
Setelah kepergian Dania, Darren di sibukkan dengan beberapa berkas yang menumpuk di atas mejanya. Tak lama dering ponselnya berbunyi. Awalnya Darren menghiraukan deringan ponsel itu.
Hingga ponselnya kembali berdering untuk kesekian kalinya, setelah itu, baru Darren mengangkatnya tanpa melihat ID pemanggil terlebih dulu.
"Temui Momy sekarang," kata Karren di sebrang sana.
Darren hanya bisa terdiam saat sang ibu memintanya untuk segera menemuinya. Lalu pikirannya teringat akan sang ayah, tak lama Darren pun bersiap-siap untuk segera berangkat.
Tak membutuhkan waktu lama bagi Darren. Karena jalanan yang lancar tanpa hambatan, ia pun telah tiba di rumah sakit Cempaka. Ia langsung bergegas menuju ruangan sang ayah, dan ia langsung di sambut oleh Karren, ibunya.
"Ada apa, Mom? Apa kondisi Pappy memburuk?" tanya Darren setibanya di sana.
Karren tak menjawab, ia langsung mengajak Darren masuk. Agar Darren melihat kondisinya secara langsung. Setibanya di dalam, Darren langsung menghampiri sang ayah. Darren langsung meneteskan air mata, ia sungguh merasa kasihan melihat kondisinya.
Karren menyentuh punggung Darren, secara perlahan ia mengelusnya. "Momy harap, kamu memikirkan kondisi Pappymu." Lalu Karren melangkahkan kakinya menuju sofa, dan mendudukkan tubuhnya di sana.
Darren hanya bisa pasrah, ia akan mencoba membicarakan masalah ini pada istrinya. Tak perduli Dania akan marah padanya, yang jelas, jika Dania meninggalkannya apapun akan ia lakukan agar Dania tak membenci dan meninggalkannya.
***
Dania terkejut disaat ada seseorang yang menepuknya dari belakang. Dania langsung menoleh, siapa yang sudah membuatnya terkejut.
"Lisa ... Bikin aku kaget saja," kata Dania sambil menyentuh dadanya.
"Lihat apa sih?" tanya Lisa.
"Aku lihat suamiku, dia ada di sini. Tap_," ucapnya terputus karena Lisa langsung memotong pembicaraannya.
"Mana? Kok aku gak lihat," kata Lisa.
"Ishh, dengerin dulu. Aku belum selesai bicara, masalahnya, aku gak tahu siapa yang sakit. Kamu lihat, deh. Banyak polisi di sana." Tunjuk Dania di sebelah sana.
Lisa melongokkan wajahnya untuk melihat ke arah yang ditunjuk oleh Dania. "Iya, ada beberapa Polisi di sana. Kenapa gak coba kamu tanyakan saja pada Polisi itu?" Lisa memberi idenya pada Dania.
"Aku rasa dia merahasiakan sesuatu padaku, Lis. Mungkin dia belum sepenuhnya menganggapku." Dania tertunduk saat mengucapkan kata itu.
"Ah ... Jangan berprasangka buruk. Bisa saja dia baru dapat kabar hari ini, makanya belum bisa menghubungimu," kata Lisa menenangkan perasaan sahabatnya itu.
"Semoga saja begitu." Dania melangkahkan kakinya meninggalkan Lisa.
"Hey, mau kemana? Gak nemuin suamimu?" tanya Lisa sambil mengejar Dania.
__ADS_1
"Itu privasinya, aku tidak mau mengganggu," jawab Dania. "Oh ya, Bagaimana kondisi Leo?" tanya Dania mengalihkan pembicaraannya.
"Dia tidak apa-apa, dia hanya terlalu banyak minum."
"Kantin, yuk? Aku laper," ajak Dania. Lisa pun mengangguk, lalu mereka menuju kantin yang berada di rumah sakit.
"Kamu saja yang pesan, aku tunggu di sana." Tunjuk Dania pada kursi yang berada di pojokan.
"Ok, kamu mau pesan apa?" tanya Lisa.
"Tersarah kamu saja." Ia langsung pergi menuju kursi yang di tunjuknya.
Lisa merasa aneh pada sahabatnya itu. Lisa cukup mengenal Dania, pasalnya, Dania paling tidak suka jika ada yang membohonginya. Setelah memesan pesanannya, Lisa menemui Dania, ia melihat sahabatnya itu malah melamun.
"Kok melamun sih, kepikiran, ya?"
Dengan reflek, Dania mengangguk. Tapi tiba-tiba ia menggelengkan kepalanya lagi. "Tidak, aku tidak memikirkan akan hal itu," jawab Dania dengan cepat.
