Terpaksa Menikahi Pelacur

Terpaksa Menikahi Pelacur
Episod 13


__ADS_3

Hari ini, dimana Darren akan menikahi Dania. Tanpa cinta akankah rumah tangganya baik-baik saja, Darren sekarang tengah berada di ruang tamu menunggu sang pengantin wanita keluar dari kamarnya.


Tak lama, nampaklah Dania keluar dari balik pintu, dimana Darren yang sedari tadi menunggunya. Darren menatap Dania tak berkedip sedikitpun, kecantikannya mampu membuatnya terperanga.


Dania berjalan secara perlahan, balutan gaun yang panjang membuatnya sedikit tidak nyaman. Jantung yang berdebar membuatnya gugup seketika. Dania menatapkan pandangannya sekilas pada Darren, lalu berjalan dengan sedikit acuh padanya.


"Mom, kamu cantik sekali," ucap Syiera tersenyum bahagia. Dania pun membalas senyuman itu sambil mengusap pipi Syiera.


Darren datang menghampiri. "Apa kamu sudah siap?" tanya Darren, Dania hanya menagngguk. Sedari tadi Darren tak melepaskan pandangannya dari Dania. Membuat Karren terkekeh melihatnya, Karren yakin bahwa anaknya itu memiliki perasaan pada gadis itu, hanya saja ia tak menyadari akan hal itu.


***


Kini tiba saatnya Darren mengucapkan janji sucinya pada Dania. Gereja itu menjadi saksi bisu pengungkapan cintanya pada gadis yang belum ia cintai itu. Gereja yang begitu besar, namun hanya kerabat dekat saja yang hadir. Bahkan dari pihak perempuan pun tak ada yang mendampingi. Tapi tak mengapa bagi Dania, kehadiran Karren sudah membuatnya bahagia.


Dania menatap sekeliling Gereja itu dengan takjub, hiasannya membuat Dania merasa menjadi pengantin sesungguhnya.


Ucapan Darren terdengar di telinga Dania, Dania menetesken air matanya. Bersedih karena sang punjangga ternyata tak mencintainya. Tapi Dania yakin ini hanya di awal saja, awal selanjutnya Dania berharap Darren akan mencintainya dengan tulus.


Dan akhirnya sekarang mereka sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Darren mencium kening Dania, Dania hanya memejamkan matanya merasakan kecupan itu di dahinya, setelah Darren melepaskan bibirnya dari kecupan itu. Kini ia menyematkan cincin di jari milik Dania. Dania tersenyum getir menyaksikan Darren yang memakaikan cincin padanya.


***


Darren melepaskan jasnya yang sempat ia pakai pada acara pernikahannya tadi, dengan wajah lelah ia dudukkan tubuhnya di sofa yang berada di kamarnya. Tak lama pintu kamar terbuka, ternyata Dania yang masuk. Ia menghampiri Darren yang sedang terduduk.


"Setelah ini apa rencanamu?" tanya Dania tiba-tiba.


Darren menyipitkan matanya menatap Dania, Darren sedikit heran dengan pertanyaan Dania barusan, seakan Darren lupa dengan perjanjiannya waktu itu pada Dania.


Dania memilih pergi karena tak mendapat jawaban darinya. Ia kembali ke kamar Syiera, karena selama ini Dania tidur bersama Syiera.

__ADS_1


"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Karren, Karren melihat Dania keluar dari kamar yang sempat ia tunjukkan pada Dania. Bahwa Dania mulai hari ini tidur bersama anaknya, Darren.


"Semua bajuku ada di kamar Syiera, aku hanya akan mengambil bajuku" jawab Dania sedikit berbohong. Pasalnya Dania memang akan tidur di kamar Syiera untuk malam ini. Karena tak ada respon apa pun dari suaminya.


"Biar suamimu yang mengambilnya, kamu tunggu saja di dalam kamar," titahnya, Dania hanya mengangguk menuruti perintah ibu mertuanya.


Dania kembali masuk ke dalam kamar Darren. Ia tak sendiri, ibu mertuanya menemaninya masuk kedalam. Membuat Darren kembali melihat pintu kamarnya yang terbuka.


"Biarkan istrimu istirahat, jangan biarkan Dania mengambil bajunya sendiri di kamar Syiera," sahut Karren pada putranya itu.


"Lebih baik sekarang kamu bersihkan tubuhmu," pinta Karren pada Dania. Lagi-lagi Dania hanya menganggup menanggapi.


