
Mentari sudah menyapa, sinarnya sudah menghangatkan penduduk bumi meskipun hari masih terbilang pagi. Di sebuah rumah megah berlantai tiga, terjadi perdebatan di meja makan yang sudah menjadi rutinitas setiap hari nya.
" Aku gak mau Pa! " Seorang pria muda berusaha menekan intonasinya. Bagaimanapun, pria di depannya adalah papanya, ia harus bersikap hormat apapun ceritanya.
" Raffa!! kamu itu bandal sekali jadi anak! Tinggal turuti saja susah!! " Seorang pria paruh baya yang masih terlihat gagah di usianya berteriak dengan kesal karena anak semata wayangnya sangat susah untuk menuruti permintaannya.
" Pa- " baru saja akan menyanggah ucapan papanya, seorang wanita yang tampil dengan anggun menegurnya dengan tegas.
" Raffa! Tolonglah mengerti, perusahaan keluarga kita lagi kritis. Cuma kamu yang bisa membantunya Raffa. Lagian kalian kan baru tunangan, untuk menikah nanti setelah kamu selesai kuliah. Cuma tunangan! Hanya status.. " Airin, wanita anggun yang mempunyai paras ayu saat muda hingga sekarang. Ia mencoba membujuk putranya lebih lembut lagi. Jujur ia lelah, setiap hari keluarga mereka harus bertengkar karena ini.
" Ma.. " Raffa tak melanjutkan ucapannya, ia takut menyakiti hati wanita yang sangat ia cintai dengan segenap hati itu. Sangat takut hingga Raffa memilih diam dan berdiri dari duduknya.
" Aku berangkat sekolah " berjalan mendekat ke mamanya dan memeluk wanita itu penuh kasih sayang.
" Aku berangkat Ma.. " ada perasaan tak tega melihat wajah lelah mamanya yang kian menua. Raffa menghela nafas, ia mencium kening mamanya dan beralih ke papanya. Mencium tangan lelaki paruh baya itu dan tersenyum tipis lalu keluar dari rumah.
Dengan tas ransel yang bertengger di pundaknya, Raffa berjalan keluar menuju mobilnya. Tampak mobilnya sudah terparkir sempurna tepat di depan pintu utama setelah melewati teras yang cukup luas.
Menekan tombol yang ada di kunci mobilnya, pria itu masuk ke dalam mobil sport miliknya lalu mengendarainya menuju sebuah rumah.
Sekitar sepuluh menit, mobil sport miliknya berhenti di depan gerbang yang dijaga ketat oleh empat satpam yang berada di pos dalam gerbang.
Tin.. Tin..
Raffa membunyikan klakson, membuat salah satu dari satpam membuka gerbang sedikit dan keluar menemui pemilik mobil.
Tok..Tok..
Kaca jendelanya diketuk, ia membukanya dan seorang pria yang lebih muda dari papanya langsung bertanya.
" Selamat Pagi Tuan, ada yang bisa saya bantu? " Satpam itu bernama Tio, ia sudah mengabdi pada keluarga Mahendra selama lima tahun lebih.
" Saya Raffa,ingin menjemput Nona Alisya. Bisa saya masuk? " Tanya Raffa dengan wajahnya yang terlihat datar dan sombong.
" Anda tunggu disini Tuan, saya akan bertanya terlebih dahulu " Raffa mengangguk malas, ia mengibaskan tangannya dan bersandar di jok mobil. Pikirannya berkecamuk, kembali memikirkan kejadian yang setiap harinya tejadi. Perdebatan yang tak bisa ia elakkan. Perdebatan yang membahas hal yang sama.
__ADS_1
Tapi di satu sisi, ia juga memikirkan mamanya. Wanita itu adalah sumber kebahagiaan nya. Mamanya adalah sesuatu yang sangat Raffa hormati dan cintai. Melebihi papanya yang menurutnya terlalu memaksakan kehendak dan juga komunikasi mereka yang singkat membuat hubungan ayah dan anak itu kacau.
Mamanya lah selama ini temannya, tempatnya berkeluh kesah. Tapi semenjak perdebatan yang sangat memuakkan ini membuat hubungannya dan mamanya menjadi renggang dan tidak baik.
" Haaah " Raffa menghela nafas panjang. Ia benar-benar bingung sekarang. Meskipun tunangan hanya sekedar status, tapi tetap saja itu beban yang sangat berat. Ini soal perasaan, mana bisa di permainkan. Mungkin saat ini masih tunangan, tapi nanti? apakah ada yang bisa menjamin jika pernikahan tidak menjadi pilihan orangtua mereka?
