
Hari itu akan tiba, hari dimana statusmu akan berubah. Hari dimana tanggung jawab mu semakin besar. Dan kamu, harus menjalaninya dengan ikhlas. Setiap manusia pasti akan mengalami yang namanya pernikahan. Mereka akan memilih, siapa yang akan menjadi teman hidup kelak. Begitupun dengan Lia, ia sudah memantapkan hati nya semalam. Jam 08.00 malam ia bercerita keluh kesahnya pada sang Bunda. Dan, dengan nasihat Bunda, Lia bisa tenang dan sangat yakin dengan pilihannya.
" Aduh mbak nya cantik banget ini " Puji MUA yang sedang membereskan peralatan nya setelah selesai me-riasi wajah pemilik Rainbow Restaurant.
" Bisa aja mbak, makasih ya " Lia tersenyum tipis dan berjalan dengan pelan ke tempat tidur dimana Lily sedang asyik dengan ponselnya.
" Li, Lo Uda dandan?" Tanya Lia tertawa. Karena hari ini, merupakan kejadian langkah. Seorang Lily yang sangat menyukai makeup, mendadak tidak mau dirias wajahnya oleh MUA.
" Hmm" Lily menoleh. Cantik. Satu kata untuk menilai penampilan Lia. Wajahnya terlihat sangat cantik, riasannya yang glamor terkesan elegan. Dan senyuman manisnya membuat Lily tertegun.
" Woy " Lia menepuk pundak Lily keras. Untuk menyadarkan gadis di depannya yang tengah menatapnya dengan aneh.
" Apa?" Sahut Lily ketus.
" Lo yakin ga makeup?" Tanya Lia duduk di sebelah Lily. Tangannya bermain-main di baju kebaya modern nya. Ia tersenyum tipis saat mengingat Raffa. Saat pria itu mencium bibirnya sekilas namun sangat berarti bagi Lia.
" Idih, kenapa Lo senyum-senyum?" Lily menghela nafas dan kembali memainkan hp nya.
" Gue itu mau make up sendiri sama Viona nanti, ya supaya sekalian dia mau cerita sama gue. Mungkin aja dia sungkan sama Lo "
Lia tertegun, ia menatap Lily dengan senyum tipis. " Thanks banget ya. Semoga Viona mau cerita sama Lo "
" Udah, jangan sedih, mending sekarang Lo siap-siap. Siapkan hati Lo, bentar lagi kan acara akad " Lily meletakan hp nya dan tersenyum dengan tangan yang mengelus pundak Lia.
***
Acara yang mendebarkan pun dimulai, kini saatnya akad nikah akan dilaksanakan. Di depan penghulu, sudah duduk kedua mempelai yang tampak malu-malu gugup. Yang satu tampan, CEO dari LIFAGroups. Dan yang satu cantik, pemilik dari Rainbow Restaurant. Sangat cocok.
Yang ada di dalam ruangan hanyalah penghulu, keluarga besar, kerabat, dan orang-orang terdekat. Bahkan wartawan pun tidak boleh masuk dan meliput akad nikah mereka. Sementara kedua mempelai tengah menggenggam tangan satu sama lain. Seolah menyalurkan kekuatan masing-masing. Raffa tersenyum hangat sebelum mengalihkan pandangannya karena acara akan segera dimulai.
***
" Saya terima nikahnya Alisya Putri Mahendra dengan mas kawin 500 jt dan seperangkat alat sholat dibayar tunai "
__ADS_1
" Sah "
" Sah "
" Sah "
Deg.
Lia mencium tangan suaminya dan dibalas kecupan di kening. Sungguh, gadis itu sangat senang. Tapi, ia juga gugup dan takut. Tentu saja Lia sangat mengerti arti malam pertama. Dan itu, membuatnya menjadi gelisah.
Kedua mempelai pergi ke kamar yang disediakan untuk berias karena acara akan dilanjutkan dengan resepsi di hotel bintang lima.
Kamar itu terpisah. Lia dan Raffa mulai memasuki sebuah kamar untuk mengganti pakaian dan memperbaiki riasan. Lia tak henti-hentinya tersenyum. Meskipun ia gugup, tapi kebahagiaan ini jauh lebih besar.