"Kamu gak bisa membohongiku, Dan. Aku cukup mengenalmu." Lisa berhenti bicara disaat seorang pelayan kantin datang membawakan makanan pesanan mereka.
Dania hanya mengaduk-ngaduk makanannya. Lisa memperhatikan itu. "Katanya laper, kok gak dimakan sih," kata Lisa.
Lisa menghentikan aksinya yang sedang makan. "Kamu gak apa-apa 'kan?" Lisa mengkhawatirkan Dania. "Kita ke Dokter aja, wajahmu juga pucat," ajak Lisa kembali.
"Gak ah, aku mau pulang saja." Dania langsung beranjak dari tempat duduknya. Tak lupa ia mengambil uang dalam tasnya, lalu ia memberikan uang itu pada Lisa.
"Aku antar kamu sampai depan," tawar Lisa.
Lisa pun mengantar Dania sampai mendapatkan taxi. Setelah Dania benar-benar pergi dari sana, Lisa kembali masuk ke dalam rumah sakit itu.
Disaat Lisa membalikan tubuhnya, ia tak sengaja menabrak seseorang. "Maaf-maaf, aku tak sengaja," kata Lisa sebelum ia tahu siapa yang sudah menabraknya.
"Lisa, kamu lisa 'kan?" tanya Darren padanya. Lisa langsung mendongakkan wajahnya pada orang yang telah menyebut namanya.
"Darren."
"Bukannya tadi kamu meminta Dania untuk menemuimu. Kenapa kamu malah di sini?" tanya Darren. "Lalu Dania kemana?"
"Iya, tadi aku bersamanya, baru saja dia pulang. Katanya kepalanya pusing.
"Pusing ... Tadi tidak apa-apa," gumam Darren.
__ADS_1
"Ya udah, aku pamit kalau begitu." Sebelum Darren pergi, Lisa menahannya.
"Tunggu, bisa kita bicara sebentar?" kata Lisa.
Darren mengerutkan keningnya merasa bingung dengan permintaan Lisa. Lalu Lisa mengajaknya untuk duduk di sebuah kursi panjang yang terbuat dari besi.
"Ada apa, Lisa?" tanya Darren setelah mereka terduduk.
"Tadi Dania melihatmu di sini," kata Lisa. Darren terkejut setelah mendengar kata Lisa.
"Dia juga melihatmu bersama Tante Karren, terus dia juga merasa bingung. Banyak Polisi bersamamu tadi, apa ada yang kamu sembunyikan padanya?" tanya Lisa.
Darren nampak berpikir, mungkin Lisa bisa membantunya untuk mengatakan ini pada istrinya. "Lisa, aku minta bantuanmu." Lalu ia memberitahukan pada Lisa, kenapa ia berada di sini, dan rahasia yang ia sembunyikan pada istrinya.
"Apa aku tidak salah dengar? Coba katakan sekali lagi?" pinta Lisa.
"Please, Lisa. Aku minta bantuanmu." Darren memohon pada Lisa.
"Apa ini akan tambah dia marah, kalau dia tahu dariku," ujar Lisa.
"Terus, aku mesti gimana? Aku benar-benar takut. Aku takut dia membenciku lalu meninggalkanku, Lisa," lirih Darren.
"Marah sih, itu pasti. Tapi itukan kecelakaan, ibumu juga tidak sengaja 'kan? Tante Karren juga menebus keselahannya dengan cara membuat Dania bahagia, dan kamu menikahinya."
Darren mencerna kata-kata Lisa. "Tapi itu tidak semudah yang kamu bicarakan. Aku benar-benar takut, Lisa. Aku butuh bantuanmu juga."
"Iya, tapi aku juga bingung, mesti gimana caranya?" kata Lisa. "Kasihan Pappymu kalau ini terlalu lama di diamkan. Sebaiknya kamu ajak Dania bicara, aku yakin, dia pasti mengerti," ujar Lisa mayakinkan Darren.
"Aku akan membantumu jika dia marah padamu," kata Lisa lagi.
Darren pun mengangguk, ia akan mencoba membicarakan ini pada istrinya. Semoga Dania bisa mengerti akan keadaan ini.
"Baiklah kalau begitu, aku akan mencobanya." Darren menarik napasnya dalam-dalam sebelum ia beranjak dari posisinya.
Darren pun berjalan meninggalkan Lisa.
...****************...
Othor minta dukungannya dari kalian. Sebelumnya terima kasih sudah menyempatkan waktunya untuk membaca karyaku.
Pembaca yang bijak akan meninggalkan jejak.
__ADS_1