Terpaksa Menikahi Pelacur

Terpaksa Menikahi Pelacur
Episod 61


__ADS_3

Hari ini Syiera nampak cantik, hari ini ia akan mengadakan hari ulang tahunnya yang ke 5. Keceriaan begitu terlihat di wajahnya yang cantik.


Janji Leo menentukan semuanya, ia menunggu kehadiran sang adik dalam hidupnya, Syiera berharap keinginannya terwujud di hari ulang tahunnya sekarang.


Teman-teman sekolah Syiera sudah pada hadir di ruang tamu, hanya teman sekolah yang ia undang.


"Sayang, ayo turun?" ajak Dania. "Teman-temanmu sudah pada nunggu," ajaknya lagi.


Syiera pun ikut turun ke bawah bersama ibunya, senyum di bibirnya selalu ia sematkan disetiap langkahnya. Setibanya di bawah, ia malah celingak-celinguk tengah mencari seseorang.


Dania tahu siapa yang dicarinya saat ini. "Om Leo pasti datang, jadi berkumpul 'lah bersama teman-temanmu dulu, kasian mereka," titahnya pada Syiera.


Syiera mengangguk dan terseyum, ia percaya apa kata ibunya itu. Dengan santai Syiera menghampiri teman-temannya.


Tak lama, Darren datang menghampiri istrinya. "Bagaimana ini? Seharusnya acara sudah dimulai." Darren terus melirik jam yang ada di pergelangan tangannya.


"Tapi aku yakin, Leo dan Lisa pasti datang. Bahkan barusan Lisa menghubungiku."


Seketika kekhawatiran yang menerpa Darren menghilang setelah mendengar penuturan istrinya. Tidak bisa dibayangkan kalau Leo tak datang hari ini, bagaimana kecewanya Syiera, nanti.


***


Leo terus saja mondar-mandir, jantungnya berdegup kencang seperti habis maraton. Padahal kemarin ia sudah membulatkan tekadnya untuk memberi kejutan pada Syiera, tapi hari ini, ia begitu bingung dengan isi hatinya, ragu dan takut menjadi satu.


Setelah ia tahu betapa sedihnya Lisa dengan keputusan yang diambilnya. Semalam ia mengetahui bahwa Lisa tak tidur bersamanya, Lisa lebih memilih untuk tidur di ruang tamu. Bahkan ia tahu kalau istrinya itu tidak tidur semalaman. Mungkin kepikiran terus akan janinnya yang akan diberikan kepada sahabatnya kelak setelah anak itu lahir.


"Ayo kita berangkat sekarang, aku sudah siap!" Lisa memantapkan diri.


Semalaman ia sudah memikirkannya matang-matang. Demi kesalahan suaminya, kini ia ikut bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan suaminya itu.


Dengan berat hati ia merelakan janin yang ada dalam kandungannya. Tidak terlalu buruk memberikan anaknya pada Dania, Dania pasti menyanyangi anaknya. Pikir Lisa.


Pada akhirnya ia memutuskan untuk memasrahkan anaknya yang masih dalam kandungannya.


"Ayo," ajak Lisa kembali.


Leo menatap wajah istrinya lekat-lekat, apa ada kesedihan di wajah istrinya atau tidak. Tapi Lisa tak menampakkan kesedihannya sama sekali. Malah Lisa terlihat lebih semangat dari dirinya.


"Apa kamu sudah yakin?" tanya Leo.

__ADS_1


Lisa mengerutkan keningnya. Kenapa suaminya malah bertanya seperti itu. Bukankah seharusnya pertanyaan itu lebih pantas untuknya.


"Kenapa bertanya seperti itu?" Lisa balik bertanya. "Apa kita tidak jadi ke acara Syiera?" tanyanya lagi.


Leo terus saja menatap wajah istrinya tanpa berkedip. Apa Lisa mencoba tetap tegar dan menerima kenyataan, tapi yang Leo lihat semuanya baik-baik saja.


Leo meraih tangan istrinya, ia menggenggamnya begitu erat. Seolah memberi kekuatan pada istrinya.


Lisa tersenyum kearah suaminya.


Tak lama, Leo berjalan dan terus menggenggam tangan istrinya tanpa terlepas sampai di depan taxi pun ia terus mencekal lengan itu.


Tak lama dari situ, Leo dan Lisa sampai pada tujuannya. Yaitu, kediaman Darren sahabatnya. Kedatangannya disambut hangat oleh mereka begitu juga dengan Syiera yang nampak bahagia dengan kedatangan Leo juga istrinya.


