
Sejak hari itu, Farrel tak pernah lagi menampakan dirinya didepan Fia. Pria itu benar-benar menepati janjinya untuk tidak pernah mengganggu Fia lagi.
Namun begitu, hati Lia merasa sepi. Sama seperti saat Ia kehilangan Raffa. Hatinya sepi dan sunyi, hampa. Tidak ada kebahagiaan yang terpancar dari diri Lia.
Lia sendiri bingung, sebenarnya dia ini kenapa? Merasa kehilangan untuk yang kedua kalinya. Sungguh sakit, terlebih kali ini Lia sendiri yang meninggalkan Farrel. Menyakiti hati pria itu. Lia terus merasa bersalah, padahal sebenarnya dia tidaklah salah dalam hal ini. Gadis ini hanya mencoba untuk melindungi hatinya dari lelaki yang mencintai dua wanita itu.
Entahlah, Lia sendiri bingung. Sekarang didalam ruangannya hanya disibukan dengan pekerjaan. Tidak ada lagi suara tawa candaan yang biasanya selalu ada.
Rindu memang ada kalau pergi.
Huh! Lia menghembuskan nafas kasar, disaat dia sedang galau dan ingin sendiri. Dua gadis ini malah mengajaknya pergi ke mall. Berbelanja, makan, sangat membosankan. Andai Lia pergi dengan hati senang, pasti terasa menyenangkan. Tapi keadaannya saat ini sangat galau. Semua rasanya hampa, sepi dan bosan.
Seperti saat ini, disaat Lily dan Viona sedang asyik bermain wahana permainan. Lia malah duduk dengan bosan di sudut ruangan. Mulutnya menguap, mengantuk karna hanya berdiam diri.
Lily yang sedang asyik bermain, melihat sahabatnya itu sedang duduk dengan bosan. Dia baru sadar, kalau sedari tadi Lia tidak ikut bermain bersama mereka.
Lily turun dari wahana, dia pergi ke arah Lia dengan kepala yang menggeleng heran. Bisa-bisanya gadis ini malah diam termenung disini.
" Woy" kejut Lily menepuk keras bahu Lia, sengaja.
" Eh" Lia seketika terlonjak kaget ketika ada tangan yang mendarat sempurna di pundaknya.
Berdecak kesal, saat tahu siapa yang mengagetkannya.
" Kenapa?" Tanya Lia malas.
" Lo kenapa?" Tanya balik Lily, ikut duduk di sampingnya.
Lia menggeleng, malas berbicara. " Gue mau jalan-jalan. Nanti ketemu di parkiran. Telpon gue kalo Uda selesai " Seru Lia kemudian beranjak dari sana tanpa memperdulikan Lily yang kebingungan.
***
Lia berjalan keluar dari mall. Menghindari keramaian, Ingin menenangkan hati yang sedari tadi galau.
Keluar dari mall, Lia mengedarkan pandangannya. Melihat apakah ada tempat yang cocok untuknya pergi menenangkan diri. Tempat yang teduh dan sepi.
Tidak melihat adanya tempat sepi disini. Semuanya ramai dipadati oleh para Manusia yang sedang sibuk sendiri.
Menghela nafas panjang, Lia berjalan mencari tempat duduk. Setelah duduk, Ia mengambil hp yang ada di tas nya.
Mencari tempat teduh yang sepi, namun masih berada di pusat kota. Ketemu, sebuah danau yang sepi namun masih berada di pusat kota. Tidak jauh dari sini.
Lia segara beranjak dan memberhentikan taksi yang lewat. Gadis itu masuk dan mengirim pesan kepada Lily melalui hp nya.
*Gue pergi bentar, kalian pulang dulu aja*
Taksi yang membawanya berhenti di tempat tujuan yang telah Lia beri tahu tadi. Gadis itu turun setelah sebelumnya sudah membayar upah taksi.
__ADS_1
Lia mengedarkan pandangannya ke segala arah. Mencari tempat yang pas. Berjalan menuju bangku yang terletak tepat didepan danau. Sangat pas.
Menghirup udara segar yang ada, Lia duduk disana. Namun saat Ia ingin duduk ada sosok yang juga duduk disana. Membuat Lia kembali berdiri bersamaan dengan orang itu.
" Kamu aja" Ucap Lia dan orang itu bersamaan. Keduanya menoleh, terkejut dengan apa yang mereka lihat.
Lia langsung mengalihkan pandangannya dan beranjak pergi. Namun pria itu menarik tangan Lia lembut.
" Jangan pergi, kamu duduk aja. Biar aku yang pergi " Pinta Raffa menarik tangan Lia dan mendudukkannya di bangku itu.
Lia yang bingung hanya pasrah dan duduk denga diam. Dia melihat Raffa yang pergi, secara spontan Lia menarik tangan Raffa pelan.
Lia terkejut sendiri dengan tindakannya. Buru buru Ia lepaskan tangannya yang menarik tangan Raffa.
Raffa berbalik, menatap gadis yang terlihat gugup itu.
Ia duduk disamping Lia, " Kenapa?" Tanya nya lembut sembari menatap Lia yang menunduk malu.
" Kamu aja yang duduk aku yang pergi" jawab Lia cepat. Sungguh saat ini Ia sedang sangat gugup.
Raffa tertawa lebar melihat respon Lia yang begitu gugup. " Oke gini aja, kita sama duduk aja. Gimana?" Tawar Raffa yang sebenarnya sangat rindu pada gadis ini.
Lia terlihat berfikir, berada di situasi canggung seperti ini sangat lah tak nyaman. Tapi Ia juga sangat rindu dengan pria disampingnya.
" Gimana?" Tanya Raffa lagi saat Lia hanya diam menunduk.
