Ternyata Kita Berjodoh

Ternyata Kita Berjodoh
Persiapan Ulang tahun


__ADS_3

Mereka sedang berkumpul di rumah Bunda dan Papa. Lia, Viona, Bunda, dan Papa. Seperti sebuah keluarga kecil yang sangat bahagia. Obrolan ringan yang didampingi dengan canda tawa.


Tadi, setelah mendengar penuturan Farel tentang perasaan nya. Dan juga, harus kembali bersedih dan sakit hati mengetahui Farrel masih mencintai wanita itu. Lia langsung pergi dari sana setelah beberapa menit terduduk kecewa.


Ia bangkit, dan langsung pergi dari sana menggunakan taksi. Gadis itu pergi ke rumah Orang tuanya. Ia juga sudah menelepon Viona untuk datang kesana.


" Emm Pa, Bun Lia mau bicara" Lia memulai pembicaraan serius setelah sedari tadi mereka mengobrol ringan.


" Ngomong apa Nak?" Tanya Bunda yang penasaran karna anaknya sangat jarang berbicara serius seperti ini.


" Kamu ada masalah? Cerita sama kita ya" Ucap Papa lembut.


Lia tersenyum, Ia menggeleng. " Bukan " Jawabnya singkat. Membuat kedua orang tuanya menjadi penasaran.


" Minggu depan ulang tahun Bunda kan? Nah aku mau ngadain acara syukuran atas kesuksesan Restoran aku. Jadi, gapapa kan kalo Bunda harus muncul ke publik? Karna nanti disana bakal ada wartawan sama semua klien aku" Jelas Lia dengan harapan Orang tuanya menyetujui. Karna Lia, sangat ingin dunia tahu siapa orang tuanya.


" Gausah deh Li, kalo kamu mau bikin acara syukuran, jangan disamakan sama ulang tahun Bunda" Tolak Bunda langsung. Ia tak mau tampil di publik.


" Lia, Kami tidak mau muncul ke publik. Biarlah, semua orang tidak tahu orang tua kamu" Papa tahu maksud Lia sebenarnya. Jelas Ia tahu, raut wajah anaknya sangat mirip dengan istrinya ketika memohon dengan sedikit berbohong.


" Emm aku ke kamar mandi dulu ya" Viona langsung pergi setelah mengatakan itu. Gadis itu ingin memberikan mereka private.


Tak ada yang menghiraukan Viona. Mereka tenggelam kedalam pikiran masing-masing.


" Ceritakan yang sebenarnya. Maksud kamu apa, tujuannya apa, semuanya ceritakan" Pinta Papa tegas setelah mereka beberapa saat hening.


Lia menoleh, Ia mengangguk kecil. Gadis itu mulai menceritakan maksudnya mengadakan acara ini.


" Jadi Rainbow Restaurant lagi di puncak kesuksesan. Dan karna itu, semua lagi nyari tahu tentang aku sebagai pemilik dari Rainbow Restaurant. Nah, karna itu juga banyak yang mau tahu tentang profil aku. Termasuk, orang tua aku. Jadi, aku ga mau kalo nanti saat Papa dan Bunda keluar tiba-tiba ada yang kenal kalo kalian orang tua aku. Terus mereka malah membocorkan hal itu ke publik. Kalo seperti itu, nama aku hancur. Reputasi aku anjlok. Dan kebangkrutan adalah akibatnya. Makanya, aku mau ngenalin Papa sama Bunda ke publik supaya ga ada masalah. " Jelas Lia tanpa ada yang disembunyikan.


Papa dan Bunda diam. Mereka mencerna semua perkataan Lia.


" Aku minta maaf kalo aku egois. Kalo Papa sama Bunda keberatan, it's okay' " Lia menunduk, Ia merasa egois. Karna kepentingan nya, orang tuanya malah tidak nyaman.