Sekarang Dania membersihkan tubuhnya yang terasa lengket itu, di bawah guyuran air ia menangis, menangisi pernikahan yang tak pernah ia bayangkan selama ini. Dania senang dapat memiliki Darren, karena dari awal bertemu Dania telah terpikat olehnya. Tak disangka bahwa cintanya tak terbalaskan.


Sementara Karren hanya menarik napasnya secara kasar, melihat sang putra malah terduduk manis, entah apa yang ada dalam pikirannya.


Karena tak mendapatkan respon, Karren mencoba mendekati anaknya. Lalu ikut duduk bersamanya.


"Mom, apa aku harus mencintainya?" tanya Darren dalam posisi yang masih seperti tadi.


Karren menatap anaknya lekat-lekat. "Kamu sudah menikahinya, jadi kamu harus mencintainya. Apa lagi Syiera sangat bahagia adanya Dania," jawab Karren. Karren harus meyakinkan perasaan anaknya pada menantunya itu. "Lakukan demi Momy jika kamu masih merasa berat untuk mencintainya," kata Karren membuat Darren merubahkan posisinya menjadi menatap wajah ibunya.


"Demi Momy! Maksud Momy?" tanya Darren. Ia hanya tak mengerti apa yang diucapkan oleh ibunya.


"Momy ... Momy merasa bersalah padanya," jawabnya dengan lirih, tak terasa cairan bening membasahi pipinya yang mulai mengeriput itu.


"Merasa bersalah apa, Mom?" tanya Darren penasaran. Darren teringat akan ucapan ibunya dulu, bahwa Karren sudah mengetahui siapa Dania, apa itu artinya Karren sudah mengenal Dania sebelumnya?


"Momy yang sud__," ucapnya terputus kala Dania yang baru saja masuk sehabis mandi. Membuat Darren dan ibunya menatapnya secara bersamaan. Dania arahkan pandangannya ke ibu mertuanya juga suaminya. "Kenapa mereka menatapku seperti itu?" gumam Dania dalam hati. Namun sebisa mungkin Dania mencoba untuk tenang.

__ADS_1


"Kalau begitu Momy keluar, Momy tidak mau mengganggu kalian," ucapnya sedikit gugup.


Membuat Dania merasa semakin penasaran apa yang mereka bicarakan.


"Nanti kita bicara lagi!" kata Karren berbisik di telinga Darren. Darren tak merespon karena takut Dania merasa curiga.


Karren pun bangkit dari duduknya, Karren melihat ke arah Dania sekilas sambil tersenyum. Dania pun tersenyum membalasnya.


Setelah selesai mandi, Dania belum sempat memakai baju. Karena bajunya yang masih di kamar Syiera.


"Apa kamu sudah mengambil bajuku?" tanya Dania pada Darren.


Darren menggelegkan kepalanya. "Sebentar aku ambilkan," jawabnya sambil bangkit dari duduknya, lalu pergi.


Tak lama Darren kembali dengan membawa koper yang ia ambil. Lalu memberikannya pada Dania. Sekilas ia menatap Dania, ia mengagumi akan kecantikannya, namun saja ia belum memiliki perasaan padanya.


Setelah itu Darren menuju kamar mandi karena ia pun ingin membersihkan diri. Darren bercermin melihat pantulannya di kaca. Sebenarnya ia begitu penasaran dengan perbincangan yang sempat terputus tadi bersama ibunya.


"Ada rahasia apa, Mom?" ucapnya sendiri di depan cermin. Tak mau memikirjan yang tidak-tidak, ia pun langsung mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Sedikit menghilangkan penat dalam dirinya.


Sementara Dania, ia hanya berdiam diri dan bersandar di sisi jendela menatap ke arah luar. Cuaca yang mulai meredup karena waktu menunjukan pukul 6 sore.


Darren keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk, manik matanya menangkap sosok wanita dengan balutan baju yang sangat tipis. Sehingga membuat Darren sedikit terpancing akan keindahan tubuh istrinya yang baru saja ia nikahi.


Dengan cepat Darren menepis rasa itu.


**Biasakan tinggalkan jejak setelah membanca. Itu artinya Anda telah menghargai karyanya...


Terima kasih kepada readers yang sudah meluangkan waktunya untuk mampir di karyaku yang belum seberapa ini.🤗🤗**

__ADS_1


__ADS_2