" Raf, udah lama? " Suara Lia membuyarkan semua lamunan rumit Raffa. Pria itu langsung tersadar dan membuka pintu mobil dari dalam. Tampak Lia sudah tapi dengan seragam khas anak SMA. Gadis itu tampak imut dengan senyum cerianya.
" Kok Lo ga bilang sih mau jemput? Tau gitu kan gue bisa lebih cepet. Lagian kan rumah gue ga searah Raf sama sekolah. Ngalian Lo jemput? kan Lo nya repot " Lia terus berbicara sambil memasang seat belt nya. Ia menatap Raffa yang tampak menatap kosong ke depan.
" Woy!! " Tepukan keras di pundak membuat Raffa terkejut, ia memegang dadanya dan menatap Lia yang terkekeh pelan melihatnya.
" Kenapa? " Tanya Raffa ketus, ia memutar mobilnya dengan hati-hati.
" Lo yang kenapa? lagian pagi-pagi udah melamun! Ntar kesambet Loh! " Lia tersenyum sendiri dengan ucapannya. Ia melirik Raffa, gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Raffa yang hanya diam dan fokus mengendarai mobil ini menuju sekolah.
" Lo Uda belajar? " tanya Lia memecah suasana hening yang tercipta sesaat. Ia tak suka ini, ia lebih suka Raffa yang banyak bicara dan melarangnya ini itu.
" Hmm "
Lia menghela nafas, sepertinya Raffa sedang dalam mood yang tidak baik saat ini. Akhirnya Lia memilih diam dan mengambil hp nya dari dalam tas. Ia membuka aplikasi hijau dengan logo telepon yang menampilkan pesan dari seseorang yang membuat senyum di bibir gadis itu terbit.
Semangat! semoga ujiannya lancar dan dapat nilai bagus 😊
Sebuah pesan dari Bryan. Pesan itu dikirim tadi pagi tepatnya jam 06.05. Lia terus tersenyum dan membalas pesan dari pria yang ia sukai itu..
Makasih😊 kamu juga semangat ya :)
Lia tersenyum membaca pesannya sendiri. Terkesan lebay sih, tapi biarlah. Ia ingin Bryan tahu perasaannya tanpa harus mengatakannya langsung.
" Kenapa Lo? " akhirnya Raffa membuka suara ketika mendapati Lia tersenyum-senyum saat menatap ponsel gadis itu.
" Hmm? " Lia mengangkat pundaknya lalu kembali asyik pada ponselnya. Hal itu membuat Raffa kesal tapi ia hanya bisa diam.
***
__ADS_1
Ujian berjalan dengan lancar. Dilaksanakan sesuai prosedur, dengan duduk seorang diri dan soal yang dibuat per-paket. Ujian berlangsung sekitar dua jam. Setelah selesai, mereka langsung dipulangkan.
Lia sudah berjalan menuju gerbang ketika seseorang dengan sengaja menabraknya dari belakang.
" aah " Lia berteriak spontan, tubuhnya tidak seimbang karena ia yang terkejut. Hitungan detik ia langsung terjatuh.
Bruk!
Semua mata fokus pada pemandangan di depan mereka. Ini kali kedua gadis dengan julukan matahari berada di pelukan salah satu geng cogan. Kali ini bukan Raffa si cuek yang digemari banyak fans nya. Tapi Bryan, pria yang dikenal cukup ramah dan baik yang juga mempunyai cukup banyak fans.
Mata kedua orang itu bertemu. Sampai Lia tersadar dan segera berdiri. Ia benar-benar tak nyaman sekarang. Entahlah, ia menyukai Bryan tapi ia kurang nyaman berada di posisi sedekat itu dengannya. Mungkin lebih tepatnya malu dan sungkan
" Bubar!! " Teriak Raffa dengan nada tinggi. Wajahnya memancarkan amarah yang terpendam. Raffa berusaha mengendalikan dirinya agar tidak bersikap berlebihan pada sahabatnya. Ia menghela nafas kasar. Pergi dari sana dengan wajah merah padam.
" Raf! " Suara teriakan yang sangat ia kenal. Dengan kesal pria itu membalikkan badannya. Matanya menatap tajam seorang pria dengan senyum jenaka yang selalu ada saat ia suka maupun duka.
" Balik yuk! " ajak Darwin tersenyum, ia mendekat dan merangkul sahabatnya dengan akrab seperti biasa.
Raffa menghela nafas pelan, ia mengangguk dan mereka berjalan menuju gerbang. Tampak di depan gerbang Bryan dan Lia berdiri dengan jarak satu meter. Keduanya nampak canggung.
Raffa mendengus kesal. Ia mendekati kedua orang itu dan menggandeng tangan Lia.
" Dia balik sama gue! " tandas Raffa menatap tajam sahabatnya.
_
_
_
_
_
_
__ADS_1
BERSAMBUNG