Pria paruh baya bernama Mahendra itu menatap istrinya. Jujur, Ia tak suka tampil ke publik sebagai apapun. Ia bahagia hidup seperti ini tanpa adanya orang yang tahu. Namun, Ia juga harus memikirkan putri nya. Restoran yang sudah dibangun selama lima tahun oleh anak gadisnya itu, tak mungkin Ia menghancurkan nya dengan tidak muncul ke publik dan malah menjadi berita heboh.


Mahendra menghela nafas berat, Ini sulit. Ia harus memikirkan antara dirinya dan anaknya. Kalau disuruh memilih, kelas Mahendra memilih anaknya. Namun, masalahnya Ia tak mau ada orang lain yang tahu tentang keluarganya.


" I'm sorry, ga masalah kalo Papa sama Bunda ga mau. Aku ngerti " Lia menundukan kepalanya merasa bersalah.


" Kami belum memberi jawaban" Papa angkat bicara ketika melihat anaknya yang terlihat merasa bersalah sekaligus kecewa.


Lia mendongak, Ia tersenyum tipis.


" Nak, kalo memang itu semua demi Restoran kamu. Bunda mau " Jawab bunda yakin.

__ADS_1


Lia tersenyum, Ia sangat bersyukur diberi orang tua yang sangat pengertian seperti ini.


" Lia, cuma kali ini aja. Bukannya papa ga mau bantu kamu. Tapi kamu tua kan kalo papa ga suka muncul di publik. Tapi kali ini, papa mau. Hanya kali ini" Papa berucap dengan lembut dan tenang.


" Makasih" Lia memeluk kedua orang tuanya. Ia sangat senang. Bukan hanya karena orang tuanya yang mau menyetujui rencananya. Namun juga karna kedua orang tuanya yang pengertian padanya.


****


Lia sedang duduk di kamarnya. Ia akan menginap disini selama beberapa hari. Dan Viona, gadis itu menyetujui nya. Lia kembali mengingat kejadian tadi. Ia memgingat semuanya dengan jelas.


Lia tersenyum tipis, ketika ia mengingat saat-saat dimana Farrel mengatakan cinta padanya. Apalagi, saat pria itu hendak pergi dan mengatakn I love you padanya. Sangat romantis.


Tapi, senyuman itu memudar ketika Ia mengingat kata-kata Farrel yang terpotong.


Hatinya kembali sakit. Rasanya dadanya sesak mengingat pria yang Ia cintai mengatakan cinta pada wanita lain. Sangat sakit.


Lia menghapus air mata yang tanpa Ia sadari sudah jatuh membasahi pipinya yang mulus.


Lia memejamkan matanya sejenak, Ia kemudian menggeleng. Gadis itu membetulkan letak bantal dan selimutnya. Kemudian, Lia masuk ke dalam selimut dan memulai tidur.


***


Keesokan harinya, mereka sedang berkumpul di ruang tengah sehabis sarapan. Hari ini Lia memutuskan untuk tidak bekerja. Gadis itu hanya meminta Viona untuk menghandle semuanya.


" Papa setuju saja. Yang terpenting semua aman" Papa mengangguk sambil meminum kopinya.


" Bunda juga" sahut Bunda dari arah dapur membawa sebuah kotak berisi cemilan.


" Oke, aku bakal usahain ga akan ada masalah. Dan untuk wartawan, mereka gak akan nanya yang macam-macam. Aku jamin itu" Lia tersenyum sambil mengambil cemilan yang dibawa Bunda.


" Termasuk Perusahaan papa?" Tanya Papa serius.


Lia terdiam, Ia perlahan mengagguk. Hanya ia dan Bunda yang tahu hal ini.


" Papa ga mau kalo sampai ada yang mengenal papa" Ucap papa dengan sangat serius.


" Mudah-mudahan enggak. Tapi aku yakin gak ada kok. Karna kan, Papa itu misterius" Jawab Lia yakin.


