
Graham adalah Kakek kamu. Sementara Nenek kamu sudah meninggal sejak Papa berusia Lima tahun. Kakek mu selalu sibuk dengan perusahaan nya. Dan hal itu membuat Papa selalu kesepian di rumah.
Suatu hari, kakek kamu membawa seorang anak laki-laki yang berusia hampir sama dengan Papa. Bedanya hanya beberapa bulan saja. Kakek kamu berniat mengangkat anak itu dan meminta persetujuan papa. Papa yang saat itu kesepian, dengan senang hati mengizinkan kakek kamu.
Kakek mu menamai anak itu dengan nama Putra. Kami akrab. Papa sudah menganggap ia adik papa sendiri. Kami tumbuh besar bersama. Sampai kami tamat kuliah. Setelah itu semuanya mulai berubah. Kakek kamu mulai sakit, mungkin karna terlalu sibuk dan lupa dengan kesehatannya.
Karna papa yang sudah cukup umur, kakek mu mewariskan perusahaan itu pada Papa. Perusahaan itu tidak terlalu besar, tapi orang pasti akan tergiur dengannya. Awalnya Papa menolak. Papa mempunyai sebuah cita-cita menjadi seorang dokter. Tapi, papa terpaksa mengikuti kemauan kakek kamu dikarenakan beliau sudah sakit parah.
Papa belajar bisnis, kuliah Papa sangat bertolak belakang dengan apa yang papa lakukan. Karna itu, papa harus mengulang belajar dari awal. Tapi, disaat-saat itu Putra berubah. Rasa iri mulai muncul di hatinya dan membuat hubungan kami menjadi tidak baik.
Papa sudah berusaha untuk memberi pengertian pada Putra. Tapi dia menolak dengan keras apapun perkataan papa. Dia malah mengatakan karna dia hanya anak angkat. Papa mengadu ke kakek mu dan bermaksud untuk membatalkan perusahaan yang jatuh ke tangan papa.
Tapi kakek mu malah memberi papa perintah untuk tetap mempertahankan perusahaan itu dan membuatnya lebih maju lagi. Papa bingung, sampai Putra menemui papa dan memperjelas semuanya.
Putra mengibarkan bendera perang. Dia secara terang-terangan bermusuhan dengan Papa. Karna perintah kakek mu yang sudah sangat sekarat, akhirnya papa membalasnya. Kami bersaing tidak sehat. Seringkali ada orang yang selalu mengganggu papa di tengah jalan. Tapi anehnya mereka tidak berbuat apapun. Hanya menggertak dan pergi.
Kami terus bersaing, sampai kakek mu meninggal. Dan di detik-detik terakhir, dia memberikan perintah untuk tetap mempertahankan perusahaan itu. Hanya itu yang bisa papa lakukan untuk kakek mu.
Tapi, beberapa Minggu setelah itu, Putra pergi. Bahkan disaat kami belum tahu siapa pemenangnya. Dia pergi. Sampai sekarang papa tak tahu kebenarannya.
Papa mulai menjalankan perusahaan dari awal. Karna kondisi perusahaan itu yang tidak stabil. Pagi, siang, sore, malam, sampai pagi lagi papa terus belajar dan bekerja. Sampai kondisi perusahaan itu menjadi stabil.
Papa sah menjadi pemimpin dari perusahaan itu. Papa bangga dengan hasil kerja papa. Sampai papa berjumpa dengan seorang wanita hebat yang sangat menarik.
Dia bunda, Maria. Namanya Maria. Saat itu, ia diganggu oleh preman jalanan. Papa yang tak sengaja melihat nya ingin menolong, namun yang papa lihat malah preman itu yang babak belur oleh Maria. Dia ternyata pandai bela diri.
Setelah itu, papa mulai menyelediki Maria. Beberapa hari kemudian, papa menemukan nya. Dia seorang anak yatim-piatu. Tapi, dia anak yang pintar. Sehingga para donatur terus memberikan biaya sekolah untuknya. Alhasil, Bunda bisa mencapai gelar S1 Manajemen bisnis.
Papa mengangkatnya menjadi sekretaris ketika kebetulan dia melamar kerja di Perusahaan. Perusahaan menjadi lebih maju dan berkembang. Otaknya sangat pintar. Setelah itu, Kami menjadi dekat. Sampai pada acara Ulang tahun Perusahaan, Papa melamar nya. Dan dia menerimanya.
