Ternyata Kita Berjodoh

Ternyata Kita Berjodoh
BAB 2 CEMBURU?


__ADS_3

Setelah hari Minggu akan ada hari Senin. Setelah berlibur sehari penuh akan datang kembali hari-hari dimana kita harus beraktivitas seperti biasa. Seperti halnya anak Mahendra yang sedang sarapan bersama papa dan bundanya. Sarapan Nasi goreng ditemani obrolan-obrolan ringan dan candaan di meja makan membuat suasana di pagi hari terasa hangat. Keluarga kecil itu saling mengobrol dan sesekali tertawa dengan obrolan mereka.


" Selamat Pagi Tuan " Seorang pria yang lebih muda beberapa tahun darinya muncul dari arah ruang tamu. Ia adalah Pram, asisten yang sangat dipercaya Mahendra. Pram adalah asisten sekaligus sahabatnya yang membantunya disaat awal-awal ia merintis usahanya dulu.


" Pram, ayo sini ikut makan " Ajak Mahendra pada pria yang berdiri dengan sopan padanya.


" Tidak Tuan, anda bisa melanjutkan sarapan Anda. Saya akan kedepan mengecek jadwal anda " Pram membungkukkan badannya sekilas dan pergi dari sana dengan langkahnya yang tegas.


Maria menggeleng-gelengkan kepalanya, " Pram itu kaya baru kenal berapa lama aja. Masih aja kaku kaya begitu "


Mahendra mengangguk, setuju dengan ucapan wanita yang sangat ia cintai itu. Ia beralih menatap anaknya, Lia sedang meminum susunya setelah meneguk air putih.


" Kamu berangkat sama papa sayang " Ucap Mahendra yang membuat Lia menatapnya dengan bingung.


" Iya Li, kamu sama papa aja. Sekalian bunda mau ikut ke Kantor " Timpal Maria yang membuat Lia semakin bingung.


" Bunda mau kesana? "


Maria mengangguk, " Tapi makan siang bunda pulang kok. Biar kamu ga sendiri " lanjutnya dengan senyum kecil di bibir wanita itu.


" Eum gausah Bun, aku gapapa kok makan siang sendiri. Ya kalo dibolehin makan diluar juga gapapa kok " Lia cengengesan dengan permintaannya. Selama ini ia memang ia dilarang keras oleh orangtuanya terutama papanya untuk makan diluar sendiri atau bersama teman. Harus bersama bunda atau papanya lah Lia boleh makan siang di luar. Selain itu do not hope!.


" Enggak! Lia, jangan mulai deh " Lia langsung cemberut mendengar ucapan papanya yang sarat akan ancaman. Ia mengangguk pasrah dan meneguk air putih di gelasnya.


" Yuk lah berangkat, ntar aku telat lagi. Mau ujian nih! " Lia menatap kedua orangtuanya lalu keluar terlebih dahulu menuju mobil papanya.


***


Kring... Kring... Kring...

__ADS_1


Suara bel yang berbunyi dengan nyaring membuat para siswa-siswi yang sedang menunggu pulang sehabis ujian langsung berhamburan keluar. Mereka bahkan tak menunggu wali kelas mereka yang masih di kantor masuk terlebih dahulu.


" Li, kamu pulang sama siapa? " Tanya Amel, teman sekelas Lia yang cukup baik. Anaknya ramah dan kalem. Tidak banyak gaya, dan jarang ghibah. Tipikal teman yang disukai Lia.


" Aku pulang kaya biasalah " Lia tersenyum, tak mau menyebutkan supirnya karena ia malas jika harus mendengar teman-temannya menghibahkan dia di belakang.


" Oh " Amel tersenyum mengerti. Matanya menatap halaman mencari-cari mobil kakaknya. Tapi, mata gadis itu tanpa sengaja melihat tiga orang pria tampan berjalan menuruni tangga menuju halaman diiringi jeritan para ciwi-ciwi alay yang mengidolakan mereka dengan begitu lebay.


" Li, itu Raffa! " Amel menunjuk salah satu cogan yang berjalan di tengah dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya.