" Iya mas, aku yakin kok gak ada yang tahu siapa kamu" Sahut Bunda mengelus lembut lengan suaminya.


Mahendra tersenyum menatap istri tercinta nya itu. Istri yang senang dan susah selalu bersamanya. Bahkan sampai Ia seperti ini. Menjadi sangat sukses. Hanya Istri dan anaknya yang tahu.


****


Hari-hari berlalu, persiapan demi persiapan dilakukan oleh Lia. Ia tak mau ada kesalahan yang akan membuat berita heboh. Gadis itu menjadi sibuk dengan ini.

__ADS_1


Viona yang kena imbasnya, gadis itu setiap hari pergi ke Restoran dan menghandle semua pekerjaan Lia. Tapi begitu, tak pernah sekalipun Ia mengeluh. Ia merasa ini adalah tugasnya, dan Ia harus menerima nya dengan lapang dada. Begitulah Viona, gadis yang selalu berpikir positif dan dewasa.


Besok adalah Ulang tahun Bunda, dan Lia menjadi sangat sibuk mempersiapkan semuanya. Hari ini, semua sudah siap. Lia hanya tinggal kembali mengecek semuanya.


Gadis itu terduduk lemas di sofa. Ia sangat lelah setelah seharian mengecek secara keseluruhan. Gadis itu membaringkan tubuhnya di sofa dengan kaki yang diletakkan di atas meja.


Bunda menggeleng melihat kelakuan anaknya. Wanita paruh baya itu duduk di sofa sampingnya.


" Bun, maaf ya ga sopan. Lia capek banget" Ucap Lia dengan mata yang tertutup.


Bunda tertawa kecil, " Hmm" Jawab bunda singkat.


Gadis itu tiba-tibaduduk ketika mengingat sesuatu. Ia menatap bundanya yang sedang menatapnya.


" Aku baru inget. Baju Bunda sama Papa tadi aku letakin di ruang kerja Papa. Tadi Papa disana, makanya aku letak disana"


Bunda mengangguk, " Itu baju couple?" Tanya Bunda yang sudah tahu jawabannya. Hanya sekedar bertanya.


Lia mengangguk, " Lia, Viona, Lily juga sama bajunya" Gadis itu tersenyum senang.


Bunda mengangguk, " Lily Uda disini?" Tanya Bunda.


Lia menggeleng, " Katanya sih nanti malam baru sampe. Soalnya Dave lagi banyak kerjaan" Jawab Lia mengingat lagi saat kemarin malam Ia memberitahukan Lily dan Dave.


" Oh yasudah, Bunda mau ke ruang kerja Papa kamu ya. Kamu istirahat " Bunda segera pergi setelah mengatakan itu.


Lia kembali merebahkan tubuhnya di sofa. Menatap langit-langit ruangan. Pikirannya kembali dibuat bingung.


Ia tak mengundang Farrel, apakah itu keputusan yang benar? Lia bingung. Karna insiden waktu itu, hubungan nya dengan Farrel merenggang. Mereka tak pernah lagi bertemu.


Lia menggeleng, Ia tak perlu mengundang Farrel. Karna orang tuanya, belum mengenal pria itu. Kalau saja waktu itu Farrel tak mengungkapkan perasaan nya, maka Lia bisa saja mempertimbangkan keputusannya.


Lia menggeleng, Ia tak mau memikirkan hal itu. Lia mengganti pikirannya dengan memastikan tidak ada yang salah dalam acara besok.


Lia sudah mengundang semua klien yang pernah bekerja sama dengannya. Lia juga mengundang para wartawan yang sudah Ia bayar untuk tidak menanyakan hal pribadi.


Kalau keluarga, itu orang tuanya yang mengurus. Ia tak perlu memikirkan nya. Papa dan Bunda pasti sudah mengundang keluarga besar.


****


...Kita akan menuju konflik✨...


...Jangan lupa komen✨...


...Love you all ♥️✨...

__ADS_1


__ADS_2