***
jodoh tak akan kemana. Mungkin kata-kata ini cocok untuk kedua insan yang tengah menggenggam mesra tangan satu sama lain disaat orang-orang sedang sibuk menikmati hidangan. Mereka tak pernah nyangka, jika sosok yang ada di sampingnya adalah jodoh mereka. Namun begitulah jodoh, pasti akan bertemu dan berkomitmen dalam sebuah hubungan yang bernama Rumah Tangga.
" Selamat ya Raffa, dan Lia " Sebuah suara mengagetkan keduanya. Mereka saling pandang sebelum menoleh ke asal suara.
" Aurel " dengan senyum merekah, wanita bernama Aurel langsung memeluk Lia yang masih duduk. " Selamat ya, akhirnya es kutub ini nikah juga " tertawa kecil, Aurel melepaskan pelukannya dan tersenyum manis.
" Oh ya, ini kenalin " Aurel tersenyum menatap pria di sampingnya. " Riko, suami aku.."
Lia masih diam. Ia tak mengenal wanita cantik di depannya. Mungkin saja kerabat Raffa. Gadis itu menoleh, suaminya tetap pada mode tenang dan biasa saja.
" Selamat ya " Ucap Raffa singkat.
Aurel tersenyum, " Sama-sama. Maaf ya, kita ga undang kamu kemarin. Sebenarnya Uda sih tapi Mama sama Papa kamu nolak mentah-mentah. Tapi udalah Uda lewat juga "
" Selamat atas pernikahan kalian " Ricko menjabat tangan Raffa dan menepuk pundaknya sekilas. Ia beralih ke Lia dan ingin menyalim istri mantan tunangan istrinya.
" Gausah " Suara dingin nan ketus itu menghalangi tindakan Ricko. Ia sontak mundur melihat tangan Raffa menghalangi sang pengantin wanita.
__ADS_1
" Emm kita balik dulu ya. Selamat ya. Bye " Aurel langsung menarik tangan suaminya pergi dari sana. Bisa panjang urusannya nanti jika terus berada disana.
" Raf, kenapa? " Lia menggenggam tangan Raffa yang menghalangi tangannya yang hendak di Salim pria tadi.
Raffa menggeleng, merubah ekspresi nya dan tersenyum pada Lia.
" Itu tadi siapa? " Lia menunjuk Aurel dan Ricko yang sudah keluar dengan ekor matanya.
Raffa menghela nafas, " Aurel, wanita yang dijodohkan sama aku dulu " Jawab Raffa pelan. Takut melukai hati Istrinya.
Lia mengangguk pelan, " Oh jadi itu yang namanya Aurel tunangan kamu ya. Astaga bisa-bisanya aku lupa tadi namanya, padahal kan dia Uda bilang Aurel ya " Lia tertawa kecil.
" Uda gausah dibahas. Mending bahas honeymoon kita. Kamu mau kemana? " Raffa menangkup wajah Lia dengan kedua tangannya. Menatap mata Lia lekat.
Mendengar kata honeymoon membuat Lia teringat dengan 'Malam pertama'. Oh tidak, memikirkannya membuat Lia begitu gugup dan malu. Ia mengalihkan pandangannya sangking gugupnya.
" Sayang, hey.." Raffa menarik dagu Lia lembut hingga wajah cantik itu menatapnya.
Lia menghela nafas, kenapa manggil sayang sih. Kan jadi semakin gugup.
" Kamu mau kemana hmm? "
" Terserah kamu aja deh " Jawab Lia cepat. Di tatap begitu dalam oleh Raffa masih membuatnya gugup. Bahkan lebih gugup jika mengingat nanti malam.
" Nanti aku pikirin ya " Lanjut Lia yang melihat raut wajah Raffa berubah.
" Ya kan ga perlu buru-buru. Masih ada waktu kan " Lia tertawa renyah. Melirik wajah Raffa yang datar.
" Keburu jadi nanti.."
" Huh? " Otak Lia seketika nge-lag. Keburu jadi nanti..keburu jadi... apanya yang jadi...eh bentar, aaah malunya.
Seorang Raffa bisa lucu juga sekarang..Hehe...
__ADS_1
***
Selamat menunaikan ibadah Puasa ♥️.