Papa sangat senang, tak lama setelah itu kita menikah. Kami tak pacaran. Hanya pdkt beberapa bulan dan setelah itu menikah. Selama ini Bunda yang selalu membantu perusahaan itu menjadi sangat maju seperti sekarang. Dan saat kamu lahir, bunda berhenti menjadi sekretaris dan memutuskan untuk dirumah dan merawat kamu.
Alasan kenapa papa menyembunyikan identitas papa karna papa ingin mencari Putra sekaligus papa ingin melindungi kalian dari musuh papa yang mencoba menjatuhkan papa.
Lia, sekarang kamu sudah tau kan? Papa harap kamu menyembunyikan identitas kamu. Papa tau kamu pasti mengerti.
Lia menutup buku itu dengan tersenyum. Ia bangga dengan kedua orangtuanya. Lia baru tahu, ternyata bundanya pandai bela diri. Lia pikir bundanya adalah perempuan lemah lembut yang tak suka perkelahian. Ternyata, hihihi lucu.
Dan Lia juga penasaran dengan Putra yang katanya adik angkat ayahnya yang berarti om angkatnya. Kenapa bisa-bisanya dia bersaing dengan orang yang sudah sangat baik mau menganggap nya keluarga.
Lia mengembalikan buku itu ke tempat semula. Tadi, dia berjalan-jalan di ruang kerja Papanya atas perintah dari Papanya yang menyuruhnya mencari buku dengan judul Lia dan menyuruh membacanya. Lia yang heran menjadi terkejut ketiak mendapati buku itu. Ia langsung membacanya dan mengerti maksud dari Papanya.
Lia keluar dari ruang kerja Papanya. Ia berjalan menuju kamarnya ingin bersiap-siap pergi menemui Viona yang ada di apartemennya. Viona sekarang tinggal di apartemen milik Lia. Karna gadis itu merasa segan jika harus tinggal serumah dengan Lia.
Karna ini hari Minggu, gadis itu pasti ada disana. Lia ingin membicarakan masalah Resto sekaligus mengajak Viona pergi ke Inggris besok.
Gadis itu turun setelah bersiap-siap. Di bawah ia bertemu dengan kedua orangtuanya. Dengan tersenyum, Lia berkata.
" Thank you Uda ngasih tau aku" Lia tersenyum manis pada kedua orangtuanya.
Mahendra mengangguk, ia membalas senyuman anaknya.
" Kamu mau kemana?" Tanya Bunda, ia memperhatikan outfit Lia.
__ADS_1
" Aku mau ketemu Viona, nge-bahas masalah Resto dan ngajakain Viona Dateng besok ke Inggris. Karna Lily nikah"
" Lily nikah? Sama Dave?" Bunda tampak terkejut mendengarnya.
Lia mengangguk, " Iya sama Dave"
" Wah bunda ikut seneng dengernya" Maria tersenyum senang atas kebahagiaan sahabat anaknya itu.
" Lia juga seneng. Oh ya, Bunda sama Papa juga diundang" Lia baru teringat saat tadi malam Lily mengirimkan undangan via online.
" Yaudah Lia berangkat" Lia menyalim tangan Bunda dan Papanya.
" Assalamualaikum" Ucapnya sebelum ia benar-benar keluar dari pintu.
" Gimana Mas?" Tanya Maria pada suaminya itu.
" Okey, sekalian kita honeymoon" Mahendra tersenyum penuh arti.
" Ih honeymoon dari mana" Maria mencubit kuat lengan suaminya.
" Aduh, cubitan kamu masih sama" Mahendra mencium bibir istrinya itu, merasa gemas.
****
Tok..Tok..Tok..
" Bentar" Teriak Viona dari dalam.
ceklek.
" Ya kan sekarang kamu yang nempatin apartemen ini. Jadi mbak harus memberikan privasi sama kamu" Lia duduk di sofa dan menyenderkan kepalanya.
" Mbak mau bahas masalah Resto. Karna belakangan ini mbak gak bisa fokus dan selalu ngasih kerjaan ke kamu. Jadi, mbak mau kamu jelaskan tentang perkembangan Resto seminggu ini" Jelas Lia tegas.
" Oke" Viona mulai menjelaskan perkembangan di Rainbow Restaurant. Gadis itu dengan profesional mempresentasikan Perkembangan Resto selama seminggu ini.
Lia mengangguk puas, ia tersenyum bangga pada Viona. Tak menyangka, gadis ini ternyata sudah tumbuh menjadi sangat pintar.
