
Rencananya hari ini, mereka kembali pulang ke rumah, karena untuk berduaan pun percuma. Tak ada yang bisa dilakukan oleh Darren terhadap istrinya. Disaat sedang beberes, tiba-tiba ponsel milik Darren berbunyi, menandakan ada yang menghubunginya. Ia pun melihat ID pemanggil, dan ternyata sang ibu yang menghubunginya.
"Ya, ada apa, Mom?" jawab Darren pada ibunya di sebrang sana.
"Cepat pulang!"
Darren mengernyitkan dahinya. "Kenapa?" tanya Dania.
"Momy menyuruh kita untuk pulang cepat," jawab Darren.
"Emang ada apa, Mom?" tanya Darren lagi. Karena sambungan itu masih tersambung.
"Syiera, sakit."
"Iya, aku dan Dania pulang sekarang." Sambungan itu ditutup oleh Darren.
"Sayang, sudah selesai 'kan berkemasnya?" ia dapat anggukan dari istrinya.
"Kenapa tergesa-gesa," tanya Dania. Ia melihat suaminya menyeret koper dengan cepat.
"Syiera sakit." Tanpa bertanya lagi, Dania langsung mempercepat langkahnya, menyeimbangi suaminya.
Setelah berada di dalam mobil, ia kembali menghubungi ibunya.
"Momy langsung saja bawa Syiera ke rumah sakit, aku langsung kesana," ujar Darren setelah sambungan itu terhubung.
Darren langsung menancapkan gas mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hingga Dania merasa takut. "Pelan-pelan saja." Darren tak menyadari keberadaan istrinya. Hingga Darren memperlambat sedikit laju mobilnya.
"Maaf, membuatmu takut," ucap Darren.
"Aku mengerti, kamu pasti merasa khawatir. Tapi keselamatan kita juga penting!" sahut Dania sambil menyentuh pundak suaminya untuk menenangkannya.
"Iya," ujar Darren, ia pun menyentuh tangan istrinya yang berada di pundaknya.
Tak lama kemudian, mereka pun sampai di rumah sakit. Bahkan mereka sampai berbarengan dengan Karren yang bersama Syiera. Darren langsung turun dari mobilnya ketika ia sudah melihat ibunya bersama anaknya.
Darren langsung menggendong Syiera dan segera membawanya masuk ke dalam rumah sakit. "Suster?" panggil Darren setelah berada di dalam. Dan Suster itu pun menghampiri sambil mendorong brangker. Syiera langsung ditangani oleh Dokter, setelah Suster tadi membawanya masuk kedalam ruang ICU.
"Mom, Syiera kenapa?" tanya Darren dengan panik. Sementara Dania mencoba menenangkan suaminya dengan mengelus punggung suaminya dari samping.
"Kemarin, Momy lihat Syiera makan es krim."
Mendengar kata es krim, Darren langsung membulatkan matanya. "Dari mana, Syiera mendapatkan es krim, Mom?" tanya Darren pada sang ibu. Pasalnya Syiera alergi terhadap es.
"Momy tanya Syiera gak jawab, Dia malah nangis," jawab Karren.
__ADS_1
"Syiera ada alergi es?" tanya Dania. Darren mengangguk mengiyakan pertanyaan Dania.
"Syiera langsung flu dan demam, kalau ia mengkonsumsi itu. Apa lagi kalau banyak," jelas Darren.
Tak lama Dokter yang menangani Syeira keluar dari ruangan itu. Dengan cepat Darren menemuinya dan langsung bertanya. "Bagaimana keadaan anak saya, Dok?"
"Anak Anda baik-baik saja, tidak ada yang dikhawatirkan," jelas Dokter.
"Syukurlah." Darren bernapas lega bahwa anaknya tidak apa-apa.
"Apa saya boleh menemuinya sekarang?" Anggukkan dari Dokter itu jelas terlihat oleh Darren. Sehingga Darren langsung masuk ke dalam, tak lupa ia mengajak istrinya masuk untuk menemui anaknya.
Setibanya di sana, Syiera sedang tertidur pulas. Darren mengecup kening anaknya dan mengelus rambutnya dengan penuh kasih sayang. Dania, yang menyaksikan itu sangat terharu. Batapa sayangnya Darren pada anaknya itu.
Kini Dania mendudukkan tubuhnya di tepi brangker yang dimana ada Syiera di atasnya. Dania pun sama melakukan apa yang dilakukan suaminya. Dania juga menyayangi Syiera seperti anaknya sendiri, walaupun ia belum menjadi seorang ibu yang sebenarnya.
"Dania?" panggil Karren.
Dengan cepat Dania menoleh kearah ibu mertuanya. "Iya, Mom."
"Wajahmu pucat sekali, apa kamu sakit?" Karren sedikit khawatir melihat Dania yang sedikit pias.
"Gak apa-apa, kok. Aku baik-baik saja."
"Iya, kamu pucat," timpal Darren.
"Emang sakit, ya?" tanya Darren. Dania hanya mengangguk.
"Minum obat saja, biar nyerinya hilang," saran Karren. Lagi-lagi Dania mengangguk.