Lia menatap pria itu dengan berbinar. Siapapun yang melihatnya akan tahu jika gadis itu menyukai salah satu dari mereka. Bukan, bukan Raffa. Tapi Bryan, pria yang terkenal dengan keramahannya. Wajahnya tak kalah tampan dari Raffa dan Darwin. Senyumnya selalu hadir di bibir seksinya. Karen keramahannya lah, Lia menyukai pria itu. Tidak seperti Raffa yang bersifat usil dan mengesalkan.


" Li, aku pulang dulu ya. Tuh mobil Kakak aku " Amel menyadarkan Lia dari lamunannya. Lia mengangguk, melambaikan tangan pada Amel yang berjalan menjauh.


Ketiga pria yang dibuntuti oleh para ciwi-ciwi alay mendekat kearah Lia yang berusaha berjalan menjauh. Jujur ia malas menjadi bahan gibahan para ciwi-ciwi alay karena ia yang dekat dengan para pria terkenal di sekolah mereka.


Grep!


Hening...


Semua menatap tidak percaya dengan perlakuan Raffa pada gadis yang dikenal si matahari. Termasuk Lia, ia juga begitu terkejut dengan perilaku Raffa yang menurutnya sangat aneh. Mengapa Raffa harus menariknya coba? Ia kan belum siap hingga nyaris terjatuh jika saja pria itu tak menolongnya.


Lia langsung berdiri ketika menyadari jika mereka masih ada di posisi intim itu. Gadis itu menundukkan kepalanya, malu bercampur aduk dengan kesal membuatnya tidak mempunyai muka lagi dihadapan teman-temannya. Hancur sudah citranya sebagai gadis dengan tatapan tajam kemarin saat menghadapi Naya.


" Semua bubar! bubar! bubar! " Darwin berteriak, membuat kerumunan itu mau tak mau pergi. Ia menatap temannya yang terlihat terkejut dengan aksinya sendiri. Sementara satu temannya lagi nampak kecewa entah karena apa.


" Woy! " Darwin menepuk pundak Raffa agar pria itu tersadar dari lamunannya.


Raffa tak menanggapi, ia menatap Lia yang masih tertunduk.

__ADS_1


" Lo mau pulang kan? gue antar ya "


" Ga usah, aku sama supir gue aja. Gue balik dulu ya " Lia berjalan dengan cepat. Tujuannya hanya satu, cepat pergi dari para pria itu. Ia sungguh malu dan juga kesal dengan apa yang terjadi beberapa menit yang lalu.


" Lia! " Raffa menarik tangannya, untung kali ini gadis itu bisa menjaga keseimbangan sehingga tak perlu ada adegan pelukan seperti tadi.


Lia menghela nafas, " kenapa sih Raf? Gue mau pulang. Nanti papa gue marah Raf, Lo tau sendiri kan " Lia menatap jengah Raffa yang masih memegang tangannya. Ia langsung melepaskan tangannya dengan kasar.


" Gue minta maaf. Tadi gue reflek Li. Lo jangan marah dong " Seru Raffa dengan nada tulus yang membuat Lia sedikit luluh. Tapi ia kembali kesal mengingat setelah ini mungkin Lia akan dihujat oleh para fans Raffa.


" Ga perlu! lagian gue juga tetep di hujat tuh sama fans Lo. Emang susah ya temenan sama artis, fans nya banyak! " Tandas Lia dengan nada yang benar-benar kesal. Bodo amatlah dengan jaga image depan Bryan, ia sudah terlanjur kesal juga.


" Lo cemburu? "


" Apa? cemburu? ya ampun Raf, Lo pikir kita ini pacaran apa! pake cemburu-cemburuan " Tutur Lia sambil terkekeh pelan.


" Gue cuma ga mau para fans Lo ngeburu gue " lanjut gadis itu santai sambil menepuk pundak Raffa.


" Gue balik dulu " melirik Bryan sekilas lalu melangkahkan kakinya menjauh dari sana.


_


_


_


_


_

__ADS_1


_


BERSAMBUNG


__ADS_2