"Om," panggil Syiera dengan antusias.


Leo langsung saja ditarik oleh Syiera, sampai Dania yang melihatnya geleng-geleng kepala.


"Lisa ... Aku rindu padamu." Dania langsung memeluk Lisa.


"Aku juga." Lisa pun membalas pelukan sahabatnya itu.


Para tamu semua sudah kumpul. Syiera terus menebarkan senyumnya ke para tamu undangan yang hadir.



Semua teman-temannya sudah tidak sabar dengan acara tiup lilinnya. Hingga pada akhirnya, potongan kue pertama ia berikan pada tamu spesialnya. Yaitu, Leo.


Leo mencium pipi gembulnya Syiera.


"Om tidak lupa 'kan dengan janji, Om." bisik Syiera di telinga Leo.


Leo langsung melihat kearah Lisa, setelah mendengar bisikan dari Syiera. Lisa hanya tersenyum kearahnya. Leo bernapas lega, karena Lisa benar-benar tak menampakkan kesesihannya sama sekali.


Leo langsung memalingkan wajahnya pada Syiera, dan langsung mengangguk mengiyakan bahwa ia tak lupa dengan janjinya.


Lalu, Leo mengeluarkan kotak kecil persegi panjang dari dalam saku celananya, dan memberikannya pada Syiera.


Karena penasaran, Syiera langsung membuka kado tersebut. Ia tak mengerti apa isi dari kado itu. Lalu ia memberikannya pada ibunya, meminta penjelasan apa arti dari hadiah yang Leo berikan padanya.

__ADS_1


Dania langsung menatap wajah Lisa, setelah menerima hadiah yang Syiera berikan padanya. Ternyata, isi dari kado itu adalah sebuah tespack. Itu artinya, Lisa sedang mengandung. Syiera akan memiliki adik yang Syiera inginkan.


"Selamat ya, Lisa." Dania langsung memeluk Lisa dan memberikan ucapan selamat padanya. Disaat itu pula Dania meneteskan air matanya, ia sedih karena tak bisa seperti Lisa.


Lisa yang tahu akan hal itu langsung menghapus air mata yang membasahi pipi sahabatnya.


"Jangan menangis, anakku akan menjadi anakmu."


Dania tak tahu arti dari kata itu, ia hanya tersenyum menanggapi. Tak pernah berpikir akan Lisa yang akan memberikan anaknya padanya.


Haru pilu itu disaksikan oleh Leo dan Darren.


"Selamat ya, bro. Lo jadi Bapak," ucap Darren sambil menepuk bahu Leo.


"Anak itu akan jadi anak lo, bro."


Darren langsung terkejut mendengar apa yang diucapkan Leo barusan.


"Maksud lo?" tanya Darren dengan expresi bingung.


"Iya, gua akan memberikan hak asuh anak gue ke lo," jawab Leo dengan expresi meyakinkan.


"Lo becanda 'kan?" tanya Darren tak percaya.


"Gue serius! Kalau lo gak percaya tunggu saja sampai anak itu lahir."


Setelah mengatakan itu, Leo langsung meninggalkan Darren yang masih mematung. Dengan santainya, Leo mengambil makanan yang tersedia di sana.


Setelah mengambil makanan, ia langsung menghampiri Lisa, ternyata ia mengambil makanan itu untuk istrinya. Perhatian yang diberikan Leo pada istrinya, membuat Dania merasa iri.


Bukan iri akan kehamilan Lisa, melainkan ia ingin merasakan mendapatkan perhatian dari suami yang tengah memperhatikan calon anak mereka.


Bukannya Darren tak perhatian padanya, hanya saja mungkin akan berbeda rasanya jika sedang hamil, karena kehamilan kemarin, Darren belum sempat memperhatikannya.


Yang ada, ia malah mendapat kabar yang tak mengenakkan dari keluarga suaminya.


"Aku permisi dulu, ya?" pamit Dania pada Lisa dan Leo.


Darren yang melihatnya langsung mengejar istrinya yang tengah menjauh dari pusat keramaian.

__ADS_1


"Sayang, mau kemana?" tanya Darren setelah berhasil menghentikan langkah istrinya. "Kenapa menangis?" tanyanya lagi.


Dania langsung menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan suaminya. "Maafkan aku yang tak sempurna ini." Tangis Dania pecah di pelukan suaminya.


__ADS_2