Dania menyembunyikan rasa sakit di bagian perutnya, memang setiap bulan ia pasti merasakan hal yang sama jika sedang datang bulan. Bahkan ia pernah berkonsultasi pada Dokter, Dokter juga menjelaskan pada Dania. Jika setiap datang bulan merasakan nyeri, agak sulit baginya memiliki keturunan, jelas Dokter pada waktu itu. Sehingga Dania sering menepis perkataan Dokter itu. Rejeki, maut, sudah ada yang mengatur. Dania yakin pada Tuhannya.
"Sebaiknya kamu istirahat, saja," suruh Darren. "Tiduran di sofa aja dulu," kata Darren lagi.
Dania menuruti perintah suaminya. Lalu ia membaringkan tubuhnya di sofa itu, ia memejamkan matanya, menahan rasa sakit di perutnya.
Sedangkan Darren, ia terus berpikir dari mana anaknya mendapatkan es krim yang dimaksud ibunya. "Mom? Apa Syiera bertemu seseorang kemarin?" tanya Darren pada ibunya.
Karren nampak berpikir, perasaan Karren, ia tak bertemu dengan siapa-siapa. Lalu Karren menggelengkan kepalanya.
"Kenapa aku curiga sama Leo, ya. Apa mungkin dia? Bahkan kemarin dia mencoba membuatku bertengkar dengan Dania." Darren sibuk dengan pemikirannya sendiri.
"Sebaiknya Momy pulang saja," saran Dania tiba-tiba. Dania hendak ke kamar mandi namun diurungkan niatnya karena melihat ibu mertuanya yang seperti kecapean sedang bersandar di dinding.
"Iya, Momy pulang saja, biar aku dan istriku yang menjaga Syiera." Karren mengelus pipi anaknya, ia bahagia karena Darren sudah mengakui Dania sebagai istrinya.
__ADS_1
"Baiklah, Momy pulang sekarang." Karren pun keluar dari ruang rawat Syiera.
Kini hanya ada Darren dan Dania di sana. "Mau kemana?" tanya Darren, ia melihat istrinya yang hendak pergi.
"Aku mau ke toilet," jawab Dania, lalu ia pergi meninggalkan suaminya.
Setelah kepergian Dania, Darren kembali melihat keadaan anaknya yang masih pulas dengan mimpinya. "Kalau benar Leo yang melakukannya, akan aku pastikan hidupnya pasti hancur." Darren kembali mencium kening anaknya.
Tak lama Dania sudah kembali dari toilet. Ia langsung duduk di sofa yang tadi sempat ia dudukki. Darren yang melihatnya langsung menemuinya di sana. Darren merebahkan tubuhnya di sofa itu. Paha Dania ia jadikan sebagai bantalnya.
Dania mengelus rambut suaminya bahkan mecium keningnya. Darren menelusupkan wajahnya menghadap perut istrinya. "Aku ingin cepat-cepat dia tumbuh di sini." Darren menciumi perutnya, hingga Dania merasa geli.
"Udah, ah. Geli tau ..."
"Masih lama, ya?" tanya Darren.
"Lama apanya?" Dania tak mengerti.
Darren menghela napasnya sejenak. "Anacondaku ingin bersarang," keluhnya.
"Sejak kapan suamiku jadi mesum begini, hah?" ujarnya sambil mengacak rambut suaminya. Dengan gemas Dania mencium bibir suaminya, membuat Darren menahan ciuman itu menjadi sedikit lama.
"Kamu harus tanggung jawab, loh?"
"Tanggung jawab apa?" tanya Dania sambil melototkan matanya di hadapan suaminya.
"Ke kamar mandi sebentar, yuk?" Tanpa menunggu jawaban Dari Dania, ia langsung menarik tangan istrinya untuk ikut bersamanya ke kamar mandi.
Setibanya di sana, Darren langsung menutup pintunya, bahkan menguncinya dari dalam. Ia langsung menarik tubuh istrinya kedalam dekapannya. Setelah itu ia menangkup kedua pipi istrinya dan mulai meciumi setiap inci wajah Dania. Dania menikmati sentuhan bibir suaminya itu. Hingga terdengar desahan dari mulutnya, karena tangan suaminya sudah mulai bermain di gunung kembar miliknya.
Tanpa Dania sadari ia pun mulai meraba ke arah pusaka milik suaminya, dan sedikit meremasnya. Darren mendesah nikmat, walau itu baru sentuhan jemari milik istrinya. Sedikit demi sedikit Dania membuka kancing celana suaminya.
Darren yang tak bisa menahannya pun langsung membukanya sendiri. Ia arahkan wajah istrinya ke arah pusakanya. Dania yang mengerti pun langsung m*luma*nya. Erangan Darren terdengar di pendengaran Dania. Bahkan Dania mempercepat lum**annya. Hingga tak lama kemudian Darren menyemburkan bisanya di wajah istrinya.
"Terima kasih, sayang. Sudah membantuku," ucapnya tersenyum bahagia. Akhirnya pelepasan dari kemarin baru kesamapian.
"Kamu memang hebat."
_
_
_
**Tinggalkan jejak ya?
__ADS_1
Maaf sedikit mesum. Kasian Darren dari kemarin menahannya😁😁**