjalan ke tempat tidur dan merebahkan tubuhnya disana. Ah, rasanya nyaman.
" Apa? " Raffa duduk di samping Lia dengan kening berkerut.
" Sasa itu siapa? " Ulang Lia. Kali ini lebih menekankan kalimatnya.
" Sasa yang tadi? " Raffa bertanya karena merasa bingung sendiri.
" Jadi ada yang lain lagi? " Lia meninggikan suaranya. Rasanya meledak-ledak di dada jika tidak di lampiaskan.
" Eh tenang Lia. Kamu ini kenapa sih? Aku padahal udah mau Lo tunda Honeymoon kita sampai lusa. Tapi kamu masih badmood aja. Kenapa sih hmm? " Dengan lembut, Raffa mengelus kepala Lia. Memberikan ketenangan pada istrinya yang dalam mode marah.
" Sasa itu siapa Mas? " Tanya Lia yang sudah mulai tenang. Ia memejamkan matanya.
" Ya kamu lah sayang " Jawab Raffa dengan senyum tipis. Tak menyangka ternyata istrinya cemburu
" Huh? " Lia sontak membuka matanya dari bangkit dari posisinya. Ia duduk mensejajarkan dengan Raffa.
" Maksudnya? " Lia menunjuk dirinya sendiri ingin meminta kepastian.
Raffa mengangguk, " Alisya Putri Mahendra, aku cuma pengen nama kesayangan. So, Alisya jadi Sasa. Diambil dari kata sya. So, don't be jealous "
" Ih, siapa yang cemburu! " Lia melengos. Mengalihkan pandangannya dengan menahan senyum.
" Lagian alay banget kamu Mas " cibir Lia tersenyum sinis.
__ADS_1
" Alay dari mana. Seharusnya kamu bersyukur Sasa, karena sekarang pria seperti aku itu udah langka " Ucap Raffa dengan bangganya.
" Ih narsis kamu mas "
Pria itu tak menghiraukan ucapan Lia, iya menarik tubuh Lia hingga terjatuh ke pelukannya. " Ayo tidur " Raffa mengelus kepala Lia untuk menenangkannya. Tak lupa Raffa menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka. Setelahnya, ia mengeratkan pelukannya dan memejamkan mata bersiap masuk ke dalam mimpi.
***
Hari ini cuaca sedang mendung. Awan gelap pertanda hujan tampak banyak di langit. Jam 08.00 pagi sehabis sarapan, kedua pengantin baru itu pergi dari hotel menuju rumah mertua Lia. Mereka menaiki taksi karena mobil Raffa ataupun Lia sudah dibawa pulang. Perjalanan memakan waktu 15 menit. Setelah membayar, mereka turun dengan bergandengan tangan dan saling tersenyum.
Raffa tak henti-hentinya memandangi sosok wanita cantik di sampingnya. Dengan celana kulot panjang. Kemeja peach dengan bagian tangan model terompet tapi mengerucut di ujung. Hells tinggi berwarna putih dan tas selempang berwarna senada. Rambutnya ia biarkan tergerai indah dengan jepitan kecil di sisi kanannya. Hari ini Lia tampak seperti Wanita karir yang bebas.
" Kenapa sih ngeliatin aku Mulu ih " Lia menutup wajahnya dengan tas selempang mini miliknya.
Raffa tersenyum, " Kamu cantik. Kalo orang liat, ga akan nyangka kalo kamu Uda nikah. Keliatan masih bebas " Raffa menarik tas Lia dan menggandeng tangannya.
Dahi Lia berkerut, " Maksudnya? Bebas gimana? " Lia memperhatikan penampilannya dari bawah ke atas. Ini adalah outfit nya disaat hari libur. Menurutnya biasa saja dan tetap sopan.
" Kurang sopan Sasa sayang, Udah ayo " Raffa menarik lembut tangan itu menuju pintu utama di rumah mewah ini.
Lia tersenyum malu, sejak semalam Raffa terus memanggilnya dengan nama Sasa. Aaah, lutuna... Hihihi...
***
" Jadi kapan kalian honeymoon nya? " Mama menatap suaminya kemudian berganti menatap anak dan menantunya dengan senyuman.
" Lusa Ma " jawab Raffa singkat, jelas, dan padat.
" Oh gitu, tapi kalian tinggal disini dulu kan sebelum pergi? Mama pengen ngerasain punya anak perempuan " Mana tersenyum manis menatap Lia yang sepertinya masih canggung.
" Ciee..... Ciee.. " Secara serempak, kedua orangtua itu menggoda sang pengantin baru.
Lia nyaris tertawa melihat kekompakan dan kelucuan mertuanya. Tapi ia harus menjaga image sebagai menantu yang baik. Lia berdehem, malu-malu tersenyum.
" Iya " Sahut Raffa yang membuat Mama dan Papa terdiam, juga Lia yang sedikit terkejut. Bagaimana tidak terkejut, ketika semua sedang tertawa menggoda pengantin baru, Raffa malah berkata dengan suara berat dan dinginnya. Dan hanya satu kata yang membuat suasana tampak canggung.
" Emm Ma, dapur dimana? Ini tadi kita sempat mampir ke toko kue. Dan ada red Velvet cake, kata Mas Raffa kesukaan mama. Juga ada Brownies coklat, kesukaan Papa " Lia mengambil plastik di atas meja yang berisi kue dan berdiri dari duduknya.
