
"Ok, kita meluncur pulang." Darren melajukkan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tapi, tiba-tiba mobil yang dikendarai Darren berhenti seketika, kala Dania yang memintanya berhenti secara mendadak.
"Ada apa? Kenapa minta berhenti?" tanya Darren sambil mengerutkan keningnya karena bingung.
Namun Dania tak menjawab, ia malah langsung turun dari mobil yang ditumpanginya. Dengan cepat ia menghampiri sosok yang di rindukannya.
"Lisa," panggil Dania.
Lisa pun membalikkan tubuhnya disaat mendengar ada yang menyebut namanya. "Dania." Lisa tak menduga bisa bertemu dengan Dania di sini. Rencananya, Lisa memang ingin menemui Dania untuk mencoba membujuknya untuk mencabut tuntutannya terhadap sang kekasih.
Mereka langsung berpelukan disaat sudah saling berhadapan. " Kamu kerja di sini?" tanya Dania. Lisa mengangguk cepat, mengiyakan pertanyaan sahabatnya itu.
Dania bahagia ternyata Lisa sudah berhenti menjadi wanita penghibur. "Bagaimana keadaanmu?" tanya Lisa. "Apa ada yang luka?" tanyanya lagi sambil memutarkan tubuh Dania, ia melihat ada yang luka apa tidak.
Dania sedikit bingung dengan pertanyaan Lisa. "Aku gak apa-apa, Lisa. Kenapa mengkhawatirkanku?"
"Kemarin Leo sempat menculikmu 'kan? Maafkan atas sikapnya, ya?" kata Lisa dengan tak enak hati.
"Loh ... Kenapa kamu yang harus minta maaf, Lisa ..." Dania meraih tangan Lisa lalu menatapnya. "Lihat aku!" kata Dania. Lisa pun menatap Dania kembali.
"Kamu suka ya, sama Leo?" tanya Dania.
Lisa hanya tersenyum tak menjawab. "Bukan suka lagi. Aku mencintainya, Dania. Sangat-sangat mencintainya."
Dania melambaikan tangannya tepat di wajah Lisa. "Hey ... Sejak kapan kamu itu jadi gila?" Karena Dania melihat Lisa melamun sambil tersenyum. Lisa mendelikkan matanya mendengar pertanyaan Dania yang tak masuk akal baginya.
"Sejak pacaran dengannya." Lisa tersenyum sendiri. Dania bergidik ngeri.
"Tunggu, apa kamu bilang? Pacaran ... Kamu sudah punya pacar?" tanya Dania tak percaya. Lisa hanya mengangguk sambil tersenyum. Tapi senyuman itu langsung berubah seketika, kala ia teringat tentang Leo.
"Dania? Apa kamu membenci Leo?"
"Apa maksudmu tanya begitu? Dania tak mengerti apa maksud Lisa.
"Aku tahu kesalahan Leo itu sangat fatal. Tapi ... Apa kamu tidak bisa memaafkannya?" tanya Lisa dengan lirih "Aku tahu kejadian yang menimpamu. Aku juga sangat kecewa padanya setelah tahu apa yang dilakukannya padamu. Tapi, dia sudah berubah, Nia." Lisa tak melepaskan pandangannya dari sahabatnya itu.
"Pacar yang kamu maksud, itu Leo?" tanya Dania. "Apa kamu benar-benar mencintainya?" tanyanya lagi. Lisa mengangguk mantap.
"Kalau kamu benar mencintainya, aku akan membebaskannya."
"Tidak semudah itu," kata seseorang tiba-tiba dari arah belakang Dania. "Biarkan dia mempertanggung jawabkan atas perbuatannya," sahutnya lagi. Orang itu yang tak lain adalah Darren.
__ADS_1
"Tapi dia sahabatmu, apa kamu tidak kasihan dengannya!" timpal Dania.
Lisa menjadi tak enak dengan perdebatan sepasang suami istri itu. "Kata Darren ada benarnya juga. Aku pastikan bahwa Leo sudah menyesal atas apa yang telah dilakukannya pada istrimu." Kata Lisa sambil melihat kearah Darren.
"Bantu dia menjadi orang yang lebih baik lagi ya, Lisa. Aku yakin, cintamu bisa merubah sikap egois Leo!"
"Ngomong-ngomong ... Sejak kapan kamu bekerja di sini?" tanya Dania. Lalu ia membaca nama cafe itu. "EOSA, apa itu nama pemilik cafe ini? tanya Dania.
"Iya. Apa kalian percaya, kalau cafe ini milik Leo?"
Dania dan Darren saling lempar pandang. "Apa iya, cafe ini punya Leo?" Darren tanya balik pada Lisa.
"Sudah 'ku duga, kalian pasti tidak akan percaya. Begitu pun dengan Leo yang sudah berubah. Kalian juga tidak akan percaya, iyakan?"
"Tahu darimana kalau Leo sudah berubah, hah?" imbuh Darren.