Raffa tersenyum puas, cukup sudah Ia tersiksa selama beberapa hari ini karna tidak bisa menemui Fia.
" Kamu sendiri?" Tanya Raffa basa-basi, sangat canggung jika hanya berdiam diri.
" Iya" jawab Lia singkat maish tetap menunduk.Gadis itu gugup jika harus ada kontak mata dengan Farrel. Sebenarnya,Lia menyesali keputusannya untuk duduk berdua. Dengan begini Ia tak bisa menenangkan pikiran nya. Malah lehernya sakit lagi karna tunduk terus.
" Aku serem ya?" Tanya Raffa tiba-tiba memberi pertanyaan aneh.
" Eh?" Seru Lia terkejut dengan pertanyaan Raffa, sontak saja secara spontan Ia mendongakan kepalanya. Terlihatlah Raffa yang sedang menatap dirinya dengan tersenyum tipis. Buru-buru Lia menundukan lagi kepalanya.
" Tuh kan aku serem" Seru Raffa lagi.
Lia semkain bingung dibuatnya, namun Ia tidak mendongakan kepalanya lagi. Tetap menunduk dan menggerutu dalam hati karna pria ini tidak langsung saja saat bicara.
Melihat respon Lia yang hanya diam menunduk, Raffa menjadi kesal. Padahal Ia sudah memancing gadis ini agar menatap kearahnya. Namun, Lia terus saja menunduk.
Mereka diam dalam waktu yang cukup lama. Lia tetap mempertahankan posisi menunduknya. Raffa yang melihat itu menjadi kasihan. Gadis ini pasti tak nyaman, pikirnya.
" Aku pergi" Ucap Raffa kemudian berdiri dan berjalan dengan cepat. Tidak memperdulikan Lia yang kebingungan disini.
Lia mendongak, ah rasanya sakit. Mungkin karna Ia menunduk terlalu lama. Lia menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri, berusaha untuk membuat lehernya menjadi biasa.
__ADS_1
Setelah dirasa lehernya sudah membaik, Lia kembali menatap arah dimana Raffa pergi tadi. Ada rasa sedih di dalam hatinya, namun rasa lega lebih banyak. Jika saja tadi Raffa tidak pergi, maka mungkin leher Lia akan sangat keram atau mungkin patah.
Gadis itu kembali termenung menatap danau yang tampak cahaya jingga di atasnya. Hari sudah sore, namun Lia masih merasa belum cukup untuk menenangkan diri. Ponselnya sudah berbunyi sejak tadi. Tapi Ia membiarkan nya.
Setelah setengah jam, Lia mengambil hp nya yang berada di dalam kantung celananya. Ia melihat draf panggilan yang sangat banyak. Dasar, sahabat dan adik nya itu seloqu saja menghawatirkan nya.
Lia beranjak dari sana dengan tangan yang maish memegang hp. Sampai Ia tiba di jalan, gadis itu memasukan hp nya ke dalam tas.
Lia mengedarkan pandangannya ke arah jalan. Namun Lia tak melihat ada taksi yang lewat, bahkan kendaraan lain pun tak ada yang lewat. Lia tetap tenang, Ia mengambil hp nya kemudian memesan taksi online.
Lia menunggu sampai bunyi hp nya tanda pesan masuk berbunyi dari hp nya. Dengan cepat Lia mengambilnya, Ia membaca pesan dari taksi yang dipesan.
Lia berdecak kesal, Ia mematikan hp nya dan memasukannya dengan kasar ke dalam tas.
Gadis itu kembali melihat jalan, namun tidak ada tanda-tanda kendaraan lewat. Lia melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. Hampir jam 7.
Meskipun danau ini terletak di pusat kota, namun bagian yang Lia datangi terletak di ujung. Gadis itu sengaja memilih tempat di ujung karna Ia yakin disitu pasti tidak ada orang.
Namun keputusan itu malah membuatnya menjadi kesusahan seperti ini.
" Pasti Lily sama Viona khawatir nih" Ucap Lia sambil melihat hp nya. Ia heran mengapa Lily dan Viona tidak menelfon.
Saat gadis itu ingin menelepon Lily, dirinya dikejutkan dengan kedatangan satu mobil yang mendarat tepat di depannya. Lia terkejut sekaligus takut. Jika saja orang ini adalah penjahat yang ingin menculiknya atau bahkan ingin memperkosanya.
Pikiran buruk mulai menghantui Lia, secara perlahan gadis itu mundur ke belakang. Berusaha untuk bersembunyi sebelum orang yang ada di dalam mobil ini keluar. Namun terlambat, orang itu sudah memanggilnya.
" Lia" panggil Raffa keluar dari dalam mobil.
Lia membeku seketika, Ia pikir itu orang jahat. Namun ternyata Ia sedang bernasib baik, pertolongan datang padanya.
Lia berjalan maju menuju Raffa yang berjalan kearahnya. Sesaat pandangan mereka bertemu sampai Raffa membuka suara.
" Ayo aku antar" Pinta Raffa menarik lembut tangan Lia menuju mobil.
Lia hanya diam, Ia tak menolak. Ini sudah hampir malam, jika tidak berasal Farrel, dengan siapa lagi?
***
Maaf kalo up lama, author lagi sibuk banget. Tugas author lagi menumpuk, maklum lah masih sekolah, hehe.
Tapi author akan usahain untuk tetep up tiap hari, meskipun cuma satu chapter. Insyaallah setiap chapter nya bisa sampai 1000 kata.
Jangan lupa like and komen. Tinggalkan jejak sebelum lanjut baca.
Cukup komen aja kok 🥰
...^^^Author tunggu ya😉^^^...
__ADS_1