" Makasih banget Vi, mbak akan kasih bonus untuk bulan ini" Lia tersenyum puas menepuk lembut bahu Viona.
" Thank you" Viona memeluk mbak nya erat. Ia sangat senang mempunyai sosok kakak yang ada untuknya.
" Oh ya ada satu hal lagi " Ucap Lia yang harus teringat dengan Lily.
" Apaan mbak?" Viona melepaskan pelukannya dan duduk di samping Lia.
" Jadi, Lily mau nikah tanggal 15. Nah rencananya besok mbak mau datang kesana sebelum hari-h nya "
" Serius?" Tanya Vioan terlonjak kaget. Ia tak menyangka mbak nya yang satu itu akan melepas masa singgel nya.
Lia mengangguk, ia melanjutkan ucapannya. " Jadi, kamu mau ikut mbak datang besok atau datang pas hari-h nya?"
" Ya jelas dong aku ikut mbak" Jawab Viona yakin.
__ADS_1
" Oke kalo gitu kamu nginep di rumah Bunda aja ya malam ini, supaya besok ga susah. Dan sekarang kamu packing dulu deh untuk sekitar tiga hari disana" Lia tersenyum tipis.
" Oke mbak, aku packing dulu ya" Viona beranjak dari sana menuju kamarnya.
" Mbak udah" Viona menunjuk koper yang ia bawa dari atas.
" Oke, kita berangkat sekarang aja ya. Ngobrolnya di rumah Bunda aja" Lia beranjak keluar dari apartemen itu. Diikuti Viona dibelakangnya yang menyeret sebuah koper.
****
" Telfon aja Vi, jangan sungkan" Lia melirik sekilas Viona yang tampak ragu dengan ponselnya. Gadis itu tetap fokus pada setir di depannya. Kali ini Lia yang mengendarai.
Viona tersenyum malu, ia mengangguk. Dengan sedikit ragu, gadis itu mulai menelepon pacarnya.
" Hallo Baby" Sapa pria di seberang sana membuat pipi Viona seketika memerah merona.
" Hay Riz, aku mau bicara" Viona melirik sekilas Lia yang tampak acuh tak acuh pada dirinya.
Lia dengan sengaja berpura-pura cuek dengan gadis itu. Dia ingin membuat gadis itu tak merasa sungkan.
" Bicara apa?" Tanya Rizky lembut.
" Emm aku besok mau ke London " Viona mengalihkan pandangannya menatap jendela mobil.
" Loh kenapa?" Terdengar khawatir di seberang sana.
" Kamu tau Mbak Lily kan. Nah dia mau nikah. So, aku pasti datang kesana sebelum hari-h nya. Jadi sekitar tiga hari lah aku disana" Jelas Viona singkat, padat, dan jelas.
Rizky mengembuskan napas panjang, ia sebenarnya tak rela. Namun mau bagaimana, dia bukan suami Viona yang bisa menahan gadis itu di rumah.
" Oke, kamu hati-hati ya. I Miss you so much. Telfon aku terus, kabari terus. I love you" Rizky tersenyum tipis.
Viona menjadi gugup, Ia menetralkan sikapnya. " Emm iya aku bakal terus kabari kamu. I Miss you to so much. Love you too"
" Yaudah bye Baby. I love you"
" I love you too" Viona mematikan panggilannya dan tersenyum sendiri.
" Ekhem" Lia melirik sekilas Viona yang tampak sangat senang.
" Eh, sorry mbak" Viona tersenyum canggung dan salah tingkah.
" Mbak anterin kamu kemana ? Mending kamu ketemu deh sama pacar kamu itu. Dimana kalian ketemu? " Lia melihat-lihat cafe pinggir jalan.
" Eh gausah mbak" Viona jadi merasa tak enak dengan mbak nya.
" Udah gapapa. Di situ kayaknya enak nih. Disitu aja ya. Kamu telfon dia suruh ketemuan disitu. Nanti kalo uda siap, langsung pulang ke rumah Bunda" Lia memberhentikan mobilnya di depan cafe yang terlihat teduh itu.
" Yaudah deh mbak, makasih ya. Aku turun dulu" Gadis itu turun dan melambaikan tangannya pada Lia.
Lia membalas lambaian tangan Viona. Gadis itu melanjutkan mobilnya pergi dari sana dan pulang ke rumah.
****
__ADS_1
...Jangan lupa komen♥️✨...
...Love you all ♥️✨...