"Leo sudah menjual apartemennya, dan mulai merintis kariernya lagi dari nol. Dia bener-bener menyesal, Darren. Bahkan dia rela hidup susah hanya untuk menjadi orang lebih baik lagi," jelas Lisa panjang lebar. "Aku sebagai kekasihnya bisa menjamin itu. Bila perlu, aku akan buat hidupnya jadi satria baja hitam. Agar bisa berubah."
Seketika tawa Dania pecah. Tapi tidak dengan Darren, ia malah menatap Lisa dengan sinis. "Tidak lucu!" kata Darren.
"Siapa juga yang ngelucu! Abisnya, kamu gak percaya kalau Leo benar-benar sudah berubah." Lalu, Lisa meninggalkan sepasang suami istri itu, karena ada pengunjung yang datang.
Sementara Dania hanya mengacungkan jempolnya pada Lisa. Lalu, Dania menatap wajah suaminya yang masih cemberut, karena merasa kesal dengan Lisa.
"Masih kesal sama Lisa?" tanya Dania. Darren hanya menggelengkan kepalanya. "Lau, kenapa masih cemberut gitu. Jelek!" kata Dania sambil mencubit suaminya.
"Aw ... Sakit," pekik Darren.
Dania terkekeh melihat expresi suaminya yang menurutnya kekanak-kanakan. "Kamu sama Lisa kaya Tom and Jarry tahu gak sih!" ucap Dania. Darren malah tambah kesal dengan apa yang diucapkan istrinya. Dengan cepat ia beranjak dari posisinya.
"Lebih baik aku ke kantor sajalah. Kalau kamu masih ingin di sini, nanti aku jemput sepulang dari kantor, ya?" Lalu ia mencium pucuk rambut istrinya dan langsung pergi tanpa mendengar jawaban dari Dania.
Dania membiarkan suaminya itu pergi. Sementara, ia menemui Lisa yang sedang sibuk di dapur cafe. "Ada yang bisa aku bantu, gak?" tanya Dania membuat Lisa terkejut.
"Ah, kamu ni, bikin aku kaget saja. Tidak usah, kamu 'kan baru sembuh. Sebaiknya istirahat saja."
"Tapi aku bosan jika berdiam diri terus." Lalu Dania menyandarkan tubuhnya di dinding.
"Pulang saja kalau bosan. Aku tidak mau kena omel suamimu, dia bisa murka kalau tahu kamu membantu pekerjaanku." Lalu Lisa pergi meninggalkan Dania, karena ia tengah sibuk melayani pengunjung yang datang.
Dengan berat hati, Dania mendudukkan tubuhnya di kursi yang tersedia di sana. Tak lama Lisa kembali ke dapur. Ia melihat sahabatnya itu nampak kesal, lalu ia pun mengijinka. Dania untuk membantunya.
__ADS_1
"Nia, kamu bisa membantuku. tapi jangan samapi suamimu tahu!" Seketika Dania ceria kembali.
"Apa yang bisa aku lakukan?" tanya Dania dengan expresi sumringahnya.
"Buatkan just mangga, buat meja no 8."
"Ok."
***
Sementara Darren, ia pamit pada istrinya bukan untuk ke kantor. Melainkan ke kantor Polisi untuk menjenguk Leo.
"Saudara Leo?" sebut Polisi memanggil namanya.
Dengan cepat, Leo menghamipiri Polisi tersebut, ia berdiri masih di balik jeruji besi, tak lama ia keluar setelah Polisi membuka kuncinya.
"Ada yang berkunjung," kata Polisi.
Seketika Leo tersenyum karena dalam hati, ia berpikir itu pasti Lisa. Yang tadinya tersenyum, seketika senyum itu hilang. Karena bukan Lisa yang mengunjunginya.
"Darren," kata Leo setibanya di sana.
"Apa kabar, Loe?" tanya Darren sambil mengulurkan tangannya. Leo pun langsung menjabat tangan sahabatnya itu, ada rasa canggung di diri Leo. Ia tak enak hati dengan perlakuannya kepada istri sahabatnya itu.
"Kabarku baik," jawab Leo.
Dan mereka pun duduk di bangku yang tersedia di sana. "Ada apa kau datang menemuiku?"
"Kau tidak suka aku datang kemari? bukankah kita sahabat?"
mendengar kata sahabat, Leo langsung terdiam. Ia hanya berpikir, masih pantaskah ia di sebut sebagai sahabat. "Maafkan aku Darren. Sungguh, aku menyesal," lirih Leo.
Darren menepuk pundak Leo. "Sabar, ya? Semua perbuatan ada pertanggung jawabannya. Setelah keluar dari sini, jadilah orang yang lebih baik lagi. Jangan iri apa yang dimiliki orang lain," sindir Darren.
Leo tersenyum miris mendengar sindiran Darren. Karena itu sifat yang dimiliki olehnya.
"Aku rasa, sudah waktunya aku pulang. Aku harus menjemput Dania, dia sedang bersama pacarmu." Darren langsung pergi meninggalkan Leo.
"Pacar," kata Leo mengulangi kata Darren. Leo langsung teringat akan Lisa.
"Berarti, Lisa sedang bersama Dania," gumam Leo. Tak lama ia pun kembali keruangannya di balik jeruji besi itu.
__ADS_1