" Ayo ikut Mama " Mama menggandeng tangan menantunya menuju dapur. Ia sangat senang mendapat red Velvet cake, itu adalah kesukaannya.
" Kamu tadi belinya dimana? Biasanya sih langganan red Velvet cake yang paling enak itu di Amanda cake "
" Tadi kita belinya di Amanda cake kok Ma. Tapi di cabang nya sih, karena kalo kita ke pusat kota, macet " Lia mengeluarkan kotak kue nya dan membukanya untuk dipindahkan ke piring.
Mama tersenyum, mengambil kue itu dan memindahkannya dengan perlahan ke piring besar yang mampu menampung satu porsi kue itu. Setelahnya ia mengambil brownies coklat kesukaan suaminya yang baru dikeluarkan Lia dari tempatnya.
" Kamu mau minum apa sayang? " Tanya Mama sembari mengambil beberapa gelas dan meletakkannya di atas nampan.
" Aku aja yang buat Ma. Mama mau minum apa? Papa mau minum kopi? " Lia mendekat dan mendorong pelan mertuanya agar menyingkir.
" Kalo mama teh hangat saja. Kalo Papa biasanya sih suka kopi susu. Kalo suami kamu mau apa? "
Lia memulai membuat teh untuk Mama dan Papa dengan cekatan. " Mas Raffa suka kopi hitam Ma " Lia mengambil hitam dan meletakkannya di dalam gelas. Lalu mengambil gula dan memberi secukupnya.
__ADS_1
" Kamu juga minum dong. Kamu suka apa? ".
" Aku sih suka Hot Chocolate. Ada gak ma? " Lia mengambil air panas yang baru dimasak dan meletakkannya ke dalam gelas berisi kopi dan kopi susu. Lalu mencampur air panas itu dengan sedikit air dingin untuk teh Mama.
" Itu di samping susu ada " Mama menunjuk sebuah rak disamping Lia.
Lia mengangguk, mengambil nya dan meletakkannya di dalam gelas. Lalu menyeduhnya dengan air panas. Aromanya sangat wangi, asap nya mengepul membuat Lia tak sabar menikmatinya.
" Ayo ma " Lia membawa nampan berisi empat gelas minuman. Sementara Mama membawa dua piring berisi kue tadi ke depan.
" Ini dia, buatan menantu tersayang. Pasti enak " Puji Mama sembari meletakan kue nya dan menunjuk minuman buatan Lia.
" Wah, enak lah itu pasti " sahut Papa mengambil kopi susu nya dan meletakkannya di depannya.
Lia tersenyum. Mengambil kopi hitam dan meletakan di depan suaminya. Lalu duduk dan mengambil minumannya.
" Eh ga bawa tapak ya. Biar aku ambil dulu ya " Lia meletakan minumannya dan berdiri untuk mengambil tapak dan sendok. Setelah itu, ia kembali dan meletakkannya di depan Mama karena ia tahu Mama sangat menyukai kue itu.
" Wah makasih loh sayang. Menantu idaman ini mah " Puji Mama tersenyum. Mengambil tapak tadi dan menyendokan seperempat ke kue itu dan meletakkannya di tapak. Ia menyendokan dalam suapan cukup besar.
" Gimana Ma? " Tanya Lia antusias.
" Enak banget " Jawab Mama singkat. Karena setelah itu, mama sibuk memakan kue nya hingga habis dan menambahkannya lagi.
" Eh papa juga dong, ini kesukaan papa kan " Lia mengambilkan brownies coklat untuk papa mertuanya. Dengan porsi yang cukup banyak Lia memberikan tapak itu ke papa Raffa.
" Makasih ya Lia " sahut Papa tersenyum.
" Enak " Komentar Papa tersenyum. Lalu melanjutkan makannya hingga habis.
" Kamu juga mau mas? " Lia sudah mengambil tapak, ingin mengambilkan suaminya yang sedari tadi melihat kedua orang tuanya makan.
Raffa menggeleng, lalu menyeruput kopinya yang masih panas.
Lia kembali meletakan tapak itu dan mengambil minumannya. Ah sangat enak. Ia terus meminumnya dengan pelan.
***
" Mas, aku mau ngambil baju ke rumah dulu " Ucap Lia sembari menyenderkan kepalanya di dada Raffa yang terlentang.
" Iya ntar sore kita ke rumah " Raffa mengelus kepala Lia dengan lembut.
" Oke, tapi aku langsung bawa baju semua atau nanti aja? " Lia menggesek-gesekkan kepalanya di dada Raffa. Ingin bermain-main tanpa tahu jika itu bisa menimbulkan sensasi di tubuh suaminya.
" Langsung saja sayang, habis dari honeymoon kita langsung pindah " Jawab Raffa sedikit menggeser kepala istrinya.
" Kemana? " Lia langsung merubah posisinya. Menjadi terlentang di samping Raffa.
" Nanti kamu tau "
" Oke deh " jawab Lia pasrah. Malas bertanya karena rasanya ia ingin tidur sekarang. Lia merasa nyaman tidur di kamar Raffa. Meskipun dengan warna gelap, tapi tetap rapi dan segar. Membuatnya ingin berlama-lama disana.
***
__ADS_1
Hay, maaf ya lama up nya. Ada beberapa kendala. Insyaallah bisa up lagi ya.